Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debat keluarga part dua
"Jadi kamu akan membersihkan kamar mandi selama satu minggu?" Sean tergelak begitu tau hukuman yang akan diterima putra tengilnya-Alen.
Ariella-istrinya pun tergelak mendengarnya ditambah melihat wajah merajuk Alen.
Alen menatap papanya dengan kesal. Dia mendengus pelan.
"Mam, katakan pada Bu Elia agar hukuman kami dibatalkan," rengeknya lagi.
"Sebaiknya kamu latihan membersihkan kamar mandi rumah kita dulu," usul Sean menyebalkan.
" Jadi nanti kamu ngga akan canggung saat dapat giliran kerja." lanjut Sean lagi dengan semburan tawanya yang bertambah keras. Ariella istrinya pun tak mampu menghentikan tawanya. Kata kata Sean sangat menggelitik hatinya.
Maaf, sayang, batin Ariella merasa bersalah ketika melihat wajah putranya yang makin masam. Tapi hal itu malah menjadikan suami menyebalkannya makin senang, hingga membuat tawanya sulit dia redakan.
"Sean, sudahlah." Akhirnya setelah sepersekian detik, Ariella baru bisa menguasai ketenangannya kembali. Dia mendelikkan matanya pada Sean.
"Alen, ini pelajaran berharga buat kamu. Jangan berantem terus." Ariella tak lupa menasehati putranya.
"Aditama aja lebay, ma. Hobinya maen pukul aja," sungut Alen mengadu.
"Sudah tau sifatnya begitu, masih saja dilayani," sergah Sean setelah tawanya agak mereda karena pelototan mata istrinya.
Alen hampir mendengus, sementara Ariella melirik suaminya penuh ejekan.
Sesama sumbu pendek dilarang saling menjatuhkan, batinnya mencibir.
Seakan tau sedang diperhatikan istrinya, Sean mengerutkan keningnya.
"Kenapa, sayang? Aku ngga salah ngomong, kan?"
Ariella tersenyum manis dengan menahan tawa.
"Enggak, sayang."
Alen memalingkan wajahnya sekadar ingin menyembunyikan cibirannya pada daddynya.
Sean tersenyum senang mendengar panggilan sayang dari istrinya.
"Atau begini saja, daddy." Alen menarik nafas dalam dalam. Memutus perasaan bahagia dadynya.
"Jodoh, kan, saja Bu Elia dengn Om Ezra, dad. Tadi mereka bahkan saling menukar nomer ponsel." Alen menyisipkan kebohongannya untuk membuat orang tuanya agak tersentak dan saling tatap ngga yakin.
Dia suka dengan kebimbangan orang tuanya.
"Masa?" Ariella kini menatap tegas putranya yang sudah biasa berbuat jahil.
"Tanya aja, mam, dengan yang lainnya," jawab Alen cuek.
Sean masih menatap tajam putranya.
"Kalo benar begitu; syukurlah. Kalian akan punya tandem kuat," ucapnya ngga lama kemudian.
Alen menyeringai. Dia hampir berhasil membuat orang tuanya percaya.
"Sikap Om Ezra juga agak lebay, mam. Dia seperti buaya yang sudah mendapatkan mangsanya. Tapi Bu Elia tampaknya masih hati hati. Mungkin dia tau rumor tentang Om Ezra di luar sana sebagai pemain wanita." Alen mulai ngarang agar orang tuanya terkesan dan bisa mempercayainya.
Dia masih kesal karena Om Ezra hanya menerima mentah mentah keputusan Bu Elia. Tanpa pernah menawarnya.
"Hemm.... Aku setuju kalo Ezra bersama Bu Elia. Ezra membutuhkan istri yang tegas" Sean mulai terpengaruh.
Alen hampir saja berteriak Yess!
Ariella masih terdiam, mencoba meyakinkan hatinya kalo putranya tidak ngibul.
"Nanti akan aku bicarakan dengan Ziza, agar bisa mengatur jadwal kencan adik jomblonya itu dengan Bu Elia," putus Sean.
