NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 15 Binatang Lolot

Purwasaga berdiri dengan pose badan bengkok ke kanan. Itu terjadi karena pinggangnya tidak bisa ia kembalikan ke kiri lantaran ada persendiannya yang cedera akibat jatuhnya dari tebing.

Pangeran Bebalon terpaksa harus turun kembali dari mulut gua demi membantu Purwasaga yang kesakitan dan tidak bisa berdiri lurus.

Kini, Pangeran Bebalon berdiri di belakang Purwasaga. Katanya, si pangeran akan menyembuhkan sakit pinggang Purwasaga dengan tekhniknya.

“Jangan menjerit, Purwasaga,” kata sang pangeran.

“Iya, akan aku tahan,” kata Purwasaga bersiap dengan wajah meringis.

Dak!

“Aaakk!”

Pangeran Bebalon lalu menendang pinggang belakang Purwasaga dengan kencang, seolah-olah menaruh dendam terpendam.

Purwasaga menjerit kencang dengan tubuh yang tersungkur ke tanah keras. Pemuda yang sudah menikah dan tidak perjaka lagi itu menggeliat kesakitan. Ia memegangi pinggang belakangnya yang rasa linunya masih terngiang-ngiang meski sudah tidak linu.

Purwasaga berhenti mengerang saat dia sadar bahwa rasa sakitnya tinggal kenangan. Yang tersisa adalah rasa perih karena wajah bengkaknya menabrak tanah keras.

“Sembuh, Gusti Pangeran,” ucap Purwasaga terbeliak tapi ada sedikit senyum di bibirnya.

Ia bergegas bangkit. Benar, ia sudah berdiri dengan lurus, tidak patah lagi.

“Hahahak!” tawa Pangeran Bebalon melihat rekan barunya itu. “Ayo kita naik.”

Mau tidak mau, Pangeran Bebalon harus membuatkan jalan bagi Purwasaga agar bisa naik.

Ketika sang pangeran kembali naik dengan cara merayap seperti tokek, dia meninju batu tebing setiap naik. Dari tinjuan itu tercipta pecahan sehingga ada lubang yang bisa dipakai untuk berpegangan atau menginjak.

Maka, dengan lubang-lubang kecil yang dibuat oleh Pangeran Bebalon, Purwasaga bisa memanjat naik. Dia tidak gagal. Dia sampai ke mulut gua dengan selamat.

Keduanya kini menghadap ke dalam gua yang temaram.

“Siapkan selalu anak panahmu di busur. Gerakan lolot sangat cepat,” kata Pangeran Bebalon.

“Baik,” ucap Purwasaga. Ia langsung mengambil anak panah dan memasangnya di busur.

Hal yang sama telah dilakukan oleh Pangeran Bebalon.

Dak dak dak…!

Pangeran Bebalon berlari lebih dulu masuk ke dalam gua. Purwasaga segera mengikuti dan tidak mau berpisah jauh.

“Perhatikan langkahmu, Purwasaga!” kata Pangeran mengingatkan.

“Iya.”

Semakin mereka masuk, kondisi semakin gelap. Mereka memang wajib memerhatikan langkah karena lantai gua tidak serata paha yang mulus.

“Akk!” pekik Purwasaga tertahan ketika dia terperosok di saat Pangeran Bebalon melompat agar tidak jatuh. Untung saja, kedalaman kaki Purwasaga terperosok tidak dalam, hanya memberi kejutan saja.

“Kau masih selamat tidak terperosok ke jurang,” kata Pangeran Bebalon.

“Guanya tambah besar,” ucap Purwasaga saat memerhatikan area itu. “Di sana terang, Gusti!”

Purwasaga menunjuk ke satu titik cahaya yang tidak terlalu terang.

“Ayo!” ajak Pangeran Bebalon.

Keduanya kembali berlari menuju cahaya. Purwasaga lebih memerhatikan langkahnya.

Wiiik wiiik wiiik!

Tiba-tiba, samar-samar mereka berdua mendengar suara melengking aneh di kejauhan.

“Suara apa itu?” tanya Purwasaga dengan gestur seperti kucing mendengar panggilan kawin.

“Sembunyi!” kata Pangeran Bebalon sambil tiba-tiba berhenti di balik batu saat mereka sudah sampai di lubang cahaya yang merupakan pintu masuk ke ruangan berbeda yang lebih terang.

