Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Aneh
"Kok Mbah kenal kakek saya," ucap Bejo.
"Pasti kenal nak, dia juga temen mbah sejak kecil," balas Mbah Sastro.
Bejo mendengarkan cerita Mbah Sastro, ia tidak menyangka akan bertemu kakeknya. Tapi Bejo penasaran karena Mbah Sastro terlihat tidak begitu tua, untungnya dalam cerita Bejo memahami sepenuhnya.
"Sabar ya Jo, walaupun kamu hidup sendiri, 'kamu harus tetap semangat!."
Obrolan mereka cukup lama, Bejo sangat senang mendengarkan cerita sang kakek yang selama ini tidak ia ketahui wajahnya.
"Mbah punya foto kakekmu, kalau kamu mau ambil kerumah Mbah aja nanti sore," ucap Mbah Sastro.
"Baik Mbah," balas Bejo.
"Dah ini, belikan dua bungkus rokok sama seperti aja," pinta Mbah Sastro.
"Kalau rokok cuman 30 ribu aja Mbah, gak papa harga yang tadi, karena Mbah ya jualan dan memiliki kebutuhan," ujar Bejo.
Kemudian Bejo memberikan uang 80 ribu pas kepada Mbah Sastro, walaupun di tolak tapi Bejo tetap memaksa karena ia tahu semua orang pasti akan membutuhkan uang, bukan menolak kebaikan tapi Bejo tau bagaimana rasanya hidup susah, apalagi dia juga seperti itu sekarang.
Mbah Sastro menghela napasnya. Ia menerima uang dari Bejo, lalu memberikan Cincin Merah Delima yang sudah jadi.
"Ini cincin merah delima Jo, tapi aneh saja kok bisa sudah jadi batu akik begini!!," ucap bingung Mbah Sastro.
Bejo memperhatikan cincinnya, lalu memakai cincin itu di jari kanan dan pas sekali.
"Emm.. Mbah punya benang tridatu apa enggak?," tanya Bejo yang teringat akan trisula.
"Ada.. ambil aja di tas kecil itu." Jawab Mbah Sastro.
Bejo mengambil sepanjang satu meteran, ia berencana membuat gelang juga namun tiba-tiba Mbah Sastro berkata. "Bawa semua aja Jo, dirumah Mbah masih banyak."
"Beneran nih Mbah! Saya bawa semua?,"
"Iya. Bawa semua gak papa,"
"Terima kasih Mbah."
Bejo memasukkan dalam tas kecilnya, lalu dia berpamitan untuk pulang. Mbah Sastro juga mengingatkan untuk datang kerumah sore nanti, Bejo sudah beri alamat.
Dalam perjalanan pulang ponsel Bejo bunyi terus membuat ia menepi.
"Ada apa, Dinda?,"
"Cepet pulang Jo,"
"Kenapa kamu seperti panik begitu?,"
"Disini gempar Jo, pokoknya kamu pulang dulu,"
"Iya ini aku mau pulang."
Bejo melanjutkan perjalanannya, namun perasaannya kini sangat tidak nyaman. Hingga sampai rumah, ia di kejutkan dengan banyaknya orang di perempatan kampung.
Bejo buru-buru kesana, ia melihat begitu banyak orang lalu ada satu orang yang terkapar di bawah.
"Kemana aja kamu Jo?," tanya Pak Johan.
"Dari pasar pak,"
"Telat sudah kamu Jo,"
Bejo menyipitkan matanya, ia kebingungan dalam kata telat, apa yang telat! 'membuat Bejo benar-benar bingung.
Setelah semua orang bubar dan membawa orang yang tak sadarkan diri tadi, Bejo kerumah Dinda.
"Din.. Dinda?," teriak pelan Bejo.
"Bentar.."
Bejo berdiri di depan gerbang yang di tutup, tidak berselang lama Intan yang membukanya.
"Dinda kemana?," tanya Bejo.
"Di dalam mas."
Bejo masuk kedalam rumah Dinda, ia bertemu Pak Johan dan Bu Ani orang tua Dinda.
"Tumben kesini Jo," seru pak Johan.
"Tadi Dinda minta saya kesini pak, jadi saya buru-buru pulang," ucap Bejo.
"Oh itu aku yang suruh tadi, lupa beritahu kamu pas ketemu tadi," balas Pak Johan.
"Sebenarnya ada apa sih pak?," tanya Bejo.
Pak Johan menghela napas. Ia memandang sesaat wajah Bejo sebelum menceritakannya.
