NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Ruangan bawah pelabuhan itu perlahan-lahan mulai terasa hidup kembali. Damar menyalakan ventilasi tua di sudut ruangan hingga suara dengung rendah memenuhi udara. Nara mulai merapikan dokumen yang dibawanya di atas meja besar, sementara Han memeriksa kondisi senjatanya satu per satu dengan gerakan tenang dan efisien.

Sementara Arga seperti biasa, adalah orang pertama yang tidak bisa diam. Ia berdiri di depan lemari besi yang masih terbuka, memandangi tumpukan map dan amplop tebal berlogo Helios.

Rasa penasarannya jelas menang telak.

“Jadi…” katanya sambil melirik Han, “…semua ini rahasia besar organisasi super misterius?”

Han sedang memeriksa magazen pistol.

“Sebagian.”

“Dan lu nyimpen beginian bertahun-tahun?”

“Ya.”

Arga menatap tumpukan dokumen itu seperti anak kecil melihat brankas penuh mainan puzzle.

“Kalau gitu kita harus lihat.”

“Jangan sentuh yang tidak perlu.”

“Telat.”

Sebelum Han sempat menghentikannya, Arga sudah mengambil salah satu map yang tipis. Ia membukanya cepat.

Alisnya langsung berkerut. “Lah, apaan nih?”

Nara mendekati Arga yang bingung, “kenapa?”

“…Ini angka semua.”

Lembar demi lembar berisi tabel panjang, deretan kode, koordinat, klasifikasi, dan simbol teknis yang tidak familiar buatnya. Arga membolak-balik halamannya dengan ekspresi kecewa berat.

“Ini kayak lihat laporan server dalam bahasa alien.”

Han melirik sekilas.

“Itu data distribusi.”

“Distribusi apa?”

“Kalau kamu bisa baca, kamu pasti tahu.”

Arga mendecakkan lidahnya.

“Nah itu masalahnya. Gue ini hacker, bukan analis kriptografi.”

Ia melempar map itu kembali ke meja.

“Kalau di suruh bobol sistem, gampang. Tapi disuruh baca beginian, otak gue langsung logout.”

 “Kenapa sih semua organisasi jahat itu selalu suka dengan angka?” tambahnya lagi.

Nara menahan senyum melihat Arga yang masih menggerutu walau pelan tapi tetap terdengar. Namun bukannya menyerah, ia justru mengambil amplop lain. Warnanya lebih gelap. Tidak ada label selain kode merah kecil di pojok amplopnya.

Han yang melihat Arga mengambil amplop itu langsung menegang.

“Arga!.”

Tapi terlambat, amplop itu sudah dibuka Arga. Beberapa lembar foto yang tercetak, jatuh ke atas meja. Dan dalam satu detik, ekspresi santai Arga langsung lenyap. Ia  terdiam, Nara yang berdiri cukup dekat dengannya dengan refleks melihat isi foto-foto itu. Napasnya langsung tercekat.

Foto pertama memperlihatkan ruangan putih panjang.

Puluhan anak-anak berdiri berjajar mengenakan pakaian seragam polos dengan rambut kepala mereka yang dicukur habis. Wajah-wajah kecil itu terlihat kosong. Di belakang mereka berdiri orang-orang memakai baju medis.

Tidak ada senyum dan tidak ada ekspresi.

Foto kedua jauh lebih buruk.

Seorang pria dewasa yang terikat di kursi logam, tubuhnya penuh luka seperti bekas sayatan benda tajam. Di belakang foto terdapat cap kode klasifikasi.

Foto ketiga, Nara langsung menutup mulutnya. Tubuh tanpa kepala tergeletak di lantai beton. Bagian lehernya bersih seperti dipotong dengan alat presisi. Di sampingnya ada kotak logam khusus dengan nomor identifikasi.

Dan foto-foto berikutnya, lebih mengerikan.

Tubuh manusia yang terbuka lebar dengan sebagian organ dalamnya telah dikeluarkan dan disusun dalam wadah transparan.

Sementara difoto lainnya, foto anak-anak yang tampak terlalu kurus berdiri dalam ruangan yang tertutup. Ruangan itu seperti laboratorium. Dengan kode-kode, nomor dan tanggal.

