NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Brak!

Pintu ruang kerja pribadi yang kedap suara itu ditutup rapat. Sang Ayah langsung mengambil posisi duduk di bangku kebesarannya yang mewah. Namun, belum sempat Athur bersuara, sang Ayah tiba-tiba menggebrak meja jati di hadapannya dengan sangat keras, lalu melemparkan sebuah map cokelat besar hingga isinya berhamburan di atas meja.

"Jelaskan pada Papa, apa maksud dari semua ini, Athur?!" tekan sang Ayah dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Athur melangkah mendekat, sepasang matanya seketika membelalak terkejut saat melihat isi dari dokumen yang berhamburan itu. Di atas meja kerja ayahnya, berjejer rapi beberapa lembar foto Rara saat bekerja di kafe, foto Fino dan Nina, bahkan foto rumah lantai dua baru yang baru saja ia beli tadi malam untuk memindahkan keluarga Rara.

Athur mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyadari bahwa radar pengawasan ayahnya ternyata jauh lebih mengerikan dari yang ia duga. Sang Ayah sudah mengetahui seluruh insiden penggerebekan warga tiga minggu lalu hingga pernikahan sirinya dengan Rara.

"Kau menghilang hampir sebulan, mengabaikan Jesika, membiarkan Mamamu sakit sakitan, hanya demi menyembunyikan seorang gadis SMA miskin dari kontrakan kumuh?!" cecar sang Ayah tanpa ampun, menunjuk foto Rara.

"Jelaskan pada Papa, Athur! Siapa gadis ini sebenarnya dan apa yang sedang kau rencanakan di belakang keluarga?!"

Karena terus didesak dengan bukti-bukti yang sudah telanjur tidak bisa dibantah lagi, Athur akhirnya menarik napas panjang. Ia menegakkan tubuh tegapnya, menatap lurus ke dalam manik mata ayahnya dengan pandangan mutlak tanpa keraguan sedikit pun.

Athur akhirnya menceritakan seluruh kejadian malam jahanam tiga minggu lalu secara jujur—tentang bagaimana dirinya dijebak oleh musuh internalnya hingga terkena luka tembak di perut, bagaimana ia diselamatkan secara tulus oleh Rara dan adik-adiknya di tengah kemiskinan mereka, hingga bagaimana kesalahpahaman warga memaksa dirinya harus menikahi gadis polos itu di bawah tangan demi melindungi kehormatan keluarga Rara.

"Dia bukan sekadar gadis miskin, Pa," ucap Athur dengan suara beratnya yang menggelegar di ruang kedap suara itu, mengunci pandangan ayahnya.

"Gadis itu adalah istri sah Athurb di mata agama. Dan hari ini, Bagas sudah mendaftarkan pernikahan kami ke catatan sipil negara. Aku akan mempertahankan dia dan adik-adiknya dengan seluruh hidup saya, biarpun harus berhadapan dengan Papa atau seluruh isi rumah ini."

Mendengar pengakuan jujur dan tegas dari anak sulungnya yang terkenal keras kepala itu, sang Ayah terdiam sesaat, menatap Athur dengan pandangan yang sulit diartikan, sementara ketegangan di antara dua pria penguasa itu semakin merayap naik ke titik tertinggi.

Tuan Ganesha menatap lekat-lekat manik mata anak sulungnya begitu dalam. Di balik wajah kaku dan nada bicaranya yang mengintimidasi, ada rasa bangga yang tersembunyi melihat tanggung jawab besar yang ditunjukkan Athur.

"Apa kau yakin dengan semua konsekuensinya, Athur?" tanya Ganesha berat.

"Apa kau sanggup melindungi mereka di tengah dunia kita yang kejam? Apa kau sudah yakin dengan semua keputusanmu? Dan bagaimana dengan pertunanganmu? Lalu... bagaimana kau akan menjelaskan semua ini pada Mamamu? Katakan!"

Athur tidak gentar. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, lalu menjawab dengan tatapan mata yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan mutlak seorang pria sejati.

"Saya sangat yakin, Pa," jawab Athur, suaranya bergaung mantap di ruang kedap suara itu.

"Konsekuensi terbesar dari dunia kita adalah kehilangan orang yang tulus. Rara dan adik-adiknya telah menyelamatkan nyawa saya tanpa meminta satu sen pun keuntungan. Jika saya sanggup mengendalikan bisnis miliaran rupiah dan memimpin jaringan di luar sana, maka melindungi satu keluarga kecil adalah hal yang paling mudah bagi saya."

Athur melangkah satu senti lebih dekat ke meja ayahnya. "Mengenai Jesika... pertunangan itu sudah hancur bukan karena saya, tapi karena kebusukannya sendiri. Dia berselingkuh di belakang kita, dan bukti-buktinya sudah saya kunci. Pa, saya tidak pernah mencintai Jesika.

