NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 6

​Sore harinya, setelah upacara selesai tanpa ada perayaan makan malam, Aiko langsung digiring menuju mobil milik Ren. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, mulai hari ini Aiko harus meninggalkan kenyamanan rumah masa kecilnya di Kyoto untuk pindah ke kediaman utama Tachibana-gumi yang terletak di wilayah pinggiran kota yang lebih keras.

​Hiroshi berdiri di undakan kuil, menatap kepergian mobil putrinya dengan tubuh yang perlahan mulai terbatuk kecil lagi. Obat pereda nyerinya tampaknya sudah mulai habis.

​Di dalam mobil yang bergerak menyusuri jalanan Kyoto yang mulai gelap, keheningan kembali tercipta. Ren duduk di sisi kanan kursi belakang, sementara Aiko berada di sisi kiri dekat jendela. Daichi Sato mengemudikan mobil di depan dengan ekspresi serius, sesekali melirik spion tengah untuk memantau situasi.

​Aiko menatap keluar jendela, melihat siluet pemandangan kota yang perlahan berubah menjadi deretan bangunan yang terlihat suram dan penuh coretan dinding khas wilayah klan kecil. Tangannya bergerak, mendekap erat kotak kayu peninggalan ibunya di atas pangkuan.

​Ren mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah Aiko. Matanya tertuju pada kotak kayu yang didekap erat oleh gadis itu.

​"Kau membawa barang-barang yang tidak berguna ke rumahku, Nona Aiko. maksudku, Nyonya Tachibana," ucap Ren dengan nada datar, sengaja menekankan marga barunya untuk mengingatkan posisi Aiko saat ini.

​Aiko tidak menoleh. Matanya tetap menatap keluar jendela yang berganti malam. "Ini adalah barang peninggalan Ibuku. Dan sesuai kesepakatan kita di koridor waktu itu, ini adalah urusan pribadiku yang tidak boleh kau campuri, Tuan Tachibana."

​Mendengar jawaban yang begitu tenang dan dingin, Daichi yang sedang menyetir di depan hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Ia tidak menyangka istri baru bosnya ini memiliki keberanian untuk membalas ucapan Ren dengan kalimat setajam itu.

​Ren sendiri hanya menaikkan satu alisnya. Sudut bibirnya berkedut tipis, entah karena kesal atau tertarik dengan keras kepalanya Aiko. Pria itu kembali melipat tangannya di depan dada, menyandarkan punggungnya, dan memejamkan mata.

​"Kuharap kotak kecil itu bisa menjagamu dari kegelapan di rumahku nanti," gumam Ren lirih sebelum suasana mobil kembali tenggelam dalam kesunyian.

​Beberapa menit kemudian, mobil sedan hitam itu melambat dan berbelok memasuki sebuah kompleks bangunan tradisional berpagar besi tinggi yang dijaga oleh belasan pria berwajah sangar. Kediaman utama Tachibana-gumi.

​Saat mobil berhenti sempurna di depan pintu masuk, Aiko menatap bangunan di hadapannya melalui kaca mobil. Di atas atap gerbang rumah itu, beberapa sosok arwah dengan mata hitam pekat tampak sedang duduk diam, menatap kedatangannya dengan senyuman lebar yang mengerikan.

​Aiko menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya. Sarang serigala ini ternyata tidak hanya dipenuhi oleh manusia kejam, melainkan juga dipenuhi oleh dendam-dendam tak kasat mata yang menanti untuk diurai.

Langkah kaki Aiko terasa berat saat ia melangkah menyusuri koridor kediaman utama Tachibana-gumi. Rumah ini berbeda jauh dengan rumah masa kecilnya di Kyoto, yang megah dan terawat meskipun dengan suasana sunyi.

Sementara Kediaman Tachibana terasa lebih dingin dengan desain bangunan kayu tua yang gelap dan suasana yang pekat oleh aroma asap rokok serta ketegangan yang mencekam.

Di sepanjang jalan, beberapa pelayan wanita tua membungkuk hormat padanya, namun tatapan mata mereka dipenuhi rasa curiga dan ketidaksukaan yang jelas pada putri dari klan musuh.

Ren berjalan di depan tanpa sekali pun menoleh ke belakang untuk memastikan apakah istrinya bisa mengikuti langkahnya yang lebar. Setelah melewati beberapa kelokan koridor, Ren berhenti di depan sebuah pintu geser kayu yang dilapisi kertas shoji tebal.

Pintu geser terbuka, menampilkan sebuah kamar tidur utama yang luas. Desainnya minimalis, perpaduan antara lantai tatami tradisional dengan beberapa perabotan modern berwarna gelap. Sebuah tempat tidur berukuran king size dengan seprai hitam. Tidak ada hiasan dinding yang mencolok, hanya ada sebuah meja kerja rendah di sudut ruangan yang dipenuhi oleh tumpukan dokumen berkas klan.

"Mulai hari ini, ini adalah kamarmu," ucap Ren datar sambil melangkah masuk, lalu melepaskan jubah haori hitamnya dan menyampirkannya ke sandaran kursi kerja.

Aiko melangkah masuk dengan hati-hati, masih mendekap kotak kayu ibunya di dada. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terasa luar biasa dingin. "Kau bilang... ini kamarku? Lalu di mana kamarmu, Tuan Tachibana?"

Ren berbalik, menatap Aiko dengan sebelah tangan yang bertumpu di pinggang. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. "Kau pikir aku akan menyiapkan kamar terpisah untukmu? Jangan konyol, Nona Aiko. Di depan para bawahan dan mata-mata klan lain, kita adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah. Jika kita tidur di kamar terpisah di malam pertama, dalam waktu satu jam rumor tentang ketidakharmonisan kita akan menyebar ke seluruh Kyoto."

