Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.
Tak lama kemudian mereka tiba di rumah. Setelah memarkir motor di halaman, Zeya langsung turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Gadis itu menaiki tangga dengan cepat lalu masuk ke dalam rumah.
Daniel segera menyusul dari belakang. "Aku mandi dulu. Badanku rasanya lengket semua."
Pemuda itu mengambil handuk lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
"Iya," jawab Zeya singkat.
Sambil menunggu Daniel selesai mandi, Zeya mengambil baskom plastik lalu mengisinya dengan air hangat dari termos. Setelah itu, ia menyiapkan kapas, botol alkohol, salep pemberian Bu Bidan, dan beberapa lembar kasa bersih dari dalam plastik kecil.
Sekitar lima belas menit kemudian, Daniel keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana pendek rumahan. Dada bidang dan perut sixpack-nya masih terbuka, sementara rambutnya tampak sedikit basah.
"Kenapa nggak pakai baju?" tanya Zeya sambil mengernyit heran.
Daniel mengangkat kedua bahunya. "Biar gampang mengolesi salepnya."
"Kamu nggak berusaha menggodaku, kan?" tanyanya lagi seraya memutar bola mata. "Bukankah sudah sepakat akan melakukannya setelah kita benar-benar siap?"
"Siapa bilang aku mau menggodamu?" Daniel tertawa jahil meski merasakan perih pada sudut bibirnya. "Memangnya kamu mikir apa? Oh, aku tahu. Ternyata kamu nggak sepolos itu." Diusapnya kepala sang istri dengan gemas.
Wajah Zeya seketika memerah. Matanya membelalak karena malu. "A-aku bukan mikir begitu!" bantahnya gugup.
"Cepat sini! Aku obati lukamu," ucapnya mengalihkan topik pembicaraan.
Tawa Daniel makin lebar melihat tingkah istrinya yang salah tingkah. Tanpa membantah, ia langsung duduk bersila di hadapan Zeya.
Dengan hati-hati, Zeya menuangkan sedikit alkohol ke kapas, lalu mulai membersihkan luka di pelipis, pipi, hingga lecet di tangan Daniel.
"Kenapa tadi kamu nggak langsung melawan dari awal, sih? Kenapa malah menghindar terus?" tanyanya sedikit kesal bercampur khawatir.
"Mereka sengaja memancing emosiku," jawab Daniel sembari meringis ketika alkohol menyentuh lukanya. "Kalau aku terpancing duluan, mereka bisa saja memutarbalikkan fakta dan mencari alasan untuk menjatuhkan kita."
"Iya, tapi mereka bawa senjata. Gimana kalau mereka benar-benar melukaimu lebih parah?" Suara Zeya mulai bergetar.
"Aku cuma bertahan sambil mencari kesempatan. Kalau mereka tetap memaksa, tentu aku akan melawan." Daniel tersenyum tipis. "Untung kamu datang tepat waktu. Jadi semuanya bisa cepat selesai."
Zeya menghentikan gerakan tangannya sejenak. Matanya mulai memerah.
"Tahu nggak gimana perasaanku waktu dengar kamu dikeroyok? Aku takut... takut banget kalau terjadi sesuatu sama kamu, Niel." Suaranya nyaris pecah. "Kamu paham nggak, sih?"
Bayangan ketika salah seorang preman mengayunkan balok kayu ke arah Daniel kembali terlintas di benaknya. Jantungnya masih berdegup kencang setiap mengingat kejadian itu. Andai saja ia datang terlambat beberapa menit, ia bahkan tak sanggup membayangkan apa yang mungkin terjadi. Tanpa sadar, kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Daniel yang melihat perubahan raut wajah istrinya langsung meraih tangan Zeya dengan lembut. "Hei..." panggilnya pelan. "Lihatlah, aku baik-baik saja. Lukaku cuma lecet. Jangan bersedih, ya."
Zeya mengangkat wajahnya perlahan. "Bukan karena lukanya...tapi aku takut kehilangan kamu," bisiknya lirih.
Kalimat itu membuat senyum di wajah Daniel perlahan memudar. Dia menatap manik hitam milik Zeya dengan tatapan teduh.
"Aku janji akan lebih berhati-hati. Aku juga nggak akan sembarangan mempertaruhkan nyawaku. Aku masih punya kamu... jadi aku pasti akan pulang."
