NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Love Bombing

Reno berjalan gontai sembari bersiul-siul menuju parkiran. Sebuah mobil sport merah terparkir asal di depan kantor Zevana. Ia pun membunyikan klaksonnya lalu mendekat dengan dagu naik ke atas dan dada membusung layaknya seekor kuda.

"Hah, tau gitu gak usah minjem mobil ini. Mana nungguinnya lama banget gila!" dengus Reno sambil menghempaskan bokongnya di atas jok empuk mobil pinjamannya itu.

Tring!

Sebuah pesan masuk ke ponselnya lalu saat ia hendak membacanya, panggilan masuk pun datang.

"Ya?" ucapnya dengan wajah mencebik.

[Kamu minjem mobil temen Papi? Kemana kamu dasar berandalan!] teriak Susi dengan suara lantang khasnya.

"Apaan sih Mam! Udah dibilangin mau jemput calon mantunya Mami! Masa aku jemput CEO tajir naek mobil gepeng jadulnya Papi sih? Gak usah bawel deh!" dengus Reno sembari menjauhkan ponsel hendak mematikannya, namun Susi kembali berteriak.

[Yang bener aja! Mana mungkin CEO itu mau sama kamu! Jangan-jangan kamu dimanfaatin!] tegur Susi mengingatkan.

"Mami gak percaya? Nih aku kirimin selfie aku barusan sama dia di kantor pribadinya!" teriak Reno geram.

"Liat dulu noh pesannya!" titah Reno.

[I-itu beneran CEO muda–Zevana Hardani dari GZ Corporation itu, Nak?] tanya Susi dengan nada meluluh.

[Jadi beneran dia mau jadi tunangan kamu?] tanya Susi lagi dengan nada semringah.

"Iya! Makanya Mami gak usah bawel! Mami duduk manis aja. Pesan apapun yang Mami mau, ntar aku yang bayarin! Kalo pertunangannya udah resmi, semua aset dia bakal dialihkan jadi atas nama aku!" aku Reno bangga.

Mendengar hal itu, terdengar suara cekikikan Susi kegirangan.

"Dah ya. Aku mau balik kantor. Dari pagi nungguin baru beres rapat jam segini. Duh! Lapar lagi," keluh Reno sembari menutup panggilannya lalu membawa mobil sport pinjamannya itu melaju.

Dari atas balkon ruangan kantor Zevana, terlihat ia berdiri di balik jendela kaca memperhatikan Reno yang menjauh dari kantornya. Senyum simpul pun tersungging di sudut bibirnya.

"Tersenyumlah sepuasnya, momen ini harus dinikmati dengan hati yang riang, Reno," monolog Zevana.

Selesai memastikan Reno menjauh dari pandangannya, Zevana kembali menuju mejanya untuk menyelesaikan pekerjaanya. Lembar demi lembar laporan dan berkas ia baca dan pelajari. Satu per satu kontrak kemitraan baru–ia tanda tangani dengan penuh ketelitian dan kesabaran. Lalu saat ia larut dalam tumpukan solusi di kepalanya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.

Klap!

"Maaf, saya kira Bu Zevana masih rapat. Tadi saya ... dipanggil ke ruangan Pak Garda," ucap Arka yang muncul dari balik pintu.

"Ya, saya sudah dengar dari Bu Leli." Zevana menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.

"Be-beliau orang yang sangat baik," terang Arka membuka topik.

"Hm?" tanya Zevana tanpa berucap kata, namun ekspresinya jelas mengatakan bahwa ia sedang berkata 'Garda? Baik?'

Namun urung ia lontarkan.

"Beliau menawari saya memimpin kantor cabang lain. Tapi saya menolaknya karena saya merasa masih perlu banyak belajar, dan ... saya senang bekerja di bawah Bu Zevana."

Zevana menutup laptopnya lalu menarik kacamata bacanya lantas menatap Arka dengan seksama.

"Jadi ... Rupanya dia memang berniat menemui Arka." batin Zevana.

"Selain itu ada yang disampaikannya lagi?" tanya Zevana penasaran.

"Em, tidak Bu. Beliau hanya tanya itu, dan menanyakan apa saya nyaman bekerja dengan Bu Zevana, tentu saja saya langsung menjawabnya dengan senang hati bahwa saya sangat nyaman," terang Arka.

"Begitu? Baiklah, padahal sayang sekali kenapa Anda harus menolaknya? Memimpin perusahaan, berarti Anda punya potensi untuk itu. Kenapa tidak?" tanya Zevana sangat menyayangkan.

Namun di lubuk hatinya, ia merasa penasaran akan apa yang Garda pikirkan. Meski ia sudah bekerja di bawah Bos Mafia itu selama bertahun-tahun, namun isi kepala Garda yang misterius membuatnya tak pernah bisa benar-benar mengenalnya.

"Aku harus menemui Garda. Bagaimanapun ia datang ke sini pasti untuk mengurus sesuatu." Zevana membatin dalam diam.

"Untuk data dan berkas soal latar belakang perusahaan kemitraan, sudah saya kirimkan tadi pagi ya Bu," lapor Arka mencoba membuat topik pembicaraan.

"Ya. Itu sangat membantu meeting tadi pagi. Ke depannya lakukan seperti itu lagi," puji Zevana membuat Arka tersanjung.

