Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
***
Lilianne menatap cairan bening di dalam cawan perak itu dengan jemari yang masih gemetar. Uap tipis yang menguar membawa aroma herba yang menenangkan, namun kecurigaan telah menjadi insting alaminya sejak tinggal di Sayap Timur. Ia mendongak, menatap mata Ratu Isolde yang tajam namun menyimpan semburat kelelahan yang sangat akrab di mata Lilianne kelelahan seorang wanita yang telah lama hidup di balik topeng.
Ratu Isolde terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar pahit dan kering. "Jika aku ingin membunuhmu atau bayimu, aku tidak akan melakukannya di istanaku sendiri saat seluruh raja sedang berkumpul, Putri. Aku bukan pria ceroboh seperti suamimu atau putraku yang haus kekuasaan. Aku lebih menghargai kebersihan lantai marmerku daripada darah seorang Putri Mahkota."
Lilianne akhirnya meminum isi cawan itu sedikit demi sedikit. Rasa hangat segera menjalar ke kerongkongannya, meredakan mual dan perlahan-lahan mengendurkan ketegangan di otot rahimnya. Sensasi nyeri yang tajam mulai melunak menjadi denyutan tumpul.
Keheranan Lilianne mencapai puncaknya saat Ratu Isolde duduk di hadapannya, menanggalkan kipas bulunya, dan menatap Lilianne dengan rasa iba yang nyata—sebuah ekspresi yang tidak pernah Lilianne dapatkan di lingkungan Kekaisaran Valerieth.
"Berapa lama dia memperlakukanmu seperti ini, Lilianne?" tanya Ratu Isolde tiba-tiba, memecah keheningan yang hanya diisi oleh suara derak perapian.
Lilianne tersedak airnya, terbatuk kecil sambil mengusap bibirnya yang pucat. "Saya... saya tidak mengerti maksud Anda, Yang Mulia Ratu. Hubungan saya dan Yang Mulia Putra Mahkota..."
"Jangan bermain peran denganku, Nak. Aku telah menjadi seorang Ratu selama tiga puluh tahun. Aku telah melihat ribuan sandiwara di aula perjamuan itu," potong Isolde, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Lilianne, matanya memicing ke arah pergelangan tangan Lilianne yang tersembunyi di balik renda gaunnya. "Aku melihat cara Arthur mencengkeram lenganmu di aula—itu bukan pegangan seorang suami yang protektif terhadap istrinya yang hamil, melainkan ketakutan tawanannya akan lari. Dan bekas merah di lehermu yang coba kau tutupi dengan bedak tebal itu..."
Isolde menjeda sejenak, tatapannya melembut namun menyakitkan. "...Aku tahu itu bukan tanda cinta. Itu adalah tanda kepemilikan yang dipaksakan. Tanda dari seorang pria yang ingin menanamkan kukunya pada setiap inci kulitmu."
Jantung Lilianne berdegup liar. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat di balik tembok Sayap Timur seolah terbongkar hanya dalam sekali pandang oleh wanita di depannya. "Yang Mulia, Anda..."
"Dia memang benar-benar mirip dengan ayahnya, bukan? Seraphina juga berkata seperti itu dulu," ucap Ratu Isolde pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Mendengar nama mendiang mertuanya disebut dengan nada begitu akrab, Lilianne terkejut hingga cawan di tangannya hampir terjatuh. "Anda... mengenal mendiang Ratu Seraphina?"
"Jangan terlalu terkejut," Isolde menyandarkan punggungnya pada kursi kayu ek yang kokoh. "Seraphina dan aku dulu adalah sahabat dekat sebelum kami berdua dijual ke dalam pernikahan ini. Sebelum kami menikah dengan para raja yang haus akan kuasa. Kami berbagi rahasia yang tidak diketahui oleh sejarah Valerieth maupun Aethelgard. Bedanya, dia lebih memilih pergi dengan kenyamanan di bandingkan dengan tekanan kekuasaan yang mencekik."
Lilianne merasa seolah-olah ia baru saja menemukan sebuah pintu rahasia menuju sejarah yang sengaja dikubur. Ia berusaha memberanikan dirinya, rasa ingin tahunya sejenak mengalahkan rasa sakit di tubuhnya.
"Bagaimana... bagaimana sosok mendiang Yang Mulia Ratu Seraphina di mata Anda, Yang Mulia Ratu? Yang saya dengar di istana, beliau adalah wanita yang lemah lembut yang meninggal karena sakit."