Ren melangkah mendekati Aiko, memperkecil jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tingginya menenggelamkan tubuh Aiko. "Kita berbagi kamar yang sama, tapi tidak dengan hal lain. Kau ingat kesepakatan kita, bukan?"

Aiko mendongak, menantang kembali tatapan mata Ren. "Tentu. Aku tidak pernah melupakannya."

"Bagus," sahut Ren. Ia berjalan menuju sebuah lemari besar di sudut kamar, menarik keluar satu set kasur lantai tradisional Jepang yang tebal, lengkap dengan selimutnya. Ren melemparkan kasur itu ke sisi ruangan yang dekat dengan jendela, cukup jauh dari tempat tidur utamanya.

"Kau bisa tidur di sana. Sisi kamar sebelah kanan adalah wilayahmu, dan sisi kiri adalah wilayahku. Jangan pernah menyentuh meja kerjaku atau barang-barang pribadiku jika kau masih ingin bernapas besok pagi," ucap Ren tanpa perasaan sedikit pun. Pria itu kemudian meraih selembar handuk dari gantungan dan berjalan menuju pintu kamar mandi yang terletak di dalam kamar tersebut. "Aku mau mandi. Bersihkan dirimu setelah aku selesai."

Blam.

Pintu kamar mandi tertutup rapat, disusul oleh suara gemericik air pancuran yang mulai terdengar dari dalam.

Aiko menghela napas panjang, ia merasa beban berat yang menahan dadanya sejak pagi tadi sedikit terangkat. Ia berjalan mendekati kasur lantai yang disediakan Ren, meletakkan kotak kayu ibunya dengan hati-hati di dekat bantal, lalu duduk bersimpuh di atas lantai tatami.

Ia mulai melepas penutup kepala yang terasa berat, lalu perlahan-lahan membuka lapisan luar kimono pernikahan putihnya yang kaku. Di balik gaun putih itu, Aiko kini hanya mengenakan Yukata tipis berwarna putih polos yang jauh lebih ringan dan nyaman untuk bergerak.

Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama.

Sreeek...

Suara gesekan halus yang aneh tiba-tiba terdengar dari arah langit-langit kamar. Aiko seketika terdiam. Instingnya yang tajam menangkap perubahan drastis pada suhu ruangan. Hawa dingin yang menusuk mendadak menyerang tengkuknya, membuat napasnya menguar membentuk kabut tipis di udara malam yang hangat.

Aiko perlahan mendongak, menatap ke arah sudut gelap di atas lemari pakaian milik Ren.

Jantung Aiko berdegup kencang. Di sana, menempel di langit-langit kamar seperti seekor laba-laba raksasa, berdiri sesosok makhluk dengan wujud hitam yang pekat. Makhluk itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya ada sepasang mata bulat besar berwarna merah menyala yang menatap lurus ke arah Aiko. Dari sela-sela tubuh hitamnya yang bergetar, keluar aroma busuk yang menyengat.

Makhluk itu merangkak turun dari langit-langit dengan gerakan patah-patah yang mengerikan. Suara tulang yang bergeser terdengar jelas di dalam keheningan kamar. Krak... krak... krak...

Makhluk hitam itu berhenti tepat di atas lantai tatami, hanya berjarak dua meter di depan tempat Aiko duduk bersimpuh. Sepasang mata merahnya melotot, seolah ingin mengusir Aiko keluar dari wilayah kekuasaannya.

"Darah Kurogawa... Mengapa ada darah kotor Kurogawa di dalam rumah ini... Pergi... Pergi atau aku akan mencabik jiwamu..." sebuah suara berat yang bergetar hebat bergema di dalam gendang telinga Aiko, membuat kepalanya mendadak pening luar biasa.

Aiko meremas ujung jubah Yukata-nya kuat-kuat. Rasa takut sempat menyergapnya. namun ia buru-buru mengingat ajaran ibunya. Jika kau memperlihatkan rasa takutmu pada makhluk mereka akan menggunakan ketakutanmu sebagai jembatan untuk merusak pikiranmu.

1
PrettyDuck
bagusss ❤️❤️
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
PrettyDuck
isss, ini mah ren emang niat ngepublish hubungan mereka gak sih. terlalu mencolok ommm /Facepalm/
PrettyDuck
potoin. biar ren cemburu wkwk
PrettyDuck
wkwk lu ngekorin aiko mulu soalnyaaa.
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
PrettyDuck
naksir beneran dong diaa /Facepalm/
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren
PrettyDuck
kok sok ikrib gini dia? kayaknya biasanya kayak kanebo deh 🥴
PrettyDuck
ngerasa bersalah pasti aiko 🥲
Lenny Utami
iya aku jga penasaran
Lenny Utami
wahhh bagus nih nasehatnya
Lenny Utami
skip skip skip serem tor... aku GK mau baca lebih yang ini..😭
SANG
Maaf, hadiahnya ditunda dulu. Poinku tidak cukup ya Thor/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/😄😄🤣🤣🤣
Lenny Utami
Halah nanti juga ujungnya klepek² itu..
SANG
Lanjut thor💪👍💪👍
Lenny Utami
otak ku tolong jangan ngeres
Lenny Utami
pertanyaan Aiko lucu..
SANG
Kenapa begitu, justru aku yang tidak senang...
SANG
Kamu tanya saya...
SANG
Iklan untukmu thor👍💪👍
Lenny Utami
abot Iki semangat Aiko
SANG
Apakah benar seperti itu, kabar dari mana itu datangnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!