"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28.Kepulangan yang membawa perubahan.
Roda taksi berhenti perlahan di halaman rumah keluarga Dermawan yang tampak megah namun terasa dingin dan asing bagi Ivy. Angin sore berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai daun kering di sepanjang jalan masuk yang tertata rapi namun tak pernah terasa hangat baginya. Ia menarik napas panjang saat melangkah turun, tangan kanannya mencengkeram erat gagang koper sederhana itu—satu-satunya harta pribadi yang ia miliki, berisi pakaian dan buku-buku kesayangannya, serta menjadi saksi bisu perjalanannya yang penuh lika-liku. Angka delapan puluh yang melayang di atas kepalanya masih terlihat terang dan stabil, memancarkan cahaya keemasan samar yang memberikan sedikit kekuatan saat ia melangkahkan kaki melewati pintu besi utama yang dulu terasa seperti gerbang penjara baginya.
Belum sempat ia menekan tombol bel, pintu depan terbuka lebar dari dalam. Bibi Nora berdiri di sana dengan senyum hangat yang tak pernah berubah sejak dulu, matanya langsung berkaca-kaca melihat Ivy berdiri tegak di hadapannya. Gadis itu tidak lagi tampak menderita, menunduk tak berdaya, atau berjalan dengan langkah ragu seperti saat ia meninggalkan rumah ini beberapa waktu lalu. Kini postur tubuhnya lebih tegap, sorot matanya lebih berani, dan ada pancaran semangat yang belum pernah terlihat sebelumnya di wajahnya.
“Nona Ivy! Syukurlah kau sudah pulang,” sapa Bibi Nora dengan suara lembut namun penuh sukacita, segera melangkah maju dan menyambutnya dengan pelukan erat sejenak sebelum mengambil alih koper dari tangan gadis itu. “Kau terlihat jauh lebih segar, bugar, dan bersemangat sekali,non.”
“Terima kasih banyak, Bibi Nora. Aku juga sangat senang mendengar kalian pulang. ” jawab Ivy dengan senyum tulus yang mengembang di bibirnya. “Mama ada dimana bi? Bukannya rencananya pulang minggu depan,kenapa sekarang?.”
Wajah Bibi Nora sedikit berubah menjadi lebih serius, namun tetap ramah saat menjawab dengan nada berbisik pelan. “Nyonya Lusi sudah ada di dalam, Nona. Beliau sedang berada di ruang tamu bersama Tuan Tio dan juga Nona Oliv. Kami mengkhawatirkan Nona.”
"Aku? Kenapa?. " Pertanyaan bertubi-tubi Ivy.
"Sebaiknya nona masuk dulu kedalam nanti juga tahu alasan kami pulang sekarang. "
Ivy mengangguk pelan, berusaha menenangkan degupan jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat. Ia memberi isyarat agar Bibi Nora menaruh kopernya di kamar dulu nanti, lalu berjalan perlahan menuju ruang tamu yang luas itu. Langkah kakinya ringan namun mantap, tidak lagi ragu atau takut seperti saat ia tinggal di sini sebelumnya—seolah ada kekuatan baru yang menyangga setiap langkahnya.
Baru saja ia berdiri di ambang pintu ruangan besar itu, sebuah suara tamparan keras terdengar sangat jelas memecah keheningan yang tegang.
Prak!
Mata Ivy membelalak kaget seketika. Tepat di hadapannya, Nyonya Lusi berdiri tegak dengan napas memburu, sementara pipi kiri Oliv memerah padam seketika, wajah gadis itu penuh rasa sakit, tak percaya, dan kesal.
