NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Main Api

Drrrtt... drrrtt...

HP Netha bergetar di atas meja rias. Layar nyala sendiri. Ia ambil. Buka kunci.

Notifikasi WhatsApp. Dari kontak 'C'.

`(Keen kapan kamu pulang ke rumahku, ada yang mau aku bicarain sama kamu)`

Netha diem 2 detik. Napasnya berat. Terus senyum licik muncul di bibirnya.

Ide gila. Ide yang udah lama dia tahan.

Jari lentiknya langsung ngetik. Cepet. Sebelum Keenan keburu pegang HP-nya.

`(Mau bicara apa sih sayang... Katakan aja sekarang.)`

Terkirim. Netha nutup mulut. Ketawa kecil. geli sendiri.

Nggak sampai 10 detik, centang dua biru. Balasan masuk.

C: `(Jujur ya, sebenarnya aku itu masih sebel tau sama kamu. Maksudnya apa coba semalam kamu angkat telepon dari aku pas lagi sama istri tuamu yang menyebalkan itu? Apa kamu sengaja, Keen? Kamu sengaja mau buat aku kesal, huh?)`

"Dasar jalang sialan nggak tau diri," geram Netha. Suaranya rendah. "Udah ngerebut suami orang, malah marah-marah dan ngejelekin aku lagi. Awas aja kamu. Bakal aku bikin nyesel karena udah berani ngibarin bendera perang sama aku."

Tangan Netha gemetar. Bukan takut. Tapi nahan emosi.

Harus main cantik. Harus main otak. Biar dua manusia pengkhianat itu jatuh sendiri.

Jemarinya ngetik lagi. Sekali baca, ulang. Baru kirim:

`(Iya deh maaf. Tapi kamu juga harus ngerti. Netha juga istri sah aku. Dia juga berhak dapet kasih sayang dari aku. Dan dapet haknya sebagai istri. Kamu paham maksud aku, kan sayang?)`

Jijik. Mual banget. Perut Netha berasa diaduk-aduk. Ngetik kata-kata sok bijak buat selingkuhan suaminya sendiri... itu siksaan.

Tapi demi misi, dia tahan.

Balasan Clara datang lagi. Lebih cepat dari sebelumnya.

C: `(Selalu aja begitu. Yaudah deh kali ini aku bisa terima alasan kamu. Tapi please, malam ini kamu pulang ke rumah aku ya... si Dedek soalnya kangen nih minta ditengokin Papanya.)`

Deg.

Jantung Netha kayak jatuh ke lantai. Dadanya naik-turun. Gemuruh di dalam.

Tanpa sadar matanya ngembun. Pedih.

"Jadi karena wanita itu hamil... kamu tega nikah diam-diam di belakang aku, Mas?" gumam Netha. Suaranya bergetar. Tangannya nge-remas dada sendiri. Sesak.

Shock lagi. Luka lama belum kering, ditambah luka baru.

Foto nikah Keenan-Clara aja udah nyayat. Sekarang kabar hamil.

Hati wanita mana yang kuat.

Tapi Netha nggak boleh hancur sekarang. Drama ini harus terus. Mereka yang mulai. Mereka yang harus bayar.dan mengakhiri semuanya.

Jari Netha gemetar parah ngetik balasan terakhir:

`(Baiklah. Nanti malam aku pulang ke rumah kamu. Tunggu aku ya sayang...)`

Kirim.

C: `(Oke baby. Nanti malam aku tunggu kedatangan kamu ya. Aku bakal bikin kamu lebih puas daripada sama istri tuamu yang sialan itu. Muachhh.)`

"Argggghh brengsek! Dasar jalang sialan!" umpat Netha. Napasnya berat. Mual. Mau muntah beneran.

Ia langsung hapus chat itu satu-satu. Biar nggak ada jejak. Biar Keenan nggak curiga kalau yang bales dia, bukan Keenan.

Dadanya naik-turun. Amarah ketahan di tenggorokan.

_____

"Tha, lo kenapa sih? Tiba-tiba marah-marah. Ada apa? Cerita sama aku," Inka buru-buru nyamperin. Netha keliatan limbung. Duduk lemas di sofa ruang istirahat syuting. Wajahnya pucat.

Tangan Netha gemetar. Ia sodorin HP-nya ke Inka.

"Kamu baca dulu pesan itu," lirih Netha. Matanya kosong. Kayak orang kehilangan arah.

"Pesan dari siapa, Tha?" tanya Inka pelan.

