NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:577
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 - Curious

Sudah beberapa hari berlalu dan sejak malam itu, aku dan Javier tidak benar-benar berbicara. Bukan karena kami bertengkar, hanya saja aku memilih untuk menjaga jarak.

Entah kenapa aku malas berbicara dengannya.

Setiap kali mengingat apa yang terjadi malam itu, aku justru merasa bingung sendiri. Karena itu, aku memilih bersikap biasa. Berbicara seperlunya dan menghindari percakapan yang tidak penting.

Dan hari ini, untuk mengusir penat, aku dan Lila berencana menonton film komedi di bioskop.

Aku yang sedang merapikan jilbab tiba-tiba mendengar suara pintu diketuk.

Tak lama kemudian terdengar suara seseorang yang sudah sangat kukenal.

"Assalamu'alaikum. Kak Naya!"

Aku langsung merapikan jilbabku secepat mungkin lalu berjalan menuju pintu depan.

"Wa'alaikumsalam."

Begitu pintu kubuka, kulihat Janessa berdiri di sana sambil tersenyum lebar.

"Hai, Kak..." ucapnya.

"Hai. Ayo masuk dulu."

Janessa langsung masuk dan mengikutiku menuju ruang tamu. Kami berdua duduk di sofa.

"Ada apa, Jane?" tanyaku.

"Nggak ada apa-apa." Janessa mengangkat bahu. "Aku cuma mau main aja. Gabut di rumah."

"Oh..."

Aku mengangguk pelan.

"Tapi maaf, aku mau keluar bentar. Aku udah janjian sama Lila."

Janessa langsung menatapku penasaran.

"Mau ke mana?"

"Nonton."

"Mau nonton apa? Film Korea?"

Aku tertawa kecil.

"Bukan. Film komedi Indonesia."

"Oh..."

Janessa terdiam beberapa detik seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Lalu tiba-tiba matanya berbinar.

"Ya udah. Aku ikut."

"Eh?" Aku menatapnya kaget. "Serius?"

"Iya." Janessa mengangguk mantap. "Daripada aku pulang terus nggak ngapa-ngapain di rumah."

"Tapi kami mau nonton film komedi Indonesia, lho."

"Iya, aku tahu."

"Nggak apa-apa?"

"Nggak."

Aku hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresinya.

"Oh ya udah. Tunggu bentar. Aku ambil tas dulu."

Janessa mengangguk.

Aku kembali ke kamar untuk mengambil tas dan ponselku. Setelah memastikan semuanya sudah kubawa, aku kembali ke ruang tamu.

"Ayo."

Janessa langsung berdiri.

Kami pun keluar rumah bersama.

Aku mengendarai motorku sendiri, sementara Janessa datang dengan motornya.

Tak lama kemudian, kami berdua melaju meninggalkan perumahan.

Siang itu cukup terik.

Beberapa menit kemudian, aku dan Janessa sampai di depan rumah Lila.

Aku menekan klakson motorku.

Tak lama kemudian, Lila keluar sambil membawa helm.

"Lho? Ada Janessa?" ucap Lila begitu melihat kami.

"Iya, Kak." Janessa tersenyum. "Tadinya aku mau main ke rumah Kak Naya, tapi katanya mau nonton sama Kak Lila. Ya udah deh aku ikut. Daripada gabut."

Lila tertawa kecil.

"Ya udah. Makin rame."

Lalu ia naik ke motor dan duduk di belakangku.

Tak lama kemudian kami bertiga meninggalkan rumah Lila.

"Kamu pergi kayak gini emang nggak apa-apa?" tanya Lila di dekat telingaku. "Suami kamu udah ngizinin?"

"Nggak tahu."

"Hah?"

"Aku nggak minta izin."

"Ya ampun, Nay." Lila langsung menggelengkan kepala. "Kamu udah nikah, lho. Istri kalau mau pergi biasanya izin dulu sama suaminya."

"Tapi kami suami-istri yang nggak saling cinta." ucapku santai. "Jadi urusanku ya urusanku. Nggak perlu aku izin sama dia."

