NovelToon NovelToon
Talakmu, Kebebasanku

Talakmu, Kebebasanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.

Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.

Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.

Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.

Mia terpuruk.

Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.

"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

"Alhamdulillah... masak sudah, mandi juga sudah. Sekarang tinggal menunggu azan magrib berkumandang," ujar Mia sembari menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Matanya terpejam sesaat. Bayangan sang suami muncul, membuat matanya terbuka lagi. "Edo ke mana ya? Kok belum pulang. Apa dia masih marah gara-gara pertengkaran tadi pagi?" Pertanyaan itu menguar di udara. "Ah, sudah lah. Untuk saat ini, aku tak mau memedulikan dia. Aku mau istirahat, mumpung nggak lembur." Baru saja ucapan itu usai, ponsel Mia berbunyi. Wanita berpiyama satin biru muda itu bangun dan menggapai ponselnya. "Mama Dedah nelepon... ada apa, ya?" gumamnya tak enak hati. "Hah! Pasti minta uang nih," kesahnya yang sudah hafal tabiat sang mertua. Meskipun enggan, Mia tetap mengangkat panggilan itu. "Assalamu'alaikum, Ma?"

Suara Dedah membalas nyaring. "Wa'alaikumsalam, Mia. Kamu sudah pulang kerja?"

"Sudah, Ma."

"Bagus lah. Soalnya Mama mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu," cerocos Dedah nyaring.

"Tentang apa, Ma?" Hati Mia mulai ketar-ketir.

"Begini, Mia... Wak Haji Dudung kan mau menikahkan anaknya besok lusa. Mama tuh nggak punya uang untuk isi amplop, kamu bisa 'kan kirim uang sekarang juga?"

"Tuh, kan... sesuai dugaan," batin Mia kesal.

Belum sempat Mia menjawab, suara ibu mertuanya menyerobot lagi. "Mia! Kamu dengar Mama, kan?"

Mia membuang napas kasar, "Dengar, Ma. Mama mau ngasih berapa?"

"Tiga ratus ribu."

Jawaban itu membuat mata Mia membelalak. "Banyak banget, Ma." Ucapan itu keluar begitu saja saking kagetnya.

"Itu nggak banyak, Mia. Malahan saudara yang lain pada ngasih lebih dari itu. Wak Haji Imas aja lima ratus ribu. Mama yang paling sedikit ngisi amplop dibanding yang lain."

Mia menggigit bibir bawahnya. "Maaf, Ma. Tapi aku nggak ada uang segitu. Di dompetku saja tinggal dua ratus dua puluh ribu. Itu pun harus cukup sampai gajian minggu depan." Walau takut kena semprot, Mia memberanikan diri untuk jujur.

Dan ketakutan Mia seketika itu juga jadi kenyataan.

"Kamu ini gimana, sih, Mia?" Suara Dedah langsung meninggi. "Tiga ratus ribu saja bilang nggak punya. Pelit banget jadi menantu!"

Mia terdiam. Jemarinya yang menggenggam ponsel semakin erat. "Bukan pelit, Ma. Aku memang benar-benar nggak punya uang sebanyak itu."

"Ah, alasan saja kamu!" sentak Dedah. "Gaji kamu besar, kan? Kamu juga katanya sering lembur. Belum lagi gaji Edo juga dikasihkan ke kamu semuanya. Harusnya uang kalian banyak!"

Mata Mia langsung membulat. "Gaji Edo... dikasihkan ke aku?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja karena Mia benar-benar terkejut.

"Iya!" jawab Dedah tanpa merasa ada yang aneh. "Edo bilang begitu sama Mama. Katanya semua uangnya kamu yang pegang."

Mia mengernyit. "Edo nggak pernah kasih gajinya ke aku, Ma."

"Hah?"

"Nggak pernah sepeserpun." Mia menelan ludah. "Selama ini uang hasil kerja Edo dia pegang sendiri. Aku bahkan nggak tahu berapa gaji yang ia dapat setiap minggunya."

Dedah terdiam sesaat, tetapi bukannya mempertanyakan Edo, wanita itu malah kembali menyalahkan Mia. "Ya sudah, pokoknya kamu cari uangnya! Masa cuma tiga ratus ribu saja nggak ada?"

