NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGUAK KEBENARAN

Srikandi mengasah kapak Ki Abot. Bunyi gesekan besi terdengar membuat gigi siapapun ngilu.

Srek! Sering! Srek! Sring!

Sesekali, gadis itu mencoba tajamnya kapak dengan mengelusnya. Besi itu tampak mengkilat setelah di asah.

"Sepertinya sudah tajam!" gumamnya pelan.

Selesai mengasah kapak, Srikandi mulai membereskan rumah. Kali ini ia akan kembali mencari tau kebenaran tentang kematian sang ayah. Ia berencana kembali ke hutan di bukit Manoreh.

"Pasti masih ada sisa-sisa panah di sana," gumamnya lagi yakin.

Setelah merapikan diri, ia keluar rumah. Rukmi ada di sana menatapnya dari kepala sampai ujung kaki.

"Mau kemana?" tanyanya.

"Mencari kebenaran ...," jawab Srikandi hendak melangkah pergi.

"Jangan pergi!" cegah Rukmi menahan lengan keponakannya itu kuat-kuat.

"Lepas Bibi!" suruh Srikandi menatap wanita itu tajam.

"Tidak. Aku mau masuk rumah dulu!" tolak Rukmi lalu menyeret Srikandi.

Karena memang tidak bisa melawan, Srikandi membuka pintu dan membiarkan bibinya masuk. Barulah Rukmi melepas cekalannya di lengan Srikandi.

"Sudah sana!" usirmya lalu menutup pintu tepat di muka gadis itu.

Srikandi cukup terkejut, tapi ia tak bisa berkata apa-apa. Dirinya memilih langsung melesat meninggalkan rumah itu dan pergi menaiki bukit.

Di dalam rumah, Rukmi mengintip kepergian keponakannya. Ia menghela nafas panjang.

"Apa benar-benar Sri Baginda Raja tidak memberitahu apapun perkara kematian Kakanda Abda?" gumamnya sedikit heran.

"Aku yakin jika ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ini semua!" lanjutnya lagi sangat yakin.

Rukmi lalu menoleh dapur, tempat arang masih penuh. Tapi meja makan kosong bahkan satu ceret air minum pun tak ada.

"Apa Kanda tidak punya teko isi air?" tanya Rukmi lalu memeriksa lemari dapur.

Sementara di bukit, Srikandi melompati beberapa batuan cadas dan semak-semak belukar. Ia tak mengambil jalur yang biasa pendaki pakai. Srikandi memilih jalur pintas.

"Pasti orang-orang berilmu menggunakan jalur cepat agar bisa sampai target tepat sasaran!" gumamnya yakin.

Tak lama ia melompati bebatuan, sesuatu berkilau di sela batu-batu gunung. Srikandi menurunkan tempo lompatan dan mendarat tepat di sebuah batu berujung lancip.

Gadis itu menurunkan sedikit tubuhnya.

"Anak panah lain?" serunya lalu ia menoleh sekelilingnya.

Srikandi melebarkan kakinya ke salah satu batu agar mudah menurunkan tubuhnya. Ia harus berhati-hati agar tak terperosok ke dalam celah.

Tangannya menjulur hendak menggapai panah itu. Tapi hanya terkena ujung jarinya saja.

"Demi sang hyang Widhi!" serunya menegakkan tubuh sambil menghembuskan nafasnya kuat-kuat.

Jantungnya berdetak lebih cepat, kepalanya sedikit pusing karena terlalu dalam menunduk dan menahan nafas.

"Besi berani!" serunya girang, otaknya tiba-tiba terlintas untuk mengambil besi harus juga dengan besi yang menempel.

Lalu, dengan satu gerakan. Pedang bernama Sukmo Sekti ia gosok secara terarah. Beberapa kali ia merasakan tarikan dari pedangnya. Kalau belum terasa kuat, ia kembali menggosoknya.

Lalu ketika rasa cukup, Srikandi menjulurkan pedangnya ke arah celah batu. Besi itu berkilau karena sinar matahari yang memantul.

Ting! Besi itu menempel di ujung pedang. Dengan cepat Srikandi menariknya dan mendapatkan panah itu.

Srikandi kembali menyembunyikan pedangnya dengan ilmu bilik raga. Ia mengamati panah yang berbeda dengan sebelumnya.

Anak panah itu keseluruhannya terbuat dari besi. Ada noda hitam di ujung panah.

"Panah ini beracun. Tapi jenis racunnya berbeda," ia mengeluh. Mengira mendapat anak panah yang sama.

Srikandi berdiri dan kembali melompati tebing-tebing bebatuan. Matanya mengedar untuk mengenali wilayah ...

Lalu matanya kembali menemukan rumput yang menghitam.

"Ah ... Itu dia!' Srikandi mendekati rumput itu.

Lalu ia masuk ke sebuah hutan karet dan waru. Banyak bekas sabetan pedang di pohon-pohon itu. Matanya melebar sempurna melihat betapa mengerikannya kejadian waktu itu.

Hampir sebagian pohon dan rumput mati akibat ilmu yang mengguncang. Tanpa Srikandi tau, bahwa tempat itu adalah tempat di mana ayahnya menahan panah beracun.

"Ini ...?" tubuhnya memutari area itu.

Tubuh Srikandi berputar perlahan mengamati seluruh area.

Bekas-bekas pertempuran masih terlihat jelas walau telah dilewati hujan dan panas berbulan-bulan.

Beberapa pohon waru tumbang dengan potongan yang sangat rapi.