"Siap, baik Bu. Ah iya, untuk kemitraan dengan Pak Reno, saya merasa ... itu tidak akan menguntungkan," ucap Arka memberanikan diri.

"Saya mengerti kekhawatiran Anda Pak Arka, tapi saya bisa mengurusnya sendiri." Zevana menutup pembicaraan dengan menyodorkan setumpuk berkas ke arah Arka seolah enggan membahas hal itu lebih lanjut.

"Susun ulang berdasarkan tingkat urgensi. Besok harus selesai karena kita akan mulai menggarap perizinan dan kelegalan perusahaan-perusahaan ini," imbuh Zevana.

Arka mengambil tumpukan berkas itu dengan senang hati lalu menuju meja kerjanya. Meski ia menyunggingkan senyuman, namun sesuatu terasa menusuk hatinya.

"Lagi-lagi ia enggan bahas soal pria itu," batin Arka sedikit kecewa.

Sementara itu di sisi lain, Reno sedang asyik memamerkan apa yang ia anggap sebagai keberuntungan terbesarnya. Ia mengundang teman-teman komunitas elitnya di kediamannya. Dengan penuh kesombongan ia mengumbar-umbar informasi soal rencana pertunanganannya dengan Zevana pada teman-temannya.

Di bawah kelap-kelip lampu disko di antara keremangan cahaya ruangan, aneka hidangan dan minuman beralkohol berjajar di atas meja.

"Wah gila! Sulit dipercaya sih modelan gini bisa narik minat CEO muda secantik, dan setajir Zevana!" seru seorang pria sembari mengangkat ponsel Reno yang menunjukkan foto Zevana sedang memeluk buket bunga di samping Reno yang diam-diam memfotonya.

"Haha! Iri? Bilang Bos! Kita bahkan udah mau nentuin tanggal!" teriak Reno yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol.

"Sumpah, ini gila sih!" sahut yang lainnya sembari menyambar gawai Reno untuk memastikan kebenarannya.

"Ai gak sih? Zaman sekarang apa-apa bisa dimanipulasi kan?" kelakar yang lainnya tak percaya.

"Sial! Lo iri? Kalo gua cuman ngibul, ga akan gua mau traktir-traktir gini bro!" seru Reno yang sempoyongan mendekat ke arah pria itu.

"Nih ya, denger! Cewek ini udah kecintaan sama gue. Sampe berani ngasih saham tanpa minta bagi hasil. Nih liat nih! Puas!" teriak Reno menunjukkan lampiran foto surat perjanjian kontrak yang telah ia dan Zevana tanda tangani.

Di antara dentuman musik yang memekakkan telinga, semua orang seketika berhenti berteriak dan menatap layar ponsel Reno tak percaya.

"Gila! Rejeki nomplok ni anak!" seru seorang pria pada akhirnya.

"Nah mumpung gua masih free nih. Sekarang kita puasin dulu party sampai gila!" teriak Reno sembari menarik seorang gadis lalu merengkuhnya.

Di ruangannya, Zevana yang masih duduk nyaman di kursi kantornya, menyeringai sarkas sembari melepaskan earphone dari telinganya. Ternyata sedari tadi gadis itu menyadap ponsel Reno sehingga ia bisa memantau, mendengar dan merekam semua yang Reno bicarakan di belakangnya.

"Memang bajingan tetap saja bajingan. Bagaimanapun rupanya, diubah, dipoles sedemikiam rupa juga tak akan mengubah inti di balik cangkangnya," batin Zevana dengan senyum miring.

"Hah ... Sayang sekali dia sebodoh itu. Rasanya jadi kurang menyenangkan kalo tahu akan seempuk ini," desahnya sembari membuka laci lalu meraih berkas paling bawah dan menaruhnya di atas meja.

Tertulis dengan jelas 'Perjanjian kontrak' yang sebelumnya ia dan Reno tandatangani. Di lembar kedua surat itu jelas tertulis 'alih kuasa jika pihak B yang diberi keleluasaan pengelolaan saham tidak mendapatkan peningkatan selama waktu yang telah ditentukan, maka secara otomatis urusan kemitraan dalam bentuk apapun dianggap batal'.

"Reno, Reno, Reno. Selain mulut manis dan pandai berbual, sepertinya tidak ada yang berubah dari dirimu. Ha ... Haha! Hahahah! Hahahahah! Hihihi! Sial! Lucu sekali!" gelak Zevana tertawa terbahak-bahak hingga air mata menetes di ujung matanya.

Gelanyar euforia mengalir di seluruh tubuhnya. Darahnya berdesir seolah kehangatan yang nyaman dan menggelitik tiba-tiba memeluk dirinya.

"Ah...." desah Zevana sembari menyandarkan tubuhnya dengan rileks di atas kursi kantornya.

1
jamescortis
semangat thor 🔥🔥
Key Kastara: Trimakasih kakak 🔥✨
total 1 replies
Musea
wihh semangat yaa dari sesama author
Key Kastara: Trimakasih kakak siap 🤗✨
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Zara ✍️
Key Kastara: Salam kenal kakak 🤗✨
total 1 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Aku mau kopi tubruk sama 76🚬🗿👍🏻
Key Kastara: Otewe, dimana 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!