NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 : Mengurus perceraian

Sabrina menatap layar ponselnya beberapa saat setelah panggilan telepon itu berakhir dan nama Mommy Sandra menghilang dari sana.

"Tante Sandra bilang apa?" tanya Dion.

"Mommy Sandra bilang Alexander pulang dari Surabaya besok," jawab Sabrina sambil menatap Dion.

Dion langsung memperhatikan wajahnya. "Terus?"

"Mommy meminta aku datang ke rumah." Sabrina menggenggam ponselnya erat. "Dia ingin membicarakan masalah aku dan Alexander."

Senyum tipis langsung muncul di wajah Dion. "Nah. Itu kesempatan yang kita butuhkan."

Sabrina masih terlihat ragu. "Tapi aku tidak yakin semuanya akan berjalan sesuai harapan."

Dion berdiri lalu berjalan mendekat. "Kamu terlalu pesimis."

"Aku mengenal Alexander."

"Dan aku juga mengenalnya," Dion berhenti tepat di depan Sabrina lalu menatapnya lekat. "Kalau Tante Sandra masih berada di pihakmu, posisi kamu belum kalah."

Sabrina terdiam. Karena jauh di dalam hatinya, ia juga ingin mempercayai hal itu. "Aku pasti datang besok," ucapnya pelan.

"Bagus, Sayang."

Keheningan beberapa saat memenuhi kamar.

Dion kemudian duduk di samping Sabrina dan meraih tangannya. "Besok kamu harus tenang."

Sabrina menoleh.

"Jangan emosi."

"Hm."

"Jangan memaksa Alexander."

Sabrina mengernyit. "Lalu?"

"Buat Tante Sandra melihat bahwa kamu masih ingin mempertahankan pernikahan itu."

Tatapan Sabrina perlahan berubah.

"Kalau Alexander terlihat sebagai pihak yang ingin menghancurkan semuanya..." Dion tersenyum tipis. "Orang-orang akan lebih mudah bersimpati padamu."

Deg.

Sabrina menatap pria itu cukup lama. Entah kenapa, setiap kali Dion berbicara, semuanya terdengar begitu mudah. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

"Kadang aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu pikirkan," gumam Sabrina.

Dion hanya tersenyum. "Aku cuma ingin membantu kamu sayang."

Namun saat Sabrina memalingkan wajahnya, senyum di wajah Dion perlahan berubah. Tatapannya menjadi jauh lebih tajam. Karena sebenarnya ada sesuatu yang tidak Sabrina ketahui. Bagi Dion, ini bukan hanya tentang perceraian Alexander.

Bukan hanya tentang harta keluarga Dirgantara. Ada sesuatu yang jauh lebih pribadi. Dan sesuatu itu berhubungan langsung dengan Alexander.

Dion mulai mengusap Pipi Sabrina, wajahnya kini semakin dekat. "Aku akan selalu membahagiakanmu Sabrina. Jika kau sudah berhasil mengambil sebagian harta milik Alexander," ucapnya pelan.

Sabrina tersenyum, karena dia merasa hanya Dion yang bisa memuaskan semua hasratnya, selama 2 tahun menikah dengan Alexander Sabrina tidak pernah mencintai pria itu.

Dion kini mulai melepaskan pakaiannya, dan Dion mulai melumat bibir Sabrina dengan sangat dalam. Membuat Sabrina tak kuasa menahan hasratnya.

Dion mulai menyusup kedalam selimut, benda pusakanya mulai masuk kedalam sarang milik Sabrina. Membuat Sabrina mengerang penuh kenikmatan.

"Aarrggghh... Dion lakukan sepuasnya, semua yang ku punya ini milikmu sayang," ucap Sabrina sambil memeluk tubuh Dion dan menikmati setiap hentakkan yang Dion lakukan.

Selama Sabrina menjadi modelnya Dion, hampir setiap hari mereka melakukannya, bahkan Sabrina sering tidak pulang kerumah Alexander hanya untuk menghabiskan malam panas bersama kekasihnya itu.

Dion bahkan tidak pernah berniat menikahi Sabrina, Tapi Sabrina selalu percaya kalau Dion sangat mencintai dirinya dan hanya tubuhnya yang selalu membuat Dion terlena.

"Arrgghh... kau sangat nikmat sekali sayang," bisik Dion dengan napas yang sudah mulai tersenggal.

Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya bagi mereka berdua. Karena hanya penyatuan yang membuat mereka merasa senang tanpa memikirkan perasaan orang lain.

***

Sementara itu...

Di taman hotel yang dipenuhi lampu-lampu keemasan, Dara masih duduk membeku di depan laptopnya. Namun tidak satu kata pun dari data pekerjaan yang berhasil masuk ke kepalanya.

Kalimat Alexander terus terngiang.