Dokumentasi yang terlalu rapi untuk sesuatu yang seharusnya sangat mustahil. Arga menatap semuanya dengan wajah pucat total.

Tangannya gemetar.

“Han…” Suaranya hampir tak keluar, “…ini beneran?”

Ruangan mendadak sunyi. Han menutup matanya sesaat. Ia tahu persis isi amplop itu. Dan ia tahu siapa yang dulu mengambilnya.

“Itu bukti internal,” jawabnya pelan.

Arga menatapnya tak percaya.

“Bukti apa?”

Han menatap foto-foto itu. Tatapannya berubah dingin.

“Eksperimen.”

Satu kata itu membuat ruangan terasa seperti kehilangan udara. Arga mundur satu langkah lalu dua. Wajahnya mulai berubah pucat. Ia menutup mulutnya dan tanpa berkata apa-apa langsung berlari ke ujung ruangan. Pintu kamar mandi tua terbuka, terbanting dngan suara keras. Beberapa detik kemudian suara muntah terdengar jelas.

Nara memalingkan wajahnya, perutnya mendadak jadi mual. Damar menghela napas berat lalu mengambil foto-foto itu, menumpuknya kembali dengan gerakan hati-hati.

“Makanya gue bilang, jangan asal buka.”

Han berdiri diam. Tangannya terkepal dengan ekspresi wajah yang kosong. Namun Nara bisa melihat rahangnya menegang. Ia melangkah mendekat ke meja dan menatap amplop itu.

“Helios yang melakukan ini?”

Han mengangguk, “…dan masih banyak lagi dari yang ada di situ.”

Nara merasa tenggorokannya mengering.

“Anak-anak itu…”

“Proyek rekrutmen.”

Jawaban Han terlalu cepat, seolah-olah ia sudah hafal isi dokumen itu. Dan mungkin memang begitu. Nara menatapnya lekat.

“Kamu tahu semua ini?”

Sunyi beberapa detik, lalu Han menjawab, “Ya, aku sudah lihat sebagiannya.”

Nada suaranya datar tapi justru itu yang membuat jawabannya terasa lebih berat. Damar menutup amplop rapat-rapat lalu meletakkannya kembali ke lemari besi.

“Kita bahas ini nanti.”

Han tidak menjawab.

Suara flush toilet terdengar dari ujung ruangan. Beberapa saat kemudian Arga keluar dengan wajahnya yang masih pucat. Ia melangkah dengan goyah. Ia menatap Han seperti baru melihat orang yang sama sekali berbeda.

“Gue…” Ia menelan ludahnya dengan dalam. “…gue nyesel buka itu.”

Tidak ada yang menyalahkannya. Arga berjalan lemas ke kursi terdekat lalu duduk. Tangan yang masih gemetar mencoba mengusap wajah berkali-kali, berusaha menghilangkan gambaran itu dari pikirannya.

“Gue ngga bakal bisa tidur malam ini.”

Biasanya kalimat seperti itu akan ia ucapkan sambil bercanda tapi kali ini tidak. Nara kemudian duduk di sebelahnya sambil menyerahkan air minum.

“tenang ,…tarik napas.”

Arga mengangguk kecil, masih berusaha menenangkan diri. Ia menatap lantai cukup lama sebelum akhirnya bicara lagi sambil menatap Han

“Kalau itu semua benar…kenapa lu simpan semua ini?”

Han terdiam cukup lama. Lampu neon berdengung pelan di atas mereka. Lalu akhirnya ia menjawab, dengan suara jauh lebih rendah dari biasanya.

“Karena suatu hari…” tatapannya jatuh pada amplop merah itu, “…aku tahu aku harus kembali.”

Ruangan kembali sunyi, namun sekarang kesunyian itu berbeda. Bukan lagi sekadar perasaan tegang karena dikejar-kejar. Melainkan satu kesadaran bahwa mereka baru saja membuka sesuatu yang jauh lebih besar, lebih gelap, dan lebih mengerikan daripada sekadar organisasi kriminal.

Dan akhirnya, Arga benar-benar mengerti kenapa Han tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!