NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

happy reading guys

(### jangan lupa tinggalkan jejak 🫆 🫆 🫆)

Bab 4: Di Ujung Lorong Penyesalan

Begitu ketukan palu tanda berakhirnya rapat awal terdengar, Anastasia Wijaya langsung bangkit berdiri tanpa berniat melakukan basa-basi bisnis sedikit pun.

Gerakannya begitu efisien dan dingin.

Ia melangkah keluar dari ruang pertemuan, membiarkan aroma parfum mawar mewahnya yang pekat tertinggal di udara, seolah menguapkan sisa-sisa keberadaan Anya yang dulu akrab dengan bau asap dapur.

Di belakangnya, Sekretaris Hendra dan barisan pengawal berjas hitam langsung merapatkan barisan, mengamankan sang pimpinan tertinggi.

Devan Mahendra tidak mampu lagi menahan gejolak di dadanya.

Pria itu menyambar jasnya kasar, melangkah dengan terburu-buru keluar ruangan, mengabaikan seruan panik dari jajaran direksinya yang tampak kebingungan melihat sang CEO kehilangan kendali.

"Nona Anastasia, tunggu!"

Panggilan Devan memecah kesunyian lorong lantai teratas gedung Mahendra Group.

Lorong berlantai marmer mengilap itu adalah akses khusus yang langsung menghubungkan ruang rapat utama dengan lift VIP.

Anastasia menghentikan langkah kakinya.

Bunyi ketukan sepatu hak tingginya mendadak mati, seketika menciptakan atmosfer keheningan yang mencekam.

Tanpa membalikkan tubuhnya, ia mengangkat satu tangan, memberikan isyarat pelan kepada Sekretaris Hendra dan para pengawalnya.

"Tunggu saya di depan lift," titah Anastasia.

Suaranya terdengar sangat tenang, datar, namun memiliki penekanan yang tidak menerima bantahan apa pun.

"tetapi, Nona—" Hendra mencoba menyela, tampak khawatir melihat sorot mata Devan yang terlihat berbahaya.

"Nggak apa-apa, Hendra. Tuan Mahendra tampaknya hanya ingin menyelesaikan 'urusan masa lalu' yang mengganggu fungsi logikanya," potong Anastasia dengan nada menyindir yang amat halus.

Hendra membungkuk hormat, lalu membawa para pengawal mundur hingga jarak belasan meter di ujung lorong, menyisakan Devan dan Anastasia yang kini berdiri berjarak di koridor sunyi tersebut.

Devan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga kini hanya tersisa dua meter saja.

Sepasang mata elang pria itu tampak memerah, menatap intens ke arah wanita di hadapannya dengan tatapan yang bergetar.

Jantungnya bertalu begitu kencang sampai dadanya terasa sesak, menyisakan denyut nyeri yang hebat di ulu hatinya.

"Anya... tolong hentikan semua sandiwara ini. Aku tahu itu kamu," ucap Devan,

suaranya parau, kehilangan seluruh keangkuhan seorang penguasa bisnis yang biasanya ia agungkan.

"Bagaimana bisa kamu menjadi Anastasia Wijaya? Dan... di mana anak kita?"

Anastasia membalikkan tubuhnya perlahan.

Ia bersedekap, menatap Devan dengan pandangan yang begitu kosong dan asing.

Alih-alih meledak marah atau memaki pria yang telah menghancurkan hidupnya, ia justru menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kepalsuan.

"Tuan Devan Mahendra, apakah krisis modal perusahaan membuat kesehatan mental Anda ikut terganggu?"

Anastasia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Devan seolah pria itu sedang membicarakan hal yang konyol.

"Anak kita? Seingat saya, saya belum pernah menikah, apalagi memiliki hubungan emosional dengan pria dari keluarga Mahendra."

"Anya!" Devan kehilangan kesabarannya.

Emosi yang tertahan selama lima tahun mendadak meledak.

Ia maju satu langkah dengan cepat, berniat mencengkeram bahu wanita itu untuk menyadarkannya dari penyangkalan.

Namun, sebelum ujung jemari Devan sempat menyentuh kain blazer hitamnya, Anastasia dengan gerakan tangkas menepis tangan pria itu dengan sangat kasar.

Plak!

Suara tepisan itu bergema di lorong sepi.

Sorot mata Anastasia yang semula tenang, mendadak berubah menjadi sekilas kilatan kebencian yang sangat pekat dan mematikan.

"Jaga batasanmu, Devan Mahendra!" desis Anastasia.

Suaranya merendah hingga ke titik terendah, namun setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terdengar laksana belati yang menghujam langsung ke jantung Devan.

"Kamu ingin tahu di mana Anya berada?"