"Setelah urusan perceraian saya selesai... saya pastikan kita akan segera menikah."

Jantungnya masih berdebar tidak karuan.

Sedangkan Alexander sudah kembali menatap layar laptopnya seolah tidak terjadi apa-apa. Beberapa menit kemudian, sebuah suara keras terdengar dari arah meja barbeque.

"Bos!" Aldi melambaikan tangannya. "Kalau kerja terus nanti cepet tua."

Beberapa staf langsung tertawa. Alexander mengangkat kepala perlahan. Kali ini pria tersebut menutup laptopnya. Sorakan langsung pecah.

"Waaah!"

"Akhirnya!"

"Tuan Alexander menyerah juga!"

Alexander kini menutup laptopnya, suasana taman yang semula santai berubah semakin meriah. Musik akustik dimainkan lebih keras. Aroma daging panggang memenuhi udara.

"Akhirnya kerjaan selesai juga!"

"Pak Ganjar, sini foto!"

"Rina, jangan ambil udang saya!"

Tawa langsung pecah di berbagai sudut taman.

Dara berusaha mengalihkan pikirannya dengan membantu Rina menata makanan di meja panjang. Namun sesulit apa pun ia mencoba, kalimat Alexander tadi terus berputar di kepalanya.

Setiap mengingatnya, jantungnya kembali berdebar.

"Dara."

"Hah?" Dara tersentak.

Rina menatapnya heran. "Kamu dari tadi bengong terus."

"Oh... nggak kok."

Dara langsung mengalihkan perhatian dengan mengambil piring. Rina menyipitkan mata curiga, tetapi memilih tidak bertanya lebih jauh.

Di sisi lain area taman, Alexander sedang berbicara dengan beberapa supervisor. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Tidak ada seorang pun yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.

Namun sesekali tatapannya tetap mengarah ke Dara. Dan setiap kali itu terjadi, Aldi yang berdiri tidak jauh darinya hanya tersenyum geli.

"Bos."

Alexander melirik.

"Lo sadar nggak sih?"

"Sadar apa?"

"Lo ngeliatin Dara terus."

Alexander mengambil gelas minumnya. "Khayalan lo terlalu liar."

Aldi langsung tertawa. "Hahaha..."

Alexander mengabaikannya.

***

Sementara itu, di Jakarta...

Rumah utama keluarga Dirgantara tampak tenang. Di ruang keluarga yang luas, Ibu Sandra duduk sendirian sambil memandangi foto keluarga yang berada di atas meja.

Foto lama, foto saat Alexander dan Sabrina baru menikah. Sandra menghela napas panjang. Jujur saja, sampai hari ini ia masih sulit menerima kenyataan bahwa rumah tangga putranya berada di ambang kehancuran.

Ia memang menyayangi Sabrina. Sangat menyayanginya. Namun beberapa minggu terakhir, semakin banyak hal yang mulai membuatnya mempertanyakan banyak hal.

Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari seseorang yang selama ini membantu Alexander mengumpulkan berbagai dokumen.

Ibu Sandra membuka pesan itu. Lalu perlahan wajahnya berubah. Satu dokumen. Dua dokumen. Tiga dokumen. Semakin lama ia membaca, semakin berat napasnya.

"Astaga..." Tangannya sedikit gemetar.

Kini Ibu Sandra mulai memahami alasan mengapa Alexander bersikeras mengakhiri semuanya. Tapi Ibu Sandra seakan tidak peduli dengan kenyatannya yang ada. Kalau menantu kesayangannya telah mengkhianati putranya sendiri.

"Memang Sabrina sudah keterlaluan, tapi aku rasa Sabrina melakukan ini karena Alexander yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya," gumamnya pelan.

Dari tangga terdengar suara langkah kaki yamg sangat ia kenal. Ibu Sandra langsung menyembunyikan dokumen itu di bawah taplak meja. Sayangnya Pak Arga Dirgantara sudah mengetahuinya.

"Sudahlah Sandra jangan lagi kau tutupi kesalahan menantumu itu, apa tidak sebaiknya kau biarkan Alex menceraikan Sabrina."

Ibu Sandra sangat tidak suka dengan ucapan suaminya itu. "Sudahlah mas, kamu jangan menghalangiku untuk mempertahankan rumah tangga Alex dan Sabrina. Aku tahu Alex hanya sedang emosi saja," jawabnya.

"Apa yang masih kau harapkan dengan wanita seperti Sabrina, kau itu hanya butuh popularitas wanita itu saja bukan?"

Mendengar ucapan suaminya itu, Ibu Sandra langsung terdiam. Karena apa yang di katakan oleh Pak Arga adalah benar. Karena dia hanya membutuhkan Popularitas Sabrina sebagai model terkenal.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!