Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ferdy
Tubuhku yang masih begitu lemas membuat Ferdy masih setia menemaniku di ruangan UKS ini. Ada keheningan lama diantara kami. Otakku masih enggan mengeluarkan semua unek-uneknya, meski aku sangat penasaran. Bagaimana bisa Ferdy ada di UKS ini. Kemana pak Liam yang bisa dipastikan dialah yang membawaku kesini. Dan kenapa UKS begitu sepi padahal biasanya minimal ada petugas jaga yang terkadang pun jumlahnya melebihi pasien yang ada.
"Lo udah oke belum? Pulang yuk. Jangan kelamaan disini, makin gelap makin serem tahu." Ferdy memulai bersuara setelah dia menyimpan iPhone nya yang membuatnya sibuk dari tadi.
"Gelap?!" Aku bertanya bingung. Jika dirunut semua kejadian dari aku terbangun di perpustakaan seharusnya ini masih kisaran jam 2 atau 3 sore.
"Ya elaaah.. ni bocah masih pingsan apa ya?! Sekarang sudah lewat Maghrib Adit.. Tadi jam 4-an gue mau pulang lihat pak Liam gotong-gotong Lo sendirian, ya sebagai murid yang berbakti dan baik hati gue bantuin dong. Eh, pak Liam nya malah izin nggak bisa nemenin karena ada kuliah sore. Mau nggak mau gue deh yang nemenin Lo. Mana UKS sudah tutup lagi, untungnya pak Liam punya kunci nya." Ferdy menjelaskan panjang lebar. Aku bahkan sampai kaget mendengarnya, apa selama itu aku tidur di perpustakaan?!
Tapi mengingat fakta beberapa hari ini aku sangat sulit untuk tidur malam, mungkin hal tersebut cukup wajar. Dari selesai jam istirahat sekitar jam 10 pagi sampai jam 4. Benar-benar rekor seorang Adit tidur di sekolah dengan rentang waktu 6 jam.
"Thanks ya Dy, sorry banget gue jadi ngerepotin Lo." Ucapku kemudian, aku benar-benar tidak bisa meresponnya dengan santai seperti interaksi ku sebelumya dengan Ferdy. Ya, dia teman sebangku ku. Dia juga yang selalu menjadi saksi hubunganku dengan Dheka. Dia juga yang selalu menjadi partner ku di sekolah ini. Partner ngantin, partner main, partner ngobrol, partner berantem, partner ledek-ledekan. Semuanya. Bisa dibilang kita adalah sahabat rasa saudara.
"Apaan sih Lo. Biasa aja deh. Namanya temen ya saling bantu lah. Jadi gimana? Mau nginep disini aja, gue mah ogah. Ini babeh juga udah nanyain dari tadi." Kembali Ferdy misuh-misuh melihatku masih setia duduk santai di ranjang UKS ini. Terlintas di otakku, untuk lebih baik aku menginap saja di rumah Ferdy. Mengingat keadaan rumah yang sepertinya tidak akan ada yang peduli akan keberadaan ku.
"Gue boleh nginep di rumah Lo nggak Dy?" Segera kutanyakan gagasan ini kepadanya.
"Boleh banget, tapi nyokap Lo izinin nggak? Secara Lo kan anak emas nya gitu. Nanti gue yang kena semprot lagi." Aku terdiam sejenak, sekarang mamah nggak begitu lagi. Mungkin malah berharap aku nggak pernah ada.
"Hmm,, Nanti gue hubungi orang rumah. Tas gue masih di kelas kayaknya Dy. Kita ke kelas dulu ya" Aku mulai menurunkan kaki dan mencoba berdiri. Masih sedikit pusing, tapi aman..
"Eh busettt,, beneran gelap-gelap gini kita mau ke kelas? Gue aja yang telpon ke om Dhika ngabarin Lo nginep di rumah babeh."
"Ke kelas aja ya. Gue mau ngabarin ke Bi Asih solanya, Lo pasti ga punya nomornya kan?" Aku mulai bernegosiasi, berharap Ferdy tidak menghubungi papah.
"Ya elaaah.. gampang tinggal nelpon bokap Lo. Ntar juga bi Asih bakal dikasih tahu." Ferdy masih keukeuh agar tidak ke kelas.
"Nggak sesederhana itu Dy, gue.. gue.. gue lagi marahan sama bokap." Aku mencoba memberi alasan yang lebih masuk akal.