Purwasaga yang terkejut ikut buru-buru menjatuhkan bokongnya untuk bersembunyi di balik batu yang lain.

Wiiik wiiik wiiik!

“Itu suara lolot sedang panik,” kata Pangeran Bebalon kepada Purwasaga. “Sepertinya lolot itu sedang dikejar oleh pemburu kita.”

Pangeran Bebalon lalu melongokkan kepalanya untuk melihat suasana di ruangan terang. Purwasaga juga ikut melongok.

Ternyata, ruangan yang terang itu besar dan luas dengan berbagai model bebatuan yang tidak teratur. Sumber cahaya itu berasal dari sejumlah batu kekuningan yang mengeluarkan cahaya seperti batu pualam. Meski kuning, tetapi itu bukan bongkahan emas. Tidak semua batu berjenis sama. Jumlahnya yang banyak dan tersebar membuat ruangan itu terang temaram.

Pada dinding-dinding gua, bahkan di langit-langit, ada lubang-lubang gua yang tersebar secara random.

Suara “wiiik wiiik wiiik” berasal dari salah satu lubang, tapi belum jelas lubang yang sebelah mana.

Wiiik wiiik wiiik!

Suara lolot itu terdengar semakin kuat yang menandakan posisinya semakin dekat kepada ruangan besar gua di dalam bukit tersebut.

Pangeran Bebalon tetap bersiap dengan kedua tangan memegang busur dan ekor anak panahnya.

Wiiik wiiik wiiik!

Wiiik wiiik wiiik!

“Ada dua lolot,” kata Pangeran Bebalon saat mendengar suara lolot kedua yang terdengar lebih jauh dari yang pertama mereka dengar.

“Jika ada dua, Gusti Pangeran yang pertama keluar, aku yang kedua,” kata Purwasaga. Justru dia yang mengatur.

“Boleh, boleh, boleh,” ucap Pangeran Bebalon seraya tersenyum.

Wiiik wiiik wiiik!

Bdak bdak bdak…!

Suara lolot pertama terdengar semakin kencang, bahkan terdengar ada suara lain seperti suara lari kaki kuda binatang yang kuat.

“Di sana!” kata Pangeran Bebalon. Lalu katanya kepada Purwasaga, “Bersiaplah kau membunuh mangsamu, Purwasaga. Jangan sampai lolos.”

“Baik,” ucap Purwasaga bersemangat.

Pangeran Bebalon kini bersiap-siap setelah ia menduga pasti lubang mana yang akan menjadi tempat keluarnya lolot pertama.

Wiiik wiiik wiiik!

Akhirnya, sesuatu melesat keluar dari satu lubang gua di dinding. Sesuatu itu besar dan langsung mengudara sambil bersuara nyaring.

Pangeran Bebalon dan Purwasaga dapat melihat dengan jelas sesosok makhluk atau binatang berkaki empat warna cokelat dengan badan berwarna abu-abu dan kepala berwarna putih. Ketika melesat terbang mengudara, ada dua sayap yang membentang seperti burung raksasa, tetapi bulu sayapnya jarang-jarang. Uniknya, kepalanya burung yang memiliki paruh warna hitam. Bedanya kepala burung ini lebih besar dari burung yang besar sekalipun.

Binatang yang sebesar harimau dewasa itulah yang bernama lolot.

Di saat Purwasaga terkejut melihat wujud lolot, Pangeran Bebalon telah melompat keluar ke dalam ruangan besar tersebut.

Jleg! Set!

Setelah mandarat di atas sebongkah batu, Pangeran Bebalon lalu melesat di udara sambil melepaskan anak panahnya.

Ternyata itu bukan anak panah biasa karena wujudnya diselimuti lidah api. Namun sayang, panahan sang pangeran yang terbilang dari jarak jauh itu masih meleset.

Jleg!

Lolot bukan binatang yang bisa terbang seperti burung meski kepala seperti unggas dan memiliki sepasang sayap. Setelah terbang karena lompatannya, dia mendarat di lantai bawah.

Pangeran Bebalon cepat berkelebat turun ke tanah rendah untuk lebih mendekati posisi lolot.

Di mulut lubang tempat lolot itu keluar, muncul tiga lelaki berseragam hitam-jingga. Mereka datang dengan berlari dan berhenti di bibir gua.