"Tadi tuh orang aneh Jo, dia tiba-tiba ada di belakang rumahmu. Entah mencari apa hingga masuk kedalam rumahmu dari pintu belakang, untungnya Dinda dan teman-temannya baru mau pulang melihat dia. Jadi Dinda berteriak meminta tolong," jelas Pak Johan.
Bejo diam, dia mencerna apa yang akan di lakukan orang tersebut.
"Anehnya lagi, dia bilang begini."Ampun.. aku gak ngelakuin itu!! Ampun.." dia berlari ketakutan entah karena apa hingga pingsan di perempatan jalan tadi. Belum salam olahraga dah pingsan duluan," imbuh pak Johan.
Bejo memegang dagunya, ia memikirkan sesuatu tapi tidak ada yang di rasakannya. Saat dalam lamunan, Bejo merasakan hangat di jari manisnya.
Bejo memejamkan matanya, ia merasakan aneh dari dalam dirinya!, entah apa itu tapi Bejo tetap tenang merasakannya. Samar-samar Bejo melihat sosok berjubah yang tak lainnya wajahnya di kenali Bejo.
"Ki Ronggo!"
Seketika Bejo membuka matanya, dia terengah-engah membuat pak Johan kebingungan melihatnya.
"Jo.. kamu kenapa?," tanyanya.
Dinda dan Intan yang mendengarkan itu kedepan dengan buru.
Intan lebih dulu, ia melihat wajah Bejo pucat pasi dengan napasnya tersengal-sengal.
"Mas kamu kenapa mas..?," tanya khawatir Intan.
"Jo kamu kenapa?," ikut Dinda bertanya dengan nada khawatir.
Pak Johan yang melihat putrinya begitu peduli kepada Bejo untuk pertama kalinya, ia terkejut 'memasang wajah curiga pada sang putri.
"Aku gak papa," jawab Bejo, ia menarik napas dalam-dalam.
Bejo kembali tenang, wajah yang pucat kembali cerah dengan perlahan.
"Dah.. jangan pikir aneh-aneh Jo, berdoa saja." Saran pak Johan dengan lembut.
"Iya pak."
Intan lebih panik, sedangkan Dinda merasa malu di perhatikan ayahnya ketika ia khawatir ke Bejo. Dinda lebih sedikit jauh, tapi dia sudah pasti akan di tanya oleh ayahnya.
Bejo berpamitan pulang, ia hendak pergi sore ini karena ada janji pada teman kakeknya. Intan sebenarnya ingin lama tapi ia harus pulang dulu, kini mereka pulang kerumah masing-masing.
"Mau kemana lu Jo?," tanya Jarot.
"Tunggu di warkop aja, gua ada janji ketemu sama teman kakekku," jawab Bejo.
Kemudian Bejo menancap gas, meninggalkan teman-temannya. Bejo berangkat setelah dirinya bersih, ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah kakeknya.
Bejo mencari rumah Mbah Sastro, ia sebenarnya sudah tau tapi kenapa begitu lama yang di rasakan Bejo."kenapa lama sekali!" Dalam hati Bejo, ia melanjutkan lagi hingga menemukan pos ronda yang sebelumnya tidak ada.
"Sudah lima kali lewat sini, kenapa tiba-tiba ada pos ronda," gumam Bejo.
Bejo kemudian berbelok, ia melihat rumah Mbah Sastro yang ternyata sudah menunggu sejak tadi.
"Kok lama Jo?," tanya Mbah Sastro.
"Aneh Mbah.. tadi saya sudah mutar lima kali tapi gak melihat pos ronda itu!! Ehh.. tiba-tiba ada setelah lima kali keliling mencari," jawab Bejo.
Mbah Sastro menyipitkan matanya, ia memandang kejauhan dimana ada sosok tersenyum menyeringai begitu penuh arti.
"Masuk Jo, gak baik magrib-magrib di pintu," seru Mbah Sastro.
Bejo masuk kedalam, namun langkah terhenti. Begitu berat kaki bagian kanan seperti ada yang menahannya, Bejo memejamkan mata, 'ia berdoa dalam hatinya.
Namun saat membuka mata Bejo terkejut, dimana rumah yang mau di masukin yang tadinya terang berenang kini hancur berkeping-keping.
"Astaghfirullahalazim.."
Bejo mundur, ia berdoa setiap langkahnya perasaan aneh nyata terus ada dalam benaknya. Bejo di buat bingung dengan alamat yang di berikan, ia melihat benar tapi kenapa rumah itu seperti bekas terbakar.