"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Siang itu, suasana lantai 12 yang biasanya tenang mendadak berubah tegang. Suara denting sepatu heels tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer yang mengilat.
Seorang wanita tampil sangat memukau dengan gaun merah merona yang membungkus tubuh semampainya. Tas Hermès edisi terbatas menggantung di lengannya. Marissa Mayer—putri dari salah satu konglomerat terbesar di Jakarta sekaligus wanita yang digadang-gadang akan dijodohkan dengan Elzio—melangkah masuk tanpa mengetuk pintu.
Hampir seluruh staf kantor tahu siapa Marissa. Sudah berbulan-bulan wanita itu mengejar Elzio, memamerkan keakraban keluarganya di depan publik, meskipun Elzio selalu dingin dan berulang kali menunda acara pertunangan resmi yang direncanakan keluarga besar mereka.
Namun, rumor baru yang berembus dari salah satu petinggi kantor membuat telinga Marissa panas. Kabarnya, ada seorang asisten baru—seorang wanita biasa tanpa latar belakang keluarga terpandang—yang berani membentak Elzio dan anehnya, membuat sang CEO yang dingin itu tunduk dan bertingkah tidak rasional.
Pintu meja kerja khusus Asisten Eksekutif didorong kasar oleh Marissa.
"Jadi, kamu wanita bernama Clara itu?" suara Marissa mengalun sinis, penuh dengan nada merendahkan.
Clara, yang sedang sibuk menyusun berkas laporan keuangan, perlahan mengangkat kepalanya. Dia menatap Marissa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan wajah datar tanpa riak terkejut.
"Ya, saya Clara. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" jawab Clara tenang, suaranya tetap profesional.
Marissa melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di dada sambil menyunggingkan senyum mengejek. "Saya cuma mau melihat seperti apa rupa cewek yang rumornya lupa daratan di kantor ini. Ternyata biasa saja. Pakaian kamu bahkan tidak sampai seharga tali sepatu saya."
Clara menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Kalau Mbak ke sini cuma mau menilai harga baju saya, Mbak salah tempat. Mbak bisa ke mall atau tempat penilai barang antik. Di sini tempat kerja."
Mata Marissa membelalak kaget. "Kamu—berani-beraninya bicara begitu sama saya?! Kamu tahu saya siapa, hah?! Saya Marissa Mayer, calon tunangan Elzio!"
"Tahu. Terus hubungannya sama saya apa?" balas Clara ceplas-ceplos, menatap Marissa lurus-lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Saya ke sini untuk memperingatkan kamu!" bentak Marissa, suaranya meninggi hingga membuat beberapa staf di luar ruangan menoleh cemas. "Sadar diri! Kamu itu cuma asisten murahan yang kebetulan menarik perhatian Elzio sebentar. Jangan mimpi bisa masuk ke jajaran keluarga Mahendra! Posisi kamu di sini cuma selingan!"
Bukannya cengeng, takut, atau menangis seperti wanita pada umumnya yang diintimidasi, Clara justru terkekeh pelan. Sebuah tawa hambar dan geli yang membuat muka Marissa makin merah padam.
"Mbak, dengerin saya baik-baik ya," kata Clara, berdiri dari kursinya dan menopang kedua tangannya di atas meja, menatap Marissa dengan mata tajam yang dingin. "Mbak pikir saya suka ada di sini? Mbak pikir saya kebelet pengen jadi istrinya Elzio Mahendra?"
Dahi Marissa berkerut bingung. "Maksud kamu apa?!"
"Saya di sini bukan karena saya cinta sama dia, apalagi karena godain dia!" tegas Clara, suaranya penuh penekanan. "Saya terjebak di sini karena pria sakit jiwa yang Mbak kejar-kejar itu ngancam saya pakai denda lima miliar rupiah! Saya diancam denda kalau berani resign atau kabur!"
Marissa terpaku, matanya berkedip tidak percaya. "Li... lima miliar?"
"Iya! Lima miliar rupiah!" sambung Clara galak, melangkah mengikis jarak ke hadapan Marissa. "Saya sama sekali enggak ada rasa suka, enggak ada niat sedikit pun buat nyangkut di hidupnya Elzio. Pria itu yang obsesif ngejer-ngejer saya kaya psikopat!"
Marissa menelan ludah, sedikit gentar melihat ketegasan dan aura kuat yang dipancarkan Clara. "Ka-kamu bohong kan?! Kamu cuma pura-pura biar kelihatan beda di depan Elzio!"