“Beraninya kau melakukannya! Saat aku tidak ada di rumah dan tidak bisa mengawasi, kau malah menindas anak kandungku sendiri tanpa rasa bersalah sedikit pun!” bentak Nyonya Lusi dengan suara bergetar karena amarah yang sudah lama tertahan, menatap tajam ke arah Oliv yang mundur ketakutan hingga menyandarkan punggungnya ke dinding. “Selama ini aku diam saja melihat tingkah lakumu, berusaha sabar demi menjaga kerukunan keluarga. Tapi kau sudah melampaui batas kesabaran! Kau berani menjebak Ivy dengan tuduhan bohong, memfitnahnya di depan semua orang, dan membuat suamiku memihak padamu tanpa mau mendengar penjelasan atau mencari tahu kebenaran yang sebenarnya!”
Tuan Tio yang berdiri tak jauh dari situ segera melangkah maju dengan cepat, menarik Oliv ke dalam pelukannya seolah melindungi anak yang paling berharga baginya. Wajahnya tampak tidak terima, marah besar, dan menatap tajam ke arah istrinya.
“Kenapa kau malah menyalahkan Oliv? Lihatlah kondisinya sekarang! Tangannya masih dibalut perban tebal karena terluka parah saat didorong oleh Ivy!” sergah Tuan Tio dengan nada tinggi dan tegas, seolah tidak melihat kenyataan yang ada di depan mata, hanya melihat apa yang ingin ia percayai. “Ivy yang salah di sini! Dia yang kasar, tidak tahu diri, dan selalu membawa masalah ke dalam rumah ini!”
Nyonya Lusi terdiam sejenak, menarik napas panjang berusaha menahan amarah yang meluap-luap agar tidak kehilangan kendali sepenuhnya. Ia menyadari bahwa berteriak tidak akan mengubah pandangan suaminya yang sudah tertutup rapat oleh prasangka. Perlahan ia menoleh ke arah Ivy yang berdiri diam di pintu, dan raut wajahnya yang tadinya keras seketika melunak, digantikan oleh kekhawatiran yang mendalam dan kasih sayang yang tulus. Ia segera berjalan cepat menghampiri putrinya, menatap wajah Ivy dari dekat seolah ingin memastikan tidak ada satu pun luka, memar, atau tanda kesedihan yang tertinggal di sana.
“Kau baik-baik saja, sayangku? Tidak ada yang menyakitimu lagi, kan? Tidak ada yang berani berbuat kasar padamu saat aku tidak ada?” tanyanya lembut, tangannya mengusap pipi Ivy dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang selama ini jarang Ivy rasakan secara terang-terangan.
Ivy mengangguk pelan, matanya perlahan berkaca-kaca melihat perhatian ibunya yang begitu besar dan tulus. “Aku baik-baik saja, Ma. Tidak ada luka sedikit pun di tubuhku. Tapi… dari mana Mama tahu semua kejadian yang terjadi saat Mama pergi ke luar negeri?”
Nyonya Lusi tersenyum tipis sambil menepuk pelan punggung tangan Ivy yang dingin. “Mama tahu semuanya dari Rama. Begitu dia memberitahu apa yang kalian alami, betapa tidak adilnya tuduhan yang ditujukan padamu, dan betapa beratnya perlakuan ayahmu serta Oliv padamu, Mama langsung membatalkan semua rencana perjalanan dan pulang secepat mungkin. Mama tidak bisa tenang membiarkanmu sendirian di sini, Nak, di tempat yang ternyata belum bisa menerimamu dengan tulus.”
Belum selesai rasa haru itu mereda di dada Ivy, suara bentakan Tuan Tio kembali terdengar keras dari arah ruang tengah, menembus kesunyian yang baru saja tercipta.
“Akhirnya kau pulang juga, Ivy! Tahu pulang ternyata kau! Selama ini kau bersembunyi di mana saja? Membuat rumah ini semakin kacau dan penuh keributan saja dengan kehadiranmu!”
Nyonya Lusi seketika berbalik badan dengan gerakan mantap, tatapannya kini tajam dan tak lagi bisa ditawar. Selama bertahun-tahun ia sabar, menahan diri demi menjaga nama baik keluarga, demi menjaga perasaan suaminya, dan berharap suatu hari nanti hati Tuan Tio akan luluh dan berubah hati terhadap Ivy. Namun kini, melihat betapa dalamnya prasangka suaminya terhadap putrinya sendiri, kesabaran yang ia jaga selama ini akhirnya habis tak bersisa.
