Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 05
Leticia tidak berhenti dibuat kagum oleh mertuanya yang benar-benar keren, karena menyetir mobil sport sendirian dan beberapa kali menyalip mobil di depan dengan begitu lihai.
“Nanti Mommy akan mengajarkanmu cara menyetir mobil dengan angggun,” ujar Calistha sambil menoleh sekilas kepada menantunya yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan kagum.
“Daddy membelikan mobil untukmu dan warnanya hitam, tapi kalau kau tidak menyukai warnanya bisa ditukar dengan warna lain,” lanjutnya.
Mobil?
Leticia sempat bermimpi untuk membeli mobil, agar ia tidak perlu menaiki taksi online untuk pergi ke mana-mana. Dan sekarang impiannya akan diwujudkan oleh keluarga dari suaminya.
“Aku menyukai warna hitam,” ucap Leticia yang membuat mertuanya tersenyum senang.
“Baiklah kalau begitu nanti Mommy yang akan mengajarimu langsung menyetir mobil, setelah mobilmu tiba… mungkin dua atau tiga hari lagi mobilnya akan tiba di Mansion Max,” ujar Calistha dengan senyuman yang begitu hangat.
Dada Leticia terasa menghangat mendapatkan perlakuan seperti ini dari seorang ibu dari suaminya, jadi begitu rasanya diberi hadiah dan ditatap penuh kelembutan dari seorang ibu?
Ternyata bukan hanya Max yang memperlakukan dengan sangat baik, ternyata kedua orang tua pria itu juga sama baiknya. Minusnya, mulut Max tidak lepas dari kata-kata penuh ancaman yang begitu kejam.
“Satu lagi, Mommy belum mempunyai nomormu. Jadi ketikkan nomor ponselnya di sini!” Kata Calistha yang kini menyerahkan ponsel keluaran terbaru dengan warna yang di kostum sendiri.
Kebetulan mereka sedang terjebak di lampu lalu lintas, jadi tidak masalah kalau lebih banyak mengobrol.
Dengan tangan yang terlihat sedikit gemetar, Leticia mengetikkan nomornya dan langsung menyambungkannya kepada ponselnya.
“Sudah Mom,” cuap Leticia sambil menyerahkan kembali ponsel sang mertua.
Tatapan Calistha terpaku pada ponsel menantunya yang sudah jadul dan layarnya juga ada retakan yang cukup panjang.
“Sayang, sejak kapan kau memegang ponsel itu?” Tanyanya.
Leticia tersenyum tipis. “Sudah hampir sepuluh tahun dan ini aku beli menggunakan uang tabunganku.”
Mendengar jawaban sang menantu, Calistha merasa semakin geram dengan keluarga Morana.
“Ada orang tua yang jahat kepada putri kandungnya sendiri? Di mana otak mereka?” Herannya yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya.
Leticia hanya tersenyum tipis, karena ia juga merasa heran sendiri dengan kedua orang tuanya sendiri.
“Nanti Mommy akan membelikanmu ponsel yang bagus, simpan ponsel itu yang kau beli dengan tabunganmu itu dengan baik… karena di sana pasti tersimpan banyak kenangan. Sekarang hidupmu akan berubah seratus delapan puluh derajat, biarkan kemewahan selalu mengelilingimu!” Seru Calistha sambil menjalankan kembali mobilnya.
“Lalu kalau Max berani menyakitimu atau membuatmu menangis, lapor kepada Mommy! Biar Mommy yang pukul kepalanya, agar otaknya kembali benar!” Lanjutnya yang dibalas tawa kecil oleh Leticia.
“Tapi Max adalah putra Mommy,” kata Leticia.
“Memang. Tapi sekarang kau adalah menantu kesayangan Mommy, posisi Max sudah tersingkirkan!” Kekeh Calistha yang merasa senang melihat menantunya bisa tertawa begitu lepas, tidak ditahan seperti tadi.
Dan tidak terasa, mereka sudah sampai di sebuah Mall yang paling besar di kota M.
“Sayang, selama nanti kita belanja… kau tidak boleh menunduk atau merasa malu. Mulai sekarang buang rasa malumu dan terapkan rasa percaya dirimu, karena kecantikanmu akan semakin keluar saat kau sedang percaya diri. Jangan lepaskan tangan Mommy, karena Mommy tidak ingin dimarahi Max kalau istrinya nanti menghilang,” ujar Calistha dengan kekehan di akhir kalimatnya.
