NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata di Semester Empat

☘️ FLASHBACK

Memasuki semester empat perkuliahan, beban hidup yang ditanggung Alesha terasa semakin berat.

Dulu, saat keadaan ekonomi keluarganya masih baik, ia hanya perlu memikirkan tugas kuliah dan persiapan ujian. Semua kebutuhan hidup terpenuhi tanpa perlu ia pikirkan atau khawatirkan sedikit pun.

Namun kini, dunia yang ia kenal telah berubah total.

Sejak ayahnya mengalami kebangkrutan dan semua aset disita, setiap rupiah yang dikeluarkan harus dihitung dengan sangat cermat, tidak ada ruang untuk pemborosan sekecil apa pun.

Ia sadar, jika hanya mengandalkan sisa tabungan keluarga yang jumlahnya semakin menipis, mereka tidak akan mampu bertahan lama di tempat tinggal baru itu, apalagi membiayai kelanjutan pendidikannya.

Maka, di tengah kesibukan mengikuti mata kuliah yang semakin banyak materinya, Alesha mengambil keputusan berat, ia harus mulai bekerja untuk menopang hidup sendiri dan membantu meringankan beban kedua orang tuanya.

Mencari pekerjaan di tengah kesibukan kuliah bukanlah hal yang mudah.

Ia melamar ke beberapa tempat, mulai dari toko buku, warung makan, hingga kantor‑kantor kecil, namun sering kali ditolak karena statusnya masih mahasiswa yang hanya bisa bekerja pada jam‑jam tertentu saja.

Ada juga yang menawarkan upah sangat rendah hingga nyaris tidak cukup untuk menutupi biaya transportasi.

Selama hampir dua minggu, ia berjalan kaki menyusuri jalanan kota dari pagi hingga siang usai kuliah, mengantarkan berkas lamaran dengan harapan bisa mendapatkan tempat yang cocok.

Kakinya sering terasa pegal dan nyeri, sedangkan pikirannya dipenuhi rasa cemas, takut tidak segera mendapatkan pekerjaan dan terpaksa harus berhenti kuliah.

Namun ia terus memaksakan diri, mengingat tekadnya untuk tetap melanjutkan pendidikan demi masa depan yang lebih baik.

Akhirnya, usahanya membuahkan hasil.

Sebuah kafe sederhana di dekat kawasan kampus menerima dirinya sebagai pelayan paruh waktu. Jam kerjanya ditetapkan dari pukul empat sore hingga pukul sepuluh malam, jadwal yang bisa ia sesuaikan dengan jadwal kuliah yang berakhir paling lambat pukul tiga siang.

Di tempat yang sama, pemilik kafe juga mengenalkannya kepada beberapa warga sekitar yang membutuhkan guru les privat untuk anak sekolah dasar dan menengah pertama.

Kesempatan itu segera ia terima dengan penuh rasa syukur. Jadwal les pun ia atur pada hari libur kuliah atau dini hari sebelum mata kuliah dimulai.

Kini, hari‑hari Alesha terbagi menjadi tiga bagian, pagi hingga siang untuk berkuliah, sore hingga malam untuk melayani pengunjung kafe, dan sisa waktu yang ada untuk mengajar serta mengerjakan tugas kampus.

Rutinitas baru itu sangat menguras tenaganya. Setiap hari, ia harus bangun pukul empat pagi, lebih awal dari biasanya, untuk bersiap diri dan mengajari dua orang murid sebelum berangkat ke kampus.

Kadang ia hanya sempat meneguk segelas air putih dan memakan sepotong roti sederhana sebagai sarapan, tidak ada waktu untuk menikmati makanan dengan tenang.

Sepulang kuliah, ia langsung bergegas menuju kafe, berganti pakaian seragam kerja, dan mulai melayani tamu yang datang silih berganti.

Ia harus berdiri selama berjam‑jam, melayani pesanan, mengantar makanan dan minuman ke meja, membersihkan sisa piring kotor, serta menyapu dan mengepel lantai yang sering kali kotor karena tumpahan air atau remahan makanan.

