Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA MASA DEPAN
Setelah rasa rindu terbayar lunas dalam pelukan panjang dan tangis haru tadi, Arum perlahan melepaskan rangkulannya. Wajahnya yang masih sedikit sembab kini bersemu merah merona, bukan lagi karena sedih, melainkan karena bahagia dan rasa malu karena tadi menangis di depan orang tuanya.
Dengan senyum yang mengembang manis di bibirnya, Arum menatap Angkasa lekat-lekat. Ia teringat janji laki-laki itu tadi, bahwa hari ini ia boleh minta apa saja dan diajak ke mana saja. Ada satu tempat yang tiba-tiba terlintas di benaknya, sebuah tempat yang punya arti sangat dalam bagi kisah cinta mereka.
"Mas... aku mau minta satu hal ," ucap Arum pelan sambil memainkan ujung kemeja Angkasa.
Angkasa tersenyum lembut, mengusap puncak kepala gadisnya. "Mau apa, Sayang? Bilang aja, pasti saya turutin."
Arum tersenyum makin lebar. "Aku pengen ke kafe itu loh.. Kafe kecil di pinggir jalan raya, yang dulu waktu kita nggak sengaja ketemu dan buku catatan kita ketuker. Kamu ingat kan? Aku kangen pengen ke sana lagi."
Mata Angkasa langsung berbinar teringat kejadian itu. Itu adalah awal mula segalanya, awal mula kisah mereka yang indah.
"Ingat dong. Masa saya lupa sih? Itu kan kafe paling bersejarah buat kita berdua. Boleh banget, ayo. Kamu siap-siap ganti baju dulu ya, saya tunggu di sini ngobrol sama Bapak sama Ibu sebentar."
Arum mengangguk antusias, lalu bergegas masuk ke kamar untuk bersiap diri, langkah kakinya kini ringan dan penuh semangat, berbeda jauh dengan sikap malas-malasannya tadi sebelum tahu Angkasa datang.
Sementara itu, Angkasa duduk di ruang tamu berdua dengan Pak Bimo. Bu Saras masih ada di dapur membereskan sesuatu. Awalnya, pembicaraan mereka berjalan seperti biasa, membahas soal hasil panen buah-buahan dari kebun Pak Bimo yang tahun ini terlihat sangat melimpah dan berkualitas. Angkasa juga bercerita sedikit mengenai proyek kerjasama pertanian yang baru saja ia selesaikan selama dua minggu ini.
Namun, lama-kelamaan topik pembicaraan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih penting dan mendasar. Angkasa mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak, raut wajahnya berubah serius namun penuh ketulusan. Ia menatap Pak Bimo dengan pandangan yang mantap, lalu perlahan membuka suara.
"Pak... Sebenarnya selain mau nemuin Arum,saya juga ada hal penting banget yang pengen saya omongin sama Bapak," ucap Angkasa pelan namun tegas.
Pak Bimo mengerutkan kening sedikit, menatap pemuda di hadapannya itu dengan penuh perhatian. "Ada apa, nak? Bilang aja sama Bapak, nggak usah sungkan-sungkan."
Angkasa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan degup jantungnya yang mulai berdebar karena gugup namun bahagia.
"Begini Pak... Selama saya kenal Arum, selama saya dekat sama Arum, Bapak pasti udah tau kan kalau perasaan saya ke Arum itu bukan sekadar rasa suka biasa atau sekadar teman main aja," Angkasa menjeda ucapannya sebentar, lalu melanjutkan dengan tatapan yang makin dalam.
"Saya sayang banget sama Arum, Pak. Dan saya udah memantapkan hati saya sepenuhnya. Niat saya ke Arum itu serius, Pak. Saya pengen ngejalanin hubungan ini nggak cuma sampai pacaran aja. Saya pengen ngelamar Arum, Pak. Saya pengen menjadikan Arum istri saya, pendamping hidup saya selamanya. Saya pengen menjaga dia,dan membahagiakan dia sampai kapan pun."
Suara Angkasa terdengar jelas dan penuh keyakinan. Ia menatap Pak Bimo berharap-harap cemas. Bagi Angkasa, restu dari orang tua Arum adalah hal paling utama yang ia cari.
Pak Bimo terdiam sejenak, matanya menatap lekat-lekat wajah Angkasa. Di matanya tidak ada tanda-tanda kekecewaan atau kemarahan, justru terlihat ada kebanggaan dan ketenangan. Pak Bimo tersenyum tipis, lalu mengangguk perlahan.
"Bapak sama Ibu dari dulu udah lihat gimana sikap kamu ke Arum, gimana kamu jagain dia, gimana kamu perhatian sama dia. Bapak percaya sama kamu. Bapak tau kamu anak yang baik, bertanggung jawab, dan tulus," ucap Pak Bimo pelan, lalu suaranya sedikit berubah tegas namun tetap hangat.
"Bapak merestui niat kamu itu, Angkasa. Bapak ridho. Cuma ada satu pesan Bapak... tolong jaga Arum baik-baik. Jangan pernah kamu bikin anak perempuan Bapak ini sedih, jangan pernah bikin dia sakit hati, apalagi sampai bikin dia nangis. Arum itu anak yang lembut, hatinya baik banget. Kalau kamu sudah jadi suaminya, kamu harus jadi pelindung utamanya. Bapak percaya kamu bisa."
Hati Angkasa terasa meluap bahagia mendengar itu. Ia mengangguk kuat-kuat, rasa haru menyergap dadanya. "Siap, Pak! Saya janji sama Bapak, saya bakal jaga Arum lebih dari nyawa saya sendiri. Saya gak bakal sia siakan dia, Pak. Makasih banyak ya Pak, udah percaya sama saya."
Belum sempat Angkasa melanjutkan ucapannya, terdengar langkah kaki mendekat dari arah dapur. Bu Saras baru saja keluar membawa nampan berisi minuman, dan ternyata mendengar percakapan penting itu di penghujung kalimat terakhir.
Bu Saras meletakkan nampan itu di meja, lalu tersenyum manis menatap Angkasa. Ternyata, Bu Saras pun sama sekali tidak terkejut.
"Ibu juga denger ya tadi," ucap Bu Saras lembut. Matanya berkaca-kaca senang.
"Ibu sama Bapak sebenernya udah nunggu momen ini datang dari dulu, Sa . Kamu anak baik, mendiang orangtua kamu pun baik. Kami gak ragu sama kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat... keputusan terakhir tetap ada di tangan Arum ya. Kami orang tua cuma bisa merestui dan mendoakan yang terbaik, tapi kalau Arum yang belum siap atau belum mau, kami juga gak bisa paksa. Tapi Ibu yakin... Arum juga punya rasa yang sama besarnya sama kamu."
Angkasa tersenyum lega, rasa beban berat di pundaknya seolah hilang seketika. "Siap, Bu. Saya ngerti banget kok. Arum pemegang keputusan utama. Saya bakal nunggu dia, saya bakal yakinin dia kalau saya emang laki-laki yang tepat buat dia."
Lalu, wajah Angkasa berubah sedikit berbisik, ia mendekatkan badannya sedikit ke arah kedua orang tua itu.
"Pak, Bu... Ada satu hal lagi, boleh saya minta tolong?" tanyanya agak ragu tapi penuh harap.
"Apaan? Bilang aja," jawab Pak Bimo.
"Ini... rencana saya ngelamar Arum itu rencananya besok malam, Pak, Bu. Saya udah siapin semuanya, saya mau bikin kejutan buat Arum. Jadi... saya mohon banget sama Bapak sama Ibu, obrolan kita hari ini, soal niat saya ini, tolong dirahasiain dulu ya dari Arum. Jangan sampai dia tau sama sekali, biar kejutan ini sukses," pinta Angkasa dengan wajah memelas tapi tersenyum malu.
Pak Bimo dan Bu Saras sama-sama tertawa pelan melihat tingkah pemuda itu.
"Iya, iya... Tenang aja. Kami gak bakal kasih tau kok. Nggak bakal bocor sedikit pun ke Arum. Kami ikut bantu rencananya juga deh biar lancar," jawab Bu Saras sambil mengangguk setuju.
Angkasa menghela napas lega sekali. "Makasih banget ya Pak, Bu. Nanti saya izin sama Bapak sama Ibu juga, biar nanti sore atau nanti malam saya boleh minta bantuan sedikit buat persiapannya. Biar pas hari H besok semuanya udah rapi."
"Siap, nanti kami bantu sekuat tenaga. Seneng banget dengernya," sahut Pak Bimo dengan senyum lebar.
Tak lama kemudian, Arum keluar dari kamarnya. Penampilannya sudah rapi dan cantik, rambutnya disisir indah, wajahnya berseri-seri cerah. Ia berjalan mendekati mereka dengan langkah ringan.
"Udah siap , Mas. Yuk berangkat?" ajak Arum ceria.
Angkasa langsung berdiri, menatap kekasihnya itu dengan pandangan yang kini makin penuh arti dan rasa sayang yang mendalam. Di dalam hatinya, ia berjanji malam ini akan menjadi malam yang indah untuk menebus dua minggu kepergiannya, sementara di hari esok... ia akan mengubah status hubungan mereka selamanya menjadi sesuatu yang jauh lebih suci dan abadi.
"Iya, ayo kita berangkat," jawab Angkasa lembut. Ia menoleh sebentar ke arah Pak Bimo dan Bu menganggukan kepala seolah memberi kode 'ingat ya, rahasia'. Pak Bimo dan Bu Saras hanya tersenyum mengerti dan mengangguk pelan.
Malam ini adalah waktu untuk menebus rasa bersalah dan rasa rindu, tapi besok malam... adalah waktu untuk masa depan selamanya.