Isolde menyesap tehnya, lalu menarik napas panjang. Tatapannya menerawang ke arah api di perapian. "Lemah lembut? Oh, Nak, sejarah selalu ditulis oleh pria untuk membuat wanita terlihat rapuh. Seraphina adalah wanita yang cantik, cerdas, dan berwibawa. Dia benar-benar wanita sempurna. Bahkan jika ia disandingkan dengan Yang Mulia Raja Valerius, suamiku Severan, atau pria mana pun, mereka tidak akan sebanding dengannya."
Lilianne mendengarkan dalam diam, tidak berani mencela. Ia merasa sedang mendengar kisah tentang seorang dewi yang jatuh ke bumi.
"Awalnya," lanjut Isolde, "kami hanyalah Lady-Lady muda yang menyukai hal-hal bebas. Kami suka berkuda di padang rumput tanpa pengawal, kami suka membaca buku-buku filsafat yang dilarang. Namun tuntutan dari keluarga besar menghancurkan segalanya. Kami disuruh menikah demi kekuatan, kekuasaan, dan politik. Aku dengan Severan, dan Seraphina dengan Valerius. Kami menikah bukan karena cinta, tapi karena kewajiban dan tanggung jawab yang besar sebagai pion di papan catur pria."
Isolde menatap Lilianne dengan tajam. "Valerius sangat terobsesi pada Seraphina. Dia mencintainya dengan cara yang salah—cara yang sama seperti yang dilakukan Arthur padamu sekarang. Obsesi yang memenjarakan. Valerius tidak menginginkan pasangan, ia menginginkan trofi yang tidak boleh disentuh siapa pun. Seraphina layu di istana mawar itu bukan karena sakit fisik, Lilianne. Dia mati karena jiwanya tidak lagi memiliki ruang untuk bernapas."
Lilianne merasakan merinding menjalar di sekujur tubuhnya. "Jadi... Yang Mulia suami saya mewarisi kegilaan itu dari ayahnya?"
"Bukan hanya mewarisi, dia menyempurnakannya karena ia tumbuh besar melihat ibunya merintih di balik jendela," sahut Isolde pahit. "Arthur adalah anak yang malang yang berubah menjadi monster karena ia tidak pernah tahu bagaimana cara mencintai tanpa menghancurkan. Dia melihat ayahnya memuja Seraphina sekaligus mencekiknya, dan dia pikir itulah arti cinta."
Isolde bangkit, berjalan perlahan mendekati Lilianne. Ia menyentuh dagu Lilianne, mengangkat wajah gadis muda itu agar mereka saling bertatapan.
"Kau memiliki mata yang sama dengan Seraphina saat terakhir kali aku melihatnya. Mata yang penuh rencana, namun dibayangi oleh ketakutan akan kematian. Katakan padaku, Lilianne, apa yang kau rencanakan? Apakah kau akan membiarkan dirimu layu seperti mawar di Valerieth, atau kau akan menggunakan rahimmu sebagai senjata?"
Lilianne terdiam sejenak, suaranya terdengar bergetar namun tegas. "Saya tidak ingin mati di Sayap Timur, Yang Mulia. Saya tidak ingin anak ini tumbuh besar dalam sangkar, melihat ayahnya menyiksa ibunya setiap malam."
"Bagus," Isolde melepaskan pegangannya.
"Seraphina gagal melarikan diri karena ia terlalu mencintai suaminya di awal pernikahan mereka. Dia membiarkan Valerius masuk terlalu dalam ke hatinya. Tapi kau... aku melihat kau tidak mencintai Arthur. Kau membencinya, namun kau membutuhkannya untuk tetap hidup saat ini."
Lilianne mengangguk pelan. "Saya menyelamatkan rahasianya di aula tadi hanya agar saya tetap aman. Julian... putra Anda, dia tahu sesuatu."
Isolde terkekeh. "Julian memang licik, tapi dia masih muda. Dia hanya ingin menjatuhkan Arthur untuk kepentingannya sendiri. Tapi aku? Aku membantumu karena aku berutang pada Seraphina. Aku berjanji padanya sebelum dia meninggal, bahwa jika suatu saat aku melihat seorang wanita dalam posisinya di kekaisaran itu, aku akan memberikan tangan untuk membantunya keluar."
Ratu Isolde mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik lemari jati yang terkunci. Ia membukanya, menunjukkan sebuah cincin dengan batu permata biru yang memiliki simbol rahasia di baliknya.