"Astaga..."

Lila menghela napas panjang.

"Kamu nikah nggak nikah ternyata sama aja."

Aku tidak menanggapi.

Aku hanya fokus mengemudikan motor.

Beberapa menit kemudian kami sampai di bioskop.

Setelah memarkirkan motor, kami langsung masuk, membeli tiket, lalu membeli minuman dan popcorn.

Karena studio tempat film kami diputar belum dibuka, kami memutuskan untuk menunggu di area luar terlebih dahulu.

Aku sedang mencari kursi kosong ketika tiba-tiba Janessa menatap ke suatu arah.

Matanya langsung membulat.

"Eh?" ucapnya. "Bukannya itu Kak Ina?"

Aku dan Lila otomatis menoleh mengikuti arah pandang Janessa.

Tak jauh dari sana, kulihat seorang wanita sedang duduk sambil melihat ponselnya.

Wanita itu mungkin seumuranku.

Rambutnya panjang, tubuhnya ramping, dan wajahnya cantik.

Sangat cantik.

"Emang dia siapa?" tanya Lila penasaran. "Senior kamu di kampus?"

"Dia mantannya Kak Javi."

"Apa?!"

Lila langsung menoleh ke Janessa dengan mata membelalak.

Aku juga ikut menatapnya.

Mantan Javier?

Refleks pandanganku kembali tertuju pada wanita itu.

Jadi... itu mantannya Javier?

Entah kenapa dadaku terasa sedikit sesak.

Dan yang lebih membuatku kesal adalah satu hal.

Dia cantik.

Sangat cantik.

Jauh lebih cantik dariku.

"Eh..." Janessa langsung terlihat panik setelah menyadari apa yang baru saja ia katakan. "Tapi itu udah lama banget, kok, Kak."

Aku tidak menjawab.

Mataku masih tertuju pada wanita itu.

"Dia juga udah nikah." lanjut Janessa cepat. "Udah lama malah. Ya udah yuk, kita duduk aja."

Aku akhirnya mengalihkan pandangan.

"Iya."

Kami bertiga berjalan menuju meja kosong yang tidak terlalu jauh dari tempat wanita itu berada.

Janessa duduk di depanku, sementara Lila duduk di sampingku.

Tanpa sadar, mataku kembali melirik ke arah wanita itu.

Aku bahkan tidak mengenalnya.

Tapi sekarang aku jadi penasaran.

Wanita seperti apa yang pernah membuat Javier jatuh cinta?

Tak lama kemudian, seorang wanita lain berjalan mendekati wanita itu.

"Ina?" panggil wanita itu.

"Sarah?" wanita itu terlihat sedikit terkejut.

Wanita bernama Sarah langsung tersenyum lebar lalu duduk di kursi kosong di depan wanita itu.

"Ya ampun, Na. Nggak nyangka bisa ketemu di sini." ucap Sarah antusias. "Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu udah tinggal di luar kota sama suami kamu?"

"Oh..." wanita itu tersenyum tipis. "Suamiku lagi libur, jadi aku ngajak mereka ke sini."

"Suami dan anak kamu mana?"

"Lagi ke toilet." ucap wanita itu. "Lha kamu di sini sama siapa?"

"Itu." Sarah menunjuk ke arah lain. "Sama suami dan anak juga. Kami mau nonton film animasi itu."

"Eh?" wanita itu tampak terkejut. "Kami juga mau nonton itu. Anakku dari beberapa hari lalu ngerengek pengen nonton."

Sarah tertawa.

"Hahaha... sama. Anakku juga."

Aku hanya diam sambil memegang gelas minumanku.

Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka.

Sampai Sarah kembali bersuara.

"Oh iya, Na."

"Hm?"

"Kamu udah tahu kabar dia?"

Wanita itu terlihat berpikir beberapa detik.

"Javier?" tanyanya.

Aku langsung menegakkan punggung.

