"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11 Gosip di kalangan elite
Keesokan harinya, berita pertunangan Daren dan Nadia mulai tersebar di media sosial dan kalangan bisnis. Elsa dan Bu Siska merasa kepanasan karena teman-teman sosialita mereka mulai bertanya-tanya.
Di sebuah butik terkenal tempat biasa Elsa mencari gaun terlihat beberapa gadis kalangan elit bisnis juga sedang memilih-milih gaun, mereka saling berbisik membicarakan Elsa.
"Oh ya dengar-dengar Daren si ganteng dari keluarga Wijaya itu kemaren sudah tunangan ya?" ucap salah seorang dari mereka.
"Katanya dia di jodohkan sama Neneknya dengan gadis pilihan Neneknya sendiri."
"Katanya juga gadis itu adalah gadis dari kalangan orang biasa dan kampung, Tapi gadis itu pernah menyelamatkan nyawa Neneknya Daren dari kecelakaan akhirnya Nenek Lusi merasa berhutang Budi pada gadis itu dan sebagai balasannya Nenek Lusi menjodohkan Daren dengan gadis itu."
"Wahhh....ternyata pamor Elsa pacarnya Daren yang berasal dari keluarga elit bisnis itu terkalahkan dengan pesona gadis kampung itu, hahahaha..." para gadis itu pun tertawa mengejek Elsa dan tanpa mereka sadari Elsa yang sedari tadi mendengar perbincangan mereka akhirnya meradang dan berjalan mendekati ke arah para gadis-gadis itu.
"Heh! siapa bilang aku kalah sama cewek kampungan itu!" teriak Elsa dengan penuh emosi menatap tajam ke arah cewek-cewek elit itu.
"Kan emang kamu kalah sama cewek kampung itu, buktinya yang menjadi tunangan Daren cewek kampung itu dan bukan kamu," ucap salah seorang cewek itu pada Elsa sambil tersenyum mencibir.
Elsa melipat kedua tangannya di dada sambil mengangkat dagunya angkuh, mencoba menutupi getar kemarahan di suaranya.
"Aku gak kalah dari cewek kampung itu, hanya saja aku mengalah dan asal kalian tahu! Daren tidak pernah cinta sama cewek kampung itu, pertunangan itu hanyalah formalitas untuk memenuhi keinginan Nenek Lusi," Elsa menjelaskan panjang lebar dengan nada emosi pada cewek-cewek itu.
"Halah paling itu cuma akal-akalan kamu mengarang cerita seperti itu untuk menutupi hati kamu yang hancur berkeping-keping karena Daren sudah memilih cewek lain, hahahaha....," cewek yang berkata pada Elsa itu tertawa terbahak seperti merasa puas melihat Elsa yang makin kepanasan.
"Dasar kalian brengsek," umpat Elsa yang kemudian pergi meninggalkan cewek-cewek itu dengan amarah yang membuncah.
Elsa menghempaskan tubuhnya ke kursi mobil sambil menggerutu" Semua ini gara-gara gadis kampungan itu, akhirnya mereka semua memandang aku rendahan, awas ya tunggu saja pembalasanku nanti."
...----------------...
Sementara itu di tempat lain saat Bu Siska melakukan perawatan kulit dan wajahnya di sebuah klinik spa untuk kalangan elit bisnis, Dia juga mendengar beberapa pengunjung yang membicarakan pertunangan tertutup antara Daren dan Nadia.
"Tahu gak kalau kemaren itu keluarga Wijaya menggelar acara pertunangan anaknya yang bernama Daren itu dengan gadis yang bukan berasal dari kelas mereka," ucap salah seorang nyonya pada teman-temannya yang juga sedang melakukan perawatan wajah di klinik itu.
"Kalau bukan berasal dari kelas mereka, berarti gadis itu dari keluarga biasa saja?" tanya salah satu nyonya yang lain.
"Lebih tepatnya gadis itu adalah gadis kampung yang tidak jelas asal usulnya," ucap nyonya yang lain sambil melirihkan suaranya karena melihat ada Bu Siska yang berada di sebelahnya yang tertutup oleh tirai pembatas.
Bu Siska mengepalkan tangannya menahan amarah saat mendengar para nyonya kalangan elit itu membicarakan soal pertunangan itu, Bu Siska yang meradang langsung menyuruh terapisnya untuk berhenti karena sudah tidak tahan lagi mendengar gosip itu.
