Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan Main Sang Tuan
Matahari kian meninggi, memancarkan sinarnya yang cerah menembus tirai tipis kamar utama yang luas dan sunyi.
Alice masih tak bergeming di sudut tempat tidur, memeluk lututnya sendiri di balik selimut tebal.
Isak tangisnya telah reda, menyisakan kesunyian yang hampa dan sepasang mata hazel yang bengkak serta menatap kosong ke arah lantai.
Baginya, setiap detik yang berlalu di dalam kamar ini terasa bagai detak lonceng yang menghitung mundur sisa-sisa hidup yang ia miliki.
Ceklek.
Suara kunci pintu yang terbuka kembali memecah keheningan. Tubuh Alice seketika menegang.
Ketakutan murni kembali merayapi dadanya saat sesosok pria dengan tubuh tinggi tegap melangkah masuk.
Elvano telah berganti pakaian, jubah mandi sutra hitamnya kini telah digantikan dengan kemeja flanel abu-abu tua yang digulung hingga ke siku dan celana kain hitam potongan ramping.
Penampilannya tampak sedikit lebih santai dibandingkan dengan setelan jas tiga potong yang biasa ia kenakan, namun aura kejam dan dingin yang dipancarkannya sama sekali tidak berkurang.
Di belakang Elvano, dua orang pelayan wanita paruh baya melangkah masuk dengan kepala tertunduk.
Mereka mendorong sebuah rak beroda berukuran besar yang dipenuhi oleh belasan gaun malam mewah, pakaian kasual berbahan sutra, serta mantel bulu yang tampak sangat mahal.
Di bagian bawah rak, berjejer rapi beberapa kotak sepatu bertuliskan merek desainer papan atas Paris dan Milan.
"Letakkan semuanya di dalam walk-in closet, lalu keluar," perintah Elvano pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari Alice.
"Baik, Tuan Besar," jawab para pelayan serempak.
Dengan gerakan cekatan dan tanpa suara, mereka memindahkan seluruh pakaian baru tersebut ke dalam ruang lemari kaca sebelum akhirnya membungkuk hormat dan melangkah keluar, mengunci kembali pintu ganda tersebut dari luar.
Kamar kembali sunyi.
Elvano melangkah mendekati ranjang, menghentikan langkahnya tepat di sisi tempat tidur tempat Alice meringkuk.
Ia menatap ke bawah, mengamati bagaimana gadis itu mencoba mengecilkan tubuhnya seolah-olah ingin menghilang dari pandangan sang Bos Mafia.
"Turun dari ranjang, Alice," ucap Elvano, suaranya bariton, rendah, dan dingin tanpa ekspresi.
Alice tidak bergerak. Ia justru semakin erat memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut ikal cokelat mudanya yang berantakan.
"Tolong... biarkan saya sendiri," bisik Alice dengan suara parau yang nyaris habis.
Rahang tegas Elvano mengeras.
Ia tidak terbiasa diabaikan, apalagi dibantah di rumahnya sendiri.
Dengan satu gerakan cepat, Elvano duduk di tepi ranjang.
Tangan besarnya yang berkulit kasar terjulur, menyusup ke balik helaian rambut Alice, dan dengan gerakan lembut namun mencengkeram kuat, ujung jari-jarinya menjepit dagu ramping Alice, memaksanya untuk mendongak dan menatap langsung sepasang mata cokelat gelap miliknya.
"A-Aakh..." Alice mengaduh kecil, tangannya secara insting memegangi pergelangan tangan Elvano, mencoba melepaskan cengkeraman tersebut.
Namun, tangan pria itu sekokoh lingkaran besi.
"Dengar baik-baik, Gadis Manis. Aku tidak suka mengulang kalimatku," desis Elvano, mencondongkan wajah tampannya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
Aroma maskulin dan tembakau mahal yang samar kembali menguar ke indra penciuman Alice.
"Mulai hari ini, hidupmu yang lama di luar sana sudah mati. Kau bukan lagi pelayan bar yang bisa berkeliaran sesuka hatimu di jalanan Kota ini."
Alice menatap mata gelap Elvano dengan air mata yang kembali menggenang di pelupis hazelnya.
"Anda tidak bisa mengurung saya seperti ini... ini melanggar hukum!"
Elvano justru mengeluarkan kekehan sinis yang terdengar sangat mengerikan.
"Hukum? Di Kota ini, akulah hukumnya, Alice. Pamanmu sudah menyerahkan seluruh hak atas dirimu kepadaku sebagai jaminan utang empat puluh miliar yang tidak akan pernah bisa dia bayar seumur hidupnya."
