Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.
Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.
Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan menakutkan itu muncul lagi...
Jeni biasanya selalu lebih dulu mengajak Nadia ngobrol, Jeni yang biasanya banyak tanya, apa lagi setelah kemarin Nadia sempat menangis. Namun, hari ini Jeni malah lebih banyak diam, Nadia juga bisa merasakan Jeni seakan sengaja menghindari tatapannya.
"Beb, lo lagi bad mood ya?" Nadia memberanikan diri bertanya.
"Hmm." sahut Jeni singkat.
"Lagi ada masalah sama pacar lo ya?"
Pertanyaan itu membuat Nadia mendapat tatapan sinis dari Jeni.
"Sorry, beb. Gue gak maksud ikut campur. Tapi, gue ngerasa lo lagi gak nyaman. Jadi, kalau lo mau cerita, gue siap dengerin kok." lanjut Nadia masih mencoba membujuk Jeni.
"Gak ada. Gue gak apa-apa." jawabnya ketus.
Mendengar ketusnya tanggapan Jeni, membuat Nadia berhenti mencoba. Dia mulai menyadari bahwa Jeni tidak nyaman dengan pertanyaan yang barusan dia ajukan.
Jeni benar-benar cuek dan dingin. Rasanya canggung. Bahkan hari pertama mereka berkenalan pun rasanya tidak canggung seperti hari ini.
Nadia mulai memikirkan kemungkinan apa yang membuat Jeni berubah seperti ini.
Saat sibuk memikirkan alasan Jeni tiba-tiba bersikap ketus, pesan dari Astrid masuk ke handphonenya. Nadia segera membaca pesan itu, sebelum jam pelajaran kembali di mulai.
Ibuk: jangan lupa besok kirim uangnya!
Helaan napas berat perlahan terdengar, kalimat demi kalimat kasar yang diucapkan Astrid padanya pun kembali berputar di kepalanya. Nadia merasa dadanya perlahan terasa sesak, tangannya gemetar dan matanya merah berair.
Jeni melirik sebentar, tapi kemudian dia kembali fokus menatap ke depan karena pelajaran baru akan segera di mulai.
Sementara itu, di laboratorium kedokteran hewan, Yuri dan Laura sedang fokus dengan praktek mereka. Tapi, sesekali mereka membicarakan tentang apa yang mereka pikirkan tentang Kevin.
"Kalau sampai Kevin benaran tertarik sama Nadia, gue maju duluan buat mukul kepala si Kevin!" bisik Yuri pada Laura.
"Gue setuju. Gue juga gak akan tinggal diam."
"Tapi beb... Kita harus gimana sekarang! Ngasih tau Nadia duluan atau Jeni duluan."
Sebentar Yuri diam, dia duduk sambil menyentuh dahinya. "Mungkin kita kasih tau Nadia aja dulu. Kalau Nadia tau, dia pasti akan berusaha jaga jarak sama Kevin."
"Setuju. Karena kalau kita kasih tau Jeni duluan, yang ada Jeni pasti langsung bete sama Nadia dan Kevin. Semuanya bisa jadi kacau."
"Benar. Gue juga setuju."
"Ya udah, nanti gue deh yang ngomong sama Nadia." lanjut Laura.
"Oke."
Mereka kembali fokus pada praktek memeriksa struktur kerangka tubuh hewan di hadapan mereka.
...>~<...
Kuliah hari ini akhirnya selesai. Jeni benar-benar mendiamkan Nadia. Nadia yang tadinya mau cerita tentang apa yang sedang menggangu pikirannya pun tak dia hiraukan sama sekali.
"Beb, gue pulang duluan ya." pamit Nadia pada Jeni yang pura-pura tidak peduli sama sekali.
Begitu Nadia menghilang dari ruang kelas, Jeni langsung menoleh dan berharap Nadia masih ada di sana. Sayangnya, Nadia sudah benar-benar pulang.
"Nad, sorry. Gue lagi dikuasai rasa cemburu buta yang menyiksa ini. Gue tau lo gak akan pernah merebut Kevin dari gue. Gue percaya lo, Nad. Tapi, masalahnya sekarang, gue gak bisa percaya sama Kevin seutuhnya. Gue takut, insting gue kuat banget memberi tahukan pada pikiran gue kalau Kevin tertarik sama lo." lirihnya kesal sambil meremas kertas bekas di hadapannya.
Jeni tidak langsung pulang, dia memilih mengademkan kepalanya dengan berburu makanan dan minuman di kantin fakultasnya.
Nadia sendiri sudah tiba di kontrakannya. Tidak butuh waktu lama, Nadia langsung membawa motornya ke bengkel terdekat.