Bu Siska buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan bergegas keluar dari ruangan itu dengan hati yang dongkol.
"Nadia.....kamu harus membayar semua ini, gara-gara kamu nama baik keluarga Wijaya tercemar," pekik Bu Siska di dalam hatinya sambil terus berjalan ke arah lobby klinik spa itu.
Pagi ini sengaja Elsa pergi menemui Daren di kantornya. Elsa berjalan menyusuri koridor perkantoran Daren menuju ke ruang kerja pacarnya itu. Dan saat tiba di dalam ruang kantor Daren, Elsa memasang wajah sedih sekaligus panik, Dia menggunakan alasan harga diri dan gosip di luar sana untuk mendesak Daren segera menikah dengan Nadia.
Daren terlihat sedikit kaget melihat kedatangan Elsa yang tiba-tiba saja tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu.
"Ada apa sayang, kenapa kamu kesini gak ngasih kabar aku?" tanya Daren membelai rambut Elsa yang masih bergelayut di pundaknya.
"Daren, kamu tahu kan teman-teman sosialitaku sekarang menertawakanku? Mereka bilang aku pecundang karena tunanganmu sekarang adalah gadis kampung itu! Kalau pernikahan kalian ditunda-tunda, posisiku sebagai kekasihmu akan semakin memalukan. Tolong, percepat saja pernikahan gila ini agar semua cepat selesai."
"Kamu benar juga sayang, Kalau pernikahan ini cepat di laksanakan, tanda tangan aset keluarga Wijaya juga akan semakin cepat di lakukan oleh Nenek," Daren mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Ya semakin cepat pernikahan ini di laksanakan semua aset keluarga Wijaya akan semakin cepat pula jatuh ke tangan kamu sayang," Elsa tersenyum penuh kelicikan.
Di balik desakannya, Elsa punya niat busuk. Dia tidak ingin pernikahan Daren dan Nadia terlihat mewah layaknya pernikahan konglomerat. Dia ingin membuat pernikahan itu seminimal dan sepihak mungkin untuk menghancurkan mental Nadia.
Elsa menghasut Bu Siska dan Daren agar pernikahan dibuat tertutup, tanpa pesta resepsi yang megah, tanpa gaun pengantin rancangan desainer terkenal, dan tanpa liputan media. Elsa ingin Nadia merasa seperti "istri simpanan" atau pengantin yang tidak dianggap, bukan menantu sah keluarga Wijaya.
Sementara itu di rumah orang tua Daren terlihat Elsa dan Bu Siska juga Daren sedang duduk di ruang tengah sambil berbincang dengan serius.
"Ya, Tante juga setuju pernikahan ini secepatnya di langsungkan agar Nenek segera menandatangani semua aset Wijaya untuk Daren," ucap Bu Siska.
"Begini Tante, nanti kita suruh Daren untuk membuat perjanjian dengan Nenek Lusi kalau dia mau secepatnya melaksanakan pernikahan itu dengan syarat di laksanakan secara tertutup tanpa pesta dan resepsi yang megah."
Dengan membuat pernikahan itu sesederhana mungkin, Elsa ingin menunjukkan kepada dunia dan kepada Nadia sendiri bahwa Nadia tidak punya nilai apa-apa di mata Daren.
"Ya itu ide yang sangat bagus Elsa, Dengan begitu gadis kampung itu akan merasa sangat di rendahkan dan sama sekali tidak di anggap sebagai orang yang istimewa bagi Daren," Bu Siska dan Elsa tersenyum puas.
Daren setuju dengan usulan Elsa bukan karena dia peduli pada perasaan Elsa, melainkan karena dia sudah tidak sabar dan muak. Bagi Daren, Nadia adalah sebuah "syarat administrasi" yang harus dia penuhi secepatnya agar harta Nenek Lusi resmi pindah ke tangannya.
Daren tidak peduli apakah pernikahannya nanti pakai pesta atau tidak, pakai gaun mahal atau murah. Dia justru senang kalau pernikahannya sederhana dan tertutup, karena dia sendiri malu harus bersanding di pelaminan dengan gadis yang dia anggap kampungan.
"Makin cepat menikah, makin cepat surat warisan itu ditandatangani Nenek. Setelah semua aset Wijaya aman di tanganku, aku tinggal mendepak Nadia dan mengumumkan pernikahan megahku yang sesungguhnya dengan Elsa," ucap Daren pada Bu Siska.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang