Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cumbuan Di Hari Pernikahan
...⚜️⚜️⚜️...
BERITA pernikahan Nicholas dan Anastasia menyebar dengan cepat hingga ke pelosok negeri. Meski banyak kalangan atas mencibir keputusan Raja Luther, namun mereka tidak cukup berani menyampaikannya secara langsung. Di sisi lain, keputusan itu justru disanjung oleh kalangan moore yang semakin mencintai Raja Luther karena keberpihakannya pada rakyat biasa. Nama Nicholas pun ikut dipuja karena memilih Anastasia untuk dinikahkan dengannya. Sejauh ini, Nicholas berhasil mencuri kesempatan untuk membersihkan namanya yang terlanjur tercoreng.
Hari pernikahan Sang Pangeran tiba. Acara telah dipersiapkan dengan sangat baik. Anastasia dibantu oleh tiga pelayan khusus untuk berdandan di acara sakral ini. Gaun sutra berwarna putih bersih membalut tubuh rampingnya. Rambut emasnya dihiasi permata indah yang membuatnya bersinar, menambah keanggunan Anastasia. Siapapun yang melihatnya akan terpesona, bahkan para pelayan tidak henti-hentinya memuji kecantikannya.
Sementara itu, Nicholas mengenakan pakaian lengkap militer Kerajaan Tharvis berupa jas merah sesuai dengan pilihannya, serta celana hitam bergaris pinggir emas. Di dadanya bergantungan selempang yang melambangkan Kerajaan Tharvis, lengkap dengan medali naga dan ordo Tharvis di jasnya. Nicholas terlihat tampan dan gagah. Mata tegas dan langkah tegap menambah sentuhan di penampilannya yang mempesona sebagai seorang keturunan Raja yang masyur.
Di altar, Nicholas dan Anastasia saling berpandangan. Nicholas harus mengakui, hari ini Anastasia begitu cantik dan memesona. Bibirnya tersenyum sambil memegang tangan wanitanya itu dengan lembut. Bisa merasakan gugupnya Anastasia dari tangan perempuan itu yang dingin. Sesaat, ia melupakan ambisi pribadinya, terpesona oleh keanggunan wajah Anastasia. Sungguh, keinginan untuk mencium Anastasia sulit untuk ditahan.
Prosesi pernikahan Nicholas dan Anastasia berlangsung dengan khidmat di aula Girsam, yang dipadati oleh para hadirin. Di luar istana, kalangan moore berkumpul untuk bersorak-sorai gembira atas pernikahan pasangan itu.
Tangis haru tak dapat terbendung di pelupuk mata Anastasia. Kecupan manis di dahinya setelah pengucapan janji suci mereka membuatnya semakin terharu. Ia tiba-tiba merindukan kedua orang tuanya. Seandainya mereka masih ada di sini untuk menyaksikan Anastasia menikah, itu akan menjadi kebahagiaan yang tak terhingga sepanjang hidupnya.
"Aku tidak menyangka Nicholas benar-benar serius menerima saranmu untuk menikahi Nona Anastasia," kata Agast pada Eknath.
"Aku patah hati. Padahal, Nicholas sudah katakan kalau Nona Anastasia untukku saja waktu itu. Aku tidak mau berbicara lagi denganmu, Eknath. Ini karena saranmu!” gerutu Ramond.
"Ya sudah. Aku juga tidak rugi kalau tidak berbicara denganmu," cela Eknath.
"Tapi, setelah kupikir-pikir, lebih baik kita tetap berbicara saja. Aku tidak punya teman waras selain kau. Aku malas berdebat sama anak monyet ini terus," kata Ramond sambil menggeplak kepala Agast.
"Kau!!! Aku tidak memulai! Kenapa kau memukulku, monyet jelek!"
"Kau itu monyet kurap!"
"Ck! Bisa tidak kalian berdua sehari saja jangan bertengkar? Aku bisa gila di tengah-tengah kalian!" seru Eknath sambil memisahkan keduanya.
