Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Anatomi Sebuah Celah
Hari ketujuh. Arka merasa punggungnya bukan lagi miliknya. Setiap gerak otot di balik bahunya terasa seperti lembaran daging yang ditarik paksa dari tulang. Kulitnya kini menyerupai kain perca yang dijahit asal-asalan, penuh dengan bekas luka bakar kimia yang mengering dan goresan logam tajam yang perihnya berdenyut setiap kali ia bernapas.
Ia sedang menyeret drum limbah di zona pembuangan Sektor Utara. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang menyeret jangkar kapal yang karam di dasar laut. Di depannya, dua penjaga dengan seragam Asosiasi yang lusuh dan berbau keringat basi sedang merokok, membelakangi jalur utama. Di atas, dengungan drone patroli berputar dengan pola yang monoton, membelah udara yang sarat dengan bau belerang.
BZZZ.
Arka mencoba menarik napas dalam, memaksakan otaknya untuk melakukan simulasi. Jika kecepatan drone itu 15 km/jam pada radius 50 meter, maka celah aman—
BZZZZT!
Sengatan listrik itu kembali. Rasanya seperti jarum panas yang menusuk tepat ke pusat kesadarannya. Arka terhuyung, lututnya membentur beton hingga terasa remuk. Keringat dingin bercucuran, membasahi matanya yang perih.
Jangan berpikir. Jangan hitung. Perintah itu menggema di otaknya yang kini hanyalah ladang ranjau.
Arka menunduk, menatap genangan air limbah hitam yang memantulkan bayangan dirinya yang kusam. Dia membuang jauh-jauh sisa-sisa logika peretasnya. Dia mulai membiarkan matanya bekerja secara naluriah. Dia tidak lagi menghitung angka dalam kepala; dia membiarkan pola itu meresap ke dalam retinanya.
Drone itu melambat setiap kali melewati tumpukan kontainer di sisi barat. Bukan karena sistem otomatis, tapi karena gangguan magnetik dari pantulan logam kontainer yang tidak presisi.
Penjaga yang merokok itu memeriksa arlojinya setiap tiga menit sekali. Bukan karena dia bosan, tapi karena dia menunggu konfirmasi durasi.
Arka tidak lagi melihat sistem digital yang rapi. Dia melihat dunia yang retak—melihat manusia, melihat mesin, melihat kebiasaan yang berulang. Dan bagi Arka, yang pernah mengelola logistik ribuan ton barang, setiap kebiasaan adalah sebuah celah yang bisa ditembus.
"Cepat, Sampah!" teriak Gulo dari kejauhan, pukulan tongkat besinya ke pagar penghalang terdengar seperti dentuman petir di tengah kesunyian Sektor Utara.
Arka tidak menjawab. Ia menggeret drumnya, tapi tidak lewat jalur yang diarahkan Gulo. Ia mengambil jalur yang sedikit lebih miring, memanfaatkan bayang-bayang panjang kontainer tempat drone tadi sering melambat. Ia tidak melakukan itu karena probabilitas statistik, tapi karena ia "merasakan" ritme di udara. Dia tahu kapan harus berjalan, kapan harus berhenti, kapan harus menghilang di balik tumpukan logam karatan.
Saat ia tiba di titik pembuangan, ia tidak langsung menjatuhkan drumnya. Ia menyelinap di balik tumpukan limbah, menahan napas agar paru-parunya yang terbakar tidak menimbulkan suara. Matanya tertuju pada sebuah truk pengangkut yang baru saja merapat.
Bukan truk sampah. Itu truk suplai.
Gulo berjalan mendekat. Dia tidak membuang sampah, melainkan menerima barang. Sesuatu yang dibungkus terpal biru kusam—sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam manifestasi barang resmi Asosiasi.
Logistik ilegal.
Arka tidak butuh kode akses untuk memahami pemandangan itu. Gulo bukan penguasa pembuangan sampah. Dia adalah gatekeeper. Dia menerima barang selundupan dari Sektor Atas, menyembunyikannya di dalam drum limbah, lalu mendistribusikannya ke seluruh pasar gelap selokan.
Arka menatap pria di balik kemudi truk itu. Pria yang sama di pasar loak yang dulu membicarakan tentang "pelabuhan" dan "kapal ke Sumatera".
Andalas.
Kata itu bergaung di kepalanya. Arka menatap tangannya yang penuh lumpur, lalu menatap truk itu. Jika ia bisa masuk ke dalam rantai distribusi ini... jika ia bisa menjadi bagian dari barang yang dipindahkan itu...
Ia tidak mencoba meretas truk itu. Ia tidak mencoba membobol enkripsi keamanannya. Ia hanya mengamati. Ia melihat celah pada pintu truk yang tidak tertutup rapat. Ia melihat sudut buta di mana penjaga itu tidak menoleh.
Ia tidak menggunakan logika peretas; ia menggunakan kesabaran seorang predator yang menunggu mangsanya.
"Kau melihat apa, Sampah?" Suara kasar Gulo tiba-tiba terdengar, disusul embusan napas yang berbau daging busuk tepat di belakang tengkuknya.
Arka tidak terlonjak. Ia sudah mendengar langkah kaki Gulo dua detik sebelum pria itu sampai. Ia sudah mengukur jarak aman di kepalanya.
Arka menunduk, menatap sepatu bot Gulo yang penuh lumpur. "Hanya melihat cara terbaik menaruh drum ini, Bos. Agar tidak bocor dan tumpah sia-sia."
Gulo mendengus, meludah ke tanah hingga mengenai ujung sepatu Arka. "Pintar. Biasanya kuli di sini hanya tahu caranya merusak barang."
Gulo pergi. Arka berdiri diam, membiarkan jantungnya tetap berdetak stabil. Ia tidak menang. Ia tidak mendapatkan kredit atau obat tambahan. Namun, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Ia mendapatkan pola.
Mulai detik ini, ia tidak akan lagi hanya menjadi kuli pengangkut. Ia akan menjadi pengamat yang tahu persis ke mana setiap barang di selokan ini pergi. Di antara tumpukan barang selundupan itu, ia akan menemukan jalan menuju kapal yang akan membawanya keluar dari neraka ini.
Sumatera bukan lagi sekadar rumor. Sumatera adalah tujuan. Dan Arka baru saja menemukan jejak kaki pertamanya.
***
[AUTHOR NOTE] Arka akhirnya sadar bahwa dia tidak bisa melawan mesin, tapi dia bisa memanfaatkan kelemahan manusia yang mengoperasikan mesin tersebut. Dia mulai "melihat" alur distribusi ilegal Gulo. Transisi dari "otak hacker" ke "insting predator" ini adalah langkah krusial Arka untuk bertahan hidup. Apakah kalian pikir Arka cukup sabar untuk menyelinap ke dalam rantai pasokan tersebut, atau Gulo akan menangkap basah si kuli yang "terlalu pintar" ini? Tulis teori kalian di kolom komentar!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