Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.
"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."
Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.
Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.
Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?
karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda tangan
"Tick... tick... tick..."
Suara jam dinding jadi satu-satunya yang kedengeran. Ayam goreng di meja udah dingin. Minyaknya ngendap.
Mas Arga masih megang pulpen. Tangannya gemeter kayak orang kedinginan.
Sinta berdiri 2 langkah di depannya. Nggak ngedip. Nggak kedip.
"Tanda tangan Mas," suaranya datar. Nggak maksa. Nggak ngancem. Cuma... nyuruh.
Mas Arga ngangkat muka. Matanya merah. "Sinta... kita benerin bareng-bareng ya. Mas putus sama Rayya. Mas janji. Demi Allah."
Sinta ketawa pelan. "Hehe." Suaranya kosong. "Mas, 4 bulan lalu Mas juga bilang 'demi Allah nggak bakal bohong'. Sekarang Mas mau pake 'demi Allah' lagi?"
Dia jalan ke wastafel. Nyuci tangan. Pelan. Kayak abis ngiris bawang.
"Mas, aku capek denger janji. Aku mau liat bukti. Bukti nya tinta di kertas ini."
Mas Arga nunduk. Pulpen dia arahin ke garis tanda tangan. Ujungnya nyentuh kertas. Gemeter.
Terus dia lepas. Pulpennya jatuh. "Clak" ke lantai.
"Mas nggak bisa Sinta... Mas nggak bisa ninggalin kamu sama Naya..." Dia nutup muka pake dua tangan. Nangis kejer.
Sinta ngambil pulpen itu. Jongkok di depan Mas Arga. Sejajar lutut.
"Mas nggak ninggalin aku," bisiknya. Dia megang dagu Mas Arga, maksa Mas Arga natap matanya. "Mas ninggalin aku 4 bulan lalu. Pas Mas mutusin tidur sama Rayya. Pas Mas mutusin bikin anak sama dia. Pas Mas mutusin bohong ke aku tiap malem."
Jempol Sinta ngusap air mata Mas Arga. Lembut. Kejam.
"Sekarang Mas cuma milih... mau ninggalin aku baik-baik pake tanda tangan. Atau ninggalin aku jelek-jelek pake SK pemecatan dari kantor."
Dia nyodorin pulpen lagi ke tangan Mas Arga. Ngelipet jari Mas Arga satu-satu ngelilingin pulpen itu.
"Tangan Mas dingin Mas. Sini aku angetin," Sinta tiup telapak tangan Mas Arga. Tingkah yang dulu bikin Mas Arga luluh tiap dia masuk angin.
Tapi sekarang nggak mempan.
Mas Arga ngeliat Sinta. Bener-bener ngeliat. Bukan "istri di rumah" lagi. Tapi perempuan yang matanya udah mati.
Perempuan yang 10 tahun dia sakitin pake bohong. Sekarang gantian.
"Aku... aku..." Mas Arga gagap.
"Aku apa Mas?" Sinta senyum. Senyumnya ngilu. "Aku sayang kamu? Iya, aku tau. Tapi sayang aja nggak cukup Mas. Buat nikah butuh jujur. Mas nggak punya itu lagi."
"Tick... tick..."
Jam nunjuk jam 12 lewat 5 menit. Ayam udah bener-bener dingin.
Sinta berdiri. Jalan ke kamar Naya. Ngintip dari celah pintu. Naya merem, peluk boneka kelinci. Bibirnya ngenyot-nyenyot kayak lagi nen.
Sinta balik ke ruang makan. Mas Arga masih di posisi sama. Pulpen di tangan.
Sinta narik kursi. Duduk di sebrang Mas Arga. Jarak 1 meter. Jarak suami istri yang udah mati.
"Mas inget nggak, 10 tahun lalu pas ijab kabul?" bisik Sinta. "Mas bilang 'saya terima nikahnya Sinta binti... dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai'."
Mas Arga manggut pelan.
"Alat sholatnya masih aku simpen Mas. Sajadahnya udah tipis aku pake sujud tiap malem. Nangis minta Mas setia."
Dia diem 3 detik.
"Sekarang mas kawinnya aku balikin Mas. Aku nggak butuh laki-laki yang sholatnya bolong-bolong imannya."
Mas Arga mewek. Bener-bener mewek kayak bayi. "Sinta maaf... maafin Mas..."
"Udah Mas, nggak usah minta maaf. Minta maaf nggak bisa ngembaliin 4 bulan bohong. Nggak bisa ngembaliin detak jantung bayi itu."
Sinta dorong kertas cerai lebih deket. Ujung pulpen dia teken ke jari Mas Arga sampe merah.
"Tanda tangan Mas. Terakhir kali aku minta baik-baik."
Mas Arga merem. Air matanya netes ke kertas. Ngebentuk noda.
Tangannya gerak. Pelan. Nyet.
"Arga..."
Huruf A. Gemeter.
"rga..."
Lanjut sampe "Arga Permana". Jelek. Berantakan. Tapi sah.
"Syuk."
Sinta narik napas panjang pas denger suara pulpen berhenti.
Mas Arga ngelempar pulpennya jauh. Terus dia nunduk ke meja. Badannya ngejang. Nangis tanpa suara.
Sinta ngambil kertas itu. 2 rangkap. Dia tiup tintanya biar cepet kering. Terus dia masukin map item. Kancingnya dia tutup. "Krek".
Suara itu... kayak suara pintu neraka yang kekunci.
"Udah Mas," kata Sinta sambil berdiri. "Makasih ya udah tanda tangan. Baik banget Mas."
Dia jalan ke kamar. Ngambil mukena. Sholat 2 rakaat. Sujudnya lama banget.
"Ya Allah... aku udah ngelepas. Gantian Engkau yang ngadilin dia."
Pas keluar dari kamar, Mas Arga udah nggak ada di kursi. Dia duduk di lantai, nyender ke kaki meja. Kayak anak kecil yang mainannya dirampas.
Sinta lewat di depannya. Nggak nengok.
"Mas, kamar tamu masih kosong. Tidur situ aja ya malem ini. Besok aku urus berkasnya ke pengadilan agama."
Langkahnya berhenti pas di pintu kamar. Dia nengok dikit.
"Oh iya Mas. Selamat ya... jadi bapak. Semoga Mas bisa jadi bapak yang baik. Buat anak Mas sama Rayya. Karena buat Naya... Mas udah gagal."
Pintu kamar ditutup. "Klik".
Mas Arga di luar masih duduk di lantai. Ngepeluk kertas fotokopian surat cerai yang Sinta kasih. Versi dia.
10 tahun pernikahan. Ujungnya cuma selembar kertas + tanda tangan berantakan.
Di dalem kamar, Sinta merem di kasur. Nggak nangis. Nggak ketawa. Kosong.
Tapi tangannya... tangannya megang kunci kuning Unit 704 yang masih dia kalungin.
Bab 1 dimulai dari kunci itu. Bab 7 ditutup sama tanda tangan itu.
Balas dendamnya... baru mulai.