Anastasia justru melangkah maju, mempersempit jarak mereka hingga Devan bisa meraba aura dingin yang memancar dari tubuh mantan istrinya.

"Anya yang malang dan bodoh itu sudah mampus. Dia mati kram di atas aspal jalanan di depan gerbang megah rumahmu, tepat di malam saat kamu melemparkan surat gugatan cerai dan mengusirnya seperti anjing kurap," bisik Anastasia tepat di hadapan wajah Devan.

Napasnya teratur, namun matanya memancarkan kepuasan yang kejam saat melihat warna kulit Devan seketika memucat, pias bagaikan mayat.

"Tidak... tidak mungkin..."

Devan menggelengkan kepalanya dengan frustrasi, langkah kakinya refleks mundur satu langkah akibat syok yang teramat besar.

"Malam itu... aku tidak tahu kalau foto-foto itu palsu. Siska menjebakmu, Anya! Aku baru mengetahui kebenarannya beberapa bulan setelah laporan kecelakaan bus itu keluar. Aku mencarimu... aku mencarimu ke mana-mana, Anya!"

"Lalu? Apakah penyesalanmu bisa menghidupkan kembali wanita yang sudah kamu bunuh malam itu?"

Anastasia tertawa renyah, sebuah tawa dingin dan hampa yang membuat bulu kuduk Devan meremang.

‘Pria ini benar-benar menjijikkan,’ batin Anastasia,

merasakan amarah lama yang sempat ia kubur kini bergejolak hebat di dalam dadanya.

‘Dulu dia menginjak-injak harga diriku tanpa setitik pun belas kasihan. Sekarang, setelah kebenaran murahan itu terbongkar, dia berakting seolah-olah dia adalah korban yang paling menderita di dunia?’

Anastasia menarik napas perlahan, meredam emosinya dengan kecepatan luar biasa yang ia pelajari selama bertahun-tahun di bawah gemblengan Angga Wijaya.

Ia merapikan lipatan pakaiannya dengan santai.

"Dengar baik-baik, Tuan Mahendra. Nama saya Anastasia Wijaya. Investasi dua triliun rupiah ini murni terjadi karena kakek saya, Angga Wijaya, melihat potensi keuntungan dari proyek pelabuhan Anda. Jangan pernah membawa melodrama murahan ini ke hadapanku lagi, atau aku akan memastikan Mahendra Group hancur berkeping-keping sebelum matahari tenggelam besok pagi."

Anastasia berbalik tanpa menunggu respons lagi.

Langkah kakinya kembali terdengar tegas dan penuh wibawa, berjalan lurus menuju lift VIP di mana pintu baja itu langsung terbuka menyambutnya.

Devan hanya bisa berdiri mematung di tengah lorong yang dingin itu.

Kedua tangannya mengepal begitu kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya hampir melukai telapak tangannya sendiri.

Rasa sakit, bersalah, keputusasaan, dan kerinduan menghantam batinnya secara bersamaan hingga kepalanya terasa mau pecah.

Wanita itu adalah Anya, seluruh naluri lelakinya tidak mungkin salah.

Namun, Anya yang sekarang bukanlah wanita lemah yang bisa ia gapai atau ia mohon ampunannya dengan mudah.

Anya kini telah menjelma menjadi sosok Ratu yang memegang kendali atas hidup dan mati perusahaannya.

Tepat saat pintu lift VIP tertutup rapat membawa Anastasia pergi, di ujung lorong yang berlawanan, sesosok wanita dengan gaun kerja yang modis tampak berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat ketakutan.

Siska.

Siska sejak awal rapat selesai telah membuntuti Devan secara diam-diam.

Ia bersembunyi di balik pilar besar koridor dan mendengar seluruh percakapan rahasia yang mengerikan tersebut.

Matanya terbelalak lebar penuh kengerian, wajahnya yang penuh riasan tebal kini tampak pucat tanpa darah sedikit pun.

"Anya... dia belum mati? Bagaimana bisa jalang miskin itu menjadi pewaris tunggal keluarga Wijaya...?" bisik Siska dengan bibir yang bergetar.

Rasa takut yang amat sangat mendadak menjalar, membekukan seluruh sendi tubuhnya.

Jika Anya yang sekarang memiliki kekuasaan sebesar Wijaya Corps, maka posisinya di samping Devan, kemewahan yang ia nikmati, serta seluruh skenario busuk yang ia rancang lima tahun lalu... kini berada di ujung tanduk kehancuran total.

Anya telah kembali, bukan untuk memohon, melainkan untuk menyeret mereka semua ke dalam neraka yang sama.

Bersambung.......

Bersambung.......

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!