Kakinya yang dulunya jarang lelah, kini sering terasa bengkak dan terasa panas jika diletakkan dalam posisi diam terlalu lama.

Punggungnya pun mulai terasa kaku, apalagi saat harus membawakan nampan berisi banyak gelas dan piring yang terasa semakin berat seiring berjalannya waktu.

“Kamu pasti sangat lelah, Nak,” kata Bu Rina, pemilik kafe itu, suatu malam saat suasana sudah mulai sepi.

Ia memperhatikan Alesha yang duduk bersandar di dinding sambil mengusap kakinya yang terasa nyeri.

“Kalau terasa terlalu berat, katakan saja. Kita bisa atur jam kerjamu lebih longgar.”

Alesha segera mengangkat wajahnya, tersenyum lelah namun tetap berusaha terlihat kuat.

“Tidak apa‑apa, Bu. Aku masih sanggup. Terima kasih sudah memberi kesempatan bekerja di sini. Ini sangat membantu keluargaku.”

Ia memang harus bertahan. Setiap rupiah yang ia dapatkan dari gaji di kafe dan upah mengajar les, ia sisihkan dengan teliti.

Sebagian besar digunakan untuk membayar uang sewa kontrakan yang jatuh tempo setiap bulan, sebagian lagi untuk membeli beras, sayuran, dan kebutuhan dapur sehari‑hari. Sisa yang sangat sedikit ia simpan untuk membayar uang semester dan membeli buku pelajaran.

Ia tidak lagi membeli baju baru, tidak lagi pergi ke tempat hiburan, bahkan jarang meminum air kemasan dan lebih memilih mengisi botol minumnya dari rumah agar tidak mengeluarkan biaya tambahan sekecil apa pun.

Kehidupannya kini berjalan sangat hemat dan teratur, namun setiap malam ia bisa tidur dengan perasaan tenang karena tahu bahwa ia telah berusaha semampunya.

Namun seiring berjalannya waktu, beban itu perlahan mulai terasa melampaui batas kemampuan fisiknya.

Ia sering kali terbangun tengah malam karena merasakan nyeri di otot kakinya yang terasa seperti tertarik.

Matanya mulai terasa berat dan sering berkunang‑kunang jika berdiri terlalu lama, tanda bahwa tubuhnya kekurangan istirahat dan nutrisi yang cukup.

Di kampus, ia berusaha tetap terlihat ceria dan fokus mendengarkan penjelasan dosen, namun sering kali ia harus mencubit pahanya sendiri secara diam‑diam agar tidak terlelap di tengah kelas karena rasa kantuk yang melanda hebat.

Kadang saat mengerjakan soal ujian, kepalanya terasa berputar dan pandangannya sedikit kabur, namun ia selalu berhasil mengumpulkan tenaga terakhirnya agar tetap bisa mengerjakan dengan baik dan mempertahankan nilainya agar tidak terancam dikeluarkan dari kampus.

Ada kalanya rasa lelah itu memuncak dan membuatnya merasa ingin menyerah begitu saja.

Suatu malam, usai menutup kafe dan berjalan pulang menuju kontrakan yang jaraknya cukup jauh, hujan turun dengan tiba‑tiba. Ia tidak membawa payung, sehingga harus berlari kecil di tengah guyuran air yang dingin, membasahi seluruh tubuh dan membuat pakaiannya lengket di kulit.

Sesampainya di rumah kontrakan yang sempit dan agak lembap, ia langsung masuk ke kamarnya, duduk di atas kasur tipis yang menjadi alas tidurnya.

Suasana hening, hanya terdengar suara rintik hujan yang menghantam atap seng. Di saat itulah, semua rasa lelah, sakit, dan kepahitan yang ia tahan selama berbulan‑bulan meluap begitu saja.

Alesha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan air matanya pun akhirnya jatuh tanpa mampu ia tahan lagi.