Lagi lagi hati Alen bersorak. Dia senang kalo omnya nantinya akan merasa kesal terhadapnya.
Ariella menganggukkan kepalanya.
"Lakukanlah. Ziza pasti juga ingin Ezra cepat menikah."
Alen ingin guling guling untuk merayakan ide jeniusnya.
Rasain, om.
Kalo memang jadian nantinya dia ngga masalah. Dia akan ikut bahagia. Tapi kalo nanti On Ezra ditolak Bu Elia, itu merupakan kesenangan terbesarnya karena berhasil mengerja-i omnya.
*
*
*
Wanda mengompres pipinya dengan handuk yang sudah direndam di air dingin. Rasa panas akibat tamparan itu mulai.sedikit berkurang.
"Laen kali jangan buat nyonya marah," ucap neneknya-Sunarmi sambil menatapnya datar.
Wanda mencibir di dalam hati.
"Kenapa aku tidak dilempar ke panti asuhan saja," ucapnya dengan bibir bergetar. Ada tangis yang tertahan. Kejadian tiga tahun yang lalu berseliweran di dalam kepalanya.
"Kamu kira enak hidup di panti. Di sana bisa jadi lebih mengerikan." Sunarmi masih menatap lekat cucunya.
"Belum tentu juga begitu," ngeyel Wanda menahan perih. Sejak awal dia dibawa ke rumah megah ini, hatinya sudah tersiksa.
"Di sini kamu akan lebih mudah diawasi."
Perkataan neneknya menimbulkan perasaan aneh di dalam hatinya.
"Buat apa?"
Nenek Sunarmi menghembuskan nafas panjang.
"Agar kamu ngga salah langkah seperti mamamu."
DEG
Makin bertambah umur, Wanda mulai mengerti dengan perkataan yang diucapkan dengan nada pedih dari wanita tua yang mengaku neneknya.
Dia memang tidak memiliki seorang papa yang bisa membelanya. Mungkin bagi orang orang dia lahir dari kesalahan yang tidak disengaja dan orang yang dipanggil papa, lari dari tanggung jawab.
Dia tidak menyalahkan pendapat mereka. Karena sejak dia lahir, memang hanya ada mamanya di sampingnya.
Tapi mamanya cukup rutin mengajaknya ke makam. Kata mamanya itu adalah makam papanya. Beliau meninggal sebelum dia dilahirkan. Kata mamanya karena kecelakaan
"Nyonya dan tuan sudah memungutmu. Membiayai sekolahmu dan memastikan kamu tidak kelaparan. Jadi, hormati dia," tegas Nenek Sunarmi dengan tatapan tajamnya pada cucunya.
Hormati? Batin Wanda menyahut miris. Pipinya selalu jadi korban kemarahan wanita itu tanpa sebab yang jelas. Wanda merasa setiap sudah menamparnya, nyonya-nya itu merasa sangat pu@s.
Wanda enggan menjawab lagi perkataan neneknya, Dia teringat kembali bagaimana dirinya bisa terdampar di tempat ini tiga tahun yang lalu.
Saat itu dia menunggu mamanya di sebuah toko es krim. Mamanya berjanji akan meninggalkannya sebentar saja, ngga lama lagi akan dijemput. Selama menunggu, dia bebas memesan es krim yang dia suka.
Hampir satu jam dan perutnya sudah dipenuhi denga es krim favoritnya. Yang menjemputnya bukan mamanya. Bahkan mamanya tidak pernah datang lagi menemuinya, karena dia mendapat kabar yang membuatnya sangat shock. Mamanya sudah meninggal dunia.
Sakit dan nyerinya masih terasa hingga sekarang. Nyonya yang menatapnya dingin dan wanita tua yang mengaku neneknya ini, selalu memberikan tatap menyalahkan.
Juga sikap semena mena tuan mudanya.
Sebenarnya dia siapa? Jeritnya dalam hati, Penuh keputus asa-an. Nenek yang tinggal satu satunya keluarganya, tidak pernah membelanya. Malah tidak ambil pusing dengan perlakuan nyonya-nya padanya
udah dikenalin sbg calon istri berarti ezra serius