"Gue nunggu disini deh, Lo ke kelas sendiri aja ya." Ucapnya kemudian. Aku sebenarnya bisa saja ke lantai dua sendiri, aku bukan tipe penakut yang tidak berani berjalan sendirian di tengah kegelapan. Tapi tubuhku saat ini tidak mendukung untuk itu. Kepalaku masih agak muter, sangat mustahil aku bisa mencapai kelasku tanpa bantuan seseorang yang akan sigap menahanku saat tubuhku tiba-tiba oleng.
"Hmm... Gue tau Lo takut kan Dy, tapi please temenin gue ya. Gue yang didepan deh, Lo juga deh yang pegang senternya meski Lo di belakang." Ucapku sengaja memberikan opsi menguntungkan baginya.
"Iye.. iye.. gue temenin. Bilang aja Lo juga takut kan kalau sendiri kesana?!"
"Iyaaa... Makanya temenin." Aku sengaja mengiyakan untuk segera mendapatkan persetujuannya.
Kami berjalan menyusuri koridor sekolah di lantai satu ini untuk mencapai tangga ke lantai atas. Ruangan UKS memang merupakan gedung terpisah yang berada di ujung gedung berlantai empat sekolahku. Kelasku berada di lantai ke dua gedung bertingkat itu. Kami berjalan agak pelan di koridor lantai satu ini, entah mengapa di sepanjang lorong gelap ini kami sama sekali tidak mendapati satu lampu pun yang dihidupkan.
"Lo arahin ke depan dong Dy senternya. Udah mau naik tangga nih. Gue khawatir salah pijakan nanti." Aku berkata pelan menoleh ke belakang. Kehadiran Ferdy seperti tidak kurasakan dari tadi.
"Dy?! Lo dimana?!" Aku bertanya heran saat kusadari tak ada Ferdy di belakangku.
Hmm... Dia malah ngilang...
Aku memutuskan melanjutkan perjalanan ke lantai dua, mengingat tangga sudah ada di depan mata. Tapi..
Sial!
Pusing itu datang kembali. Kali ini yang ada di depanku mulai berbayang. Kucoba menggelengkan kepala dan memijat pelan pelipisku. Kemudian aku menengadahkan kepala dan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya pelan, berharap rasa pusing ini akan segera hilang. Aku memutuskan untuk duduk beberapa saat di anak tangga paling bawah yang ada di depanku. Semoga tidak lama lagi rasa pusing ini berkurang.
"Dit... Lo kenapa tinggalin gue..." Suara cukup pelan yang berasal dari koridor gelap tadi tidak kuhiraukan sama sekali. Aku tahu itu suara Ferdy, kulihat tak ada satu titik cahaya pun disana entah kenapa dia tidak menghidupkan senter iPhone nya seperti yang sudah kami rencanakan di awal.
Kalu saja kondisiku tidak sedang menahan rasa pusing ini, ingin sebenarnya aku menakuti Ferdy disana. Tapi mengingat kondisiku yang seperti ini, sangat tidak mungkin aku melakukannya.
Aku segera melipat tanganku berpangku pada kedua lututku untuk menopang kepalaku yang belum memunculkan tanda-tanda akan membaik. Biarlah nanti Ferdy pasti menemukanku disini, karena hanya lewat tangga inilah akses untuk keatas.
Beberapa menit kemudian..
"Astaghfirullah! Lo setan apa manusia?!" Hampir saja aku terlonjak kaget saat teriakan keras tiba-tiba menghampiri telingaku.
"Ini gue Dy, Lo lama banget. Gue kira Lo ada dibelakang gue." Aku segera mengangkat kepalaku dan menoleh ke arahnya, yang terlihat ketakutan untuk melanjutkan langkah.
"Aditttt.... Sumpah gue takut banget tadi, gue kira yg gue Pegang tangan Lo. Tapi heran aja kenapa Lo diem aja. Tahu ga pas gue senterin ternyata itu tangan jadi-jadian." Ferdy segera menghambur kedekatku dan bercerita dengan tergesa.
"Tangan jadi-jadian apaan?" Aku berusaha mencerna ceritanya.
"Gue nggak tahu. Intinya gue merasa kalau itu tangan Lo. Tekstur bentuk dan rasa nya sama lah. Tapi masa pas gue arahin senter malah ga ada orang di depan gue. iPhone gue juga langsung kelempar gitu aja. Gue langsung lari kesini." Dengan menggebu Ferdy berusaha menjelaskan. Aku ingin tertawa menanggapi nya, tapi mungkin akan kubahas nanti saja kalau suasana sudah normal.
