Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Suasana gedung aula sekolah dipenuhi lautan senyum dan tawa. Balon-balon warna warni, rangkaian bunga, serta deretan kursi yang dipenuhi para orang tua menjadikan hari kelulusan kelas dua belas terasa begitu meriah.
Di setiap sudut, terdengar canda yang saling bersahutan. Kilatan kamera mengabadikan pelukan hangat, ucapan selamat, dan air mata bahagia yang mengalir karena bangga melihat anak-anak mereka berhasil menuntaskan masa sekolah.
Namun di tengah riuh kebahagiaan itu, Amara justru merasakan kesunyian yang begitu perih dan menyesakkan dada. Di kanan dan kirinya memang ada kedua orang tua yang tak lain adalah mertuanya yang tulus menemani, berusaha mengisi ruang kosong yang ditinggalkan takdir.
Mereka tersenyum lembut, memberi dukungan tanpa henti. Akan tetapi tak serta merta membuat Amara tersenyum lepas, gadis itu lebih banyak menunduk. Menahan gejolak dalam dadanya, ia di tinggalkan sang papa belum ada sepekan. Dan sudah lebih dari setengahnya waktu yang ditinggalkan sang papa, ia menemukan rumah baru, menemukan tempat pulang.
Namun perhatian dan kasih sayang Halimah dan pak Rusdan, tak serta merta membuat Amara benar-benar melupakan kondisinya sepekan terakhir. Luka yang belum sempat mengering kini kembali terkoyak, saat melihat teman-teman yang berlari memeluk ayah dan ibu mereka memperlihatkan ijazah sambil tertawa penuh bangga, dada Amara justru terasa semakin sesak.
Amara menunduk menggenggam map kelulusannya erat-erat, menahan air mata supaya tidak jatuh di tengah keramaian. Hari yang seharusnya menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya justru berubah menjadi pengingat paling menyakitkan bahwa mulai hari ini dan untuk hari-hari penting berikutnya ia harus belajar menerima kenyataan bahwa sang papa tak akan pernah lagi berada di sisinya.
"Mau kumpul-kumpul dulu sama teman-teman mu enggak neng?" Suara dan usapan lembut Halimah di kedua lengannya, membangunkan Amara dari racau pilunya. Gadis itu mengangkat wajah dengan senyum di bibirnya, kemudian membuka suara.
"Memang enggak apa-apa mama sama papa nunggu dulu?" Tanya Amara sungkan, ia melirik ke arah teman-temannya yang satu persatu mulai berkumpul hendak berfoto di depan.
Halimah menggeleng pelan. "Enggak apa-apa kalau kamu mau ngumpul dulu neng, gih ngobrol-ngobrol dulu. Mama dan papa nunggu di sini." Ucap Halimah diangguki pak Rusdan yang tengah menarik kursi untuknya dan sang istri.
Amara menarik napas kemudian mengembuskannya perlahan, ia pamitan pada orang tua dari suaminya hendak ikut kumpul bersama teman-temannya.
Setelah mendapatkan ijin, setengah berlari kecil, Amara menghampiri teman-temannya tanpa melepas map dan buket uang yang diberikan mertuanya.
"Nah ketua akhirnya gabung juga!" Seru Starla sembari menyambut Amara dengan pelukan hangatnya.
Amara hanya mendengus, namun tak lama kemudian seulas senyum terbit di bibirnya. "Memang kalian pikir aku enggak ikut gabung? terr-laa-luu..." Ucapnya penuh canda.
Satu persatu dari mereka saling berpelukan gantian, termasuk para teman cowok. "Enggak kerasa ya ternyata kita sudah enam tahun sama-sama." Ucap Kayla ia menatap temannya satu persatu. "Kalian tahu gak? Setiap malam aku membayangkan kita masuk ke kampus yang sama, biar nanti enggak perlu susah-susah adaptasi sama teman baru karena teman-temannya tetap kalian."
"Ogah, bosen!" Sahut Andrew cepat, "Kalau temennya semua kayak Amara sih gue mau-mau saja." Ucapnya tanpa sungkan, membuat semua temannya yang berdiri di situ langsung mendengus sambil berusaha menoyor kepala Andrew.
"Eh stop! Ini namanya KTT!" Seru Andrew.
"Apa itu KTT?"
"Kekerasan Terhadap Teman."
Gelak tawa pun seketika pecah, bersamaan dengan beberapa orang tua dari murid-murid yang memanggil anaknya.
"Mara.. Kamu sebenarnya mau lanjut ke universitas mana?" Starla menatap Amara lekat-lekat.
"Belum tahu La, aku masih bingung." Sahut Amara sedikit berdusta.
"Kok masih bingung, bukannya waktu itu sudah final mau masuk ke ITB?" Starla menatap Amara yang seketika terdiam.
"Iya La, itu salah satu impianku. Tapi..." Amara menggantungkan kalimatnya, kemudian menarik napas dalam-dalam. "Tahu sendiri La... Sekarang kondisiku sudah berbeda dan berubah. Aku juga masih ada adik yang yang baru lulus SMP dan sekarang mau masuk SMA, biaya mereka mahal dan enggak mungkin aku harus memaksakan diri masuk universitas tahun ini." Tutur Amara panjang lebar.
Starla menatap Amara dengan iba, gadis remaja itu memeluk Amara erat-erat. "Kamu pasti bisa, btw ibu-ibu dan bapak-bapak yang sama kamu itu siapa?"
"Em... Itu, mama Halimah dan papa Rusdan." Sahut Amara sembari membalas pelukan Starla tak kalah erat.
"Mereka siapa? Kok aku baru lihat dan dengar, apa mereka nenek dan kakek dari almarhumah mamamu?" Tanya Starla penasaran.
"Bu-bukan!" Jawab Amara cepat, bersamaan dengan ekor matanya yang tak sengaja menangkap keberadaan seseorang. Matanya membeliak. "O-om!"