NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT

PELET LAKNAT

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Medan Bahaya

BAB 20: Dua Medan Bahaya

Setiap jengkal langkah mendekati pohon beringin itu terasa seperti berjalan di atas bara api. Angin malam berembus semakin kencang, membuat bulu kuduk meremang seketika. Dedaunan kering dan ranting yang terinjak menimbulkan suara gemericik mengerikan—mirip derak tulang-tulang rapuh yang hancur dimakan usia. Bersamaan dengan itu, rasa dingin yang tidak wajar kian menusuk hingga ke tulang sumsum.

Sementara itu di belakang Agus, paman Mira berjalan dengan sangat rapat, bahkan beberapa kali menginjak tumitnya. Tangannya mencengkeram kuat bagian belakang jaket Agus, menjadikannya tameng hidup tanpa rasa bersalah.

"Om, pelan-pelan... jangan ditarik jaket saya, susah jalan ini," bisik Agus setengah memprotes. Suaranya bergetar hebat menahan ketakutan sekaligus kejengkelan yang tertahan.

"Sudah, diam saja! Cepat jalan! Jangan banyak alasan!" balas paman Mira dengan bisikan yang tak kalah gemetar. Matanya melotot liar melirik ke kanan dan ke kiri, waspada terhadap setiap bayangan semak-semak yang bergerak ditiup angin.

Cahaya ponsel yang mereka gunakan sebagai satu-satunya penerangan kini mulai berkedip-kedip. Beberapa kali meredup lalu terang kembali, menciptakan bayangan-bayangan aneh di batang pohon beringin yang berlekuk-lekuk.

Tepat saat cahaya senter itu meredup untuk kesekian kalinya, sesosok perempuan berkebaya merah mendadak muncul, menghadang tepat di jalur perjalanan mereka. Wajahnya tertutup rambut panjang yang acak-acakan, berdiri diam membeku di tengah kegelapan.

Sontak keduanya melonjak mundur. Dada Agus bergemuruh hebat, sementara cengkeraman paman Mira di jaketnya kini berubah menjadi pelukan erat saking paniknya.

"A-apa itu... Gus? Ayo, Gus, kita balik saja dan samperin Bang Ahmad!" ujar paman Mira setengah berteriak dengan suara melengking.

Agus terhuyung mundur, napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Cahaya ponsel yang sekarat itu kini menyorot tepat ke sosok di hadapan mereka. Kebaya merah yang dikenakan makhluk itu tampak basah kuyup, menghitam oleh noda darah kering yang menebarkan aroma anyir.

Dari sela-sela rambut hitam yang menjuntai acak-acakan menutupi wajah, dua titik mata merah menyala tajam, menatap lurus ke arah mereka dengan pandangan penuh dendam.

Paman Mira sudah tidak bisa bersuara lagi. Kakinya mendadak lemas bak kehilangan tulang. Seluruh badannya gemetar hebat hingga ia nyaris roboh menimpa punggung Agus.

"Gus... Gus-Gus..." hanya kata itu yang sanggup lolos dari bibirnya yang kelu.

Agus mencoba menguatkan hati yang kian menciut. Tangannya yang berkeringat dingin menggenggam ponsel erat-erat. Ia menatap ke sekeliling dengan cepat dan sadar... jalan untuk kembali ke arah Ahmad sudah tertutup oleh pekatnya aura makhluk tersebut.

Sementara itu di sisi lain halaman, Ahmad melangkah lebih dekat menuju teras rumah panggung. Ia menghampiri sang kakek tua—sesosok dukun ilmu hitam yang sedari tadi terus menatap tajam ke arahnya. Setiap langkah Ahmad diiringi oleh untaian zikir yang terus mengalir dari dalam hati.

"Berhenti di situ! Jangan kau coba-coba mengusik kediamanku! Pergi kamu dari sini!" bentak kakek tua itu dengan suara berat yang bergaung, menahan amarah yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.

Aura permusuhan yang sangat pekat mendadak berembus dari arah teras, membuat suhu di sekitar halaman rumah panggung terasa semakin menekan dan mencekam.

"Aku datang ke sini hanya untuk menuntut keadilan! Sesama makhluk ciptaan Allah, kamu tidak sepantasnya ikut campur dengan apa yang telah Allah hendaki!" balas Ahmad. Suaranya menggelegar penuh wibawa, memecah keangkuhan malam di halaman rumah tua itu.

