NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Ronin

Perjalanan Sang Ronin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Aldabaron yang dipenuhi sihir, monster, dan teknologi Rune, seorang ronin muda bernama Ryosuke Tagawa kehilangan seluruh keluarganya akibat perang yang dipicu ambisi tersembunyi Empire Krusador. Dalam pengembaraannya, ia menemukan Tenkū Matō, pedang legendaris yang ditempa dari pecahan meteor dan menguasai sihir kegelapan. Bersama katana warisannya, Nichirin-gatana, yang memiliki sihir cahaya, Ryosuke menguasai gaya pedang Hyoho Niten Ichi-ryū. Ketika pasukan Krusador menginvasi Kepulauan Great Sea dengan senjata mengerikan Beast Crust Rune Cannon, Ryosuke harus menentukan pilihan: tetap menjadi pengembara yang menghindari perang, atau bangkit melindungi mereka yang tidak mampu melawan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Misi Pertama

Sementara itu, Hana mulai membantu berbagai pekerjaan ringan di dalam barak. Ia membantu dapur menyiapkan makanan, merapikan ruang perawatan ketika sang tabib membutuhkan bantuan, serta sesekali membantu mencatat persediaan yang baru datang bersama para pedagang. Sedikit demi sedikit, para anggota kelompok mulai mengenal kakak beradik tersebut bukan lagi sebagai tamu yang diselamatkan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di barak.

Suatu sore, setelah latihan selesai, Alfaro menghampiri Ryosuke yang sedang menyarungkan kedua katana nya.

"Bagaimana keadaan tubuhmu?"

"Jauh lebih baik."

"Itu kabar yang bagus."

Alfaro berdiri beberapa saat sambil memandang para anggota kelompok yang masih berlatih di kejauhan.

"Kau sudah melihat sendiri bagaimana kami hidup di tempat ini."

Ryosuke mengikuti arah pandangannya.

Di Hadapan mereka para tentara bayaran saling membantu tanpa memandang asal-usul satu sama lain. Ada yang berasal dari desa kecil, ada mantan prajurit, ada pula pengembara yang memilih tinggal bersama kelompok itu. Meskipun latar belakang mereka berbeda, mereka bekerja sebagai satu kesatuan.

Alfaro kembali memandang Ryosuke.

"Kalau kau dan Hana belum memiliki tujuan lain setelah semua yang terjadi..."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"...tinggallah di sini."

"Bergabunglah dengan kelompok kami."

Ryosuke tidak langsung menjawab.

P0

Ia memandang Hana yang sedang berbicara dengan beberapa anggota di halaman barak. Untuk pertama kalinya sejak desa mereka dihancurkan, adiknya dapat tersenyum tanpa rasa takut.

Kemudian Ryosuke mengalihkan pandangan kepada Alfaro.

Ia mengetahui bahwa perang yang merenggut keluarganya belum berakhir. Jalan yang harus ditempuhnya juga masih sangat panjang.

Namun kini, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi harus melaluinya seorang diri.

Pagi itu, matahari baru saja muncul di balik tembok kokoh Benteng Vargan ketika kehidupan di barak tentara bayaran mulai bergerak seperti biasanya. Asap tipis membubung dari dapur umum, suara dentingan baja terdengar dari tempat latihan, sementara beberapa anggota kelompok telah lebih dahulu memeriksa perlengkapan sebelum berangkat menjalankan tugas masing-masing. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu Ryosuke telah berdiri di halaman utama sejak fajar menyingsing. Luka-luka yang sempat memaksanya berbaring selama berminggu-minggu kini hampir seluruhnya pulih. Bekas sayatan memang masih terlihat jelas di beberapa bagian tubuhnya, tetapi gerakannya telah kembali mantap. Nichirin-gatana dan Tenkū Matō tergantung di pinggangnya seperti biasa, menjadi bagian yang tidak pernah terpisahkan dari dirinya.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Hana sedang membantu beberapa anggota dapur menyiapkan sarapan bagi seluruh penghuni barak. Sesekali pandangannya beralih kepada Ryosuke yang sedang memeriksa kedua pedangnya. Melihat kakaknya kembali berdiri dengan tubuh yang jauh lebih sehat membuat perasaan cemas yang selama ini membebaninya perlahan menghilang.

Langkah kaki seseorang kemudian mendekat.

Alfaro Perez berhenti tepat di depan Ryosuke sambil membawa sebuah gulungan peta sederhana.

"Keadaanmu sudah cukup baik."

Ryosuke menganggukkan kepala.

"Aku sudah siap menjalankan tugasku."

Alfaro membuka gulungan peta itu di atas meja kayu yang berada di halaman. Dengan telunjuknya ia menunjuk sebuah kawasan hutan yang membentang tidak terlalu jauh dari Benteng Vargan.

