NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Malam harinya, setelah makan malam bersama, suasana rumah kembali tenang. Mereka bertiga kini duduk melingkar di ruang tengah lantai bawah bersama Ummi Fatima. Wanita paruh baya berwajah teduh itu baru saja meletakkan mushaf Al-Qur'an di atas meja setelah menyelesaikan bacaan rutinnya.

Di hadapan wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri, Syifa kembali menumpahkan keraguan hatinya. Tentang ketakutannya menjadi beban bagi Fadhlan, dan tentang rahasia yang sengaja dikunci rapat oleh pria itu. Ummi Fatima mendengarkan dengan senyuman keibuan yang menenangkan, jemarinya sesekali mengusap lembut punggung tangan Syifa.

"Jodoh itu, pada dasarnya sudah diatur di Lauhul Mahfudz, Nduk. Tapi manusia tetap diberikan kesanggupan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk melakukan ikhtiar atau hal yang bisa diupayakan. Takdir itu mutlak, tapi jalannya bisa berubah-ubah lewat doa dan ketulusan jika memang Allah menghendaki." tutur Ummi Fatima lembut.

"Menurut pandangan Ummi, berdasarkan cerita dari Syifa tadi... Insya Allah, nak Fadhlan itu pria yang baik akhlaknya, shalih, dan bertanggung jawab. Sikap diamnya pasti punya alasan kuat yang belum bisa dia sampaikan. Dulu... Abi dan Ummi juga dipertemukan melalui jalan perjodohan yang sama persis seperti kamu. Bahkan, Ummi dan Abahnya Syifa pun sama." lanjut beliau lagi.

Mendengar kalimat terakhir, Syifa, Adiba, dan Jihan serempak menoleh ke arah Ummi Fatima dengan mata berbinar penasaran. Rasa sedih di wajah Syifa sedikit teralihkan.

"Ngapunten, Ummi Fatima... Kenapa Ummi bisa tahu kalau dulu Umminya Syifa sama Abi dijodohkan juga? Ummi nggak pernah cerita detail ke Syifa."

"Dulu, Umminya Syifa adalah kakak tingkatnya Ummi waktu di pondok. Kami sering sekali ketemu di ndalem-nya Bu Nyai. Waktu itu, pas ada acara penyambutan tamu besar, Ummi tidak tahu kalau di situ Ummi sedang dijodohkan dengan Abinya Adiba. Ummi manut saja, sami'na wa atha'na sama guru dan orang tua." Ummi Fatima terlihat terkekeh pelan, mengenang masa lalu.

"Berbeda cerita dengan Umminya Syifa. Dulu, Mbak Salwa itu paling sering curhat sama Ummi kalau dia belum ingin menikah muda, apalagi dijodohkan. Tapi, qodarullah, yang namanya takdir tidak ada yang tahu. Umminya Syifa malah menyusul pernikahan kami tepat satu minggu kemudian!" Ummi Fatima melirik Syifa dengan tatapan jahil yang hangat.

"Loh, kok bisa secepat itu, Ummi? Gimana ceritanya?" ​Jihan langsung memotong, antusias.

​"Berawal dari kakeknya Syifa yang waktu itu rawuh ke acara pondok, lalu di tengah jalan motornya mogok. Di situ, entah bagaimana ceritanya, Umminya Syifa datang menolong, dan ikut mendorong sampai baju dan jilbabnya kotor kena oli semua. Melihat ketulusan dan sifat cekatan Mbak Salwa, kakeknya Syifa langsung menemui Kyai Amir malam itu juga, lalu melamar Ummi Salwa untuk Abinya Syifa."

​"Pantas saja sampai sekarang Ummi Salwa jadi menantu kesayangan Kakek ya, Syif? Cerita pertemuannya aja legendaris begitu, haha!" Jihan menyenggol bahu Syifa sambil tertawa kecil

Syifa akhirnya bisa mengulas senyum tipis. Beban di dadanya sedikit terangkat mendengarkan kisah manis kedua orang tuanya yang ternyata berawal dari ketidaksengajaan yang direstui langit.

​"Nduk, Asyifa... Ada kalanya jodoh itu hadir sebagai cerminan diri kita. Ada kalanya dia hadir sebagai pelengkap kekurangan kita, dan ada kalanya... jodoh itu hadir sebagai cobaan hidup. Itu semua adalah qudratullah, kuasa Allah." Ummi Fatima kembali menggenggam tangan Syifa, tatapannya berubah serius namun penuh kasih.

​"Terkait rezeki, jodoh, dan mati, ini memang sudah digariskan seindah mungkin oleh Allah. Tugas kita sekarang adalah bagaimana mensyukurinya. Kalaupun jodoh kita ndilalah hadir sebagai pelengkap atau cerminan diri, itu enak, kita harus bersyukur. Tapi kalaupun nanti dia hadir sebagai cobaan..."

"Maka jadikanlah suamimu itu sebagai ladang pahalamu untuk meraih jannah-Nya. Jangan takut berjalan, titipkan hatimu pada pemilik semesta, bukan pada manusianya. Paham, Nduk?" Ummi Fatima tersenyum teduh, menepuk lembut tangan Syifa.

"Nggih, Ummi... Maturnuwun atas nasihatnya." ​Syifa menunduk dalam, air mata haru menetes namun kali ini hatinya terasa jauh lebih tenang.

...----------------...

Sementara itu, di sisi lain kota, Fadhlan baru saja keluar dari ruang rapat Rumah Sakit Ganendra. Lelahnya fisik karena harus merangkap jabatan sebagai CEO dan dosen terasa bertambah berkali-kali lipat saat ia membaca pesan dari Salim.

​“Fad, tadi aku melihat Syifa di rumah Ustadz Taufiq. Sepertinya dia sedang ada masalah...”

​Fadhlan memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia menyandarkan kepala di kursi mobil, menatap kosong ke arah jalanan. "Dek, kamu kenapa lagi?" gumamnya lirih.

"Ada apa?" tanya Aidan yang duduk di sebelah supir pribadi Fadhlan, menyadari kegusaran yang dirasakan sahabatnya.

"Tidak apa-apa, kita urus masalah ini besok setelah acara makan siang selesai"

​Ada rasa sesak yang sama di dada Fadhlan, meski ia belum tahu bahwa saat ini calon istrinya sedang menangis karena dirinya. Ia tidak tahu bahwa kunjungan rutinnya ke panti asuhan hari ini justru menjadi bumerang bagi rencana masa depannya.

...****************...

1
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!