Cengkeraman Elvano di dagu Alice sedikit mengetat, menegaskan aturan main barunya.
"Maka ini aturan untukmu di mansion ini, Kau dilarang keras menginjakkan kaki satu langkah pun ke luar dari area mansion Salvatore tanpa seizinku. Jika kau mencoba melarikan diri, aku tidak hanya akan menyeret pamanmu ke adukan semen, tetapi aku juga akan memastikan seluruh keluargamu membusuk di dasar laut. Apakah kau mengerti?"
Alice memejamkan matanya, membiarkan sebutir air mata jatuh melewati ibu jari Elvano.
Rasa hancur di dadanya kian meremukkan sisa-sisa harapannya.
"Lalu... apa yang Anda inginkan dari saya?" bisiknya pasrah.
"Tugasmu sekarang sangat sederhana," ucap Elvano, suaranya merendah, bergetar sensual namun penuh akan kepemilikan yang gelap.
"Melayaniku. Kapan pun aku menginginkanmu, di mana pun aku membutuhkanmu, tubuh dan jiwamu adalah milikku. Kau hanya perlu duduk manis di dalam Mansion ini dan menuruti setiap perintahku."
Elvano perlahan melepaskan cengkeramannya dari dagu Alice.
Ia berdiri, merapikan kembali pakaiannya, lalu menatap Alice untuk terakhir kalinya pagi itu dengan pandangan posesif yang tidak biasa sebelum berbalik dan melangkah keluar dari kamar.
Begitu pintu kamar utama tertutup dan terkunci kembali, Elvano berdiri di koridor luar yang luas.
Suasana hatinya tampak tidak menentu.
Di satu sisi, ego mafianya merasa puas karena telah menundukkan mangsanya.
Namun di sisi lain, bayangan tubuh ramping Alice yang gemetar dan sepasang mata hazel yang menatapnya penuh kebencian semalam terus mengusik ketenangannya.
Dari ujung koridor, Mbok Nem kepala pelayan paruh baya berjalan mendekat dengan kepala tertunduk hormat.
"Tuan Besar," panggil Mbok Nem pelan.
Elvano menghentikan langkahnya, menoleh sedikit dengan ekspresi dingin yang kaku.
"Ada apa?"
"Mengenai Nona Alice... sejak subuh tadi beliau belum menyentuh makanan atau minuman sama sekali. Kami khawatir kondisi fisiknya akan menurun jika terus seperti ini," lapor Mbok Nem dengan nada khawatir.
Elvano terdiam sejenak. Biasanya, ia tidak akan pernah peduli apakah seorang wanita di rumahnya makan atau tidak.
Di dunianya, wanita-wanita yang datang dan pergi hanyalah hiasan sementara.
Namun, ingatan tentang betapa rapuhnya tubuh Alice di bawah kuasanya semalam mendadak membuat dadanya terasa sedikit sesak.
"Mbok Nem," panggil Elvano, suaranya datar namun terdengar sangat tegas.
"Iya, Tuan Besar?"
"Pastikan dia makan dengan baik. Jika dia menolak, cari cara apa pun agar makanan itu masuk ke perutnya. Masak makanan yang lembut dan bergizi untuknya," perintah Elvano.
Ia menjeda kalimatnya sejenak, membuang muka ke arah jendela koridor sebelum melanjutkan dengan nada yang agak canggung, "Dan... bawa kotak obat ke kamarnya. Rawat semua luka lecet di tubuh dan kakinya akibat... perjalanannya semalam. Pastikan kulitnya tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun."
Mbok Nem sedikit terkejut mendengar perintah tersebut.
Selama belasan tahun merawat Elvano sejak pria itu masih remaja di Sisilia hingga menjadi Bos di Jakarta, Mbok Nem belum pernah sekali pun melihat Elvano memberikan perhatian terselubung sedetail ini kepada seorang wanita, bahkan mantan istrinya sekalipun.
Biasanya, Elvano sangat tidak acuh dan kejam. Perubahan sikap ini adalah sebuah kejanggalan besar.
"Baik, Tuan Besar. Segera saya laksanakan," jawab Mbok Nem sembari membungkuk dalam, menyembunyikan senyum tipisnya yang penuh akan pemahaman.
Elvano kembali melangkah pergi menuju ruang kerjanya di lantai bawah dengan terburu-buru, seolah-olah ingin melarikan diri dari sisi lembut dirinya yang baru saja tanpa sadar ia perlihatkan.
Sang duda itu menolak mengakui bahwa di balik dinding arogan dan kekejamannya, kelinci kecil bermata hazel itu telah berhasil menanamkan perasaan aneh yang perlahan-lahan mulai mengikis kegelapan di dalam hatinya.