"Siapa lagi kalau bukan jalang murahannya si Keenan," jawab Netha datar. Tanpa ekspresi.

Inka kaget. Tapi langsung buka HP Netha. Scroll. Baca.

Mata Inka melotot. Napasnya nahan. Emosinya ikut naik.

"Jadi lo sadap WA suami lo, Tha?" tanya Inka nggak percaya. Suaranya kecil.

"Semua aplikasi mencurigakan di HP dia aku sadap, Ka. Terutama WA," lirih Netha. "Karena aku udah nggak percaya lagi sama dia."

Inka mengangguk. Paham banget.

"Jalang itu ternyata hamil anak Keenan, Ka. Aku bener-bener kaget. Kecewa lagi. Nemuin kenyataan pahit ini lagi," kata Netha. Air matanya jatuh. Lolos gitu aja. Nggak bisa dibendung.

Inka langsung peluk Netha. Kenceng. Kayak mau nyatuin.

"Lo sabar ya, Tha. Tuhan lagi nguji lo. Aku yakin lo pasti bisa lewatin ini semua. Lo harus kuat. Tegar. Jangan jadi wanita lemah, Tha. Jangan biarin mereka ketawa di atas penderitaan lo. Lo harus bikin mereka nyesel. Terutama suami lo yang bajingan itu. Bikin dia nyesel. Bikin dia bersimpuh di kaki lo karena udah nyakitin hati lo."

Dua wanita itu saling nguatin. Satu nangis. Satu ngusap punggung.

Tanpa mereka sadari.dari sudut ruangan ada sepasang mata ngeliatin tajam. Ngepalin tangan. Tatapannya benci banget ke arah Netha yang lagi nangis.

---

Sementara itu, di apartemen mewah Clara.

Clara mondar-mandir di kamar. Udah ganti baju 3 kali. Habis makan malam sama Mami-Papi. Malam ini dia semangat banget. Mau nyambut suaminya. Walau suami hasil rampasan.

Clara udah dibutain cinta. Rela kotor demi dapet yang dia mau. Ditambah Mami-Papi dukung penuh. Buat mereka, yang penting anaknya bahagia. Cara kotor? Nggak peduli. Halal-haram belakangan.

"Sabar ya, Dedek," monolog Clara sambil elus perut yang masih rata banget. "Bentar lagi Papi kamu pulang. Pasti kamu udah nggak sabar dijenguk Papi, kan?"

Entah itu tendangan beneran atau halusinasi doang. Usia kandungan baru 2 bulan. Tapi fantasi Clara udah liar banget.

"Uduh... perut Mami kok ditendang sih, Dek? Pasti kamu udah nggak sabar ditengokin Papi, ya. Hmm... sama Mami juga nggak sabar disentuh Papi... uhh..." gumam Clara. Tangannya mulai gerayang ke area sensitif. Bayangin Keenan dateng.

"Ouuhh... Keenan... cepet pulang... ahh... aku udah nggak tahan... emm..." desahnya. Mata merem. Ngebayangin wajah Keenan di atas dia.

---

Jam 7 malam. Di rumah Netha.

Netha udah siapin makan malam. Menu favorit Keenan: ayam goreng, sambal, sayur bening. Walaupun hati kecewa, marah, sakit... ia tetap jalanin peran sebagai istri dan ibu. Setengah hati. Tapi tetap jalan. Karena janji.

Cup.

Netha kaget. Ada kecupan di pipinya. Hangat.

"Mas..." Netha hampir jatuhin gelas yang baru diambil dari lemari dapur. Jantungnya copot.

"Kapan dateng, Mas? Udah lama?" tanya Netha. Gugup banget.

"Udah lumayan. Dari tadi, sayang," jawab Keenan lembut. Tangannya masih di pinggang Netha.

"Kok aku nggak denger? Kok nggak manggil aku?"

Keenan senyum. Cubit hidung Netha gemas. "Ya nggak mungkin kamu denger. Dari tadi kamu ngelamun. Tuh, liat. Air udah mendidih aja kamu lupa matiin kompornya."

Ctik.

Keenan matiin kompor. Uap panas hilang.

"Ehmm... iya, Mas. Maaf. Tadi nggak denger kamu manggil. Soalnya nggak kedengeran suara mobil kamu di depan," cicit Netha. Gigit bibir bawah. Gugup.

Melihat itu, pikiran Keenan kemana-mana. Tatapannya jadi nakal. Matanya turun ke bibir Netha.

"Mas..." pekik Netha. Kaget. Tubuhnya langsung diangkat Keenan. Bokongnya didudukin di atas meja kitchen. Dingin.