Ia menangis pelan agar tidak didengar oleh kedua orang tuanya yang sedang tidur di kamar sebelah. Tangisannya tertahan di tenggorokan, mengandung segala perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun.

Ia teringat pada kehidupan masa lalunya yang serba berkecukupan, teringat pada masa di mana ia hanya perlu memikirkan pelajaran dan bertemu Zehar, dan kini ia harus bekerja keras hingga tulang pun terasa sakit hanya untuk sekadar bisa makan dan punya tempat berteduh.

Ia teringat pula pada Zehar, yang kini berada jauh di luar pulau, terpisah ribuan kilometer dan jarang bisa berkomunikasi. Betapa ia ingin sekali bercerita tentang semua kesulitan ini, betapa ia ingin mendengar kata semangat langsung dari mulut kekasihnya, atau sekadar bersandar sebentar saja untuk melupakan rasa lelah ini.

Namun ia menahan keinginan itu, mengingat janjinya sendiri untuk tidak membebani Zehar yang sedang sibuk menjalani pendidikan ketatnya.

“Mengapa semua ini harus terjadi kepadaku?” bisiknya lirih di tengah isak tangisnya.

“Rasanya aku ingin berhenti saja, tapi jika berhenti, apa jadinya Ayah, Ibu, dan pendidikanku sendiri?”

Ia terus menangis hingga air matanya mengering, hingga rasanya dadanya terasa lebih lega meski tubuhnya masih terasa sangat lemas.

Setelah cukup lama duduk memandangi lantai yang terbuat dari papan kayu, ia menyeka sisa air mata di wajahnya, menarik napas panjang, dan menguatkan hatinya kembali.

Ia membayangkan masa depan yang ia cita‑citakan, membayangkan saat nanti Zehar sudah menyelesaikan pendidikannya dan kembali lagi, membayangkan saat keadaan keluarganya perlahan‑lahan membaik.

Bayangan‑bayangan itulah yang menjadi bahan bakar semangatnya setiap kali ia merasa hampir roboh.

Keesokan harinya, saat matahari baru saja menyingsing, Alesha sudah bangun kembali.

Wajahnya terlihat sedikit pucat dan matanya tampak sembab, namun senyumnya tetap terukir seperti biasa saat ia menyapa kedua orang tuanya.

Ia tidak pernah menunjukkan sedikit pun tanda kelelahan atau keputusasaan di depan mereka, agar Ayah dan Ibunya tidak merasa semakin tertekan karena merasa bersalah atas kondisi yang menimpa keluarga.

Ia melanjutkan rutinitasnya yang sama, mengajar murid, berangkat kuliah, bekerja di kafe, dan mengerjakan tugas kampus hingga larut malam.

Kadang ia harus tidur hanya tiga hingga empat jam sehari, namun ia terus memaksakan diri, memaknai setiap tetes keringat dan air matanya sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik nanti.

Komunikasi dengan Zehar tetap berjalan sangat terbatas. Sesekali ia menerima pesan singkat yang mengatakan keadaan kekasihnya baik‑baik saja, latihan berjalan lancar, dan memintanya menjaga kesehatan.

Dalam membalasnya, Alesha selalu menulis hal‑hal yang menyenangkan, mengatakan bahwa kuliah berjalan baik, keluarga sehat, dan semuanya terkendali.

Tidak pernah sekalipun ia menyebutkan tentang pekerjaannya, tentang kontrakan sempit itu, atau tentang air mata yang sering ia tumpahkan saat sendirian di malam hari.

Ia memilih memikul beban itu seorang diri, berjalan maju dengan langkah yang perlahan namun pasti, demi mempertahankan hidupnya, pendidikan, dan hubungan yang masih ia genggam erat meski terpisah jarak dan kesulitan yang tak terlihat.

Begitulah cara Alesha menjalani semester empat itu, penuh dengan lelah fisik, tekanan batin, dan air mata yang hanya ia luapkan dalam kesendirian, namun tetap dilalui dengan keteguhan hati dan semangat yang tak pernah padam.

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!