Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Baru
Jam 06:45. Nurse Station Poli Bedah Onkologi, Lantai 5 . Medika Care Hospital.
Belum jam visit. Kopi belum habis. Tapi grup WA suster RS Medika gosip sudah meledak dari jam 5 subuh.
Suster Nela, 28 tahun. Koordinator poli: nyodorin HP sambil bisik-bisik.
"Nih liat. Dari HR. Dokter baru. Mulai hari ini."
Suster Ina, 25 tahun. Suster praktek: langsung nongol.
"Spesialis apa, Mbak? Ganteng gak?" Bertanya dengan nada kepo maksimal.
Suster Nela geser layar. Plang nama digital di layar. dr. Arlo Seth Pratama, Sp. BTKV(K) Onko. Thoraks, FACS.
Seketika nurse station hening tiga detik.
Suster Tika, 31 tahun, senior, menyipitkan matanya. "Arlo...Seth...Pratama?" gumamnya mengingat sesuatu. "Pratama? Bukannya ini anak sulung keluarga Pratama? Berarti calon kakak iparnya dokter Devan dong?" Tebaknya yakin.
Suster Nela ngangguk pelan. Suaranya di pelanin. "Katanya baru balik dari MGH, Boston. Fellowship Onko Bedah Thoraks. Plang namanya aja FACS." Katanya menjelaskan. "Dia gak pake jalur orang dalam. Langsung ditempatin di lantai 5. Sebelah ruangannya dokter Devan."
Suster Gina langsung mode fangirl panik. Matanya melebar. "MGH?! Itu rumah sakitnya dokter Devan...ehh maksudnya, sekelas dokter Devan dong?! Gantengnya gimana, Mbak? Setara dokter Devan nggak?"
Suster Tika nyender ke meja. Ia tertawa melihat tingkah juniornya yang selalu heboh saat ada dokter baru. Apalagi sekelas dokter Arlo Pratama, yang punya segudang kelebihan dan yang paling penting... status single nya.
Jari suster Tika nunjukin layar HP. Foto dr. Arlo terpampang. Jas putih, dasi hitam, rahang tajam. "Aduh...Gina sayang, kalau dokter Devan itu dewa maut. Tapi... kalau dokter Arlo ini malaikat maut." foto itu Dingin. Datar. Tampan, tapi nggak ada senyum. Kayak lagi menilai dosa seseorang.
Suster Gina menelan ludah setelah melihat visual dokter Arlo. "Oh ya ampun...ini lantai 5 udah kayak punya kutub Utara sama kutub selatan. Ganteng sih, tapi...." Ia menggigit bibirnya, melihat wajah suster Tika yang melipat bibirnya kedalam.
Suster Nela ngangguk setuju. "Lantai 5 ini vibes nya udah dingin banget. Karena keseringan pasien VIP yang datang. Dan sekarang di tambah dokter Arlo yang auranya gak kalah dingin dengan dewa maut." Obrolan yang tadinya hangat, berubah menjadi kengerian. Membayangkan suasana lantai 5 akan semakin dingin. Bahkan lebih dingin dari ubin masjid kala subuh.
Suster Ina langsung lemes duduk di balik meja nurse station. "Dan bayangin. Kita bertemu satu dewa maut aja, jantung udah kek melompat-lompat. Nah ini tambah satu lagi. Bisa-bisa jantung kita copot saat panggil nama pasien." keluhnya diangguki semua rekan nya.
Hanya suster Tika yang terlihat santai. "Udah kalian gak usah parno gitu. Dokter Devan dan dokter Arlo masih makan nasi. Dia gak akan gigit kita." Celetuknya.
Suster Gina mendengus. "Iya sih. Tapi mereka bahkan bisa membunuh tanpa menyentuh." katanya lirih miris.
Pembawaan meraka dengan suster Tika memang beda. Jelas beda. Selain senior, suster Tika juga sudah menikah. Tentu saja pemikiran dan pandanganya tentang ke-dua dokter maut itu beda.
"Bisa gak sih minta HR rotasi ke bangsal anak? Kayaknya kerja bareng pangeran rumah sakit tekanan nya gak seberat kerja bareng duo maut." Katanya penuh harap.
Suster Ina kembali buka suara. "Eh siap bilang? Nih, kemarin Nilam ngeluh hampir Ken serangan jantung gara-gara disenyummin sama dokter Andre. Si pangeran rumah sakit." Sahutnya. Bahu suster Gina langsung lemas. Ia kerja di rumah sakit. Gaji UMR+ bonus, tapi vibes nya udah ngalah-ngalahin jaga di rumah hantu.
.....
Gosip itu tidak hanya menjadi topik hangat di lantai 5. Pagi ini, hampir semua staf membicarakan tentang kedatangan dokter Arlo. Terlebih lagi baru beberapa hari yang lalu kabar tentang pertunangan putra mahkota Handaru dan putri keluarga Pratama menguak.