"Please, Tha. Aku kangen sama kamu," lirih Keenan. Suara serak. Nafasnya di leher Netha.

Napas Keenan memburu. Nafsu udah nguasain. Ia langsung lumat bibir Netha. Dalam. Rakus.

Cup. Cup. Cup

" Emhhh... " lenguh Netha yang tanpa sadar meski Netha diem. Kaku. Nggak ngebales. Tapi juga nggak nolak.

Keenan gemas. Gigit pelan bibir bawah Netha. Netha kebuka mulut. Keenan masukin lidahnya. Jelajahin rongga mulut Netha. Dalam.

Tanpa sadar, Netha ngedesah pelan.

"Ahhh... jangan, Maass..." desah Netha lirih. Lidah Keenan turun ke leher jenjangnya. Kancing baju tidurnya dibuka satu-satu. Pelan.

Geli. Tapi nikmat. Tubuh Netha nggak bisa bohong. Walaupun hati nolak keras.

"Ahhh... Maass... sakit... jangan digigit," cegah Netha. Suara lirih. Remas rambut belakang Keenan kenceng. Kepala Keenan sibuk di p_ting Netha.

Keenan angkat wajah. Napasnya berat. Natap Netha. "Maaf... tapi aku udah nggak tahan lagi, sayang."

"Tapi Mas, jangan digigit. Nanti p_ting aku sakit," cegah Netha. Padahal tubuhnya hanyut juga.

Keenan senyum tipis. Angguk. "Iya, sayang. Aku pelan-pelan. Janji."

Ia elus pipi Netha yang udah merah. Lembut. Sayang.

Lalu pagut lagi bibir Netha. Penuh nafsu. Tangannya mainin gunung kembar Netha lewat baju.lidah Keenan lincah. Eksplor mulut Netha dengan intens.

"Ouenghh... ouhh... Mas... jangan... emmmpph..."

Netha melenguh. Kaget sama remasan di gunung kembarnya. Tapi nggak bisa desah. Bibirnya ketutup lagi sama bibir Keenan. Nafasnya ketahan.

Tiba-tiba...

"STOP! BERHENTI!" teriak suara perempuan. Kenceng. Menggema satu rumah.

Keenan langsung berhenti. Kayak disambar petir. Noleh ke belakang.

Mata melotot sempurna. Pupilnya melebar. "Cla... Clara..."gumam Keenan disela sela keterkejutannya

Di depan mereka, Clara sudah berdiri. sambil Berkacak pinggang. Wajahnya merah padam. Mata nyala api. Napasnya ngos-ngosan.

Netha kaget. Napasnya juga ikut ngos-ngosan juga. Baju tidurnya udah kebuka setengah. Pipinya merah.

"Ngapain kamu di sini?!" bentak Keenan ke Clara. Panik. Suaranya naik.

"Ngapain aku di sini?!" Clara balik bentak. Lebih kenceng. "Harusnya aku yang nanya! Ngapain kamu di sini sama dia Keen?! Katanya kamu mau ke rumah aku?! Katanya kangen?! Ini bentuk kangen kamu, Keen?! Main sama istri tuamu itu?!"

Clara nunjuk Netha. Jarinya gemetar karena marah.

"Nggak usah teriak,- teriak!" kata Netha pelan. Tapi suaranya dingin. Nggak ada getar. "Ini rumah aku, Clara. Rumah sah aku. Bukan tempat kamu buat ngamuk."balas Netha tegas

Mata Clara langsung melotot ke Netha. Kayak mau makan hidup hidup. "Kamu... kamu yang bales chat aku tadi, ya?! Kamu yang ngaku-ngaku jadi Keenan?!"

Netha senyum. Senyum tipis. Senyum menang. "Kalau iya. Kenapa? Kaget?"

"Kurang ajar kamu!" Clara mau nyamperin Netha. Langkahnya udah maju.

Keenan langsung nahan Clara. Peluk dari belakang. "Clara, cukup! Jangan bikin ribut depan Queen!"

"Queen?!" Clara ketawa sinis. Ketawanya nyakitin. "Peduli banget sama anak kamu sama dia? Terus anak aku gimana?! Anak kamu juga, Keen! Anak kita!"

Netha turun dari meja. Rapiin baju. Kancingnya dipasang lagi. Napas udah agak tenang.

"Anak kamu?" kata Netha pelan. Tatapannya lurus ke Clara. "Anak yang hasil selingkuh? Anak yang lahir dari pengkhianatan?"

