NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Status Yang Belum Jelas

Clunting... Pesan masuk di aplikasi hijau milik Andira.

"Ind, udah tidur ya," tulis Aditia.

"Belum, Dit. Nih baru sampe rumah," balas Andira.

Kaget banget. Andira baru aja tiba di rumah. Jam udah sepuluh malam.

Aditia langsung nelpon Andira.

Baru aja ngangkat teleponnya, belum juga ngomong apa-apa,

Andira langsung dicecar banyak pertanyaan.

"Dari mana aja kamu? Jam segini baru pulang?

Pulangnya sama siapa? Kenapa gak kabarin biar aku anter-jemput?"

Andira bingung mau jawab yang mana duluan. Tapi dia seneng karena ada yang perhatian.

"Mau jawab yang mana duluan nih, aku bingung, hehe," ucap Andira.

"Hmmm... dari kamu aja lah. Yang jelas aku marah nih.

Jalan kok gak kabarin, sama cowok ya?" cerca Aditia lagi.

Andira ngeluh panjang, "Hmmm, aku dari rumah Lia sama Reno.

Reno itu adik bungsunya Mas Renaldi. Aku diajak makan malam di sana.

Pulangnya dianter Reno. Aku sengaja belum ngasih tau kamu karena

aku pikir belum waktu yang tepat buat kenalin kamu ke Lia sama Reno,"

ucap Andira panjang lebar.

"Emangnya mau kapan?" tanya Aditia.

"Ya nanti dulu. Kan hubungan kita ini masih sebatas temen.

Sampe hari ini kamu belum nyatakan hubungan ini arahnya ke mana," ucap Andira.

"Tapi kan aku perhatian. Berarti serius. Dulu kan kita punya hubungan,"

ucap Aditia.

"Iya, aku tau. Itu dulu. Tapi sampe hari ini kita mulai dari awal.

Gak ada penjelasan kan? Ibaratnya HTS-an," jawab Andira.

"Terus kamu maunya apa?" tanya Aditia.

"Ya masa iya aku yang nentuin? Di mana-mana kan cowok yang duluan,

bukan cewek ya," goda Andira.

"Ya udah deh. Nanti aku kasih tau besok pas jemput kamu," ucap Aditia.

"Ya udah kalau gitu. Sampe ketemu besok,"

Andira langsung matiin teleponnya.

"Aku sampe nekat balik ke sini buat nemuin dia.

Masa iya dia anggep hubungan ini biasa aja. Sial,"

ucap Aditia ke dirinya sendiri. Dia pukul-pukul stir.

Malam udah larut. Andira nyoba tidur tapi gak bisa.

Dia terus mikirin Aditia. Soal sayang, emang dia sayang.

Tapi setelah nikah sama suaminya meninggal, dia baru jalanin hubungan sama Aditia lagi.

Tapi Aditia belum pernah nyatakan perasaannya sampe sekarang.

Jam nunjukin pukul dua tengah malam, barulah Andira tidur pulas.

Keesokan harinya dia bangun kayak biasa.

Ngerjain kerjaan rumah, masak buat makan siang.

Biar pulang sekolah langsung makan.

Abis itu Andira bersih-bersih diri, siap-siap ke kantor.

Kayak biasa, dia dijemput Aditia.

Di dalam mobil suasana agak dingin karena soal status yang dibahas semalam.

Aditia nyoba buka obrolan. "Ehem," dia berdehem.

"Eh kenapa, Dit?" tanya Andira.

"Gak apa-apa. Cuma batuk aja," ucap Aditia.

"Oh ya udah," jawab Andira datar. Dia liat ke luar jendela.

"Emangnya kamu gak anggep ya hubungan ini?" pancing Aditia.

"Bukan gak anggep. Aku kalau gak respon pasti gak jalan kayak gini.

Cuma aja setelah aku janda terus kita ketemu lagi,

kamu belum nyatakan perasaan kamu lagi," ucap Andira.

"Anggep aja kita LDR-an. Kan dulu juga hubungan kita

berakhir tanpa kata putus. Semua karena ilang komunikasi aja.

Terus kamu udah nikah, makanya aku nahan diri,"

jelas Aditia panjang lebar.

"Aku tau. Tapi aku butuh kepastian, Dit," ucap Andira.

"Ya udah, gimana sekarang? Hubungan kita kayak pasangan kan?

Kamu mau kan kita ngulang lagi kisah dulu, terus kita benerin

yang salah dulu?" tanya Aditia serius sambil mandangin wajah Andira.

Andira gugup karena dipandangin Aditia.