Clara mendengus hambar, lalu merogoh tas tangannya dengan cepat dan mengeluarkan sebuah lembar dokumen resmi yang sudah dilegalisir. Dia menepuk dokumen itu tepat di depan dada Marissa.
"Lihat sendiri kalau enggak percaya! Ini surat kontrak kerja denda penalti saya!" ujar Clara lantang.
Dia lalu menatap Marissa dengan senyum penuh penawaran yang konyol namun serius. "Mbak kan kaya raya tuh, tasnya aja puluhan juta. Gimana kalau Mbak bayarin denda lima miliar saya ke Elzio sekarang juga? Begitu duitnya cair dan utang kontrak saya lunas, detik ini juga saya angkat kaki dari kantor ini dan serahin Elzio bulat-bulat buat Mbak. Gimana? Berani bayar enggak?"
Marissa membisu total. Bibirnya terkatup rapat, wajahnya syok luar biasa. Dia tidak pernah membayangkan akan berhadapan dengan wanita seberani dan seaneh Clara—seorang wanita yang bukannya mempertahankan CEO kaya raya, tapi justru minta ditalangi lima miliar agar bisa bebas.
"Kenapa? Kok diam?" tantang Clara lagi, memiringkan kepalanya dengan senyum penuh kemenangan. "Katanya mau Elzio? Bayar lima miliar buat kebebasan saya, dan Elzio jadi milik Mbak seutuhnya. Deal?"
"Ka-kamu... kamu gila!" gagap Marissa, mundur dua langkah karena kehilangan kata-kata.
"Yang gila itu calon tunangan Mbak!" semprot Clara pedas.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan berbunyi dari arah pintu utama yang terbuka.
Prok... prok... prok...
Elzio berdiri di sana dengan setelan jas hitamnya yang sempurna. Pria itu menyandarkan bahunya di bingkai pintu, menatap Clara dengan binar mata pekat yang penuh gairah, kekaguman, dan dominasi. Seringai tampan terukir jelas di wajahnya.
Dia sudah berdiri di sana sejak Marissa membentak Clara, dan mendengar setiap kata yang diucapkan calon istrinya itu.
"Penawaran yang sangat menarik, Clara," ujar Elzio dengan suara bariton rendahnya yang tenang, melangkah masuk ke dalam ruangan.
Marissa langsung menoleh panik. "Elzio! Kamu dengar sendiri kan cewek ini?! Dia cuma manfaatin kamu! Dia bahkan nyuruh aku bayar lima miliar buat—"
"Tutup mulutmu, Marissa," potong Elzio dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari Clara sedikit pun. Aura hangatnya mendadak menguap, berganti dengan hawa membeku yang mengerikan saat menatap Marissa. "Siapa yang memberi kamu izin masuk ke ruangan saya dan mengganggu calon istri saya?"
"Calon istri?!" pusing Marissa hampir meledak. "Elzio, keluarga kita—"
"Tidak pernah ada pertunangan di antara kita, Marissa," tegas Elzio penuh nada mutlak. "Dan jika kamu berani melangkahkan kaki ke kantor ini lagi untuk mengintimidasi Clara... saya pastikan investasi keluarga saya di perusahaan ayahmu ditarik seluruhnya sore ini juga."
Wajah Marissa pucat pasi seketika. Mengerti bahwa ancaman Elzio bukan gertakan sambal, Marissa menyambar tasnya, menatap Clara penuh dendam, lalu berlari keluar ruangan dengan rasa malu yang membakar.
Setelah pintu tertutup rapat, keheningan menyelimuti ruangan.
Clara menyilangkan tangan di dada, memelototi Elzio galak. "Lu ngapain malah ngusir dia?! Padahal dikit lagi dia mau bayarin utang lima miliar gue!"
Elzio berjalan mendekat, mengurung tubuh Clara di antara meja dan dada bidangnya. Dia merendahkan kepalanya, menatap bibir cemberut Clara dari jarak beberapa milimeter.
"Meskipun dia membawa uang satu triliun rupiah, Clara..." bisik Elzio rendah, suaranya sarat akan janji yang pekat. "Saya tidak akan pernah menjual kebebasan kamu. Kamu milik saya, dan lima miliar itu hanya alasan kecil agar kamu tetap berada di jangkauan saya."
Clara mendengus kasar, memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas. "Gue benci lu, Elzio."
Elzio terkekeh pelan, mengecup pipi mulus Clara dengan lembut. "Sebut benci sesukamu, sweetheart... tapi kamu tidak akan pernah bisa pergi dari saya."