Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
---
Saat malam tiba, Darren berdiri di balkon rumah utama, menatap rumah kecil yang disebutnya gudang. Tempat itu kini lebih menyerupai rumah layak huni. Setelah Neysa pindah ke sana, Darren belum sekalipun menjenguknya. Sesekali saja ia melihat Neysa keluar, melakukan aktivitas kecil seperti duduk di kursi depan atau menanam sesuatu di pagi hari.
Darren tidak tahu apakah Neysa menyadari dirinya sering mengawasi dari jauh atau tidak. Namun, setiap kali mengingat perkataan dan rencana Neysa terhadap keluarga Barnes, ada rasa perih yang menyesakkan dadanya. Perempuan itu berbicara seolah-olah ia adalah pengendali di antara mereka. Hal itu membuat Darren merasa terhina.
Ia mengembuskan napas panjang. Tidak lagi, pikirnya. Darren tidak akan menunduk pada siapa pun. Bahkan, meski Amy terus mengingatkannya untuk menjaga kondisi kehamilan Neysa, Darren tetap memilih menjaga jarak. Baginya, lebih baik melihat dari kejauhan daripada terus berdebat tanpa ujung.
Dari balkon, Darren memerhatikan Neysa yang duduk di kursi goyang. Di rumah kecil itu, Neysa terlihat lebih damai. Setiap pagi, ia menghirup udara segar dari pepohonan di sekitar, menikmati ketenangan yang kini menjadi pelariannya. Tangannya terulur mengusap perutnya sambil bercerita pada bayi di dalam kandungannya.
“Kamu punya seorang Kakek,” gumam Neysa pelan. “Tapi aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang.”
Sara keluar dari dalam rumah, membawa senyum hangat. Ia duduk di bawah Neysa dan mulai memijat kakinya dengan lembut. “Nona jangan terlalu kelelahan. Nona harus menjaga kesehatan untuk bayi Nona,” ujar Sara penuh perhatian.
Neysa tersenyum kecil. “Sara, aku baik-baik saja. Kau tak perlu repot-repot.”
Namun Sara menggeleng, tetap melanjutkan pijatannya. “Kemarin, aku bertemu seseorang dari keluarga Lawrence. Mereka bertanya apakah Nona baik-baik saja di sini.”
“Apa yang kau katakan?” tanya Neysa, menaikkan alisnya.
Sara tersenyum kecil. “Aku bilang Nona baik-baik saja.”
Neysa menghela napas dan menyandarkan kepalanya ke kursi. “Kau memang satu-satunya orang yang bisa kupercayai, Sara.”
Sara tertawa kecil, lalu bergumam, “Sepertinya Tuan Darren mulai memperhatikan Nona dari jauh.”
Neysa tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada santai, “Dia pasti sudah curiga kalau kamu utusan keluarga Lawrence. Kau tahu Darren. Dia mulai tidak ingin tunduk pada siapa pun. Dia akhirnya mau menjadi pemimpin dalam hidupnya.”
Sara terdiam, memikirkan ucapan Neysa. “Tapi, kenapa Tuan Darren memperlakukan Nona seperti ini kalau tahu keluarga Lawrence mengutusku di sini?” tanyanya hati-hati.
Neysa mengangkat bahu. “Karena Darren ingin menunjukkan kalau dia bisa melawan siapa saja yang mencoba menekan hidupnya. Makannya, dia mengurungku di sini, sebagai bukti kalau seorang Darren tak akan lagi tunduk pada Lawrence.”
Sara tampak berpikir sejenak. “Tapi aku tahu dia memang benar-benar memerhatikan Nona. Bahkan dia sering begadang.”
Neysa tertawa kecil. “Kalau begitu, mulai besok aku tidak akan keluar rumah lagi. Biar Darren tidak melihatku sama sekali.”
---
Sore itu, Neysa dan Sara sibuk membersihkan halaman belakang rumah kecil mereka. Neysa tampak cekatan memotong rumput liar, memindahkan kursi, dan mendekorasi ulang halaman hingga terlihat lebih indah. Dalam tiga jam, mereka berhasil mengubah halaman belakang menjadi taman kecil yang asri.
Sara tersenyum melihat hasil kerja keras mereka. “Nona Neysa sangat aktif. Sepertinya Nona tidak suka berdiam diri.”
Neysa tersenyum samar. “Dulu, waktu masih gadis, aku sering membuat kekacauan di rumah. Ayahku sering marah karena aku terlalu kreatif.” Ia terdiam, matanya menerawang. “Kakakku... dia selalu melindungiku dulu. Tapi sekarang semuanya berubah.”
Sara menyadari perubahan ekspresi Neysa. “Nona, kenapa diam?” tanyanya khawatir.
“Tidak apa-apa,” jawab Neysa dengan senyum kecil. “Ayo kita masak. Aku lapar.”
---
Dari balkon, Darren memperhatikan semua yang dilakukan Neysa. Ia tidak tahu apa maksud Neysa memindahkan semua barang ke belakang rumah. Kini, halaman depan tampak kosong. Darren tidak ingin memedulikannya, tetapi keesokan harinya ia merasa ada yang hilang. Neysa tidak lagi terlihat.
Hari-hari berlalu tanpa bayangan Neysa. Rasa khawatir mulai menghantui Darren, meski ia menolak mengakuinya. Hingga suatu malam, Darren mendapati dirinya berdiri di depan pintu rumah kecil itu. Ia ragu-ragu sejenak, lalu membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
“Dasar ceroboh,” gumam Darren.
Saat masuk, Darren tertegun melihat perubahan rumah itu. Neysa telah mengubahnya menjadi tempat yang layak huni. Darren mengangguk kecil, kagum sekaligus lega. Namun, tiba-tiba ia melihat seekor kelabang mendekat ke tempat tidur Neysa.
Sebelum Darren sempat bereaksi, Neysa sudah bangun dan memukul kelabang itu dengan kayu di dekatnya. Darren berdehem, mencoba menyembunyikan keterkejutannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Neysa, suaranya terdengar datar tapi penuh tanya.
“Aku hanya ingin melihat kondisimu dan bayi kita,” jawab Darren singkat.
“Kalau begitu, sudah selesai. Kau bisa keluar sekarang,” balas Neysa, membalikkan badan dan kembali tidur.
Darren menggeleng, lalu duduk di kursi di dekatnya. “Aku akan berjaga di sini. Kalau ada serangga lagi, biar aku yang mengurusnya.”
Neysa mendengus pelan. “Aku sudah terbiasa, Darren. Bahkan ular yang masuk pun pernah kubunuh sendiri.”
Darren tertegun, menatap Neysa dengan perasaan bercampur aduk. “Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”
Neysa memejamkan mata. “Karena ini adalah tempat yang kau pilih untukku.”
Kata-kata Neysa menusuk Darren. Ia berdiri, lalu tanpa peringatan mengangkat Neysa dari tempat tidur.
“Hei! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” protes Neysa, memukul-mukul bahunya.
“Diam,” ujar Darren tegas. “Kau tidur di kamar utama mulai sekarang.”
Neysa masih memprotes, tapi Darren mengabaikannya. Ia membawanya masuk ke kamar, membaringkan Neysa di atas ranjang, dan mengurungnya dengan kedua tangan.
“Darren, apa yang kau—”
Belum sempat Neysa selesai bicara, Darren sudah menutup mulutnya dengan ciuman yang intens, seolah menyalurkan semua emosi yang selama ini ia pendam.
B e r s a m b u n g ....
Neysa gak bisa dilawan, Bang Darren >.<
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Biar Mimin semangat, makasih! (^^)