"Jaga mulut kamu!" teriak Clara tak terima. Wajahnya makin merah.

"Enggak," potong Netha. Tatapannya tajam. Nggak berkedip. "Mulai sekarang aku nggak bakal diem lagi.kalau Kalian mau main main? Ayo. Tapi inget... aku nggak bakal kalah."ucap Netha tegas

Keenan bingung. Keringat dingin di pelipis. "Netha... Clara... dengerin aku dulu...aku bisa jelasin..."

"Dengerin apa, Mas?" Netha balik ke Keenan. Langkahnya pelan. "Dengerin alasan kamu yang ke-100? Udah cukup, Mas. Aku capek. Capek denger kamu bohongi aku terus. "

Netha lirik Clara. "Dan kamu... selamat nikmatin saja suami pinjaman kamu. Karena sebentar lagi... dia bakal balik ke aku. Atau... nggak sama sekali sama kalian berdua."

Clara langsung maju. Tangan udah naik. Mau nonjok Netha.namun keenan nahan lagi. Pegang dua tangan Clara. "Clara! Jangan! Jangan sentuh dia!"

"Keen, lepasin aku! Dia ngancam aku!" jerit Clara. Air matanya udah di pelupuk.

"Nggak ngancam," kata Netha tenang. Tangannya di dada. "cumq Ngasih tau. Karena karma itu nyata, Clara. Dan giliran kamu udah deket."

Netha jalan ke arah tangga. Nggak peduli dua orang di belakangnya. Punggungnya tegak.

"Mas," kata Netha tanpa noleh. Suaranya datar. "Pilih. Malam ini. Kamu mau di rumah istri sah kamu... atau ikut pulang sama selingkuhan kamu?"suara Netha terdengar tegas meski sedikit bergetar

Keenan diem. Keringat di pelipis. Clara natap Keenan, nunggu jawaban. Tangannya masih digenggam Keenan.

Netha udah di anak tangga pertama. Satu kakinya udah naik.

"5 detik, Mas," kata Netha. Jelas.

Clara genggam tangan Keenan lebih kenceng. "Keen... jangan... jangan pilih dia..."

"4..."

"Keen, aku bawa anak kamu! Anak kamu ada di perut aku!" Clara makin kenceng. Nyaris jerit.

"3..."

Keenan nutup mata. Sakit. Dada sesak.

"2..."

Netha nunggu. Jantungnya deg-degan kenceng. Tapi wajahnya datar. Kayak patung.

"1..."

Keenan buka mata. Napasnya keluar panjang. Ia lepasin genggaman Clara pelan. Satu jari, satu jari.

"Tha... aku... aku pilih netap di rumah," kata Keenan lirih. Hampir nggak kedengeran.

Clara langsung teriak. Sekenceng-kencengnya. "KEENAN!!!"

" Maafkan aku Clara... " ujar Keenan kemudian dengan suara lirih

Netha nggak noleh.tetap Jalan terus ke atas. Langkahnya nggak goyah sama sekali.

Tapi di balik punggungnya, senyumnya muncul. Senyum kemenangan kecil. Senyum yang udah dia tahan dari tadi.

Mau main api? Dia yang nyalain duluan. Dan dia juga nggak bakal padamin.

---

Jam 11 malam. Kamar Netha.

Keenan duduk di pinggir ranjang. Diem. Nggak berani liat Netha.

Netha rebahan. Muter badan. Punggungnya ke Keenan.

"Mas," kata Netha tanpa ngebalik.

"Hmm?" suara Keenan serak.

"Kamu nyesel nggak?" tanya Netha.

Keenan diem lama. "Nyesel kenapa?"

"Nyesel nikahin aku," jawab Netha pelan.

Keenan kaget. "Enggak. Nggak pernah."

Netha ketawa kecil. Pahit. "Bohong."

Keenan mau pegang bahu Netha. Tapi tangannya berhenti di udara. "Tha... aku..."

"Udah, Mas. Tidur," potong Netha. "Besok aku syuting pagi."

Keenan hanya menganggukan kepala sembari menatap nanar punggung istrinya yang kini kembali membelakanginya.

Keenan narik selimut. Tapi tetap nggak bisa tidur. Mata merem, tapi otak muter.

Di luar kamar, suara mobil pergi. Clara pulang. Dengan hati hancur.

Di dalam kamar, dua orang sama-sama nggak tidur. Sama-sama nyesek. Tapi cuma satu yang menang malam ini.

Netha.

To be continued...

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!