Mendengar ucapan itu, setitik air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Zeya. Gadis itu segera mengusapnya, lalu kembali mengoleskan salep ke luka-luka Daniel sambil berusaha menenangkan dirinya.
Daniel tersenyum, hatinya dipenuhi kehangatan. Di balik sikap Zeya yang selama ini terlihat tenang meski sedikit cuek, ternyata tersimpan rasa sayang yang begitu besar kepadanya.
"Nah, selesai," ujar Zeya sambil tersenyum manis.
"Terima kasih, dokter cintaku," balas Daniel sambil mengedipkan sebelah matanya.
Zeya mendengus pelan sembari menutup botol salep. "Ish... Kamu ini bisa aja, gombalnya."
Pipi Zeya langsung merona. Ia buru-buru memalingkan wajah menyembunyikan agar rasa malunya.
Daniel tak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya. Baginya senyum Zeya kembali merekah membuat rasa sakit yang dirasakannya seolah tak berarti.
Sementara itu, di dalam hati Zeya sendiri, perlahan tumbuh sebuah perasaan yang belum pernah ia sadari sebelumnya. Debaran di dadanya bukan lagi sekadar rasa khawatir kepada sahabat yang telah menemaninya sejak kecil, melainkan ketakutan yang begitu besar akan kehilangan sosok pemud yang kini telah menjadi suaminya.
.
.
.
Malam harinya mereka pergi ke rumah Pak RT, berniat mengembalikan sepeda motor sekaligus ada keperluan yang lain. Kedatangan keduanya langsung disambut dengan hangat.
"Mari-mari, silakan masuk," ucap Pak RT sambil tersenyum ramah.
Namun, sesaat kemudian senyum itu memudar berubah menjadi keterkejutan. "Loh, itu wajah Nak Daniel, kenapa? Jatuh atau..." Kalimatnya menggantung di udara.
"Tadi, sewaktu pulang dari seminar dan saat tiba di jalanan sepi pinggir hutan, ada tiga orang pria menghadang saya," jelas Daniel menjawab rasa ingin tahu Pak RT.
"Astaghfirullah..." gumam pria paruh baya itu, raut wajahnya tampak iba.
"Mereka bilang, agar saya mengurungkan niat menyewa lahan Pak Hadi, karena bos mereka menginginkan lahan tersebut," lanjutnya menambahkan.
Kemudian Daniel menceritakan secara singkat sampai terlibat perkelahian dengan mereka.
"Kira-kira siapa orang itu, Pak? Apakah dia orang yang berkuasa di sini?" sambung Zeya.
Raut wajah Pak RT seketika memucat. Sesaat kemudian pria itu duduk di kursi menatap pasutri muda itu dengan pandangan serius.
"Jadi, sebenarnya ada warga di sini yang memang sudah mengincar lahan milik Pak Hadi sejak lama, dan orang adalah Juragan Bahar." Pak RT menarik napas panjang sejenak.
"Dia itu tuan tanah sekaligus rentenir. Banyak warga Desa Sekar yang terjerat hutang padanya dan berakhir harus merelakan lahan mereka disita karena tidak sanggup membayar," bisik Pak RT, seolah takut suaranya terdengar dari luar.
Daniel dan Zeya tampak tertegun sesaat, keduanya saling pandang dalam diam, bola mata mereka sedikit melebar mendengar fakta mencengangkan tentang Desa Sekar.
"Apa tidak ada warga atau perangkat desa yang berani melaporkannya ke pihak berwajib, Pak?" tanya Daniel.
"Benar, kalau memang bukti sudah ada, seharusnya bisa diadili," timpal Zeya.
"Dulu pernah ada yang melaporkannya, tapi karena justru si pelapor yang berakhir di penjara," jawab Pak RT.
"Sejak saat itu, tidak ada yang berani menyentuhnya."
Daniel dan Zeya kembali saling berpandangan, lalu mengangguk pelan.
"Tapi, kami tidak ingin mundur untuk mendapatkan lahan itu, Pak," ucap Daniel dengan yakin. "Kalau perlu kami ingin membelinya berapa pun harga yang Pak Hadi tawarkan!" imbuhnya menegaskan.
Pak RT terdiam tak mampu berkata-kata. Diratapnya pemuda di hadapannya dengan pandangan penuh makna. "Sebenarnya siapa, mereka?"