Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suasana di dalam aula bawah tanah itu berubah menjadi neraka kepanikan dalam hitungan detik.
Para tamu elit yang biasa hidup nyaman kini merayap di lantai saling menginjak satu sama lain.
Pemimpin kelompok bersenjata itu berjalan santai menaiki tangga panggung utama.
Dia memakai topeng tengkorak besi yang menutupi separuh wajah atasnya.
"Gue peringatin sekali lagi, siapa pun yang berani berdiri bakal langsung gue kirim ke akhirat," teriak pria bertopeng tengkorak itu.
Suaranya terdengar sangat berat dan menggema memantul di dinding beton ruangan.
Para tamu langsung menahan napas dan menghentikan tangisan mereka karena ketakutan setengah mati.
Pria bertopeng itu berjalan mendekati peti besi misterius yang masih tergembok rapat di tengah panggung.
"Mana kunci gembok peti ini?" tanyanya sambil menodongkan moncong senapan ke dahi pembawa acara lelang.
Pembawa acara itu gemetar hebat sampai celananya basah karena mengompol di tempat.
"Saya sungguh tidak pegang kuncinya Tuan," jawab pembawa acara itu dengan suara putus asa.
"Semua kunci brankas pusaka hanya dipegang oleh manajer keamanan dari kantor pusat asosiasi."
Pria bertopeng tengkorak itu mendengus kesal mendengar jawaban yang tidak memuaskan tersebut.
"Jawaban yang sangat tidak berguna," ucap pria itu dingin.
Dia langsung menarik pelatuk senapannya tanpa ragu sedikit pun.
Dor.
Arggghh....
Peluru menembus paha kanan pembawa acara tersebut membuatnya menjerit kesakitan dan jatuh ke lantai.
"Kalian semua geledah seluruh ruangan ini sampai kuncinya ketemu," perintah pemimpin itu kepada anak buahnya.
"Kalau ada yang melawan atau mencoba kabur, langsung tembak di tempat tanpa perlu lapor lagi ke gue."
Belasan pria bersenjata itu menyebar ke seluruh penjuru ruangan dan mulai menendang kursi-kursi tamu.
Arga masih berbaring tengkurap di balik barisan kursi kayu jati yang tebal.
'Gue gak bisa terus diam di sini nunggu nasib sial,' batin Arga menganalisis situasi.
'Cepat atau lambat mereka pasti bakal nemuin posisi gue.'
Seorang pria bersenjata berjalan mendekati lorong tempat Arga bersembunyi.
Pria itu menendang seorang tamu wanita yang sedang menangis memeluk tas mewahnya.
"Diam dan serahin semua perhiasan lo sekarang," bentak pria bersenjata itu menodongkan senjatanya.
Arga melihat peluang emas saat pria itu sedang lengah membelakanginya.
Arga merayap tanpa suara seperti seekor ular pemangsa di atas lantai beton.
Dia menggunakan Peningkatan Fisik Tingkat Dasar untuk menghilangkan suara langkah kakinya sepenuhnya.
Dalam sekejap Arga sudah berada tepat di belakang pria bersenjata tersebut.
Arga mencengkeram leher pria itu dengan lengan kanannya dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Krak.
Suara tulang leher yang dipatahkan terdengar sangat pelan namun berakibat fatal.
Tubuh pria itu langsung lemas kehilangan kesadaran dan Arga segera menyeretnya ke bawah kursi.
Namun gerakan Arga saat menyeret tubuh itu ternyata menghasilkan suara gesekan sepatu yang mencurigakan.
Seorang pria bersenjata lain yang berada sepuluh meter dari sana langsung menoleh ke arah Arga.
"Hei, siapa yang berdiri di sana?" teriak pria kedua itu mengangkat senapannya.
"Lepasin senjata lo atau gue tembak kepala lo sekarang."
Arga tidak menjawab dan langsung berlari zig-zag menerobos barisan kursi kayu tersebut.
Pria itu panik melihat pergerakan Arga yang tidak masuk akal cepatnya.
Dia langsung menarik pelatuk senapan laras panjangnya secara membabi buta ke arah Arga.
Dor.
Peluru melesat memecah udara dan tepat menghantam dada kiri Arga.
Arga merasakan dorongan yang sangat kuat seperti ditabrak oleh sepeda motor berkecepatan tinggi.
Tubuhnya terpental ke belakang dan menghantam meja kayu sampai patah menjadi dua.
Brak.
"Mati lo kena tembakan telak gue," teriak pria bersenjata itu sambil tertawa puas.
Beberapa tamu yang melihat kejadian itu langsung menutup mata mereka tidak sanggup melihat darah.
Namun pemandangan mengerikan yang mereka bayangkan ternyata sama sekali tidak terjadi.
Arga terbatuk pelan lalu berdiri kembali dengan santai sambil membersihkan debu di jaketnya.
Peluru tajam itu tidak mampu menembus Rompi Serat Baja Gaib yang membalut tubuhnya.
"Sistem beneran gak nipu jualan barang mahal," gumam Arga merasa sangat lega.
Pria bersenjata itu membelalakkan matanya tidak percaya melihat Arga masih hidup dan segar bugar.
"Lo pakai ilmu kebal jenis apa bajingan?" teriak pria itu mulai merasa ketakutan.
"Ilmu kebal dari uang miliaran yang gue kumpulin susah payah," jawab Arga tersenyum sinis.
Arga melompat maju melewati meja yang hancur dan langsung mendaratkan tendangan keras ke dada pria itu.
Bugh.
Tubuh pria itu terpental sejauh tiga meter dan menabrak dinding beton sampai pingsan seketika.
Keributan di sudut ruangan itu akhirnya menarik perhatian penuh sang pemimpin bertopeng tengkorak.
"Ada tikus yang lumayan kuat ternyata di acara murahan ini," ucap pria bertopeng itu melompat turun dari panggung.
Dia mendarat di lantai dengan suara dentuman berat yang menandakan tubuhnya sangat padat dan kokoh.
Pria itu berjalan perlahan menghampiri Arga sambil menyarungkan senapannya ke punggung.
"Lo sendirian yang berhasil numbangin dua anak buah terbaik gue?" tanya pria bertopeng itu menatap Arga.
"Mereka cuma sampah yang kebetulan pegang senjata mainan," balas Arga mencoba memprovokasi lawannya.
Arga langsung mengaktifkan Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya ke arah pria tersebut.
Matanya memindai seluruh tubuh pria bertopeng tengkorak itu mencari kelemahan tersembunyi.
Layar biru sistem muncul memberikan informasi yang membuat Arga harus menelan ludah.
Nama Target: Manusia Mutasi Setengah Siluman.
Tingkat Bahaya: Tinggi.
Deskripsi: Manusia yang meminum darah siluman kuno untuk mendapatkan kekuatan fisik jauh di atas normal.
"Ternyata lo bukan manusia biasa," ucap Arga menyipitkan matanya waspada.
"Mata lo lumayan tajam juga bisa baca aura gue bocah," tawa pria bertopeng itu menggelegar.
Pria itu tiba-tiba melesat maju dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.
Dia melayangkan pukulan lurus ke arah wajah Arga yang mengandung tenaga sangat merusak.
Arga secara refleks mengangkat kedua lengannya untuk memblokir pukulan mematikan tersebut.
Bugh.
Tulang lengan Arga berderit keras menahan tekanan pukulan yang setara dengan hantaman palu godam.
Tubuh Arga terseret mundur sejauh dua langkah namun kuda-kudanya tetap berdiri kokoh.
"Tenaga lo lumayan juga buat ukuran manusia mutasi," ejek Arga menahan rasa ngilu di lengannya.