Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Alisa
Malam itu, sekitar pukul delapan, deru mobil Rendra terdengar memasuki halaman rumah. Suasana kediaman yang semula sepi berangsur hangat saat Mahira dan Rendra melangkah masuk dengan gurat lelah yang kentara di wajah mereka setelah perjalanan bisnis yang panjang.
Di ruang keluarga, Albiru sudah duduk di sofa tunggal sembari melirik ke arah tangga, sementara Alisa sedang asyik membolak-balik majalah di sofa panjang. Begitu Mahira duduk setelah meletakkan tasnya, Albiru berdeham pelan, memulai rencana kecil yang sudah bersarang di kepalanya sejak siang.
"Bun, tadi siang waktu Bunda sama Papa belum pulang, ada tamu yang datang ya?" tanya Albiru dengan nada sengaja dibuat santai, memancing reaksi.
Mahira mengernyitkan dahi, menatap putra sulungnya dengan bingung. "Tamu? Tamu siapa? Setahu Bunda hari ini nggak ada janji sama siapa-siapa."
Albiru bersandar pada sofa, pandangannya beralih menatap Alisa yang mendadak menghentikan aktivitasnya membaca majalah. "Bukan tamu Bunda. Itu, temannya Alisa. Siapa namanya tadi ... Syafa? Iya, Syafa. Tadi Alisa bilang rumahnya dekat sini. Emang dia tinggal di mana, Alisha?"
Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, Mahira langsung menatap kedua anaknya secara bergantian, menuntut penjelasan. "Syafa? Siapa Syafa?" tanya Mahira penasaran.
Alisa menelan ludah pelan. Ia tidak menyangka kakaknya akan sepenasaran ini sampai membawa topik ini di depan orang tua mereka.
Dengan senyum kaku yang dipaksakan, Alisa mencoba menjawab sealami mungkin. "Oh ... itu, Bun. Syafa itu teman Alisa. Iya, teman lama waktu SD dulu. Tadi dia kebetulan lewat daerah sini, terus mampir sebentar main di kamar Alisa. Nggak lama kok, sore tadi udah langsung pulang.”
Tepat saat Alisa menyelesaikan kalimatnya, Ellea muncul dari arah dapur dengan langkah anggun. Ia mengenakan gamis rumahan yang longgar lengkap dengan cadar hitamnya, membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi hangat aromatik untuk mertuanya.
"Ini kopinya, Papah, Bunda," ucap Ellea lembut, meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja kaca di depan Rendra dan Mahira.
"Wah, makasih ya, El. Menantu papa memang paling pengertian," ujar Rendra hangat, langsung meraih cangkir kopi tersebut untuk menyesapnya sedikit demi meredakan penat.
Ellea tersenyum di balik cadarnya, hendak melangkah mundur untuk kembali ke dapur. Namun, suara Albiru kembali menginterupsi, menghentikan langkah kakinya seketika.
“Suami sendiri nggak dibuatin?” sindir Albiru.
Ellea menoleh, malu setengah mati. “Memangnya Kak Al mau dibuatin apa? Bukannya itu di depan Kak Al sudah ada susu hangat ya?”
Kedua orang tua Albiru hampir saja tertawa melihat kelakuan dua pasangan itu.
"Sudah nggak jadi, gue cuma bercanda!” ucap Albiru kesal. “Oh ya, Alisha, mumpung lo lagi pegang HP, gue minta nomor ponselnya Syafa dong," pinta Albiru tiba-tiba, menatap adiknya dengan senyuman miring yang penuh arti.
Detik itu juga, gerakan Ellea mengunci. Sepasang mata abu-abunya melebar di balik cadar. Secara refleks, Ellea dan Alisa langsung saling menatap satu sama lain dengan pandangan penuh kepanikan yang luar biasa. Sinyal bahaya berbunyi nyaring di kepala mereka berdua.
Albiru yang menangkap basah aksi saling tatap itu makin melebarkan seringainya. Ia mengetuk-ngetukan jarinya di atas sandaran sofa. "Ayo, mana nomornya? Kok malah bengong berdua?"
Alisa berdeham keras, mencoba menutupi kegugupannya. "M-mau ngapain sih, Kak? Tiba-tiba minta nomor ponsel teman Alisa? Kurang kerjaan banget."
"Ya mau kenalan aja, nggak boleh? Gue cuma mau tahu dia sekarang sekolah di mana. Siapa tahu satu lingkungan sama kita," jawab Albiru enteng, nadanya terdengar begitu menyebalkan di telinga Alisa dan Ellea.
Brak.
Mahira meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit hentakan ke atas tatakan, membuat Albiru sedikit tersentak. Mahira menatap putranya dengan pandangan menyindir yang tajam.
"Albiru, kamu ini sudah punya Ellea sebagai istri, masih saja bertanya tentang wanita lain," sindir Mahira, suaranya terdengar tidak senang. "Sandra yang selalu mengekor di belakang kamu aja belum kamu usir dari hidup kamu, sekarang harus tambah lagi saingan buat Ellea? Kamu ini maunya apa, sih?"
Albiru mengembuskan napas pendek, lalu terkekeh pelan demi mencairkan ketegangan ibunya. "Bunda ini hobi banget salah paham. Albiru cuma mau berteman saja, Bun. Nggak ada niat lain. Iya, kan, El? Boleh, kan, kalau gue kenalan sama Syafa?" tanya Albiru, sengaja melempar bola panas itu ke arah istrinya sendiri.
Ellea seketika menjadi sangat gugup. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sesak. Di satu sisi, ia adalah 'Syafa' itu sendiri, dan di sisi lain, ia tidak mungkin memberikan nomor ponsel lain karena ia tidak memilikinya. Dengan bingung, Ellea kembali menatap Alisa, memberikan kode darurat lewat tatapannya agar sang adik ipar segera menyelamatkannya.
Alisa yang paham situasi pelik ini langsung memotong sebelum Ellea sempat menjawab. "Iya, iya! Nanti Alisa kasih lewat WhatsApp! Nggak usah ditanyain terus di depan Ellea, Kak Al bikin pusing aja deh."
"Good! Itu baru adik yang baik," puji Albiru, merasa menang satu langkah. Namun, ia belum puas. Netra elangnya kembali mengunci sosok Ellea yang masih berdiri kaku di dekat meja. "Tapi, El ... lo beneran nggak apa-apa kan kalau gue kenalan sama Syafa? Nggak cemburu, kan?"
Ellea meremas ujung nampan kayu yang dipegangnya untuk meredakan gemetar di tangannya. "Mmm ... kok tanya ke aku, Kak?" tanya Ellea balik dengan suara yang sengaja dipelankan agar tidak terdengar bergetar.
"Ya, kan harus. Seorang istri harus tahu ke mana dan dengan siapa saja teman suaminya melangkah, iyakan, Papa?" ujar Albiru sembari meminta dukungan dari sang ayah yang sejak tadi hanya menyimak.
Rendra yang sejak tadi memperhatikan interaksi putra dan menantunya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagai seorang pria dewasa, Rendra bisa melihat ada dinamika aneh yang sedang terjadi di antara Albiru dan Ellea, sesuatu yang tidak biasa, namun ia memilih untuk tidak ikut campur terlalu dalam.
"Papa nggak mau ikutan. Urusan rumah tangga kamu, selesaikan sendiri sama istri kamu," tukas Rendra memutus kalimat, lalu kembali fokus pada ponselnya, membiarkan pasangan muda yang aneh itu tenggelam dalam riak rahasia mereka sendiri.
Melihat Rendra dan Mahira yang mulai beranjak ke kamar atas untuk beristirahat, Alisa segera menarik lengan Ellea secara sembunyi-sembunyi, mengajak kakak iparnya itu menjauh dari ruang tengah. Sementara itu, Albiru kebetulan sedang melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.
Memanfaatkan kesempatan singkat itu, Alisa dan Ellea buru-buru menyelinap ke sudut koridor dekat dapur. Keduanya saling berhadapan dengan raut wajah yang sama-sama dilanda kebingungan dan kepanikan.
"Aduh, Kak El, gimana ini? Kita kasih nomor siapa ke Kak Al?" bisik Alisa setengah panik, matanya sesekali melirik ke arah dapur memastikan kakaknya belum keluar. "Kalau aku nggak kasih, dia pasti bakal curiga setengah mati dan terus-terusan neror aku."
Ellea meremas kedua tangannya yang terasa dingin. "Kakak juga bingung, Alisa. Kakak nggak punya nomor ponsel lain selain yang kakak pakai sekarang."
Sebuah ide mendadak terlintas di kepala Alisa. Ia menatap Ellea lekat-lekat. "Kak, tunggu deh. Emangnya Kak Albiru punya nomor ponsel Kak El yang sekarang?"
Ellea menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak punya. Nomor ponsel kakak yang dulu kan sudah tidak aktif, sejak kita menikah pesan kak El pun nggak pernah dibalas jadi ya sudah kakak memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi, dan nomor yang baru ini belum sempat kakak kasih ke dia. Memangnya kenapa, Lisa?"
Mendengar jawaban itu, mata Alisa seketika berbinar cerah dan ada rasa kasihan pada kakak iparnya itu. Namun, ia harus memberi pelajaran pada kakaknya itu. Ia langsung menggenggam kedua bahu Ellea dengan bersemangat.
"Nah! Pas banget! Kalau gitu, kasih aja nomor Kak El yang sekarang ke Kak Al. Kakak harus pura-pura menjadi Syafa!" usul Alisa mengide dengan wajah tanpa dosa.
Ellea tertegun, sepasang mata abu-abunya membelalak tidak percaya. Ia mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, dipenuhi rasa bersalah yang kian menghimpit dadanya.
"Alisa ... masa kakak harus berbohong lagi kepada suami sendiri? Kebohongan yang tadi saja sudah membuat kakak merasa sangat berdosa, sekarang malah mau ditambah lagi?"
Alisa langsung memasang wajah memelas, menatap Ellea dengan tatapan memohon yang sungguh-sungguh. "Kak El, tolonglah ... anggap aja ini rencana darurat. Lagian, ini juga demi kebaikan Kakak, tahu!"
"Kebaikan apa maksudmu?" tanya Ellea tidak mengerti.
"Ini demi membuktikan apakah Kak Albiru itu sebenarnya cinta atau enggak sama Kakak!" jawab Alisa dengan nada penuh keyakinan. "Kita lihat nanti, apa dia bakal suka dan malah memilih punya hubungan sama Syafa atau Kakak yang bercadar ini.”