"Jika suatu saat kau merasa hari persalinanmu mendekat, atau jika kau merasa Arthur sudah benar-benar kehilangan kewarasannya dan nyawamu terancam, kirimkan simbol ini melalui pelayan bisumu. Martha, bukan? Aku tahu siapa dia. Dia adalah salah satu orang lama Seraphina yang masih setia."
Lilianne terperanjat. "Martha... dia orang Anda?"
"Dia orang kita," ralat Isolde. "Dia tidak bisa bicara bukan karena lidahnya dipotong, Lilianne. Dia memilih bisu agar rahasia Seraphina tidak pernah keluar dari mulutnya saat disiksa Valerius dulu. Dia akan membantumu jika saatnya tiba."
Lilianne merasa beban di pundaknya sedikit terangkat, namun rasa takut masih membayangi. "Kenapa Anda membantu saya sejauh ini, Yang Mulia? Ini bisa memicu perang jika Arthur atau Raja Valerius tahu."
"Karena aku lelah melihat wanita-wanita hebat dihancurkan oleh pria-pria yang merasa memiliki dunia," jawab Isolde dengan nada dingin. "Dan karena Valerius harus membayar atas apa yang dia lakukan pada sahabatku."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan terburu-buru terdengar dari koridor luar. Suara pedang yang beradu dengan baju zirah menandakan kehadiran pengawal kekaisaran Valerieth.
BAM!
"LILIANNE! BUKA PINTUNYA! KELUAR SEKARANG!"
Suara Arthur menggelegar, penuh dengan kemarahan yang tak terkendali. Ia terdengar seperti singa yang kehilangan mangsanya di tengah hutan gelap.
Ratu Isolde segera merapikan pakaiannya dan memasang kembali topeng kaku sang Ratu Aethelgard. Ia berbisik cepat pada Lilianne. "Sembunyikan cincin itu. Beraktinglah seolah kau kesakitan. Jangan tunjukkan bahwa kita telah bicara banyak."
Lilianne segera menyembunyikan cincin itu di balik korsetnya, lalu merebahkan diri kembali di kursi panjang, memejamkan mata sambil memegang perutnya seolah sedang menahan kram hebat.
Pintu terbanting terbuka. Arthur masuk dengan wajah merah padam, matanya menyapu ruangan dengan liar sampai ia menemukan Lilianne. Ia tidak peduli pada kehadiran Ratu Isolde; ia langsung menerjang ke arah istrinya.
"SIAPA YANG MEMBERIKU IZIN UNTUK PERGI?!" bentak Arthur, tangannya mencengkeram bahu Lilianne, memaksa gadis itu membuka mata. "Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku di sini?!"
Ratu Isolde berdehem dengan nada sangat berwibawa, membuat Arthur tersentak dan baru menyadari keberadaannya.
"Yang Mulia Putra Mahkota Arthur," suara Isolde dingin. "Istrimu hampir pingsan di teras karena udaramu yang dingin dan kondisinya yang lemah. Aku membawanya kemari untuk memberinya obat penenang rahim. Apakah begini cara seorang pahlawan Valerieth berterima kasih pada tuan rumahnya?"
Arthur terdiam, napasnya masih memburu. Ia menatap Lilianne yang tampak lemah dan pucat, lalu beralih pada Ratu Isolde. Keangkuhannya sedikit merosot di hadapan martabat sang Ratu senior.
"Maafkan kekasaran saya, Yang Mulia Ratu," ujar Arthur melalui gigi yang terkatup. "Saya hanya... sangat mencemaskan keselamatan istri dan calon anak saya."
"Kecemasanmu terlihat lebih seperti ancaman bagi kesehatannya, Arthur," sindir Isolde tajam. "Bawa dia kembali ke kamarmu. Dia butuh istirahat total. Dan pastikan kau tidak menambah bebannya malam ini, atau kau akan membawa pulang mayat ke Valerieth."
Arthur tidak menjawab. Ia mengangkat Lilianne ke dalam gendongannya dengan kasar namun protektif. Lilianne menyandarkan kepalanya di dada Arthur, pura-pura tidak berdaya, sementara matanya sempat melirik ke arah Ratu Isolde—sebuah tatapan penuh janji rahasia.
Saat Arthur melangkah keluar dengan langkah besar, Lilianne merasakan detak jantung suaminya yang liar. Ia menyadari bahwa meski ia masih berada dalam pelukan sang monster, kini ia tidak lagi sendirian. Di balik sutra dan marmer Aethelgard, benih pemberontakan telah ditanam.
***
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang