NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Hujan yang sedari sore turun deras akhirnya mereda perlahan, menyisakan udara yang sejuk, bersih, dan berbau tanah basah yang khas. Perjalanan pulang berjalan agak lambat karena jalanan licin dan sedikit bergenangan air, sehingga baru tepat pukul delapan malam kendaraan Elio berhenti di halaman rumah keluarga Wijaya yang tenang dan remang‑remang. Lampu‑lampu taman menyala lembut, namun pintu utama dan jendela‑jendela tampak agak sunyi, seolah tak banyak orang yang bergerak di dalamnya.

Baru saja masuk ke ruang tengah, ponsel Alena berdering singkat—pesan singkat dari kakeknya: beliau dan Kakek Baskara sepakat pergi menginap sebentar di rumah peristirahatan di pinggir bukit, berniat mengobrol santai sambil menikmati udara segar setelah hujan, dan tidak ada siapa‑siapa lagi yang tinggal di rumah malam ini.

Alena menyampaikan kabar itu kepada Elio sambil menaruh tas di meja, sedikit terkejut namun juga merasa tenang.

“Berarti kita berdua saja di sini?” tanya Elio sambil tersenyum tipis, lalu melihat ke arah luar yang masih agak gelap dan berangin dingin. “Kalau begitu, sebaiknya aku tidak pulang malam‑malam seperti ini—jalan masih licin dan kabut mulai turun di bukit. Bolehkah aku menginap saja?”

Tawaran itu terdengar masuk akal sekaligus membuat suasana jadi lebih akrab. Alena mengangguk tersipu namun senang: “Tentu saja boleh. Aku malah lebih tenang kalau kamu tidak melaju sendirian di jalan yang licin.”

Mereka kemudian menyiapkan makan malam sederhana namun hangat—supaya sayuran hangat, roti panggang, dan minuman jahe manis—dihidangkan di meja makan yang besar namun kini terasa lebih nyaman karena hanya diisi percakapan ringan dan tawa kecil. Mereka membicarakan sore yang indah di danau, hujan yang tiba‑tiba, serta momen‑momen yang tak terlupakan di dalam mobil—dengan cara yang halus namun tetap membuat pipi Alena merona setiap kali topik itu disinggung sekilas.

Setelah beres merapikan sisa makanan, keduanya berjalan menuju kamar tidur utama yang luas dan nyaman—ruangan yang sudah sangat akrab bagi Alena, namun malam ini terasa sedikit berbeda karena kehadiran Elio yang berjalan di sampingnya dengan langkah santai namun penuh perhatian.

“Kita bisa sekadar duduk santai dan menonton televisi saja sampai mengantuk,” usul Alena sambil menyalakan lampu‑lampu yang redup agar suasana jadi lebih tenang dan tidak silau. Ia menarik selimut tebal yang empuk lalu duduk di tepi ranjang yang besar dan empuk. Elio segera duduk di sebelahnya, menyandarkan punggung bersandar pada sandaran tempat tidur, dan menyelimuti bahu mereka berdua agar hangat terjaga—seolah selimut itu menjadi jembatan kebersamaan yang halus namun nyata.

Televisi menayangkan program hiburan ringan—cerita komedi dan sedikit film santai—yang membuat mereka tertawa kecil sesekali, saling menyikut pelan atau berkomentar pelan di antara adegan‑adegan lucu. Kadang percakapan berhenti sejenak, digantikan oleh keheningan yang damai namun tidak kaku—keheningan yang hanya dimiliki oleh orang‑orang yang sudah merasa sangat dekat dan aman satu sama lain.

Waktu berlalu tanpa terasa; jarum jam di dinding perlahan bergerak melewati pukul sepuluh, lalu terus maju hingga tepat menunjuk pukul sebelas malam. Mata mereka sama sekali belum terasa berat; seolah kebersamaan ini membuat rasa lelah seharian hilang begitu saja. Elio menggeser posisi sedikit mendekat agar bahu mereka bersentuhan halus, dan tangannya yang santai beristirahat di pinggir selimut yang menutupi paha dan pinggang mereka berdua.

Pada suatu saat, saat salah satu adegan lucu membuat Alena menggerakkan tubuhnya riang—menarik napas panjang lalu merenggangkan lengan dan punggung agar tidak kaku—tangannya bergerak melintasi ruang sempit di antara mereka. Tanpa sengaja, telapak tangan itu menyentuh sesuatu di balik selimut—tepat di bagian depan paha Elio—yang terasa sangat keras, kaku, dan padat, sama sekali tidak seperti bagian tubuh yang lunak atau santai.

Gerakan Alena terhenti seketika. Napasnya tertahan sedikit, dan wajahnya langsung berubah merah padam seketika hingga ke telinga. Ia hendak menarik tangan kembali secepat kilat karena terkejut dan malu luar biasa—namun sebelum sempat bergerak jauh, pergelangan tangannya ditahan perlahan namun pasti oleh tangan Elio yang hangat dan kuat.