Mendengar ucapan Ahmad, dukun tua itu justru mendongak dan tertawa terpingkal-pingkal. Suara tawanya terdengar parau, sumbang, dan menyakitkan telinga.

"Hahahaha! Kamu bilang aku ikut campur? Kamu salah, Anak Muda! Manusia yang lemah itu sendiri yang datang menyerahkan diri dan menginginkan sesuatu dari saya!"

Kakek tua itu tiba-tiba menghentikan tawanya. Wajahnya menunduk tajam, menatap Ahmad dengan pandangan yang mendadak sangat dingin dan menusuk.

"Kamu jangan sok suci di hadapanku! Pergi kamu dari sini sekarang juga sebelum aku menguliti jiwamu!" ancam si kakek tua, suaranya kini mulai berubah menjadi desisan berat yang mengerikan.

Belum sempat Ahmad membalas, si kakek tiba-tiba mengibaskan tangan kanannya dengan cepat.

Wusss!

Sebuah cahaya merah kehitaman melesat secepat kilat, menghantam tepat ke dada Ahmad. Sentakan energi gaib yang begitu besar membuat tubuh Ahmad terpental jauh ke belakang hingga menghantam tanah dengan keras.

"Ugh!" Ahmad mengerang kesakitan. Dada bidangnya terasa seperti dihantam oleh sebongkah batu besar yang membara.

Dengan sisa tenaga yang ada, Ahmad berusaha bangkit sambil bertumpu pada satu lututnya. Kepalanya mendongak, dan di sudut bibirnya, seulas darah segar mulai mengalir keluar membasahi dagu. Serangan mendadak tadi benar-benar berhasil menembus benteng pertahanan gaib sang santri senior.

Belum sepenuhnya Ahmad mampu berdiri tegak, kakek tua itu kembali menggerakkan tangan. Serangan gaib kedua yang tak kalah dahsyat melesat, menghantam telak tubuh Ahmad yang belum siap memasang perlindungan.

Brakkk!

Ahmad tersungkur untuk kedua kalinya di atas tanah hutan yang lembap. Tubuhnya terseret beberapa meter, membuat jubahnya kotor terkena tanah dan dedaunan kering. Rasa sakit di dadanya kini menjalar hebat, membuat napasnya terasa kian sesak.

"Hahaha... Heheheh... Ternyata cuma segitu kemampuanmu, Anak Muda?!" ujar sang dukun dengan nada ketus dan meremehkan.

Ia berdiri tegak di atas teras rumah panggung sambil bersedekap dada, menatap tubuh Ahmad yang terkapar di bawahnya dengan pandangan penuh kemenangan. Seolah-olah, sang santri sudah tidak punya harapan lagi untuk bangkit.

Bersambung

1
HERMAWAN 505
jadi kebahagian indra itu di singkat, jatuhnya indra bahagia cuma 3 bulan bersama Mira, kalau sakitnya karena ilmu pelet yang di pakai, kini berbalik menggerogoti tubuhnya sendiri. begitu kaka.👍
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
Mega Arum
semoga karya kedepanya lbh bagus lg y Thor...
HERMAWAN 505: gimana pendapatmu tentang novel pertama saya? dan bagai mana perasaan kamu saat membaca novel pelet laknat ini?
total 2 replies
Mega Arum
msh tanda.tanya kak...knp.Indra bs tau2 sakit, blm juga ada bahagianya dg Mira.. ceritanya monoton tntg pertempuran dg dukun
Mega Arum
dr awal krg jelas..dr mana Indra tau keberadaan paranormal di tengah hutan itu, dan skt hati berlebihan sprti apa sbrnya Indra
HERMAWAN 505: makasih Mega Arum sudah mengikuti alur cerita saya sampai sejauh ini.
total 1 replies
Mega Arum
kasihaan Aguuus 😀
ÑIÇÃ
di tunggu lanjutannya💪
Wulandari Ayuningtyas
halo kak
mampir y ke novelku 😁
HERMAWAN 505: makasih sudah berkunjung ke novelku
total 1 replies
Aswad Us
kerennn👍
Raihan
di tunggu lajutan nya bang
HERMAWAN 505: makasih atas kunjungannya.
total 1 replies
Raihan
kak mampir juga la di novel ku 😄
Aswad Us
👍👍
Aswad Us
di tunggu bab berikutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!