“Cukup! Hentikan semua ketidakadilan ini sekarang juga!” serunya lantang, suaranya bergema di seisi ruangan hingga membuat Tuan Tio tertegun sejenak. “Katakan jujur pada dirimu sendiri, Tio! Sebenarnya siapa anak kandungmu yang kau cintai dan kau hargai? Ivy atau Oliv? Mengapa kau selalu menutup mata terhadap kebenaran, selalu mengabaikan fakta, dan terus memihak pada gadis yang bukan darah dagingmu sendiri dengan cara yang begitu menyakitkan?”
Tuan Tio terbelalak tak percaya, tak pernah membayangkan istrinya yang selama ini lembut dan penurut berani menantangnya seperti ini di depan siapa pun. “Apa maksud perkataanmu itu, Lusi? Mereka berdua sama saja bagi anak-anakku! Aku menyayangi mereka berdua sama rata!”
“Tidak sama sekali! Itu kebohongan yang kau katakan pada dirimu sendiri!” potong Nyonya Lusi dengan tegas dan suara bergetar. “Jika kau masih terus bersikap pilih kasih, menuduh Ivy tanpa bukti, dan menyakiti hati putri kandungku dengan cara yang tidak adil seperti ini, lebih baik kita pergi saja sekarang juga, Nak. Kita tidak perlu tinggal di tempat mewah ini jika kehadiranmu tidak dihargai, tidak diinginkan, dan hanya dianggap sebagai sumber masalah oleh ayahmu sendiri.”
“Apa maksudmu, Lusi? Kau mau pergi ke mana? Jangan bertindak gegabah hanya karena emosi sesaat!” tanya Tuan Tio mulai panik, melangkah maju mencoba mendekat dan mencegahnya.
Nyonya Lusi tidak menjawab lagi pertanyaan itu. Ia menggenggam tangan Ivy dengan erat dan hangat, seolah takut putrinya akan hilang jika dilepaskan sedikit saja. Ia menatap Ivy dengan senyum penuh keteguhan dan harapan baru, lalu berbalik berjalan tegak meninggalkan ruang tamu yang penuh ketegangan itu. Bibi Nora yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan segera mengikuti di belakang mereka, membawa koper Ivy serta tas berisi barang-barang pribadi Nyonya Lusi yang sudah disiapkan diam-diam sejak beliau tiba di rumah.
Tuan Tio berusaha mencegahnya, melangkah cepat hingga menghalangi jalan di ambang pintu utama, namun kekuatan tekad Nyonya Lusi jauh lebih kuat dari sekadar penghalang fisik. Ia hanya menatap suaminya dengan pandangan sedih namun mantap, seolah mengatakan bahwa keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diubah lagi, lalu berjalan tenang melewati sisi sampingnya tanpa berhenti sedikit pun. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi rasa takut akan kehilangan status sosial, kemewahan, atau pendapat orang lain. Yang terpenting baginya sekarang adalah kebahagiaan, ketenangan, dan keselamatan Ivy—putri kandungnya yang selama ini terabaikan dan kesepian.
Mereka bertiga berjalan tegak keluar dari pintu depan, menaiki mobil pribadi yang sudah menunggu di halaman sejak tadi. Sopir segera menyalakan mesin kendaraan, dan perlahan mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah keluarga Dermawan, menjauh dari tempat yang menyimpan banyak luka lama, air mata, dan penolakan.
Di dalam mobil yang bergerak tenang membelah jalanan kota, Ivy menyandarkan kepalanya di bahu ibunya dengan perasaan lega yang luar biasa memenuhi dadanya. Angka 80 di atas kepalanya bersinar semakin terang dan kokoh, seolah menyambut langkah baru yang penuh harapan, kebebasan, dan kasih sayang yang tulus ini.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