Jantungku seolah berdetak sedikit lebih cepat.

Di depanku, Janessa juga terlihat terkejut.

Ia sempat melirik ke arah wanita itu sebelum kembali menatapku.

"Kak..." ucapnya pelan.

"Sssttt..." ucapku cepat.

Janessa langsung menutup mulutnya.

Entah kenapa aku penasaran dengan percakapan mereka.

"Nggak." wanita itu menggeleng pelan. "Sejak aku menikah aku udah nggak tahu kabarnya."

"Sekarang dia owner rumah makan, Na." ucap Sarah. "Bukan koki hotel lagi. Rumah makannya juga lumayan ramai. Makanannya enak-enak. Kemarin aku sama suami dan anakku makan di sana."

"Oh ya?"

Wanita itu tersenyum tipis.

"Syukurlah."

"Rumah makannya juga lumayan sukses sekarang."

"Bagus kalau begitu." ucap wanita itu. "Akhirnya impiannya tercapai juga."

Aku mengernyit.

Entah kenapa respons wanita itu terasa aneh bagiku.

Bukan karena dia terdengar sedih.

Justru karena dia terdengar terlalu biasa.

Terlalu tenang.

Bukankah dia mantan Javier?

Bukankah mereka pernah saling mencintai?

Kalau aku berada di posisinya, setidaknya aku akan penasaran.

Atau mungkin memang karena semuanya sudah terlalu lama berlalu?

Tak lama kemudian terdengar pengumuman bahwa studio yang akan memutar film kami sudah dibuka.

Orang-orang mulai berdiri dari kursi mereka.

"Ayo." ucap Lila.

Aku mengangguk.

Kami bertiga pun berdiri lalu berjalan menuju studio.

Namun bahkan setelah duduk di kursi bioskop dan film mulai diputar, pikiranku tetap kembali pada wanita tadi.

Pada Ina.

Pada mantan Javier.

Jika dulu pacar Javier secantik itu, kenapa mereka bisa putus?

Sejauh ini yang kulihat, Javier adalah laki-laki yang selalu bersikap baik kepada perempuan.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah masalahnya ada pada mereka?

Atau justru ada orang lain yang menjadi penyebabnya?

Apakah keluarga Javier tidak merestui hubungan mereka?

Atau malah keluarga wanita itu yang menolak Javier?

Aku tidak tahu.

Dan entah kenapa, semakin kupikirkan, aku justru semakin penasaran.

Setelah menonton, kami bertiga langsung pulang.

Janessa pun pulang ke rumahnya sendiri dari bioskop.

Aku tidak sempat bertanya apa pun tentang Javier dan wanita itu.

Atau lebih tepatnya, aku memang tidak ingin bertanya.

Untuk apa?

Aku bukan siapa-siapanya Javier.

Aku tidak berhak mencampuri masa lalunya.

Namun meski sudah berkata seperti itu pada diriku sendiri, entah kenapa aku justru terus memikirkannya.

Wanita itu.

Ina.

Mantan Javier.

Sampai akhirnya malam tiba.

Seperti biasa, aku sedang menonton televisi ketika suara pintu depan terdengar.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Aku menoleh.

Javier baru saja masuk sambil membawa beberapa kantong makanan.

"Kamu udah makan?" tanyanya. "Ini aku bawa makanan."

"Belum."

Javier mengernyit.

"Kok belum?"

Aku tidak menjawab.

Mana mungkin aku mengatakan bahwa aku lupa makan karena terlalu sibuk memikirkan mantannya?

"Ya udah. Ayo makan."

Aku hanya diam menatapnya.

"Kenapa kamu natap aku kayak gitu?"

"Nggak apa-apa."

Javier terlihat bingung, tetapi ia tidak bertanya lebih jauh.

Ia langsung berjalan menuju meja makan.

Aku mematikan televisi lalu mengikutinya.

"Kenapa TV-nya dimatiin?" tanyanya.

"Udah nggak pengen nonton."

Aku dan Javier duduk saling berhadapan.

Ia mulai membuka kotak makanan yang dibawanya.

Sementara aku...

Aku tidak benar-benar fokus makan.

Ada pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.

Aku ingin bertanya.

Tapi aku juga merasa tidak pantas bertanya.

"Nay..."

Aku langsung mengangkat kepala.

"Hm?"

"Besok temanku nikah dan aku diundang."

"Terus?"

"Ehm..." Javier terlihat ragu beberapa detik. "Mau nggak kamu temenin aku kondangan?"

Aku sedikit terkejut.

"Kenapa aku harus temenin kamu kondangan?" tanyaku. "Aku kan bukan benar-benar istri kamu."

"Tapi secara status kamu istriku."

Aku menghela napas.

"Teman-teman kamu nggak ada yang tahu kamu nikah, kan?"

"Nggak."

"Nah. Jadi buat apa aku ikut?" ucapku. "Dan kalau aku ikut, emangnya kamu nggak malu?"

"Malu kenapa?"

Aku menusuk nasi di piringku.

"Aku kan nggak secantik mantan kamu."

Javier langsung berhenti makan.

Ia menatapku dengan ekspresi terkejut.

"Kenapa tiba-tiba kamu bahas mantan aku?"

Aku tidak menjawab.

"Dan emangnya kamu tahu dari mana kalau mantanku cantik?"

"Tadi siang aku lihat dia di bioskop."

"Apa?!"

Javier benar-benar terlihat kaget kali ini.

"Kamu lihat Devina?"

Aku mengangkat alis.

"Oh... namanya Devina ya?"

Javier masih menatapku.

"Kirain Ina. Soalnya tadi temennya manggil gitu."

"Namanya Devina, tapi panggilannya Ina."

Entah kenapa aku langsung merasa kesal.

Kenapa dia harus menjelaskan itu?

Seolah-olah aku memang ingin tahu.

"Ah..." ucapku pelan. "Dia punya nama panggilan."

"Tadi siang kamu cuma lihat doang atau sempat ngobrol?"

"Cuma lihat doang."

"Terus kamu tahu dia mantanku dari mana?"

"Dari Janessa." ucapku. "Tadi siang Janessa ikut nonton juga. Katanya gabut di rumah."

"Apa?"

Javier langsung memijat pelipisnya.

"Terus Janessa ngobrol nggak sama Ina?"

"Nggak."

Javier menghela napas lega.

"Syukurlah."

Aku langsung menatapnya.

"Kenapa bersyukur?"

"Nggak apa-apa."

Jawabannya terlalu cepat.

Terlalu singkat.

Seolah ada sesuatu yang sengaja tidak ingin ia ceritakan.

Tapi mungkin itu memang bukan urusanku.

Lagipula aku tidak seharusnya peduli.

"Nay."

"Hm?"

"Jadi gimana?"

Aku menatapnya bingung.

"Gimana apa?"

"Mau temenin aku kondangan besok nggak?"

Aku langsung menggeleng.

"Nggak."

"Kenapa?"

"Nanti ada mantan kamu lagi."

Javier terlihat tidak mengerti.

"Nanti teman-teman kamu bandingin aku sama dia."

"Kamu nggak usah dengerin."

Aku mendengus pelan.

"Tapi aku punya telinga buat mendengar."

"Pura-pura nggak denger aja."

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu menghela napas.

"Kenapa sih kamu pengen aku temenin?"

Javier terdiam sejenak.

Kemudian menjawab,

"Karena kamu istriku."

"Istri palsu."

Ucapan itu membuat Javier ikut terdiam.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

"Baiklah." akhirnya Javier bersandar di kursinya. "Kalau kamu nggak mau."

Entah kenapa ia terdengar sedikit kecewa.

Tapi aku memilih mengabaikannya.

Aku tetap tidak akan ikut.

Untuk apa?

Aku tidak ingin terlibat dengan masa lalunya.

Dan aku juga tidak ingin dibandingkan dengan wanita yang pernah dicintainya.

1
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!