Sebagian lagi hangus seperti tersambar petir. Ada pula batang pohon yang berlubang menembus hingga ke belakang.

"Pasti di sini terjadi tarung ilmu yang dahsyat!' gumamnya lagi takjub.

Lalu ia menunduk meraba rerumputan yang menghitam. Ia sedikit mengernyit, dirinya mengenali ilmu apa yang membuat area itu porak-poranda.

"Ini ... Apa di sini Ayah bertarung?" serunya kaget.

Matanya melebar, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tiba-tiba hatinya mendadak ngilu, airmatanya mengalir deras.

'Ayah ... Apa benar di sini adalah tempatmu menemui ajal?' bisiknya lirih.

Lalu matanya kembali menangkap sesuatu. Satu benda yang menancap tepat di salah satu pohon. Pohon itu sudah menjadi arang, berasap dan bau menyengat.

Srikandi mendekat, matanya menatap benda yang menancap di pohon berasap itu.

"Ini panah lagi! Panah pertama yang aku temui seperti ini!" serunya lalu tanpa pikir panjang, ia meraih panah dan ...

Blar!

Tubuhnya terpental dan pandangan Srikandi gelap seketika.

Entah berapa lama, mata Srikandi mengerjap. Yang ia rasakan pertama kali adalah tulang-tulangnya seperti rontok semua. Kepalanya berdenyut sangat hebat.

"Arghh!' ia mengaduh pelan.

"Demi Dewa, Srikandi!" sebuah teriakan dari suara yang ia kenali.

"Bibi?" Rukmi menatapnya dengan bersimbah airmata.

Sementara di luar rumah Srikandi. Prabu Laksa memuji kehebatan ilmu Srikandi yang cepat pulih.

"Jika saja tadi aku terlambat ...," gumamnya pelan.

Lalu ia memutuskan pulang ke istana dan menyuruh tabib mengobati luka-luka Srikandi.

Sandika menatap wajah suaminya yang muram. Ada seribu penyesalan di sana. Dengan langkah hati-hati ia mendekat dengan cara berjongkok.

"Nuwun pangapunten, Paduka Sang Prabu. Menawi Paduka kersa, kawula kepéngin ngaturaken uneg-uneg Paduka dhateng abdi kawula!" ujarnya sambil mengatup tangan di atas kepala.

Prabu Laksa terkejut, ia menoleh dan mendapati istrinya tengan menghatur sembah padanya. Ia langsung mendekat dan meraih bahu istrinya.

"Ratuku, jangan seperti ini," pintanya memohon.

"Ampun Kangmas Raja. Tapi hamba takut lancang ...," jawab Sandika pelan.

"Duduklah, aku juga mau berbagi keresahanku ini," ajak Prabu Laksa mendudukkan sang istri di sisinya.

Sandika duduk rapi dan mendengarkan suaminya dengan seksama.

"Tadi, aku mengikuti Srikandi ...," ujar Prabu Laksa dengan tatapan menerawang.

Saat itu Prabu Laksa sebenarnya ingin berjalan-jalan untuk mengamati seluruh warganya. Seperti biasa ia lakukan setiap awal panen tiba.

Tak disangka, ia melihat Srikandi pergi ke atas bukit. Ia sangat yakin jika putri dari Punggawanya itu pasti tidak diam saja lama-lama. Prabu Laksa memutuskan untuk mengikuti Srikandi.

Lalu ia melihat bagaimana Srikandi membuat sebuah besi berani, untuk menarik besi yang ada di sela batu-batu cadas.

"Anak itu benar-benar pintar!" pujinya dalam hati.

Lalu ketika melihat panah yang ditemukan dan melihat juga bagaimana Srikandi menyimpan pedang dengan ilmu bilik raga. Prabu Laksa kembali dibuat tercengang oleh dahsyatnya ilmu Srikandi.

Gadis itu berdiri dan memindai sekelilingnya. Prabu yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, mampu membuat dirinya tak terlihat. Ilmu kasat jiwa, membuat ia lolos dari tangkapan mata Srikandi.

Lalu sampailah tempat di mana Abda gugur. Bahkan Prabu Laksa baru mengetahui tempat itu.

Hingga ia melihat Srikandi yang berlari ke salah satu pohon yang sudah jadi arang. Gadis itu ingin mencabut panah yang menancap begitu saja.

"Sri ... Ja ...."

Blar! Ledakan terjadi dan Srikandi terlempar nyaris membentur pohon jika Prabu Laksa tak menangkap tubuhnya.

"Jadi Srikandi terkena sisa ledakan Racun Perusak Raga?" tanya Sandika dengan mata besar.

"Iya Nyimas Ratu ... Bukan itu saja," jawab Prabu Laksa penuh ketegangan.

"Tubuh Srikandi menyerap seluruh ilmu itu dan menjadi satu dengan ilmu godokan Petapa Ijen!" lanjutnya penuh tekanan.

"Kangmas!" Sandika menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membesar sempurna.

"Nyimas ... dengan ilmu barunya. Srikandi pasti dengan mudah menemukan pembunuh ayahnya!" ujar Prabu Laksa yakin.

Sementara di lereng, Rukmi mengelus kepala keponakannya dengan lembut. Untuk pertama kalinya ia ketakutan setengah mati, terlebih melihat tubuh lemas Srikandi digendongan rajanya.

"Nduk ... Tolong ... Jangan mati ...," pintanya penuh harap.

Bersambung

Wah ..

Next?

1
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!