SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Sejarah yang Terhapus
Pintu istana perlahan terbuka, mengeluarkan suara berat yang menggema ke seluruh ruangan.
Rummm...
Debu tipis yang telah mengendap selama ribuan tahun perlahan berjatuhan dari sela-sela pintu batu raksasa. Cahaya redup dari luar menyelinap masuk, menerangi sebagian kecil aula kuno yang selama ini tersembunyi di balik gerbang.
Tian Xue melangkah lebih dulu. Di belakangnya, Lu Shi mengikuti dengan wajah penuh kewaspadaan.
Begitu keduanya melewati ambang pintu, mereka serempak menghentikan langkah. Mata mereka membelalak.
Aula di hadapan mereka jauh melampaui bayangan siapa pun. Sejauh mata memandang hanya tampak pilar-pilar batu raksasa yang menjulang tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit.
Pilar-pilar itu berdiri berjajar tanpa ujung, seolah menopang dunia yang telah ada sejak zaman purba.
Setiap pilar dipenuhi ukiran naga dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada naga yang sedang mengaum ke langit. Ada yang melilit gunung. Ada pula yang membentangkan sayap raksasa seakan hendak menutupi langit.
Dan beberapa pilar lain menampilkan gambar-gambar Beast Purba yang lain – seperti Kelinci Surga, Rubah Ekor Sembilan, Phoenix, Roc, dan banyak lagi. Keanggunannya meski hanya dalam gambar tetap memancarkan hawa purba yang kuat.
Di sela-sela ukiran itu terukir ribuan simbol kuno yang tidak dikenali manusia biasa.
Bahasa Naga.
Aura kuno memenuhi seluruh aula. Udara terasa berat, tetapi bukan karena tekanan kekuatan. Melainkan karena wibawa sejarah yang masih melekat pada setiap batu di tempat itu.
Tak seorang pun berbicara. Hanya suara napas mereka yang terdengar di tengah keheningan.
Lu Shi menoleh ke kiri, lalu ke kanan. Semakin lama ia melihat, semakin bingung raut wajahnya.
"Lelaki bodoh..." Suara gadis itu memecah keheningan. "Ini sebenarnya warisan apa?"
Ia menggaruk pelipisnya pelan.
"Kita bahkan tidak tahu tempat ini digunakan untuk apa."
Tian Xue tetap memperhatikan sekeliling. Tatapannya menyapu setiap pilar satu demi satu. Tidak ada rak berisi teknik kultivasi. Tidak ada senjata pusaka. Tidak ada harta karun yang biasa ditemukan dalam sebuah warisan.
Hanya aula tanpa ujung. Dan pilar-pilar raksasa yang berdiri diam seperti saksi bisu sebuah zaman yang telah lama lenyap.
Beberapa saat kemudian Tian Xue menarik napas pelan.
"Sepertinya..."
"...kita harus terus masuk."
Lu Shi mengangguk.
"Selain itu memang tidak ada pilihan."
Keduanya kembali berjalan menyusuri jalan batu yang membelah aula. Langkah kaki mereka bergema pelan.
Tap...
Tap...
Tap...
Semakin jauh mereka melangkah, suasana di dalam aula terasa semakin sunyi. Pilar demi pilar mereka lewati. Ukiran naga di setiap pilar tampak berbeda, seolah masing-masing menceritakan kisahnya sendiri.
Saat Tian Xue melewati salah satu pilar, simbol-simbol kuno yang terukir di permukaannya tiba-tiba memancarkan cahaya redup.
Berdengung...
Tian Xue spontan menghentikan langkah.
"Apa..."
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya.
Wusshhh!
Pemandangan di hadapannya berubah. Aula istana menghilang. Pilar-pilar batu lenyap seolah tidak pernah ada.
Yang tergantikan adalah langit luas berwarna merah darah. Retakan memenuhi angkasa. Gunung-gunung runtuh. Lautan bergolak hebat.
Aura yang memenuhi dunia itu begitu mengerikan hingga Tian Xue merasakan tubuhnya menjadi sangat kecil di hadapan para penguasa zaman kuno.
Di langit berdiri seekor naga purba berukuran luar biasa besar. Tubuhnya membentang seperti pegunungan. Sepasang matanya memancarkan kewibawaan yang membuat seluruh makhluk di bawahnya seakan kehilangan keberanian untuk bernapas.
Di belakangnya berdiri berbagai Beast Purba. Phoenix Api. Qilin. Roc Emas. Serta berbagai ras kuno lain yang belum pernah Tian Xue lihat sebelumnya.
Di sisi seberang.
Ribuan manusia melayang memenuhi langit. Setiap orang memancarkan aura yang tidak kalah mengerikan.
Dua kubu saling berhadapan. Suasana mencekam menyelimuti seluruh dunia.
Leluhur Naga Purba maju selangkah. Suaranya bergema ke segala penjuru.
"Bila memang kalian menginginkan daratan ini..."
"...aku tidak keberatan."
Nada suaranya tenang. Namun setiap kata membawa wibawa seorang penguasa tertinggi.
"Asalkan..."
"...kalian mampu melangkahi bangsa kami."
Keheningan menyelimuti kedua belah pihak. Tak lama kemudian, seorang lelaki tua dari kubu manusia maju ke depan. Ia memberi hormat dengan tenang.
"Leluhur Agung."
"Kami berterima kasih."
"Kalian pernah menjadi pelindung bangsa manusia pada zaman kegelapan."
Suaranya terdengar penuh penghormatan. Namun perlahan...
Nada itu berubah.
"Namun..."
"Itu adalah masa lalu."
Tatapannya menjadi tajam.
"Kini lihatlah."
"Kekuatan kami telah setara dengan kalian."
"Kami tidak lagi membutuhkan perlindungan bangsa Beast."
Ia mengangkat tangannya, menunjuk hamparan Benua Canglan yang berada di belakang para Beast Purba.
"Yang kami butuhkan..."
"...adalah sumber daya yang selama ini kalian sembunyikan."
"Benua Canglan bukan hanya milik bangsa Beast."
"Kami juga berhak memilikinya."
Begitu kata-kata itu selesai.
Seorang wanita berambut merah menyala melangkah keluar dari barisan Beast Purba. Api keemasan menyelimuti tubuhnya. Sepasang sayap Phoenix perlahan terbentang di belakang punggungnya.
Tatapannya dipenuhi kemarahan.
"Manusia..."
"Kalian memang makhluk yang serakah."
"Kami melindungi kalian ketika lemah."
"Kami membantu kalian bertahan hidup."
"Namun balasan yang kami terima..."
"...adalah keserakahan."
Tatapan wanita itu semakin dingin.
"Andai dahulu kami mengetahui kalian akan berubah seperti ini..."
"...bangsa kami tidak akan pernah membantu umat manusia."
Belum sempat suasana kembali tenang.
Wusshhh!!
Tekanan mengerikan tiba-tiba meledak dari salah seorang ahli bangsa manusia. Langit berguncang. Gunung-gunung runtuh. Ruang di sekitarnya bergetar hebat.
"Tidak usah banyak bicara lagi."
"Kita selesaikan semuanya hari ini."
Tekanan itu menyapu seluruh medan perang seperti badai yang mampu menghancurkan langit dan bumi. Namun...
Tepat ketika pertempuran akan dimulai.
Retak!
Seluruh pemandangan di hadapan Tian Xue pecah seperti cermin. Bayangan para leluhur menghilang. Langit merah lenyap. Suara mereka menghilang tanpa jejak.
Dalam sekejap.
Tian Xue dan Lu Shi kembali berdiri di tengah aula istana.
"Hah..."
Napas keduanya memburu. Keringat dingin membasahi dahi mereka.
Lu Shi memegangi dadanya sambil mencoba menenangkan napas.
"Apa... yang sebenarnya terjadi barusan?" Tatapannya masih dipenuhi keterkejutan. "Itu terasa terlalu nyata."
Tian Xue tidak segera menjawab. Ia masih menatap pilar batu di hadapannya.
Potongan sejarah itu...
Sekali lagi terputus. Sama seperti penglihatan yang pernah ia lihat di gerbang pertama. Seolah ada seseorang yang sengaja menghapus bagian terpenting dari masa lalu.
Tatapan Tian Xue perlahan berubah semakin dalam. Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya.
Mengapa Klan Naga Purba Xue dihapus dari sejarah?
Mengapa nama mereka bahkan menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan?
Mengapa bangsa manusia sampai menyerang Benua Canglan?
Dan...
Apa sebenarnya yang disembunyikan para leluhur Beast hingga membuat bangsa manusia rela memulai perang sebesar itu?
Tidak ada jawaban. Yang tersisa hanyalah keheningan aula kuno... serta misteri masa lalu yang masih tertutup rapat.