Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senandung Lembut Sang Bayu
Suasana di ruang kerja Presiden Direktur pagi itu terasa sejuk dan tertib. Cahaya matahari menembus kaca jendela besar, menyinari permukaan meja kayu jati yang bersih, tumpukan berkas yang tersusun rapi, serta layar komputer yang menampilkan data kinerja Arka Denta Health and Care Corporation. Di ruangan itu, Bayu Pratama Sikumbang duduk di kursi kerjanya, sementara di hadapannya berdiri Dyah Ayu Kirana Arka Denta, kakak sepupunya yang menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur. Wajah Dyah Ayu tampak tenang dan penuh pertimbangan, seolah sedang menyiapkan sesuatu yang sangat berguna bagi adik sepupunya itu.
“Bayu,” ujar Dyah Ayu lembut namun tegas,
“Aku melihat belakangan ini jadwalmu semakin padat. Kau harus mengikuti kuliah reguler, memimpin rapat dengan para manajer, bertemu klien, menghadiri undangan penting, hingga menyelesaikan laporan-laporan yang menumpuk. Aku khawatir jika kau mengaturnya sendiri, ada yang terlewat, bentrok waktu, atau membuatmu terlalu lelah. Oleh karena itu, aku sudah mencari seseorang yang tepat untuk membantumu.”
Bayu mengangguk pelan. Ia memang sering merasa bingung membagi waktu, takut salah memprioritaskan antara kewajiban kuliah dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan rumah sakit.
“Terima kasih, Kak. Aku pun merasa butuh bantuan agar semuanya berjalan rapi dan tidak kacau.”
Dyah Ayu tersenyum, lalu menekan tombol interkom. Sesaat kemudian pintu ruangan terbuka perlahan, dan seorang wanita muda melangkah masuk dengan sikap yang sangat sopan, tenang, dan berwibawa. Begitu wanita itu berdiri tegak dan menundukkan kepala memberi salam, mata Bayu seketika terhenti memandangnya.
Wanita itu memiliki wajah yang sangat cantik, cantik yang tulus dan anggun, bukan sekadar tampilan luar semata. Kulitnya bersih berseri, matanya bening dan ramah menyiratkan kecerdasan, senyumnya hangat namun tetap menjaga batas kesopanan, dan rambutnya hitam berkilau diikat rapi dengan sederhana namun sangat menawan. Pakaian kerjanya serasi dan rapi, memperlihatkan kesederhanaan yang justru membuatnya terlihat semakin berkelas. Setiap gerakannya lembut, luwes, dan penuh ketenangan, seolah membawa kedamaian ke ruangan itu.
Hati Bayu berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia merasa terpesona, sungguh terpesona oleh keindahan yang terpancar dari sosok wanita itu—bukan hanya rupa fisiknya yang memikat, tetapi juga wibawa dan keramahan yang terlihat begitu menyatu pada dirinya. Ia mencoba tetap tenang menjaga sikap sebagai pimpinan, namun matanya tak kuasa menahan rasa kagum yang tiba-tiba muncul.
“Silakan masuk, silakan duduk,” ujar Dyah Ayu ramah, lalu menoleh ke arah Bayu sambil menjelaskan.
“Ini Rina Maulida. Mulai hari ini, dia adalah Asisten Pribadimu. Dia orang yang terpercaya, teliti, cekatan, dan sudah aku uji kemampuannya dalam mengatur jadwal serta urusan kantor.”
Bayu segera bangkit berdiri, mengulurkan tangan dengan senyum yang ia usahakan tetap tenang namun matanya tak bisa menyembunyikan kekaguman. “Selamat berkenalan, Rina. Terima kasih sudah bersedia membantuku.”
Rina menyambut uluran tangannya dengan lembut, jabatannya ringan namun mantap.
“Senang sekali bisa bekerja sama dengan Bapak Presiden Direktur. Saya akan berusaha sebaik mungkin menjalankan tugas.”
Suaranya terdengar jernih, lembut, dan sangat menyenangkan didengar, membuat perasaan kagum Bayu semakin bertambah.
Dyah Ayu kemudian mulai menjelaskan tugas dan cara kerja yang akan dijalankan. “Rina akan mengatur seluruh jadwal kegiatanmu, Bayu. Yang paling utama adalah jadwal kuliah regulermu—jam berapa masuk, hari apa saja ada pelajaran, kapan ujian atau kumpul tugas. Tidak boleh ada rapat atau pertemuan yang mengganggu waktu itu, kecuali keadaan sangat mendesak dan sudah kita bicarakan bersama.”