Leticia menganggukkan kepalanya. Ia sudah tidak merasa canggung lagi berada di dekat mertuanya, sebab Calistha selalu mengajaknya mengobrol dengan santai dan membuat suasana mencair dengan sendirinya.
...***...
“Semuanya aku ambil! Jika ada model terbaru, hubungi aku!” Kata Calistha kepada salah satu pemilik toko pakaian dengan merk ternama.
Dan semua yang dibeli untuk Leticia, bukan untuk dirinya sendiri. Leticia merasa tidak enak, tetapi kata Calistha semua ini adalah hadiah atas pernikahannya dengan Max.
“Baju sudah, sekarang kita mencari tas untukmu!” Calistha menarik tangan sang menantu untuk pergi ke toko sebelah.
Pesanan tadi sudah disiapkan dan pembayarannya sudah diselesaikan oleh Calistha.
“Di sini toko langganan Mommy, kau duduk dulu atau bisa melihat-lihat tas yang cocok denganmu. Mommy ingin menemui pemilik toko untuk mengambil tas yang sudah Mommy pesan,” ujar wanita paruh baya itu sambil menyuruh Leticia untuk duduk di kursi yang sudah disediakan di dalam toko tersebut.
Leticia tidak ditinggal sendirian, karena sudah ada pelayan toko yang menemaninya untuk melihat-lihat tas keluaran terbaru yang dipajang di etalase.
Saat sedang melihat-lihat, seorang wanita yang wajahnya tidak asing baginya tiba-tiba menghampirinya.
“Leticia ya?” Tanya wanita tersebut sambil menatap penampilan Leticia dari atas sampai bawah.
“Iya, kau siapa?” Tanya Leticia yang merasa tidak asing dengan wajah wanita tersebut, tetapi ia tidak mengenali namanya.
“Octavia, model terkenal dan juga sahabatnya Leila… adik kembarmu,” jawab wanita itu dengan senyuman sinisnya.
Leticia baru mengingatnya, sebab Leila sering membawa Octavia main ke kediaman Morana.
“Aku dengar kau menikahi pria lain ya? Lalu Ashvin menikah dengan Leila?” Tanya Octa sambil menutup mulutnya, karena sudah keceplosan… padahal ia memang sengaja, bahkan suaranya juga sangat keras dan membuat mereka menjadi bahan tontonan pengunjung yang lain.
“Aku benar-benar kasihan dengan hidupmu, pernikahan impianmu menjadi hancur… karena pria yang kau cintai ternyata tidak menikahi adik kembarmu sendiri. Oh astaga, maaf kalau perkataanku sedikit menyakiti hatimu,” kata Octa dengan tatapan tidak enaknya.
Leticia hanya tersenyum tipis, kepalanya tidak menunduk… karena Calistha mengatakan dirinya harus percaya diri dan tidak boleh takut dengan apapun.
“Sebenarnya aku merasa senang melihat bajingan menikah dengan sampah, karena mereka sangat cocok,” ucap Leticia yang begitu mengejutkan.
Octa tidak menyangka kalau Leticia akan berkata seperti itu, padahal ia sudah membayangkan ekspresi menyedihkan Leticia yang ternyata dibohongi oleh orang-orang di sekitarnya.
“Dan suamiku jauh lebih tampan dari bajingan itu, bahkan uang suamiku lebih banyak. Aku sangat beruntung bisa memiliki suami seperti Kak Max,” Leticia menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman yang begitu cantik.
“Jadi Octa, kau tidak perlu mengasihani diriku yang kini sudah menemukan seorang berlian, setelah membuang bajingan seperti Ashvin untuk adik kembarku,” lanjutnya sambil menepuk bahu Octa yang masih tercengang.
“Ka-kau!” Octa kehabisan kata-kata untuk membalas Leticia yang ternyata tidak seperti apa yang dikatakan oleh Leila.
“Menantuku sudah menemukan tas yang bagus?” Suara Calistha membuat Leticia tersenyum, berbeda dengan Octa yang kembali dibuat tercengang saat mengetahui siapa yang menghampiri Leticia.
Sejak tadi Calistha sudah mendengar dan melihat apa yang dilakukan menantunya kepada Octa, dan ia merasa begitu bangga kepada Leticia.
“Apa menjadi menantu dari keluarga Leander terdengar sangat menyedihkan, sampai kau merasa kasihan kepada menantu kesayanganku?” Tanya Calistha yang membuat Octa langsung gelagapan…
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️