Setelah prosesi pernikahan yang agung selesai, kemeriahan berlanjut pada upacara penobatan Anastasia menjadi Putri Kerajaan, disusul dengan jamuan makan malam yang luar biasa mewah. Di atas undakan panggung utama Aula Girsam, Raja Luther tampak tersenyum cerah, menyambut salam hormat dari para tamu undangan serta delegasi yang memadati ruangan.
Nicholas duduk bersisian dengan Anastasia di atas kursi takhta tinggi berlapisi bantal beludru. Dari posisinya, Nicholas bisa mendengar samar-samar bisikan para bangsawan dan sorak-sorai perwakilan rakyat di area luar aula. Mereka terus menyanjung namanya, memujinya sebagai pangeran yang berhati mulia dan berpihak pada rakyat biasa hanya karena ia sudi menikahi gadis biasa dari kalangan bawah.
Sudut bibir Nicholas terangkat, didera rasa bangga yang membumbung tinggi di dalam dadanya. Bukan hanya karena skenario politiknya berhasil memikat hati rakyat Tharvis, melainkan karena malam ini ia bisa mempertontonkan sesosok wanita yang luar biasa cantik sebagai istrinya di hadapan dunia. Nicholas merasa menang banyak.
"Jangan menangis terus, Sayang," bisik Nicholas lembut. Ibu jarinya bergerak mengusap sisa air mata di pipi mulus Anastasia—sebuah gestur manis yang langsung membuat beberapa pasang mata putri bangsawan di bawah panggung berbisik iri.
"Maaf... aku hanya terlalu terharu," cicit Anastasia pelan, menunduk.
"Kau akan jauh terlihat lebih cantik kalau tersenyum. Jadi, berikan senyuman indah itu hanya untukku," goda Nicholas, menatap wajah istrinya dengan mata abu-abu gelapnya yang begitu intens.
Anastasia akhirnya mengulum senyum kecil. Riuh musik dan kebisingan di Aula Girsam seolah menguap begitu saja, menyisakan dunia yang kini seolah hanya milik mereka berdua.
"Apa hari ini aku sudah memujimu cantik?" tanya Nicholas tiba-tiba. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, memandangi wajah Anastasia tanpa berkedip sedikit pun.
Anastasia mengerjap, terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepalanya pelan.
"Ah, kalau begitu, biar kuperjelas. Hari ini, detik ini, kau adalah wanita paling cantik yang pernah menginjakkan kaki di tanah Tharvis, Stasia."
Mendengar kalimat gombal yang diucapkan dengan begitu blak-blakan, Anastasia langsung menggigit bibir bawahnya. Rona merah merayap cepat di pipinya yang seputih pualam, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan.
"Masih kurang pujianku?" pancing Nicholas dengan senyum menggoda saat melihat mata Anastasia kembali berkaca-kaca akibat letupan emosi di hatinya.
"Tidak, Nicholas. Terima kasih atas pujianmu," jawab Anastasia malu-malu, berusaha menenangkan debaran jantungnya sendiri.
Nicholas tidak puas sampai di situ. Ia justru memajukan tubuhnya, mendekatkan bibirnya tepat di sisi telinga Anastasia, lalu mengembuskan napas hangat yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Tapi aku mau memujimu cantik sampai seribu kali malam ini, Stasia. Biar telingamu bosan dan tahu kalau suamimu ini sama sekali tidak sedang membual. Kau cantik, kau cantik, kau cantik, kau cantik, kau cantik, kau—"
"Nicholas, hentikan..." bisikan beruntun itu seketika terpotong karena Anastasia yang gemas segera membekap mulut Nicholas dengan telapak tangan kecilnya.
Gadis itu tertawa lirih, merasa perutnya seperti diaduk oleh ribuan kupu-kupu yang menggoda. Nicholas benar-benar terlampau lihai merangkai kata manis malam ini. Namun, bukannya menjauh, Nicholas justru menjahili balik istrinya. Pangeran itu mengecup lembut telapak tangan Anastasia yang tengah membekapnya, lalu dengan nakal meniup telapak tangan tersebut hingga membuat Anastasia kegelian.
