Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Di mansion keluarga Jiang.
"Apa?" seru Delvin dengan wajah terkejut saat berbicara melalui telepon. "Sampai sekarang masih belum menemukan pendonor yang cocok?"
Di seberang telepon, dokter menghela napas.
"Secara medis ada beberapa orang yang cocok. Namun, tidak ada satu pun yang bersedia melanjutkan proses donor hati."
Delvin langsung berdiri dari sofa.
"Aku bisa membayar mereka dua kali lipat. Berapa pun yang mereka minta!"
Dokter terdiam sejenak sebelum menjawab,
"Masalahnya bukan uang, Tuan Jiang."
"Kemudian apa?"
"Begitu mengetahui bahwa pasiennya adalah Nona Sanny Jiang, mereka langsung membatalkan kesediaannya menjadi pendonor."
Wajah Delvin berubah semakin buruk.
"Kenapa? Bukankah kami tetap akan membayar mereka?"
Dokter menjawab dengan nada hati-hati.
"Setelah konferensi pers, berita tentang keluarga Jiang memang menyebar luas. Namun, ada berita lain yang membuat mereka takut."
Delvin mengernyit.
"Berita apa?"
Dokter menarik napas panjang.
"Semua orang sudah mengetahui peringatan yang dikeluarkan Tuan Dylan."
"Peringatan?"
"Ya. Tuan Dylan secara terbuka mengatakan bahwa siapa pun yang mencoba memanfaatkan Viona atau sengaja menjadi alat untuk membantu keluarga Jiang akan dianggap sebagai musuhnya."
Delvin mengepalkan tangannya.
Dokter melanjutkan, "Sebagian besar pendonor yang cocok berasal dari keluarga berada atau memiliki hubungan dengan dunia bisnis. Mereka tahu pengaruh Tuan Dylan di kota ini.Tak seorang pun berani mengambil risiko berhadapan dengannya."
Delvin menutup matanya rapat.
"Jadi... hanya karena takut kepada Dylan, mereka rela menolak uang sebanyak itu?"
"Maaf, Tuan Jiang. Bagi mereka, kehilangan kesempatan berbisnis dengan Tuan Dylan jauh lebih merugikan daripada imbalan yang Anda tawarkan."
Suara dokter terdengar penuh penyesalan.
"Untuk saat ini, kami masih terus mencari pendonor baru. Namun, kami tidak bisa menjamin kapan akan menemukannya."
Sambungan telepon pun berakhir.
Delvin perlahan menurunkan ponselnya.
Tangannya gemetar menahan amarah.
"Dylan..." gumamnya lirih.
"Hanya dengan satu ucapan, dia sudah membuat seluruh kota tidak berani membantu keluarga Jiang."
Di sisi lain, Moly yang mendengar percakapan itu langsung terduduk lemas di sofa.
Air matanya kembali mengalir.
"Kalau begini... siapa yang akan menyelamatkan Sanny?"
Delvin menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar.
Ucapan dokter terus terngiang di telinganya.
"Tuan Jiang, kami hanya bisa mempertahankan kondisi Nona Sanny dengan obat-obatan. Namun, fungsi hatinya terus menurun. Tanpa transplantasi hati secepatnya, kemungkinan besar ia tidak akan bertahan lama."
Wajah Delvin langsung memucat.
Ia terduduk lemas di sofa sambil memegangi kepalanya.
"Tanpa transplantasi... Sanny tidak akan bertahan lama..."
Ia memukul sandaran sofa dengan penuh penyesalan.
"Semuanya karena Dylan."
Keesokan harinya.
Jiang Group.
Para investor telah berkumpul di ruang rapat utama.
Delvin duduk di kursi pimpinan dengan wajah lesu. Sejak skandal keluarga Jiang terbongkar, perusahaan berada dalam tekanan besar. Banyak investor menjual saham mereka karena takut nilai perusahaan terus turun.
Hari ini adalah hari penentuan.
Pemegang saham baru yang membeli sebagian besar saham Jiang Group akan datang untuk mengambil alih.
Delvin mengepalkan tangannya.
"Siapa sebenarnya orang yang membeli saham Jiang Group?" batinnya.
"Dia membeli saat harga saham jatuh. Jika perusahaan kembali bangkit, dia akan menjadi orang yang paling diuntungkan."
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka.
Seseorang masuk.
Delvin langsung mengangkat kepalanya.
"Jay?"
Ia mengenali pria itu sebagai asisten Dylan.
Alis Delvin langsung berkerut.
"Kenapa bawahan Dylan ada di sini?"
Para investor juga mulai berbisik.
"Siapa dia?"