"Ma, aku benar-benar cuma punya dua ratus ribu di dompet. Itu pun harus cukup sampai gajian minggu depan," ulang Mia.

"Dua ratus ribu?" Dedah mencibir. "Kamu ini memang pelit! Gaji kamu besar. Masa nggak bisa menyisihkan uang sedikit untuk keluarga suami?"

Mia memejamkan mata. "Bukan begitu, Ma. Aku juga punya banyak kebutuhan."

"Kebutuhan apa? Kontrakan? Makan? Itu kan bisa diatur!"

Mia menggigit bibir bawahnya. Ia ingin menjelaskan bahwa setiap rupiah dari gajinya sudah memiliki tujuan. Dan yang paling besar adalah cicilan motor Edo. Namun, ia tahu percuma menjelaskan panjang lebar kepada Dedah. "Ma, kalau seratus ribu, aku bisa kasih. Tapi kalau tiga ratus ribu, aku benar-benar nggak bisa."

"Ya ampun, Mia! Malu Mama kalau cuma ngasih seratus ribu!"

"Tapi aku memang nggak punya lagi, Ma."

"Harusnya kamu punya!" Nada suara Dedah semakin tinggi. "Jangan cuma bisa menikmati uang suami. Kamu itu harus pintar mengatur keuangan!"

Mia kembali terdiam.

Menikmati uang suami?

Bukankah selama ini justru Edo yang menikmati penghasilannya.

Namun, sebelum Mia sempat menyela, Dedah kembali berbicara. "Kadang Mama heran sama kamu. Sudah dikasih suami yang masih muda, kok malah banyak sekali perhitungan sama keluarga suami."

Mia langsung membeku. "Ma..."

"Kamu itu harusnya bersyukur, Mia. Nggak semua perempuan seumuran kamu bisa mendapatkan laki-laki muda seperti Edo."

Hati Mia seketika terasa nyeri. Lagi-lagi usia. Entah sudah berapa kali Dedah menjadikan perbedaan usia mereka sebagai alasan untuk merendahkan dirinya.

"Edo itu masih muda. Banyak perempuan yang lebih muda dan lebih cantik daripada kamu yang mau sama dia. Jadi, jangan sampai sikap pelitmu ini membuat dia berpaling dari kamu."

Mata Mia mulai berkaca-kaca. "Aku nggak pelit, Ma. Aku benar-benar nggak punya uang sebanyak itu."

"Pokoknya Mama nggak mau tahu! Besok, kamu harus kirim tiga ratus ribu ke Mama," tegas Dedah.

"Tapi, Ma-" Sambungan telepon diputus dengan kasar oleh sang mertua. Mia masih memegang ponselnya di dekat telinga. Beberapa detik ia hanya diam. Perlahan, ponsel itu ia turunkan. "Jadi selama ini, Edo bilang ke Mama kalau gajinya diberikan ke aku..." Kepalanya menggeleng pelan. "Kenapa coba dia harus berbohong seperti itu? Atau dia sengaja, supaya aku dicap sebagai istri yang boros dan tak bisa mengatur uang?" bisik Mia dengan mata yang akhirnya basah.

_______

"Gimana, Do, permintaan pertemanan yang lo kirim ke si Salma udah diterima, belum?"

Edo yang baru saja keluar dari kamar mandi di rumah Ohang menyeringai tipis. "Udah, dong. Barusan sambil boker, gue juga udah inboxan lho, sama dia. Haha..."

Ohang ikut tertawa. "Serius, Do?"

Edo mengangguk, menunjukan layar ponselnya ke Ohang. "Nih baca aja sendiri kalau lo nggak percaya."

Ohang merebut ponsel itu. "Wihh... beneran terpikat tuh janda. Sampai ngajak lo ketemuan segala!" serunya heboh.

"Kata gue juga apa?" Edo menepuk dadanya bangga. "Nggak akan ada perempuan yang bisa menolak pesona seorang Edo Perwira."

"Sip! Sip!" Jempol Ohang terangkat dua-duanya. "Kapan lo bakal memenuhi ajakannya buat ketemu?" lanjut lelaki berbadan tambun itu penasaran.

