NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kamar Pengantin Tanpa Hangatnya Penerimaan

Kamar pengantin tanpa hangatnya penerimaan menyambut kepulangan sepasang manusia yang baru saja melewati badai penghinaan di dapur utama pesantren. Hana masih meringkuk di atas kasur dengan bahu yang berguncang hebat, menumpahkan seluruh rasa sesak yang menyumbat rongga dadanya sejak fajar. Azzam berdiri terpaku di dekat daun pintu kayu jati, memandangi sang istri dengan gumpalan penyesalan yang mendadak mengunci rapat tenggorokannya. Keheningan yang tercipta di antara mereka berdua terasa jauh lebih pekat dan menyiksa daripada rentetan makian yang baru saja berlalu.

"Sampai kapan kamu akan terus meratapi sikap Umi yang sebenarnya murni berniat mendidikmu?" tanya Azzam mencoba memecah kekakuan.

Hana bangkit dari posisi tidurnya secara perlahan, menatap lurus ke arah sepasang mata suaminya dengan pandangan yang teramat nanar. "Mendidik tidak pernah sekejam ini, Mas, karena apa yang dilakukan Umi tadi jelas merupakan sebuah penolakan terselubung terhadap keberadaanku."

"Umi hanya terbiasa dengan standar kedisiplinan yang tinggi, jadi tolong jangan masukkan hal itu ke dalam hati secara berlebihan," bela Azzam dengan suara rendah.

Pembelaan yang kembali dilontarkan sang suami membuat batin Hana terasa semakin tercabik kabut kekecewaan yang mendalam. Ia menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung jemari yang masih terasa linu akibat beban berat memotong bumbu asrama. Kesadaran pahit mulai merayapi benak Hana bahwa lelaki yang berjanji menjadi pelindung hidupnya ternyata tidak lebih dari sekadar bayangan yang patuh di bawah ketiak sang ibu kandung. Kamar yang penuh hiasan kain sutra putih ini mendadak menjelma sebuah bilik isolasi yang mematikan seluruh harapan indahnya.

"Jika sejak awal kehadiranku dianggap sebagai noda, mengapa kamu tetap bersumpah di depan penghulu untuk menjagaku, Mas?" lirih Hana menuntut keadilan.

Azzam mengalihkan pandangan matanya menuju arah jendela, menghindari tatapan terluka dari wanita yang berstatus sebagai istri sahnya tersebut. "Pernikahan ini adalah ibadah panjang, Hana, dan kepatuhanku pada Umi adalah bagian dari jalur surga yang tidak mungkin aku khianati."

"Lalu di mana posisi janjimu padaku saat ibumu merendahkan harga diriku di depan para pengurus pesantren?" cecar Hana lagi dengan keberanian yang tersisa.

Lelaki itu memilih bungkam, mengunci rapat mulutnya rapat rapat seolah kehabisan kata kata untuk membalas argumen sang istri yang menuntut kepastian. Sikap pasif Azzam menjadi jawaban paling benderang bagi Hana bahwa ia harus bersiap menghadapi kelanjutan siksaan mental ini seorang diri tanpa teman sandaran. Kekecewaan yang menumpuk membuat atmosfer di dalam ruangan pengantin itu kian mendingin, merenggut sisa kehangatan yang baru saja ingin mereka rajut bersama. Jarak emosional di antara sepasang pengantin baru itu kini membentang luas bagai jurang pemisah yang teramat dalam dan curam.

Waktu merayap lambat membawa suasana menuju petang, namun tidak ada satu pun interaksi hangat yang tercipta di antara kedua anak manusia tersebut. Azzam memilih menghabiskan waktu dengan membaca kitab suci di sudut ruangan, sementara Hana duduk termenung di tepi ranjang sambil merapikan pakaian ganti. Setiap helaan napas yang keluar dari dada Hana terdengar laksana melodi kesedihan yang memenuhi ruang kosong kamar yang terasa semakin asing. Rasa asing itu kian menebal saat gema suara pengeras suara dari masjid utama mulai berkumandang menandakan waktu ibadah petang segera tiba.

Azzam bangkit dari duduknya, merapikan letak peci hitamnya lalu berjalan menuju pintu keluar paviliun belakang tanpa menoleh sedikit pun. "Aku harus memimpin jemaah di masjid utama sekarang, bersiaplah karena Umi pasti menunggumu di surau perempuan."