Tapi untuk Rara... dia adalah tanggung jawab hidup saya sekarang. Saya akan menjelaskan pada Mama secara perlahan, dan saya yakin Mama akan luluh melihat ketulusan Rara."

Untuk memberikan pukulan telak yang membuktikan keseriusannya, Athur merogoh saku dalam jaket kulitnya. Ia mengeluarkan sebuah map putih berlogo resmi negara, lalu meletakkannya dengan takzim di atas meja, tepat di hadapan Tuan Ganesha.

"Semua sudah terlambat untuk dihentikan, Pa. Ini surat nikah kami. Hari ini, kami sudah sah, bukan hanya di mata hukum agama, tapi juga di mata hukum pemerintah," tegas Athur.

Tuan Ganesha terdiam. Ia membuka map tersebut, menatap lembaran kertas resmi yang mencantumkan nama Athur dan Rara sebagai suami istri sah. Perlahan, sudut bibir pria paruh baya itu terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat hangat. Faktanya, Tuan Ganesha sangat menyetujui hubungan ini. Ia sudah lama muak dengan keangkuhan keluarga Jesika, dan ia bangga anak sulungnya memilih wanita yang tulus, bukan wanita yang haus harta.

Sementara itu, di ruang kepala sekolah SMA Garuda, atmosfer terasa sangat mencekam. Evan duduk bersandar dengan santai di kursi sofa, satu kakinya diangkat ke atas lutut, sementara kacamata hitamnya sengaja diturunkan ke ujung hidung. Di hadapannya, Kepala Sekolah dan Ketua Yayasan duduk dengan keringat dingin bercucuran.

"Jadi... dokumen pencabutan beasiswa Fino ada di tangan saya sekarang," ucap Evan sambil mengetuk-ngetuk map di meja dengan gaya kasual namun penuh ancaman terselubung.

"Kalian tahu kan, siapa pemilik modal terbesar yang menyokong dana yayasan sekolah ini selama lima tahun terakhir?"

Ketua Yayasan menelan ludah dengan susah payah. "I-iya, Tuan Evan... Grup Laoise milik Tuan Besar Ganesha."

"Bagus kalau masih ingat," sahut Evan dengan senyum miring.

"Bos saya tidak suka ada anak berprestasi yang dikeluarkan hanya karena membela kehormatan keluarganya dari fitnah murid-murid bermulut sampah di sini. Kami ingin kesepakatan yang adil. Kembalikan beasiswa Fino utuh tanpa syarat sekarang juga."

Kepala Sekolah mencoba memberanikan diri bersuara. "Tapi Tuan Evan, Fino terlibat perkelahian hebat dengan Alden di koridor. Aturan sekolah mewajibkan skorsing satu minggu. Jika beasiswanya langsung kembali tanpa hukuman, murid lain akan curiga."

Evan terkekeh rendah, sebuah ide cerdik melintas di kepalanya. "Kalau begitu, ubah hukumannya. Jangan skorsing Fino satu minggu, tapi berikan dia skorsing selama dua minggu penuh."

Kepala Sekolah dan Ketua Yayasan melongo kebingungan. "Dua minggu? Bukankah itu justru memperberat hukumannya?"

"Bagi murid lain, itu hukuman berat. Tapi bagi kami, itu adalah waktu libur berbayar yang aman agar Fino bisa beristirahat di rumah baru yang jauh dari jangkauan musuh, sementara bos saya membersihkan sisa-sisa pengkhianat di luar," bisik Evan dengan nada tajam yang mengunci perdebatan.

"Dan ingat satu hal... beasiswanya harus tetap aktif begitu masa dua minggu itu selesai. Setuju?"

Tanpa pilihan lain, Ketua Yayasan langsung mengangguk cepat dan menandatangani surat perjanjian baru tersebut. "S-setuju, Tuan Evan. Kesepakatan gol."

Namun, ada satu fakta besar yang tidak diketahui oleh Evan maupun Athur saat itu. Begitu Evan keluar dari ruangan, Ketua Yayasan langsung mengembuskan napas lega yang teramat sangat, lalu buru-buru mengambil telepon khusus.

Ternyata, sebelum Evan atau Athur bergerak ke sekolah, Tuan Ganesha sudah lebih dulu menelepon pihak yayasan secara rahasia pagi-pagi sekali! Sebagai ayah yang selalu memantau pergerakan anak-anaknya, Tuan Ganesha-lah yang sebenarnya memerintahkan yayasan untuk mengamankan posisi beasiswa Fino sejak awal dan mengatur skenario agar sekolah terlihat tunduk pada gertakan Evan.

 Tuan Ganesha melarang keras pihak sekolah membocorkan keterlibatannya kepada siapa pun, termasuk kepada Athur dan Evan, demi melihat sejauh mana anak sulungnya itu berjuang melindungi keluarga barunya.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!