"Ehem, gimana ya... Eee nanti ya. Ini udah sampe, aku turun dulu ya. Dadah,"

Andira langsung turun dari mobil. Pintu dibanting pelan.

Aditia di dalam mobil jadi bingung.

"Dasar cewek. Maunya diseriusin, giliran mau diseriusin dia sok cuek,"

Aditia ngomong pelan sambil mukul stir mobil.

Aditia langsung ngegas mobil, ninggalin lingkungan sekolah Andira.

Dia menuju kompleks perumahannya yang jaraknya tiga kilometer dari sekolah Andira.

Di ruang guru, Andira duduk di kursinya. Dadanya masih deg-degan.

HP-nya bunyi. Chat dari Aditia:

"Ind, aku serius tadi. Jawabnya kapan?"

Andira gak langsung bales. Dia buka laci, ngambil foto Renaldi.

"Mas, aku harus jawab apa, Mas? Aku takut salah, Mas."

Jam istirahat, Intan nyamperin. "Ndir, kamu kenapa? Dari tadi bengong."

"Gak apa-apa, Ntan. Lagi mikir aja," jawab Andira.

"Mikir Aditia ya? Jujur aja sih. Kalau sayang, bilang sayang.

Kalau ragu, bilang ragu. Jangan disimpen sendiri," nasihat Intan.

Andira senyum kecut. "Iya, Ntan. Aku tau. Tapi susah."

Pulang sekolah, Aditia udah nunggu di gerbang.

Dia gak nyapa. Cuma buka pintu mobil.

Andira naik pelan. Suasana di mobil hening banget.

Cuma kedengeran suara AC.

"Ind, aku jemput kamu tiap hari bukan karena iseng,"

buka Aditia. Matanya fokus ke jalan.

Andira diem. Jari tangannya mainin ujung jilbab.

"Aku balik ke kota ini, ninggalin kerjaan bagus,

cuma buat kamu. Aku gak mau main-main lagi, Ind,"

lanjut Aditia. Suaranya pelan tapi tegas.

Andira narik napas. "Dit, aku percaya kamu serius.

Tapi aku baru dua bulan jadi janda. Aku takut.

Takut buru-buru, terus nyakitin Mas Renaldi. Nyakitin kamu juga."

Aditia berhentiin mobil di lampu merah. Dia noleh.

"Aku gak maksa kamu lupa Mas Renaldi, Ind.

Aku cuma minta kamu kasih aku kesempatan jagain kamu.

Kayak dulu aku pengen lamar kamu."

Andira netesin air mata. "Aku sayang kamu, Dit.

Sayang dari SMA. Tapi sekarang aku istri orang... mantan istri orang.

Status aku beda. Aku takut omongan orang."

Aditia megang tangan Andira. "Omongan orang gak ngasih kamu makan, Ind.

Aku yang mau. Aku yang siap. Tinggal kamu mau gak?"

Lampu hijau nyala. "Tit tit" klakson dari belakang.

Aditia jalanin mobil lagi. Andira cepet-cepet lepas tangannya.

Ngelap air mata pake tisu.

Sampe depan rumah Andira, Aditia matiin mesin.

"Gak usah jawab sekarang, Ind. Aku tunggu.

Tapi jangan lama-lama ya. Aku juga laki-laki, punya batas sabar,"

ucap Aditia sambil senyum kecut.

Andira turun. "Iya, Dit. Makasih udah ngerti."

Masuk rumah, Andira langsung sujud di kamar.

"Ya Allah, aku bingung. Kasih aku jalan yang bener ya Allah."

Jam sembilan malam, HP bunyi lagi.

Chat Aditia: "Aku gak marah kamu turun buru-buru tadi.

Aku cuma mau kamu tau, aku serius. Selamat tidur, Ind."

Andira bales pake stiker peluk. Gak berani ngetik panjang.

Dia buka diary lagi. Nulis:

"Mas, Aditia nembak aku hari ini.

Dia bilang mau ngulang kisah kami.

Aku sayang dia, Mas. Sayang dari dulu.

Tapi aku juga sayang Mas. Sayang sampe mati.

Aku janji, kalo aku jalan sama Aditia,

aku gak akan ngelupain Mas.

Nama Mas tetep di hati aku paling depan.

Doain aku, Mas. Biar aku gak salah pilih."

Andira tutup diary. Peluk guling.

Kali ini gak nangis. Cuma senyum sambil merem.

Karena dia tau:

Cinta pertama balik lagi.

Tapi janji sama suami juga masih ada.

Dan malam itu, Andira tidur sambil bingung bahagia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!