"Dia adalah asisten pribadi Tuan Dylan Jiang."
Delvin berdiri perlahan.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Jay hanya tersenyum tipis.
"Tuan Jiang, saya datang untuk menghadiri rapat pemegang saham."
Ekspresi Delvin berubah tidak nyaman.
"Apa?"
Namun sebelum ia menyelesaikan ucapannya, terdengar suara langkah kaki dari luar.
Semua orang menoleh ke arah pintu.
Dylan masuk dengan tenang.
Wajah Delvin langsung berubah pucat.
"Dylan..."
Dylan tidak menjawab.
Ia berjalan melewati semua orang dan duduk di kursi utama.
Jay kemudian menyerahkan dokumen kepemilikan saham.
"Dengan kepemilikan saham terbesar di Jiang Group, mulai hari ini Tuan Dylan Jiang resmi menjadi pemegang saham mayoritas."
Ruangan langsung gempar.
Delvin menatap dokumen itu dengan tidak percaya.
"Tidak mungkin..."
Dylan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kenapa? Terkejut?"
Delvin menatap putranya dengan campuran marah dan tidak percaya.
"Sejak kapan kau membeli saham Jiang Group?"
Dylan tersenyum tipis.
"Sejak kalian mulai menghancurkan perusahaan ini sendiri."
Ia mengetuk meja perlahan.
"Kalian kehilangan kepercayaan investor, sementara aku hanya mengambil kesempatan."
"Dylan, kau sengaja menjebakku. Semua ini memang rencanamu untuk menyingkirkanku dari Jiang Group," ujar Delvin dengan wajah penuh amarah.
Dylan tetap tenang. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi utama sambil menatap ayahnya tanpa rasa bersalah.
"Menjebak?" ulang Dylan dengan senyum tipis.
"Jiang Group sudah berada di ujung tanduk karena keputusan dan kesalahan kalian sendiri. Aku hanya datang sebagai penyelamat."
Ia meletakkan dokumen saham di atas meja.
"Aku membeli saham yang kalian lepaskan ketika nilainya jatuh dan sekarang menjadi pemegang saham mayoritas."
Dylan berhenti sejenak.
"Sesuai janjiku, aku juga akan menyuntikkan dana untuk menyelamatkan Jiang Group."
Para investor mulai berbisik. Mereka tidak menyangka pemegang saham baru yang selama ini dirahasiakan ternyata adalah Dylan sendiri.
Salah satu pemegang saham menatap Delvin dengan bingung.
"Tuan Jiang, apakah Anda tidak tahu bahwa orang yang membeli saham Jiang Group adalah putra Anda sendiri?"
Delvin terdiam beberapa saat.
"Aku... tidak tahu."
Tatapan semua orang langsung tertuju kepadanya.
Dylan tersenyum dingin.
"Tentu saja dia tidak tahu. Jika dia tahu sejak awal, apakah dia masih akan menjual sahamnya?"
Delvin mengepalkan tangannya.
Dylan kemudian berdiri.
"Dan kedatanganku hari ini bukan hanya untuk mengambil alih posisi pemegang saham utama."
Semua orang langsung memperhatikannya.
"Aku juga akan melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap Jiang Group."
Wajah beberapa direktur berubah tegang.
"Dalam waktu dekat, aku akan mengevaluasi kembali seluruh jajaran manajemen, posisi direktur, serta sistem kerja perusahaan."
Dylan menatap seluruh ruangan.
"Siapa pun yang tidak memiliki kemampuan atau terlibat dalam keputusan yang merugikan perusahaan akan diganti."
Delvin menatap Dylan dengan tidak percaya.
"Kau ingin menyingkirkan orang-orangku?"
Dylan menatapnya datar.
"Aku ingin menyelamatkan perusahaan. Jiang Group bukan tempat untuk mempertahankan orang yang hanya menggunakan jabatan demi kepentingan pribadi."
Kata-kata Dylan membuat seluruh ruangan terdiam.
Dylan kemudian melangkah mendekati ayahnya.
Setiap langkahnya membuat suasana semakin menekan.
Ia berhenti tepat di depan Delvin, lalu membungkuk sedikit dan berbisik pelan agar hanya mereka berdua yang mendengar.
"Delvin Jiang..."
Tatapan Dylan begitu dingin.
"Akhirnya perusahaan yang seharusnya menjadi milik ibuku jatuh ke tanganku."
Delvin menatapnya dengan terkejut.
Dylan tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan sedikit pun di matanya.
"Jangan salahkan aku atas semua ini."
Ia mendekat sedikit.
"Salahkan dirimu sendiri karena tidak mampu?"