“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Bab 12: Di Balik Pintu Ruangan Kepala Sekolah
Udara di koridor lantai tiga SMA Nusantara terasa begitu padat dan menyesakkan. Langkah kaki Pak Gunawan yang tegas memimpin di depan, diiringi oleh derap sepatu Rangga yang tenang namun penuh wibawa, serta langkah ragu-ragu Keisha di barisan belakang, menciptakan gema yang terdengar nyaring di sepanjang lorong sunyi tersebut. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara sejak meninggalkan area mading sekolah.
Begitu tiba di depan pintu kayu berukir cokelat tua bertuliskan Ruang Kepala Sekolah, Pak Gunawan berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan sorot mata penuh peringatan, lalu mengetuk pintu tiga kali sebelum membukanya lebar-lebar.
"Silakan masuk," ucap Pak Gunawan dingin.
Rangga melangkah masuk terlebih dahulu, memastikan tubuh tegapnya seolah menjadi perisai pelindung bagi Keisha yang mengekor tepat di belakangnya. Di dalam ruangan ber-AC sentral yang luas itu, Kepala Sekolah—Bapak Haryono—sudah duduk di balik meja kerjanya dengan ekspresi wajah yang tampak kusut dan lelah. Di sisi ruangan sebelah kiri, duduk pula seorang pria paruh baya berjas rapi dengan gestur tubuh kaku dan dingin; seseorang yang sangat dikenal oleh Rangga maupun seluruh jajaran sekolah—Bapak Danendra Aldebaran, ayah kandung Rangga sendiri.
Suasana di dalam ruangan mendadak membeku dalam hitungan detik.
Keisha menelan ludah susah payah saat melihat kehadiran pria paruh baya berwajah tegas yang memiliki kemiripan garis wajah yang sangat kuat dengan Rangga. Aura intimidasi dan kekuasaan langsung terpancar jelas dari sosok ayah sang ketua geng tersebut.
Bapak Haryono mengangkat wajahnya, menatap tajam ke arah Rangga dan Keisha secara bergantian melalui kacamata berbingkai emasnya. "Duduklah kalian berdua," titahnya dengan nada suara yang berat.
Rangga tidak langsung duduk. Ia menarik kursi di sebelah Keisha, mempersilakan gadis itu duduk terlebih dahulu, lalu ia sendiri duduk di sampingnya dengan posisi tubuh tegap dan tatapan lurus menantang ke arah sang ayah serta kepala sekolah. Sedikit pun tidak ada gurat ketakutan di wajah tampannya.
"Rangga," buka Bapak Haryono memulai pembicaraan, menyodorkan segepok berkas laporan di atas meja. "Pihak sekolah tidak bisa lagi menutup mata atas segala tindakan indisipliner yang kamu lakukan. Insiden perkelahian kemarin sore di luar lingkungan sekolah yang melibatkan geng motor Viper sudah mencoreng nama baik SMA Nusantara. Terlebih lagi..." Kepala sekolah melirik sekilas ke arah Keisha yang menunduk gelisah. "...kasus ini menyeret seorang siswi beasiswa berprestasi murni."
Bapak Danendra Aldebaran, ayah Rangga, berdehem pelan. Suara berat pria paruh baya itu langsung menghentikan ucapan kepala sekolah. Danendra melepaskan kacamata pembacanya, lalu menatap anak laki-lakinya dengan sorot mata dingin penuh kekecewaan yang sudah terpendam lama.
"Tidak perlu bertele-tele, Kepala Sekolah Haryono," ucap Danendra dengan nada suara yang tenang namun sarat akan tekanan mutlak seorang pengusaha besar. Ia mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Rangga. "Anak ini memang tidak pernah bisa diatur sejak ibunya meninggal. Dia pikir sekolah ini adalah arena balap liar tempat dia bisa berkuasa sesuka hatinya."
Rangga mengepalkan rahangnya, sorot mata kelamnya menajam menatap sang ayah. "Kalau kedatangan Bapak ke sini cuma buat menceramahi saya di depan pihak sekolah, lebih baik Bapak tanda tangani saja surat surat pengeluaran saya sekarang juga," balas Rangga dingin, tanpa sedikit pun rasa hormat yang tersisa dalam nada bicaranya.
"Rangga!" bentak Pak Gunawan kaget mendengar cara bicara pemuda itu kepada orang tuanya sendiri.
Namun Danendra justru mengangkat tangan kanannya, menyuruh Pak Gunawan untuk diam. Pria paruh baya itu tersenyum tipis sinis, lalu mengalihkan pandangannya dari Rangga kepada Keisha yang duduk ketakutan di samping putranya.
"Jadi... kamu perempuan muda yang berhasil membuat anak bodoh ini kehilangan akal sehatnya hingga mempertaruhkan masa depan sekolahnya?" tanya Danendra dengan suara rendah yang menusuk tajam, menatap Keisha lekat-lekat.