"Besok kayaknya. Malam ini gue mau pulang dulu ke kontrakan. Mau minta duit ke si Mia. Sekalian bawa baju ganti buat besok malam."

"Oke, Do. Hati-hati di jalan. Besok lo nginep aja di sini."

"Iya, Hang. Besok gue nginep kok di sini. Mudah-mudahan aja besok malam gue bisa langsung mengerjai tuh janda, biar uang satu juta gue langsung cair." Edo tertawa kencang di akhir ucapannya.

Ohang juga tertawa. "Aman, Do. Ada video, uang pun ada."

_______

Suara motor terdengar berhenti di depan kontrakan. Mia yang sejak tadi tiduran di kasur langsung membuka mata. Ia mengenali suara kendaraan tersebut.

Beberapa detik kemudian, pintu berderit pelan, dan tirai kamar pun terbuka.

Edo masuk dengan wajah yang jauh lebih tenang dibandingkan pagi tadi. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap Mia yang masih berbaring membelakanginya. "Mia..." Mia tidak langsung menjawab. Edo berjalan mendekat, kemudian duduk di tepi kasur. "Kamu masih marah sama aku?"

Mia menggeleng pelan. "Nggak." Masih dalam posisi membelakangi Edo.

"Maafin aku soal tadi pagi, ya." Suara Edo terdengar lembut. "Aku kebawa emosi."

Mia akhirnya membalikkan tubuhnya, bangun dan menatap suaminya. "Iya."

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Mia tanyakan. Terutama tentang perkataan Dedah. Tentang gaji Edo yang katanya diberikan kepadanya. Namun, Mia mengurungkan niat itu. Ia tidak ingin pertengkaran kembali terjadi. "Do..."

"Hm?"

"Tadi Mamamu telepon."

Wajah Edo sedikit berubah. "Mau apa?"

Mia menjawab, "Minta uang. Katanya Wak Haji Dudung mau menikahkan anaknya besok lusa. Mama minta dikirim uang tiga ratus ribu buat isi amplop."

"Terus kamu jawab apa?"

"Aku nggak punya uang sebanyak itu." Mia menunduk. "Di dompetku tinggal dua ratus ribu. Itu juga uang bekal sampai gajian. Tadi aku bilang kalau cuma bisa kirim seratus ribu. Tapi Mama malah marah. Dan kukuh minta tiga ratus ribu."

Edo mengangguk santai. "Udah, biar aku yang kirim uang ke Mama."

Mia menatap Edo dengan pandangan setengah tak percaya. "Memangnya kamu punya uang?"

"Itu mah gampang." Edo kemudian mendekat dan menarik Mia ke dalam pelukan. "Uang seratus ribunya buat aku aja, ya. Rokokku habis, bensin juga kosong."

Mia mengernyit di dalam pelukan Edo. "Tapi, Do, uang itu-" Belum sempat Mia menyelesaikan ucapannya, tangan Edo sudah lebih dulu meremas sebelah dadanya, membuat tubuh Mia menegang spontan.

Edo menundukkan wajah ke dekat telinga istrinya. "Jangan mikirin uang dulu, Mia. Aku lagi pengen. Udah lama aku nggak mengunjungi belahan kamu."

Mia menahan napas. "Do..."

"Sttt!" Dengan cepat, Edo mendorong Mia ke kasur dan menindihnya.