Set set! Set!

Dua dari mereka segera melepaskan panahan ke arah lolot yang ada di bawah. Satu orang lagi melempar tombak.

Tek!

Wiiik wiiik wiiik!

Satu anak panah berhasil mengenai punggung lolot tersebut, tetapi anak panah itu terpental. Ternyata punggung lolot berkulit keras karena dilindungi oleh sisik tebal warna abu-abu.

Meski tidak terluka dari panahan itu, tetapi membuat lolot panik setengah sawan. Apalagi ada sebatang tombak yang tahu-tahu menancap di dekat kakinya yang berkuku tajam seperti kaki macan.

Lolot berlari liar di antara bongkahan batu gua dan kadang melompat naik ke atas batu untuk mencari lubang lain. Dia ingin kabur ke dalam lubang.

Pangeran Bebalon bergerak cepat mengejar.

Set! Teb!

Wiiik…!

Satu anak panah berapi kembali dilepaskan oleh sang pangeran. Kali ini bidikan anak raja itu tepat sasaran. Panahnya menancap tepat di leher samping lolot. Itu membuat lolot memekik melengking.

Namun, lolot masih berlari liar sambil memekik semakin rapat ritmenya.

Wik wik wik…!

Ternyata, ada api yang membakar kepala berbulu yang dimiliki lolot.

Set! Teb!

Pangeran Bebalon yang tidak berhenti memburu, kembali melepaskan satu anak panah berapi. Kali ini mengenai paha kanan depan lolot. Itu cukup membuat lolot tersungkur dan menabrak sebongkah batu.

Wiiik wiiik wiiik!

Tiba-tiba dari lubang lain di sisi atas, melesat keluar lolot yang lain. Purwasaga langsung melompat keluar untuk memburu lolot yang ternyata lebih besar dari lolot pertama. (RH)

1
rajes salam lubis
zonk udah kena suap,ciri khas warga +62
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
burung yang suka menggelitik sampai ketawa Kik Kik Kik 🤣🤣🤣😁😆
Om Rudi: burung apakah itu?
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
wahhhh kendaraan yang di pakai cukur , pakai rem cakram om 🫢😃
Om Rudi: kayaknya 🤭
total 1 replies
rajes salam lubis
pinisirin
rajes salam lubis
alamak
rajes salam lubis
gak perlu di jelaskan la om,buang buang tenaga..bukan buang hajat y!
Om Rudi: 🤣🤣🤣 biar jumlah katanya cepat terpenuhi
total 1 replies
rajes salam lubis
terong ungunya y terang om
Om Rudi: heheheheh
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
oseng kates wae om dr pada kol wes lah mboh om mumet aq enek rendang enek oon
hahhhh
Om Rudi: 🤣🤣🤣🤣sing sabar Mbak Ayu
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
gak handukan dulu om kan masih basah kuyup abis berenang 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: widihhhh 🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
terong dicabein maknyuzzz 🤤😂😂
Om Rudi: jiahahahah
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Selabak level berapa om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: pedes cukupan 😃😄
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
kalo pepatah negeri Konoha " walau bapak salah asal bahagia kita diam saja" 🤣🤣🤣😁😆🤪
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: ok gas polll mpe jeboll 😂😂😂
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
nama singa jantannya siapa om 🤔🤔😆
Om Rudi: aduh, lupa Om kasih nama
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Ozeng Bazo lebih enak om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: minta tolong istri suruh masakin 😉
total 2 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
Azhmar itu bangsa Demit om
Om Rudi: Om juga belum tahu🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
hatiku gak sedalam itu lho Om. cukup dengan menyentuh dadaku, pasti Om dapatkan hatiku 🙄😘🤣
Om Rudi: hihihihi 🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ingat, Om. yg oon nya gak boleh nular ke authornya itu kan?😂
Om Rudi: kenapa?
total 1 replies
👣Sandaria🦋
asli ini pasangan kodok, Om🙄😂
Om Rudi: asli dong🤣🤣
total 1 replies
👣Sandaria🦋
anak didiknya Rajes Salam pasti🙄
👣Sandaria🦋
plus tali pengikat burungnya kemarin 🤣
Om Rudi: Om mah sudah lupa, Mak Imut mah ingat aja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!