"Persediaan daging kering di barak mulai berkurang. Beberapa hari lagi kami menerima rombongan pedagang yang harus dikawal melewati jalur perbatasan. Sebelum itu terjadi, kami perlu menambah persediaan makanan."

Ryosuke memperhatikan peta tersebut dengan saksama.

"Hari ini tugasmu sederhana."

"Kau ikut berburu."

Tidak ada medan perang.

Tidak ada benteng yang harus disusupi.

Tidak ada pasukan Krusador yang harus dihadapi.

Hanya sebuah tugas yang bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa, tetapi bagi Alfaro justru menjadi cara terbaik untuk mengenalkan anggota baru kepada kehidupan kelompoknya. Seorang tentara bayaran bukan hanya dituntut mampu bertarung, tetapi juga memahami bagaimana menjaga kelompoknya tetap bertahan hidup.

"Kau tidak berangkat sendiri," lanjut Alfaro.

"Beberapa orang akan ikut bersamamu. Mereka mengenal wilayah perburuan lebih baik."

Ryosuke mengangguk tanpa keberatan.

Baginya, setiap tugas yang diberikan memiliki arti yang sama. Selama ia telah memutuskan bergabung dengan kelompok ini, ia akan menjalankannya sebaik mungkin.

Tidak lama kemudian, sebuah kelompok kecil meninggalkan barak melalui gerbang timur. Selain Ryosuke, terdapat empat tentara bayaran lain yang membawa busur, tombak pendek, tali jerat, dan beberapa keranjang anyaman untuk membawa hasil buruan.

Perjalanan mereka dimulai dengan mengikuti jalan setapak yang membelah padang rumput sebelum akhirnya memasuki kawasan hutan lebat di kaki perbukitan. Udara pagi masih terasa sejuk, sementara embun yang menempel di dedaunan memantulkan cahaya matahari hingga seluruh hutan tampak hidup.

"Daerah ini cukup aman," ujar salah seorang tentara bayaran yang berjalan paling depan.

"Biasanya kita mendapatkan rusa liar atau babi hutan."

"Tapi akhir-akhir ini jejak monster mulai sering ditemukan."

Ryosuke memperhatikan keadaan sekeliling tanpa banyak berbicara.

Naluri yang selama bertahun-tahun menemaninya hidup sebagai ronin membuatnya terus mengamati arah angin, bekas pijakan di tanah, serta suara-suara kecil yang muncul dari balik semak. Meskipun misi hari itu bukan pertempuran, ia tetap menjaga kewaspadaan.

Rombongan terus bergerak semakin jauh ke dalam hutan.

Beberapa kali mereka menemukan jejak rusa, tetapi binatang itu telah lebih dahulu berpindah sebelum sempat didekati. Mereka juga menemukan beberapa perangkap tua yang telah rusak dimakan usia, menandakan bahwa kawasan tersebut pernah digunakan oleh para pemburu.

"Kalau terus begini, kita pulang dengan tangan kosong," keluh salah seorang anggota sambil tertawa kecil.

Belum sempat yang lain menanggapi, Ryosuke tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Ia mengangkat tangan sebagai isyarat agar seluruh rombongan diam.

"Ada sesuatu."

Keempat tentara bayaran langsung terdiam.

Mereka berusaha mendengarkan.

Pada awalnya tidak terdengar apa-apa selain desir angin yang melewati pepohonan. Namun beberapa saat kemudian, samar-samar terdengar suara benturan logam disusul raungan monster yang bergema dari arah timur.

Ryosuke memusatkan pendengarannya.

Suara itu bukan suara perburuan.

Itu adalah suara pertarungan.

Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berlari ke arah datangnya suara tersebut. Keempat tentara bayaran saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya mengikuti Ryosuke menembus rimbunnya pepohonan.

Semakin dekat mereka menuju sumber suara, raungan monster terdengar semakin jelas. Tanah di bawah kaki mulai dipenuhi jejak-jejak besar yang bukan berasal dari hewan biasa, sementara beberapa batang pohon tampak patah seolah dihantam sesuatu yang berukuran jauh lebih besar.

Sesaat kemudian, pepohonan di depan mereka mulai terbuka, memperlihatkan sebuah tanah lapang.

Pemandangan yang terlihat membuat seluruh rombongan berhenti.

Di tengah lapangan itu, dua orang tengah bertahan mati-matian di dalam kepungan puluhan monster.

Seorang gadis muda memegang busur dengan napas yang mulai terengah-engah sambil terus melepaskan anak panah untuk menghalau monster yang mendekat. Di depannya berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi yang menggenggam kapak raksasa dengan kedua tangan. Setiap ayunan kapaknya mampu menjatuhkan satu atau dua monster sekaligus, tetapi jumlah musuh yang terus berdatangan membuat mereka perlahan semakin terdesak.

Ryosuke memandang keadaan itu selama sesaat.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tangannya langsung meraih gagang Nichirin-gatana dan Tenkū Matō.

..._BERSAMBUNG _...

1
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!