Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Arlan
Arlan membeku saat anak buahnya membuka kamar yang dulu ditempati Alya. Kamar itu kosong. Hanya sebuah koper dan beberapa potong pakaian yang masih tertinggal.
Tatapan Arlan beralih kepada Emil. "Di mana Alya?"
"Saya tidak pernah menyembunyikan sesuatu, Mbak Alya memang sejak semalam pergi dan sampai tadi tidak ada pulang," sahut Emil gadis itu nampak sedikit gugup menghadapi kecurigaan seorang Arlan.
Suasana semakin mencengkam, Emil seolah kehabisan kata-kata, apalagi saat langkah anak buah Arlan satunya lagi menghampiri. Dia membawa sebuah resep obat yang dibungkus dengan kantong plastik.
"Apa itu?" tanya Arlan datar.
"Ini seperti obat Tuan," sahut salah satu anak buah Arlan.
Arlan langsung merebut kantong plastik itu dengan kasar. Namun seketika napasnya tercekat. Di dalamnya terdapat beberapa jenis obat, vitamin untuk ibu hamil, serta selembar surat hasil pemeriksaan dokter. Tangannya bergetar saat membaca isi surat itu. Di sana tertulis jelas bahwa kandungan Alya tergolong lemah dan membutuhkan istirahat total agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan janinnya.
Seketika tatapan Arlan kembali mengarah ke gadis itu dengan tajam, Emil yang berada di hadapannya kembali menyeret langkahnya, namun sayang tubuh berhenti di depan dinding pembatas.
Sementara Arlan semakin mendekat, tatapan keduanya hampir tak ada sekat. "Kamu mau pisahin antara aku dan anak kandungku?"
Emil menggeleng cepat. "Aku tidak memisahkan siapa pun. Aku hanya melindungi Mbak Alya."
"Kalau memang bayi itu anakku, aku berhak tahu keadaan mereka."
"Berhak?" Emil menatap Arlan tanpa gentar. "Saat Mbak Alya keluar dari rumahmu sambil membawa luka, di mana hak itu? Saat dia berjuang sendirian, di mana tanggung jawabmu?"
Arlan terdiam. "Aku memang terlambat menyadari semuanya. Tapi aku tidak akan menyerah mencari mereka."
Tidak lama kemudian. Tiba-tiba suara beberapa sepeda motor memasuki halaman kos.
Beberapa penghuni yang pulang saat jam istirahat mulai berdatangan. Mereka langsung menghentikan langkah ketika melihat beberapa pria berbadan besar memenuhi halaman.
"Ada apa, Mbak Emil?" tanya salah seorang penghuni.
Emil menghempaskan napas lega. Ia segera memanfaatkan kesempatan itu, untuk lepas dari cengkraman Arlan.
"Mas ini memaksa masuk dan mencari salah satu penghuni kost!"
Seketika para penghuni saling berpandangan. Beberapa langsung berdiri di samping Emil, sementara yang lain mengeluarkan ponsel.
"Kalau memang ada urusan, bicarakan baik-baik. Jangan mengintimidasi orang," ujar salah seorang penghuni dengan tegas.
Salah seorang bahkan berkata, "Kalau masih memaksa, kami panggil pihak berwajib."
Arlan mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya masih tertuju pada Emil, seolah berharap gadis itu berubah pikiran. Namun Emil membalas tatapan itu tanpa gentar.
"Aku sudah bilang, Mbak Alya sudah tidak ada di sini."
Menyadari situasi mulai dipenuhi banyak orang dan menjadi pusat perhatian, Arlan akhirnya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur.
"Kita pergi."
Arlan menatap bangunan kos itu untuk terakhir kalinya. "Aku pasti menemukanmu."
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu. Di rumah Dewa, suasana jauh lebih tenang. Alya duduk di taman belakang sambil menikmati gemericik air kolam kecil.
Mbok Ina diam-diam memotret Alya, lalu mengirimkannya kepada Dewa. "Tuan, Neng Alya sudah mulai betah."
Tak lama kemudian Dewa membalas dengan emoji senyum. Mbok Ina mengangguk puas sebelum kembali menemani Alya.
Suara gemericik air kembali memenuhi keheningan taman belakang. Alya yang semula memejamkan mata perlahan membukanya. Tatapannya menerawang ke arah kolam kecil di hadapannya, tetapi pikirannya justru melayang ke tempat lain.
Bayangan kamar kos kecil yang pernah menjadi tempatnya bertahan hidup kembali memenuhi pikirannya.
"Ya Allah..." gumamnya lirih.
Mbok Ina yang sedari tadi berdiri di sampingnya langsung menoleh. "Kenapa lagi, Neng?"
Alya tersenyum tipis, tetapi senyum itu terlihat dipaksakan. "Aku jadi ingat kamar kostku."
Mbok Ina menghela napas pelan baru saja ia merasa lega akan tetapi perempuan hamil di depannya itu seolah membuat ulah lagi.
"Neng masih kepikiran tempat itu?"
"Iya, Mbok. Di sana memang sederhana, tapi itu tempat pertama yang membuatku belajar berdiri sendiri. Di sana juga aku mulai menata hidupku lagi."
Wanita paruh baya itu mengusap bahu Alya dengan lembut. "Tapi sekarang kondisi Neng berbeda. Ada calon bayi yang harus dijaga, dan ingat kata dokter Neng harus bed rest."
Alya mengangguk pelan. "Aku tahu... cuma rasanya masih aneh tinggal di rumah semewah ini. Aku takut terlalu lama merepotkan Mas Dewa."
Mbok Ina tersenyum penuh pengertian. "Buat Tuan Dewa, menjaga Neng bukan beban."
Alya kembali memandang kolam kecil itu. Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak. Perasaan tidak tenang yang sempat hilang perlahan datang lagi, seolah ada firasat buruk yang sedang mendekatinya.
☘️☘️☘️☘️
Sementara itu Arlan yang sudah sampai di tempat perkumpulannya. Pria itu benar-benar tidak terima dengan kelakuan licik gadis pemilik Kostan itu. tangannya perlahan mengepal lalu ia hantam ke dinding sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
"Sial, gadis itu tahu tempat persembunyian Alya, awas saja," ancamnya.
"Bener banget Tuan, apa besok kita datangi lagi saja tempat itu," ujar salah satu anak buahnya.
Arlan menggeleng cepat. "Tidak jangan bertindak gegabah, lebih baik kita cari alamat rumah sakit tempat Alya priksa dan dari situ kita bisa tahu di mana tempat tinggalnya."
Tiba-tiba sebuah bayangan melintas di kepalanya. Kalau kandungannya lemah, Alya pasti harus kontrol rutin.
"Al, kali ini kau boleh bersembunyi di mana pun. Tapi aku yakin, rumah sakit akan membawaku menemukanmu."
Bersambung. .....
Selamat sore Kakak ...