Dua keluarga konglomerat. Dua dokter bedah. Satu rumah sakit. Membuat gosip semakin heboh.
Ting.
Lift service terbuka di lobi utama. Savira dan Riko jelan beriringan. Kedua residen itu baru sampai rumah sakit dengan wajah segar setelah tidur selama 7 jam. Sebuah kenikmatan yang jarang mereka dapatkan.
Drtt...drtt...drtt...
Ponsel Riko terus menerus bergetar. Sejak subuh tadi, notifikasi grup WA rumah sakit sudah ramai. Pria berambut cepak itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
Untuk sesaat Riko tahan napas. Melihat 99+ pesan dari grup WA yang belum di lihat. Padahal, saat di parkiran tadi ia sudah membuka 99+ pesan. Hanya beberapa menit saja, pesan sudah kembali menumpuk. Angkanya balik ke 99+.
"Gila...notif ini dari jam 5 tadi kagak berhenti." Katanya keheranan. Jempolnya capek nge-scroll "Ini para perawat, koas, sama residen kagak punya kerjaan apa, ya?" gumamnya.
Savira yang berdiri di sampingnya mengernyit heran. "Notifikasi apa?" tanyanya sedikit tertarik.
Riko langsung menunjuk layar ponselnya pada Savira. "Nih, liat. Katanya Arlo Pratama datang jam 07. Calon kakak iparnya dewa maut." jelasnya.
Jantung Savira mendadak berhenti berdetak mendengar kalimatnya terakhir Riko. Calon kakak iparnya dewa maut. Yang berarti calon kakak ipar kekasih nya.
Savira telan ludah susah payah. Tenggorokan nya terasa kering. Entah bagaimana nasibnya jika skandal hubungannya dengan dokter Devan terbongkar. Dan...kenapa putra sulung keluarga Pratama bergabung di RS ini?.
Riko terus mengoceh keheranan membaca chat dari para rekannya. Seperti tidak pernah melihat pria tampan saja. Dan kenapa kalau dia tuan muda Pratama? Apa begitu hebat?.
"Eh, Vi...gimana kondisi kamu?" tanya Riko. Ia memasukkan ponselnya ke saku jas. "Vi..." panggilnya lagi lebih kencang, karena Savira tidak menanggapi.
"Ehhh...ya." Savira tersentak. Matanya kosong. "Kenapa?" Ia balik tanya.
Riko menyipitkan matanya. "Mikirin apa sih?" Tanyanya curiga.
Savira langsung senyum. Dipaksa. Senyum paling lebar yang bisa ia buat di jam 6 pagi.
"Jadwal operasi hari ini." Jawabnya cepat. Terlalu cepat. "CABG sama Tumor Mediastinum. Deg-degan aja." sambunya. Bohong.
Dalam hatinya. Dia cuma mikir satu hal. Malaikat maut baru aja mendarat. Dan dia...kekasih gelap calon tunangan adiknya.
Mata Riko membulat sempurna mendengar kalimat Savira. "CABG sama Tumor Mediastinum? Hari ini? Kamu serius, Vi?!" suaranya memekik.
Savira cuma ngangguk lemah. Ia tidak begitu memperhatikan ekspresi Riko. "GILA! INI SIH DOUBLE KILL! WOAHHH...BARU HARI PERTAMA AJA SUDAH UNJUK GIGI TUH DOKTER!" suara Riko menggema di dalam lift. Membuat Savira mau tak mau menolehnya. Menepuk keras lengan pria itu.
"Kenapa sih, Rik?" Ia menggelengkan kepalanya. "Pelan dikit. Berisik." Protesnya lesu.
Riko tidak peduli. Ia langsung pegang bahu mungil Savira. Menatap serius gadis itu. "Kenapa kamu bilang?" ulangnya. Tak percaya.
"Vi, CABG sama Tumor Mediastinum. Itu artinya operasi kolaborasi dokter Devan sama dokter Arlo." Riko nunjuk muka Savira pake telunjuknya.
"Dan kamu masih tanya kenapa? Padahal kamu anestesi utamanya." Ujar Riko tak habis pikir.
Ting...
Pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai di lantai 7. Tapi tidak ada yang keluar. Savira langsung melotot. Napas ya tertahan. Seolah ia baru sadar.
Kenapa ia tidak berpikir sampai ke sana????. Ia baru berencana untuk menjauh dari radar dr. Arlo. Tapi takdir malah membawanya mendekat. Sialnya Savira tidak punya alasan untuk mengelak. Menjauh. Atau putar balik.
*
*
*
*
*
To be continued
Sampai bab ini, gimana pendapat kaliannnn.... Semoga begadang author bisa ngehibur kalian yaaaa.....