"Mau ganti ban atau di tambal aja, mbak?" tanya mas mas bengkel.
"Bagusnya gimana, mas?"
Mas-mas bengkel itu pun menjelaskan plus minus nya jika ganti ban atau hanya kembali di tambal. Pada akhirnya Nadia memilih tambal ban saja, karena dia harus mengatur ulang keuangannya.
Setelah selesai, Nadia langsung bergegas menuju kafe. Dia masuk lebih awal hari ini, karena ada yang izin pulang sebelum jam shift nya selesai.
"Nad, nanti antar espresso ke atas ya!" titah Adit.
"Iya, bang."
"Jangan lama lama!"
"Iya."
Adit naik ke lantai atas, ruangan khusus tempat dia mengerjakan pekerjaannya sebagai pemilik kafe.
Nadia pun segera membuatkan espresso untuk Adit dan mengantarkan ke ruangannya.
"Espresso nya, bang Adit."
"Terimakasih, Nadia."
"Sama-sama, bang Adit." Nadia menaruh gelas kopi itu di atas meja.
"Nad, bisa bantu Abang bentar gak?"
"Boleh. Bantu apa bang?"
Adit melangkah menuju lemari di sudut ruangan. Dia mengeluarkan dua map file dari sana untuk kemudian dia bawa ke dekat Nadia.
"Ini, coba bantu periksa dua laporan omset bulan lalu. Kalau ada yang gak sama, kamu contreng aja." Adit meraih pulpen tinta merah dari tempat pulpen di mejanya.
"Dua file ini ya bang?"
"Iya. Bisa kan?" tanya Adit tersenyum manis.
"Bisa. Tapi apa gak apa-apa nih, aku malah gak ikut bantu di bawah?"
"Ya gak apa apa. Nanti biar Abang yang ngomong."
Nadia mengangguk paham. Lalu dia mengerjakan apa yang barusan di perintahkan Adit padanya.
Adit sendiri juga mengerjakan sesuatu di laptopnya. Tapi, matanya sesekali melirik kearah Nadia. Senyum senang terlihat jelas di wajah Adit.
"Aduh, AC malah rusak. Kemarin udah panggil tukang, tapi sampai hari ini masih belum datang juga." rutuk Adit sambil menggulung lengan kemejanya dan membuka tiga kancing atas kemejanya. "Kamu gerah gak, Nadia?" tanya Adit kemudian sambil mendekati Nadia.
Nadia yang tadi tampak semangat memeriksa laporan pun, mendadak diam mematung, sorot matanya kosong.
Menyadari apa yang terjadi pada Nadia, Adit memanggil namanya, tapi Nadia tidak merespon.
"Nadia!" menyentuh pelan pundak Nadia.
Merasa sentuhan asing di bahunya, sontak Nadia menggeser duduknya. "Maaf, aku melamun." ucapnya gagap.
Tangan Nadia saling menggenggam, gemetar. Sorot matanya sangat kosong, Nadia seperti sedang linglung.
"Nadia, kamu kenapa?"
Bukannya menjawab, Nadia langsung berdiri, melangkah dengan sempoyongan tanpa peduli dengan Adit yang terus memanggil namanya.
"Apa mungkin karena..." lirih Adit menyadari Nadia mungkin tidak nyaman dengan sentuhan di pundaknya barusan.
"Nadia!"
Dengan langkah oleng, kakinya terus melangkah semakin cepat membawanya pergi dari ruangan itu.
Napasnya terasa berat dan tak beraturan. Keringat dingin pun mulai bermunculan. Nadia merasakan Rasa takut yang sangat menyiksa. Perasaan itu muncul saat Adit menyinggung tentang kata gerah, membuka kancing kemejanya dan saat Adit menyentuh pundaknya tanpa izin.
Langkah kakinya semakin terasa berat, tubuhnya gemetar hebat, bayangan waktu Nadia dilecehkan oleh dua teman Nino mulai muncul di kepalanya.
"Gak, aku gak apa-apa!" ucapnya terengah-engah. "Aku gak ngapa-ngapain!" jeritnya tertahan sambil terbata-bata dengan napas yang semakin terasa berat dan menyesakkan.
Kaki Nadia membawa tubuhnya bersembunyi di bilik toilet. Tubuh gemetar itu luruh begitu saja di lantai toilet yang lembab.
"Aku baik-baik saja. Aku, aku gak melakukan apapun..." lirihnya terbata dengan napas yang masih tidak teratur, namun perlahan mulai terasa sedikit lebih lega saat Nadia mulai memeluk dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk pelan dada kirinya.
Bersambung...