"Ah!" Anastasia memekik pelan, buru-buru menarik tangannya kembali dengan wajah yang memerah sempurna karena tindakan usil suaminya. Ia membalas dengan memberikan pukulan manja yang mendarat di lengan kekar sang pangeran.
“Kau curang!"
Nicholas tertawa renyah, sangat menikmati kepanikan manis istrinya. Detik berikutnya, ia mengangkat kedua belah tangannya, membentuk pagar penghalang di sisi wajah Anastasia, menghalangi pandangan orang-orang dari arah bawah panggung.
"Ada apa lagi?" tanya Anastasia bingung, menatap sepasang tangan kokoh yang mengurung wajahnya.
"Aku mendadak tidak rela jika para menteri dan bangsawan di bawah sana melihatmu tersenyum seindah ini," bisik Nicholas posesif, matanya turun menatap bibir ranum Anastasia yang basah. "Senyum manismu ini sudah sah menjadi hak milikku. Orang lain tidak boleh mencurinya walau hanya lewat pandangan."
Anastasia yang polos semakin tidak keruan dibuatnya. Merasa tertantang oleh keusilan Nicholas, Anastasia memberanikan diri untuk pertama kali. Ia menjangkau kerah jubah mewah Nicholas, menariknya sedikit ke bawah agar wajah mereka sejajar, lalu berbisik jahil, "Kalau begitu, Pangeran yang terhormat harus membayar pajaknya karena sudah memonopoli senyumku."
Nicholas sempat tertegun mendapat serangan balik yang tak terduga, sebelum akhirnya seringai nakalnya melebar. Gejolak di dadanya kian tak terbendung. Anastasia benar-benar telah bertransformasi menjadi candu yang paling berbahaya baginya. Keberanian kecil istrinya justru mengikis habis sisa-sisa kendali diri sang pangeran. Nicholas benar-benar tidak tahan lagi melihat kecantikan Anastasia yang begitu memabukkan di bawah pendar lilin aula.
"Dengan senang hati, Istriku," sahut Nicholas dengan suara yang merendah dan serak. "Aku bahkan akan membayar pajaknya berlebih."
Nicholas menatap dalam-dalam manik mata Anastasia, memotong jarak di antara mereka. Anastasia yang baru tersadar dari aksi jahilnya langsung melirik gugup ke arah ratusan tamu undangan di bawah panggung.
"Nicholas, tunggu... tunggu… di bawah ada banyak orang. Aku malu," bisik Anastasia panik, mencoba menahan dada Nicholas dengan kedua tangannya.
"Biarkan mereka melihat, Stasia. Biar seluruh dunia tahu seberapa besar aku memujamu malam ini," jawab Nicholas dengan nada angkuh sekaligus bangga.
Nicholas ingin semua pasang mata di ruangan itu menyaksikan betapa beruntungnya ia memiliki permata seindah Anastasia, sekaligus membiarkan desas-desus tentang keberpihakannya pada rakyat kian bergema kuat di seantero negeri.
Tanpa memberikan celah bagi Anastasia untuk melayangkan protes, Nicholas langsung menangkup tengkuk istrinya, mempertemukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut dan juga penuh serta menuntut. Anastasia mendesuh pasrah, pasrah saat Nicholas membawanya larut dalam dekapan hangatnya yang protektif.
Ketika Nicholas melepas pagutan mereka sejenak demi memberi istrinya kesempatan meraup oksigen, sepasang matanya kembali terpaku pada wajah Anastasia yang tampak merona dengan napas memburu—terlihat luar biasa cantik. Nicholas menggeram rendah, ia benar-benar merasa belum cukup.
Maka, sebelum Anastasia sempat menenangkan detak jantungnya yang bertalu-talu, Nicholas kembali menunduk, mencium bibir manis itu lagi, dan lagi. Ciuman-ciuman susulan yang intens dan penuh afeksi itu sengaja dideklarasikan Nicholas di atas panggung megah, mengabaikan sejenak formalitas istana demi menuntaskan rasa candunya yang kian menggila pada sang Putri Kerajaan yang baru tersebut.