1
nunik rahyuni
lanjuut thor ..pingin liat versi edo setelah diusir ...🤣🤣🤣laki kok ssmpe diusir. itu tandanya lakianya g modal g becus g guna mokondo benalu gpokoknya g ada baik2 nya ...biar tau rasa busuk si otong lumpuh layu 😅😅😅😅
Ama Apr: Pasti kk, nantikan sj
total 1 replies
Dartihuti
Nikmati hasil jerih payahmu Mia bahagia ...laki mokondo ky Eduuu ...tinggal nunggu penyesalannya betulkah dng mudah dpt'i cewek lbh dr mu?krn merasa ganteng,tgl tar blg'i ...makan tu gantengmu
😁😁🤭
Ama Apr: Ganteng doang nggk ada duit dan nggak mau kerja mh buat apa ya. Wajah ganteng tk akan bisa mengenyangkan perut🤣
total 1 replies
Lucy
syukurlah Mia kau bisa menikmati hasil jerih payahmu sendiri tanpa berbagi dgn Edo bayar tagihan motornya🤣🤣
Ama Apr: iya kk🥰
total 1 replies
Ma Em
Mia kamu harus cepat move on lupakan laki mokondo dan selalu bahagia setelah berpisah dgn Edo , semoga dapat pengganti Edo lelaki yg lbh baik yg cinta dan sayang pada Mia , Edo pasti menyesal dan akan dapat karmanya karena sdh jahat pada Mia dan selalu menyiksanya .
Ama Apr: Aaamiin🥰
total 1 replies
nunik rahyuni
kok cuma fikit thor. lanjuuuuy thooor
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪
Ama Apr: hehe, iya, nnti lnjut lg
Ah, jng dlu lah, aku mau buat dia pusing 7 keliling dulu🤣
total 1 replies
Lucy
lanjut thor😃Mia ceritakan KDRT yg di lakukan Edo terhadapmu jgn hnya talak 3 yg kau ceritakan, semua kau ceritakan ke org tuamu biar mereka paham👍
Ama Apr: Pasti Kk. Oke
total 1 replies
nunik rahyuni
gpp janda asal bahagia ...bebas dari laki mokondo..👍
Ama Apr: betul tul
total 1 replies
Ma Em
Mia jadi janda bkn aib daripada hdp Mia tersiksa lbh baik berpisah dgn Edo benalu sok kegantengan banget , ganteng kalau kere juga cewe mandi kir dia kali atuh , semoga Mia bahagia setelah bercerai dgn Edo dan dapat pengganti Edo lelaki yg lbh baik cinta dan sayang juga bertanggung jawab pada Mia jgn seperti seperti si Edo .
Ama Apr: Aaamiin🥰
total 1 replies
EmakKece
mending jd janda terhormat, drpada hidup sm manusia jelmaan iblis mia
Ama Apr: Iya bnr, bebas2 make uang sendiri
total 1 replies
Lucy
lebih baik JD janda Mia drpd di pukuli dan diselingkuhi oleh Edo 🤭JD janda LBH bahagia mia🤣🤣🤣
Ama Apr: ahihihi🫰
total 9 replies
EmakKece
Triple Up thor 🤭
Ama Apr: haha nanti2 y kk aku blum nabung bab🤭
total 1 replies
Ma Em
Akhirnya Mia terbebas dari Edo si mokondo benalu yg tdk tau diri maunya cuma porotin uang Mia doang , semoga Mia makin sukses setelah bercerai dari si benalu biar saja pasti Edo yg akan menyesal karena sdh membuang ATM berjalan nya .
Ama Apr: Aamiin, tinggal mia menikmati hidup sekarang
total 1 replies
✨Kayla Rane✨
sudah lega ya Mia, biarin ntar hidupnya si edo blangsak 😆
Ama Apr: Iya lagi, siapa yg byr cicilan motor🤣
total 1 replies
Ma Em
Syukur Alhamdulillah akhirnya Mia sdh lepas dari Edo suami benalu sukanya selingkuh tdk tau diri , semangat Mia semoga Mia bahagia dan sukses setelah berpisah dgn Edo .
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🥰
total 1 replies
Nice1808
Akhirnya mia bebas dr Edo bangsat🤣🤣🤣
Ama Apr: iya hehe
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
othoooooorrr...q padamu alapiyu se keboooonnn lap lap lap pokok nya❤️❤️❤️meskipun sabuk hitam🥋 si mia gk dikeluarkan🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: Haha iya kk, nyaris hilang nyawa dia. Tp sudah lah ya, edo bebas juga
total 1 replies
✨Kayla Rane✨
Alhamdulillah akhirnya cerai juga😤
Ama Apr: Walau nyaris bbk belur
total 1 replies
EmakKece
gak disini gak di cerita satunya, aku misuh2 mulu perasaaan. emang dasar si othor mah 🤧
Ama Apr: maaf y kk🤭
total 1 replies
EmakKece
laki ky kamu sempurna??? dasar gendeng !!
Ama Apr: biasa NPD🤣
total 1 replies
Dartihuti
Mokondo...kerasukan di lawan,bkn bukti" di tranfer ke hp'm ih ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!