"Ish Lo,, tekstur bentuk rasa, emangnya tangan gue makanan. Udah yuk keatas. Tapi gue agak kliyengan nih Dy, Lo siap nggak kalau gue jatuh?" Aku sengaja mengalihkan pembicaraan agar Ferdy tidak terfokus pada kejadian horror yang menimpanya.
"Lo kira gue aderai yang punya badan super gede buat nahan tubuh jangkung Lo. Jangan jatuh lah Dit. Pelan-pelan aja. Ntar juga nyampe kok." Ferdy menggerutu menanggapi ucapanku.
"Siap,, ayo jalan." Aku menarik tubuhku berdiri dan kembali sensasi berbayang pada semua yang tertangkap oleh mataku, kurasakan lagi. Semoga semua baik-baik saja.
"Tunggu,,, kita sebelahan aja ya. Gue nggak mau kehilangan Lo lagi."
"Romantis banget sih Dy, gue jadi merinding." Kali ini aku benar-benar tertawa. Pilihan kalimat yang diucapkan Ferdy dari tadi sangat lucu menurutku. Ferdy segera meraih tanganku dan berjalan menapaki tiap anak tangga mengikuti arah kakiku.
"Udah diem aja Lo, nggak usah ketawa-ketawa." Ferdy sejajari langkahku setelah kaki kami menginjak lantai dua. Kami berjalan menuju kelas yang ada di pintu pertama lantai dua ini.
Buk!!
"Astaghfirullah!" Ferdy berteriak kencang bersamaan dengan suara benda terjatuh yang sepertinya ada di sekitar papan tulis.
"Udah lah palingan juga spidol atau penghapus. Sebentar, gue nyalain senter dulu." Aku mengambil iPhone ku didalam ransel yang sekarang sudah terpakai di belakang punggungku.
"Tadi dimana Lo jatuhin iPhone nya?" Aku bertanya saat kami sedang melewati lorong koridor lantai satu.
"Sebelum ke gedung ini, masih di sekitar bangunan UKS kayaknya Dit." Jawab ferdy lebih santai sekarang.
"Oke, kita cari."
Tidak membutuhkan waktu lama, kami menemukan iPhone Ferdy ada di koridor penghubung bangunan UKS dan gedung berlantai empat yang menjadi bangunan untuk kelas.
"Nah, tadi tuh.."
"Sst.. Stop, udah nanti aja diceritainnya. Kita pulang dulu. Lo dijemput atau bawa motor?" Aku langsung memotong ucapan Ferdy yang sepertinya akan bercerita kronologi kejadian horror yang menimpanya. Ya, sedikitnya aku tahu tentang rumor di koridor penghubung ini. Bahkan aku sempat memergoki langsung penampakan di koridor ini saat malam Pelatihan Dasar Kepemimpinan untuk adik-adik OSIS tahun lalu.
"Gue bonceng Lo aja." Jawabnya, sambil mengunci pintu UKS yang ternyata masih tergantung di pintunya.
"Siap, Lo yang bawa ya. Kepala gue masih belum oke ini."
Kami pun berjalan meninggalkan bangunan sekolah yang terbilang cukup mewah di kawasan ibukota ini. Aku tahu Ferdy masih ingin menuntaskan ceritanya. Biarlah nanti di rumahnya kami bercerita panjang lebar.
"Bi, Adit izin nginep di rumah Ferdy. Kalau mama nanya tolong disampaikan. Klo ga nanya, ga usah kasih tahu ya Bi"
Aku segera mengetikkan pesan kepada Bi Asih di rumah. Dan tidak membutuhkan waktu lama, balasan dari Bi Asih pun ku terima. Waktu malam begini memang bi Asih sudah free dan biasanya ada di kamarnya. Jadi beliau pasti bisa dengan leluasa memegang ponsel nya.
Baik den, den Adit jaga kesehatan selalu disana. Jangan lupa makan malam.
Aku tersenyum miris mendapati perhatian dari Bi Asih. Jika dulu mamah yang akan selalu memberi pesan bermacam-macam saat aku berada di luar rumah, sekarang aku hanya mendapati dari Bi Asih saja. Aku merindukan perhatian mamah dan sapaan hangatnya.
Kenapa semua berubah...
Ada apa sebenarnya?!
semangatt juga kak 💪