Alih‑alih melepaskan atau berusaha mengubah posisi seolah tak terjadi apa‑apa, Elio justru menahan tangan itu agar tetap berada di sana, menempel tepat di tempat yang sama di balik kain selimut yang tebal namun tak bisa menyembunyikan bentuknya. Saat Alena mengangkat wajah dengan mata terbelalak dan pipi menyala merah, ia melihat Elio tersenyum—tersenyum sangat lebar, sangat jelas, namun dengan raut wajah yang sengaja dibuat paling polos dan tak berdosa yang pernah dilihatnya.

“Kenapa berhenti begitu cepat?” bisiknya pelan, suaranya rendah dan bergetar lucu, seolah hal itu adalah hal paling wajar dan biasa saja di dunia. “Kamu baru saja menyentuh sesuatu yang… terasa sangat nyata dan bereaksi tepat saat kamu berada begitu dekat.”

“El‑Elio…!” seru Alena berbisik tegas namun tertahan, berusaha menarik tangan namun tidak berani melawan terlalu kuat karena semakin menarik justru semakin terasa bentuknya yang jelas di bawah telapak tangannya. “Aku… aku tidak sengaja! Hanya sedang merenggangkan badan saja…”

“Tentu saja aku tahu itu tidak disengaja,” jawab Elio santai, namun tangannya tetap menahan agar telapak tangan gadis itu tak beranjak, bahkan perlahan menggerakkannya sedikit maju‑mundur dengan irama yang sangat halus—seolah ingin membiarkan Alena merasakan sepenuhnya apa yang baru saja ia temukan tanpa sengaja. Senyum lebar itu tak hilang sedikit pun, malah makin terlihat nakal namun tetap sangat manis dan lucu. “Dan karena sudah menemukan, biarkan saja sebentar… tidak ada yang salah. Lagipula, itu hanya reaksi alami tubuh karena kamu duduk begitu dekat, bergerak begitu manis, dan berbau sangat harum semalaman.”

Alena memejamkan mata erat‑erat, berusaha menahan rasa malu yang meluap sekaligus menahan senyum kecil yang mulai muncul meski ia berusaha keras tampak kesal. “Kamu… benar‑benar tahu cara membuat suasana jadi canggung sekaligus lucu sekaligus…”

“Canggung? Kenapa harus begitu?” bisik Elio lagi, mendekatkan wajahnya hingga bahu mereka benar‑benar bersandar penuh dan napasnya hangat menyapu pipi Alena. Ia mempertahankan senyum polos yang semakin tak tertahankan untuk dilihat—seolah ia sama sekali tidak sadar bahwa tangannya sendiri sedang mengarahkan telapak tangan Alena untuk tetap menempel di sana. “Kita sudah bertunangan, kan? Dan malam ini kita berdua saja, tenang, aman… dan aku hanya ingin menikmati setiap detik kedekatannya—termasuk momen kecil yang tak terduga ini.”

Sambil tetap menahan tangan itu lembut namun tegas, Elio perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Alena, seolah tak terjadi hal yang luar biasa—hanya seperti biasa saat mereka duduk bersama. Matanya kembali menatap layar televisi seolah fokus kembali ke acara, namun senyum nakal dan puas itu masih tercetak jelas di bibirnya, dan jari‑jemarinya sesekali mengelus halus punggung tangan Alena yang tetap berada di tempat itu—seolah mengingatkan: aku belum melepaskan, dan aku belum berniat melakukannya.

Perlahan namun pasti, rasa malu yang meluap di hati Alena perlahan bercampur dengan rasa geli dan kehangatan yang menyenangkan. Ia berhenti berusaha menarik tangan menjauh, dan malah membiarkannya tetap di sana—sadar bahwa di balik kain selimut yang hangat, sentuhan itu justru menjadi bukti kedekatan yang nyata, jujur, dan penuh keakraban di antara mereka berdua.

“Baiklah… kalau kamu bersikeras,” gumam Alena akhirnya sambil menyikut pelan pinggang Elio agar ia tahu bahwa ia tak benar‑benar marah—hanya malu dan terhibur sekaligus. “Tapi jangan berlebihan ya… kita hanya menonton TV, ingat?”

“Tentu saja,” jawab Elio dengan nada paling patuh dan polos yang bisa dibuatnya—namun senyum lebar di bibirnya masih tak bisa disembunyikan sama sekali. “Hanya menonton… dan menikmati kebersamaan.”

Malam berlanjut dengan tenang namun kini lebih hidup dan penuh candaan halus. Di antara suara televisi yang samar, di dalam kehangatan selimut dan kedekatan tubuh, dan dengan satu tangan yang “terjebak” namun dibiarkan tetap di sana sesuai keinginan Elio, mereka terus duduk hingga jauh lewat pukul sebelas—sampai akhirnya rasa kantuk perlahan mulai menyelinap masuk, meski Elio masih tak berniat melepaskan sentuhan itu lebih dulu.

1
Tri Wahyuni
Semngat terus ya.
Tri Wahyuni
DONE ya kak🤭👍
Yuri: thanks kak 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!