Bayu mengangguk paham, namun sesekali matanya tak sengaja kembali menatap wajah Rina yang mendengarkan dengan saksama,Ya ampun wajah cantik mirip Kristen Stewart, Telinganya terngiang lagu A Thousand Years milik Christina Perri, Bayu Terpesona sambil tersenyum membayangkan Dia jadi Edward Cullen Dan Rina Jadi Bella Swan,Rina mencatat setiap penjelasan Dyah Ayu dengan rapi di buku catatannya. Ketelitian dan ketenangan Rina justru membuat kesan cantiknya terasa semakin dalam dan berharga di mata Bayu.
“Selain itu,” lanjut Dyah Ayu,“Dia juga akan mengatur jadwal pertemuan dengan klien, rapat pimpinan, kunjungan kerja, acara seremonial, hingga waktu istirahat dan pertemuan keluarga. Semuanya akan disusun berurutan agar tidak bertabrakan, dan akan diingatkan padamu sehari sebelumnya, bahkan beberapa jam sebelum acara dimulai. Dia juga akan menyiapkan berkas yang kau butuhkan, mencatat hal-hal penting yang harus diingat, dan menyampaikan pesan-pesan yang masuk jika kau sedang sibuk.Bay...Bayuu..!”Kata Kakak Sepupunya Dyah Ayu Kirana Sambil Mencubit Pipi Adik Sepupunya...
"Eh...Iya Kak !?,Kakak ngomong apa tadi?"Jawab Bayu tergagap Membuat Kakak Sepupunya Tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Rina juga akhirnya tersenyum sambil menatap wajah polos Atasannya.kemudian memperlihatkan rancangan jadwal minggu pertama yang sudah ia susun dengan sangat rapi dan jelas.
“Bapak bisa lihat, setiap Senin sampai Rabu pagi adalah waktu kuliah. Sore hari setelahnya baru diisi rapat singkat atau pertemuan dengan staf. Kamis dan Jumat lebih banyak untuk bertemu klien dan memeriksa jalannya rumah sakit. Hari Sabtu setengah hari kerja, dan hari Minggu sepenuhnya untuk istirahat. Jika ada yang ingin diubah atau ditambahkan, silakan sampaikan saja kepada saya.”
Penjelasannya begitu teratur, bahasanya mudah dimengerti, dan sikapnya begitu sopan namun percaya diri. Bayu benar-benar terkesan. Ia menyadari bahwa Rina bukan saja memiliki wajah yang sangat cantik dipandang, melainkan juga memiliki pikiran yang cerdas dan hati yang tulus dalam bekerja. Rasa terpesonanya itu murni rasa kagum dan hormat, membuatnya merasa senang sekaligus tenang memiliki asisten pribadi sebaik dan seelok dia.
“Itu sangat rapi sekali, Rina,” ujar Bayu tulus, sedikit tersenyum lebih lebar dari biasanya. “Terima kasih sudah menyusunnya begitu baik. Aku jadi merasa lebih tenang.”
“Senang jika Bapak merasa terbantu,” jawab Rina sambil tersenyum manis, dan senyuman itu membuat jantung Bayu kembali berdegup halus.
Dyah Ayu yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis tanpa menyinggung apa pun, melanjutkan nasihatnya agar keduanya bekerja sama dengan baik dan terbuka.
“Ingat, Bayu, sampaikanlah apa saja kebutuhanmu kepada Rina, dan Rina pun jangan sungkan mengingatkan jika Bapak lupa atau jadwalnya terlalu padat. Kalian harus saling melengkapi.”
Setelah pembicaraan selesai dan Rina berpamitan keluar dari ruangan, Bayu masih sempat menatap pintu yang tertutup itu sejenak, dengan perasaan yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Dyah Ayu mendekat pelan, lalu berkata dengan nada bercanda halus namun penuh makna, “Dia memang wanita yang istimewa, bukan? Cantik, cerdas, dan berkelakuan baik. Pilihlah teman bekerja dengan hati-hati, dan perlakukanlah dia dengan hormat sebagaimana ia menghormatimu.”
Bayu tersenyum malu, menggaruk rambut dan menepuk pelan belakang lehernya.
“Benar, Kak. Aku baru sadar betapa beruntungnya aku dibantu oleh orang sebaik dan seelok dia.”
Sejak hari itu, setiap kali bertemu Rina untuk membahas jadwal atau menerima laporan, Bayu selalu merasa hatinya senang dan tenang. Rasa terpesonanya itu membuatnya semakin bersemangat menjalankan tugas dan kuliahnya, sekaligus membuatnya berjanji dalam hati untuk selalu bersikap sopan, adil, dan bijaksana di hadapan wanita yang begitu memikat hati dan pikirannya itu.