Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20.MENCARI QAISERA
Ende yang terbiasa hidup keras di luar negeri tiba-tiba menggebrak meja, obat kakek berhamburan jatuh ke lantai. Emely buru-buru merapikannya. Nyalinya ciut melihat sikap Ende yang galak.
"Pamann...."
"Jadi kalian melepaskan anak ku, tidak berusaha menahannya. Putri ku saat itu berumur lima belas tahun, masih muda dan labil, anak se-umur itu kalian lepaskan?"
"Ende sabarlah, ceritanya bukan begitu... Kau mengkhayal sendiri...dia.."
"Emely diam! Kalau anak itu namanya Qaisera, aku sudah tahu cerita lengkap dan penderitaannya." potong Ende marah.
"Ende, papa mengerti pasti Berlin yang bercerita, tidak terbersit dihati papa untuk membedakannya dari cucu yang lain, hanya saja Wijaya yang tidak mau melepaskan Qai dan menyerahkan pada kluarga kita."
"Ya..Wijaya yang membuat kita kehilangan kontak dengan Qai." imbuh Emely ketar ketir, ia berdoa dalam hati supaya Ende tidak mengamuk.
"Paman...Qai adalah putri yang disayang di keluarga kita, walaupun aku baru tahu statusnya, tapi dia sangat disayang disini termasuk aku menyayanginya." ucap Rio berusaha meredakan hati pamannya.
Tadi Rio sangat kaget mendengar bahwa Qai adik sepupunya, sebenarnya dia dari dulu sudah naksir Qai. Tahu gitu ia melarang Qai pergi dari kluarga Raharja.
"Maafkan kami adik ku, papa lagi sakit aku mohon kau tidak menyakiti hati papa." ucap Flores menengahi, biasanya Ende selalu menurutinya.
"Paman aku akan mencari Qai dan mengajaknya pulang." ucap Rio lagi.
"Rio..biarkan paman mu dan Berlin yang mencari Qai, mereka yang berhak. Kakek mau jodohkan Qai dengan Berlin."
"Apa?..Qai dari kecil selalu bermain sama aku, kalau dengan Berlin malah sering berantem. Berlin, katakan kalau kau tidak suka dengan Qai."
"Benar paa...Qai dan Rio dari kecil sudah cocok. Mereka sekolah di tempat yang sama, bermain bersama. Sepertinya Rio lebih cocok dengan Qai."
Emely ikut memprovokasi menghasut supaya kakek terpancing emosinya, serta mau melakukan keinginan Rio. Selama ini ia merasa tidak begitu jahat kepada Qai, ia yakin Qai juga akan dikasi saham. Jika Rio dan Qai bersatu Rio akan menjadi pimpinan perusahan.
"Kakek jaga kesehatan supaya cepat pulang. Soal perjodohan nanti saja dibahas." ucap Berlin menggenggam tangan kakek.
"Semoga kau bertemu Qai, nanti bawa pulang sekalian dengan pak Wijaya "
"Aku yang akan mencari putriku, tidak usah repot-repot." ucap Ende keluar.
"Ingat Qai hanya untuk Berlin." ucap kakek tegas.
"Aku juga pamit kek, lain kali kita bertemu lagi, aku minta alamat Qai..."
"Carilah calon istrimu dan bawa kesini."
"Aku mencarikannya untuk kakek." sahut Berlin keluar.
Hari ini suasana hati Ende kurang bagus, ia menyuruh sopir berputar-putar tidak keruan. Berlin berusaha menenangkan hati pamannya.
"Paman, kalau kau terus putar-putar kapan kita sampai kerumah Pak Wijaya. Aku tahu perasaan paman, harusnya mereka dari semula memberitahu kalau paman sudah punya putri."
"Mereka semua br*ngsek, aku malas datang ke rumah Raharja."
"Marco, putar balik kita akan mencari putri paman, lihat alamat yang aku kasi." perintah Berlin kepada pengawalnya.
"Baik bos.."
Akhirnya setelah satu jam mencari, mereka menemukan. Rumah pak Wijaya termasuk lumayan walaupun tidak begitu besar tapi cukup untuk hidup berdua.
Seorang pelayan menyambut mereka dan menyuruhnya duduk.
"Silahkan duduk saya memanggil nona dan tuan Wijaya."
"Kami tunggu, trimakasih."
Tak begitu lama keluar Dewi mendorong kursi roda. Pak Wijaya duduk di atas kursi roda terlihat sudah tua dari umurnya. Dewi terpana melihat dua orang pria yang tampan dan berwibawa.
"Qai ini papa...."
Tiba-tiba Ende memeluk Dewi, ia mengira Dewi putrinya. Pada saat itu Dewi bingung menjelaskan kepada tamunya, bahwa ia bukan Qai. Tapi karena ada pak Wijaya jadinya dia diam saja.
Selama ini Dewi menyamar menjadi Qai itu semua perintah Qai, supaya pak Wijaya merasa nyaman dan bisa sembuh.
"Bagaimana khabarmu sekarang, apakah keluarga Raharja dulu menindasmu atau tante Emely pernah menyakitimu?"
"Mereka semua baik.." jawab Dewi agak canggung. Ia betul-betul nervous saat ini. Keadaan ini tidak ada dalam kesepakatan Dewi dan Qai.
Laki-kaki yang memeluknya, walaupun umurnya sudah setengah baya masih terlihat bugar dan ganteng. Rupanya ini papanya Qai, kenapa Qai tak pernah cerita tentang papanya?
"Qai kau ingat aku? Teman masa kecilmu, aku Berlin. Kita sering main berdua dan sering berantem." ucap Berlin gantian memeluk Dewi.
Uhh..wanginya dan ganteng banget seperti artis. Bathin Dewi.
"Aku ingat semuanya, kau tambah tampan dan mempesona. Selama ini aku merawat pak Wijaya cukup berat, untung ada dua orang perawat. Pak Wijaya sudah pikun dan pendengarannya juga menurun." ucap Dewi duduk disamping Berlin.
Ia membiarkan tangan Berlin mengelus rambutnya. Kapan lagi dielus pria ganteng pikir Qai kocak.
"Kalau ada waktu kakek ingin melihatmu, kau tidak dendam sama kakek?" tanya Berlin ragu, karena dulu Qai sangat benci kepada kakek dan Emely.
"Aku sayang kepada kakek dan tante, ⁸ Kapan mau kesana?" sahut Dewi ceria.
Ia berpikir akan menjelaskan indetitas dirinya setelah bertemu kakek.
Ternyata Qai tidak pedendam, syukurlah. pikir Berlin. Ia memandang gadis di sampingnya naik turun, ternyata setelah dewasa Qai kulitnya sedikit coklat tidak sesuai ekspektasi. Pengharapan akan bertemu gadis cantik, manis, putih dan dingin. Seperti dia... Qai lumayanlah tapi ia sudah mencintai Black Rose, ia ingin supaya Rio yang menikahinya.
*****