Hana hanya mengangguk lemah, membiarkan punggung tegap suaminya menghilang di balik pintu yang ditutup dengan bantingan pelan. Ia menarik napas dalam dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa sisa kekuatan batinnya yang sudah terkuras habis sejak pagi hari. Berada di lingkungan yang mengawasi setiap gerak geriknya membuat Hana merasa laksana seorang tahanan kota yang sedang menjalani hukuman pengasingan. Namun, ia menolak untuk menyerah terlalu dini, memilih untuk segera membasuh muka guna bersiap menghadapi babak ujian berikutnya yang telah menanti.

Langkah kaki Hana menyusuri selasar panjang yang menghubungkan paviliun dengan area surau perempuan dilakukan dengan penuh kehati hatian. Suasana sekitar sudah mulai temaram oleh lambaian angin senja yang membawa hawa dingin merasuk hingga ke dalam tulang belulangnya. Beberapa santri putri yang lewat di sekitarnya tampak melempar pandangan penuh selidik, lalu saling berbisik pelan di balik mukena putih mereka. Hana mengabaikan bisikan bisikan sumbang tersebut, terus berjalan tegak demi menjaga sisa harga diri yang tidak boleh runtuh di depan publik.

Saat kakinya melangkah masuk ke dalam area batas suci surau, sosok Umi Kalsum sudah duduk tenang di barisan terdepan jamaah perempuan. Wanita tua itu sedang memegang tasbih kayu, namun tatapan matanya langsung mengarah tajam pada busana yang dikenakan oleh Hana malam itu. Hana yang merasa tidak nyaman segera mengambil posisi duduk di barisan belakang, mencoba mencari ruang aman agar terhindar dari jangkauan intimidasi sang mertua. Ketenangan yang dicari Hana mendadak sirna ketika Umi Kalsum memberikan isyarat tangan agar sang menantu mendekat ke arah barisan depan.

"Duduklah di samping saya agar para santri tahu bagaimana pembawaan seorang istri pengasuh yang sesungguhnya," perintah Umi Kalsum pelan namun tegas.

Hana menggeser duduknya dengan lutut yang terasa lemas, menuruti perintah sang mertua demi menghindari keributan di tempat ibadah. "Baik, Umi, saya meminta maaf jika kehadiran saya di barisan belakang tadi dianggap kurang sopan."

"Seorang menantu pesantren harus paham posisi, busana longgarmu ini bahkan belum mampu menyembunyikan aura keduniawian yang kamu bawa," sindir Umi Kalsum berbisik tajam.

Kata kata sindiran yang diembuskan tepat di sela sela kumandang azan itu terasa laksana sembilu yang menyayat bagian terdalam jantung Hana. Air mata kelemahan kembali mendesak keluar, namun Hana memaksa kelopak matanya tetap terbuka lebar agar tidak ada satu pun air yang jatuh di atas sajadah. Ia menyadari bahwa setiap desah napasnya di tempat ini akan selalu menjadi bahan koreksi dan objek perbandingan yang tidak pernah berujung kebaikan. Di bawah kepungan tatapan dingin sang mertua, ibadah petang yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi arena penyiksaan batin yang amat panjang.

Ketika ritual ibadah akhirnya selesai dan para santri mulai membubarkan diri, Umi Kalsum tidak segera beranjak dari posisi duduknya. Wanita tua itu memutar butiran tasbihnya dengan ritme yang lambat, sementara sepasang matanya masih mengunci pergerakan Hana yang sedang melipat mukena. Azzam yang berada di batas tabir pemisah jamaah laki laki tampak sedang berbincang dengan para tetua tanpa memedulikan situasi di area perempuan. Hana yang sudah tidak tahan dengan tekanan udara yang mencekik itu bermaksud untuk segera meminta izin kembali ke paviliun belakang.

Namun, belum sempat Hana membuka mulut untuk mengucap kata pamit, Umi Kalsum sudah terlebih dahulu meluncurkan kalimat kalimat penuh bisa yang menghancurkan kedamaian malam. Suara sindiran wanita tua itu terdengar begitu jelas di antara keheningan ruang surau yang mulai sepi, meruntuhkan seluruh pertahanan sabar Hana. Hana hanya bisa menggigit bibir bawahnya hingga terasa mati rasa, menerima kenyataan pahit bahwa fajar esok hari dipastikan akan membawa gelombang penderitaan yang jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!