Keisha merasakan sekujur tubuhnya merinding ketakutan. Tenggorokannya terasa tercekat, dan ia tidak berani mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan mengintimidasi dari ayah Rangga tersebut.
Melihat gadis di sampingnya mulai gemetar ketakutan, batas kesabaran Rangga akhirnya benar-benar habis. Pemuda itu menggebrak meja kerja kepala sekolah dengan kepalan tangannya hingga menimbulkan suara dentuman keras yang membuat seluruh orang di dalam ruangan terlonjak kaget.
"Jangan libatkan dia!" teriak Rangga murka, suaranya menggema di seluruh ruangan dengan nada ancaman yang nyata. "Semua masalah ini bukan urusan Keisha! Kalau Bapak atau pihak sekolah mau menghukum seseorang, hukum saya! Keluarkan saya sekarang juga dari sekolah busuk ini!"
"Rangga! Jaga sikap kamu di hadapan kepala sekolah dan orang tua kamu sendiri!" geram Danendra bangkit berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena marah besar.
Kepala Sekolah Haryono buru-buru melerai situasi yang kian memanas tersebut. "Cukup! Kalian berdua tenangkan diri! Ini bukan tempat untuk berdebat kusir!" Pak Gunawan menghela napas panjang, lalu merapikan berkas-berkas di hadapannya.
"Keputusan pihak yayasan sudah hampir final," lanjut Kepala Sekolah dengan nada suara yang sedikit melunak namun tegas. "Untuk menghindari sanksi pengeluaran mutlak dan menjaga nama baik sekolah, dewan guru memberikan dua opsi pilihan terakhir bagi Rangga Dewantara Aldebaran."
Semua orang di dalam ruangan mendadak terdiam. Keisha mengangkat wajahnya perlahan, menatap cemas ke arah kepala sekolah.
"Opsi pertama," lanjut Kepala Sekolah Haryono, "Rangga dijatuhi sanksi skorsing berat selama satu bulan penuh tanpa boleh menginjakkan kaki di lingkungan sekolah, dan posisinya sebagai ketua geng serta seluruh aktivitas kelompoknya dibubarkan secara resmi di bawah pengawasan kepolisian sektor setempat."
"Dan opsi kedua?" tanya Rangga dingin, suaranya datar tanpa emosi.
Kepala Sekolah menatap Rangga lamat-lamat. "Opsi kedua... Rangga tetap diskors selama dua minggu, namun masa depannya diselamatkan dengan syarat wajib mengikuti program bimbingan kedisiplinan khusus setiap hari seusai jam sekolah, serta... ditemani oleh pendamping akademik yang ditunjuk untuk memastikan nilai dan perilakunya kembali terkontrol."
"Pendamping akademik?" Danendra mengerutkan keningnya tidak suka. "Siapa yang mau mendampingi anak berandal seperti dia?"
Kepala Sekolah Haryono melirik sekilas ke arah Keisha, lalu kembali menatap Danendra dan Rangga. "Siswi Keisha Zahra Aurellia. Berdasarkan catatan akademik sekolah, Keisha adalah siswi teladan dengan nilai umum tertinggi di tingkat kelas sebelas. Pihak sekolah menilai, hanya kedisiplinan dan ketulusan belajar siswi inilah yang bisa menetralisir sifat temperamental Rangga."
Mendengar usulan tersebut, seluruh orang di dalam ruangan terperangah.
Keisha membelalakkan matanya tidak percaya. Dirinya? Menjadi pendamping akademik dan pengawas kedisiplinan untuk sang ketua geng motor paling ditakuti? Itu adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah ia dengar seumur hidupnya!
Sementara itu, di sisi lain, sudut bibir Rangga justru perlahan terangkat membentuk seulas senyuman miring yang misterius. Di balik sorot mata kelamnya, ada kelegaan tersembunyi yang teramat besar. Pihak sekolah mengira hukuman itu adalah sebuah bentuk beban berat, namun bagi Rangga, itu adalah kesempatan emas agar ia bisa terus berada di dekat gadis yang kini telah menguasai separuh dunianya.
"Saya setuju dengan opsi kedua," ucap Rangga tegas tanpa ragu sedikit pun, memotong protes apapun yang hendak dilontarkan oleh ayahnya.
Bapak Danendra mendengus kesal, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena pihak sekolah sudah mengambil keputusan mutlak.
Keisha menoleh cepat ke arah Rangga dengan wajah panik, namun sebelum ia sempat membuka mulut untuk memprotes keputusan tersebut, Rangga menggenggam pergelangan tangan gadis itu di bawah meja secara sembunyi-sembunyi—memberikan kehangatan dan ketenangan yang menyuruhnya untuk mempercayai apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
Hari itu, di balik pintu tertutup ruangan kepala sekolah, takdir hidup Keisha dan Rangga resmi terkunci dalam ikatan baru yang tidak lagi bisa mereka lepaskan.