No Plagiat 🚫
NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau
“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”
Yi Ling adalah anomali.
Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.
Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.
Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.
Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.
Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.
Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.
Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebisingan di Paviliun Rasa Langit
Song De kembali ke mejanya dengan langkah kaku, tapi sorot matanya penuh amarah yang belum padam. Dua rekannya mencoba menenangkannya, namun jelas terlihat bahwa harga dirinya baru saja diinjak di depan seluruh restoran.
“Dia akan kembali,” gumam Xiān Yǔ santai sambil menyeka minyak di bibirnya. “Dan kali ini, kemungkinan besar dia membawa lebih banyak teman… atau lebih sedikit akal sehat.”
“Perbedaan keduanya sangat tipis,” balas Zhui Hai tanpa mengangkat kepala dari piring manisannya.
Yi Ling tidak ikut dalam percakapan itu. Perhatiannya sepenuhnya tertuju ke arah jendela. Refleksi kaca memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa—aliran angin di luar yang tidak bergerak secara alami.
“Zhui Hai,” ucapnya pelan.
Zhui Hai langsung berhenti makan.
“Ada sesuatu di luar,” lanjut Yi Ling. “Frekuensinya sama seperti yang kita temui di gang tadi.”
Xiān Yǔ mengangkat alis. “Jadi kita punya penguntit… atau penggemar?”
“Penguntit yang ingin membunuhmu jarang disebut penggemar,” jawab Zhui Hai datar.
Belum sempat mereka bergerak, pintu Paviliun Rasa Langit terbuka lagi.
Kali ini, bukan pengunjung biasa.
Sekelompok pria berjubah hitam masuk dengan langkah serempak. Tidak ada suara dari mereka—bahkan langkah kaki mereka hampir tidak terdengar. Namun justru itulah yang membuat suasana menjadi jauh lebih mencekam.
Seluruh restoran langsung sunyi.
Song De yang tadinya marah, kini justru tampak waspada.
“Sial…” bisiknya. “Kenapa mereka muncul di sini…”
Yi Ling menyipitkan mata.
“Akhirnya muncul juga,” gumamnya.
Zhui Hai meletakkan tusuk manisannya perlahan. “Tuan, mereka bukan sekadar pembunuh bayaran. Pola energi mereka… sinkron. Ini organisasi.”
Xiān Yǔ menyeringai lebar. “Bagus. Aku sudah mulai bosan makan tanpa hiburan.”
Pria di barisan depan kelompok berjubah hitam itu mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat, dengan garis-garis hitam seperti retakan di bawah kulitnya.
Matanya langsung tertuju pada Yi Ling.
“Seruling Ungu…” bisiknya.
Suasana langsung berubah.
Beberapa pelanggan langsung berdiri dan menjauh. Bahkan para anggota Klan Song di sudut ruangan ikut bersiap, meskipun mereka belum bergerak.
“Kalian datang lebih cepat dari yang kuduga,” ucap Yi Ling tenang.
Pria itu tersenyum tipis.
“Dan kau lebih tenang dari yang kami perkirakan.”
Tiba-tiba—
WUSH!
Seluruh lampion di dalam restoran padam bersamaan.
Gelap.
Namun hanya sekejap.
Dalam kegelapan itu, mata Yi Ling bersinar ungu.
Dan suara seruling terdengar.
Nada pertama.
Seketika, cahaya ungu tipis menyebar seperti kabut, menerangi ruangan dengan cara yang tidak alami.
Di dalam cahaya itu… semua gerakan terlihat jelas.
Termasuk serangan.
Delapan sosok berjubah hitam sudah berada di udara, melesat langsung ke arah Yi Ling.
“Lambat,” gumam Xiān Yǔ.
Dalam satu gerakan, ia menghilang dari kursinya.
DUAK! BRAK! BUK!
Tiga orang langsung terpental bahkan sebelum mereka menyentuh tanah.
Xiān Yǔ muncul kembali di tengah ruangan, memutar pergelangan tangannya dengan santai.
“Serangan pembuka yang buruk,” komentarnya. “Tidak ada gaya.”
Di sisi lain, Zhui Hai hanya mengangkat satu tangan.
“Diam.”
Udara di sekitarnya membeku.
Dua penyerang yang mencoba menusuknya tiba-tiba berhenti di udara—benar-benar berhenti—seperti patung yang tergantung.
Lalu—
CRACK.
Keduanya jatuh tak bergerak.
Song De mundur beberapa langkah, wajahnya pucat. “Ini… monster macam apa…”
Namun pertempuran belum selesai.
Pemimpin berjubah hitam itu mengangkat tangannya.
“Formasi Resonansi.”
Seluruh tubuh anak buahnya yang tersisa mulai memancarkan cahaya hitam. Energi mereka menyatu, menciptakan tekanan yang membuat lantai restoran retak.
Yi Ling berdiri perlahan.
Serulingnya kembali ke bibir.
“Kalian terlalu berisik.”
Nada kedua.
Kali ini lebih dalam.
Lebih berat.
Gelombang suara tak terlihat menyebar, bertabrakan langsung dengan energi hitam mereka.
BOOM!
Seluruh meja dan kursi terangkat.
Para pelanggan berteriak dan melarikan diri.
Song De dan kelompoknya terpaksa melindungi diri.
“Ini gila… kalau terus begini, seluruh paviliun akan hancur!”
Di atas menara kota, Song Yuan membuka matanya.
Angin berhenti.
“Jadi mereka mulai…” gumamnya.
Ia langsung melompat turun dari menara.
Sementara itu, di dalam Paviliun—
Pertarungan mencapai puncaknya.
Pemimpin berjubah hitam itu maju sendiri, menembus gelombang suara Yi Ling dengan paksa.
“Menarik… sangat menarik…” katanya sambil tertawa pelan. “Energi Ungu… benar-benar sudah matang…”
Xiān Yǔ muncul di depannya dalam sekejap.
“Kalau mau mengagumi, ambil nomor antrean dulu,” katanya santai.
DUAK!
Pukulan Xiān Yǔ menghantam dada pria itu—tapi…
Tidak bergerak.
Pria itu hanya bergeser setengah langkah.
Xiān Yǔ mengangkat alis. “Oh?”
“Tubuhku bukan lagi tubuh manusia,” jawab pria itu dingin.
Zhui Hai langsung muncul di samping Xiān Yǔ.
“Tuan, mundur sedikit.”
Yi Ling mengangguk.
Ia meniup nada ketiga.
Kali ini…
Seluruh ruangan menjadi sunyi total.
Bukan karena tidak ada suara.
Tapi karena semua suara “ditelan”.
Zhui Hai mengangkat kedua tangannya.
“Sekarang.”
Dalam keheningan absolut itu, energi biru dan ungu berpadu.
Xiān Yǔ menyeringai.
“Akhirnya serius juga.”
Ia melesat.
Kali ini bukan sekadar cepat—
Ia seperti menghilang dari eksistensi.
Dalam satu detik—
BRAK!
Pemimpin berjubah hitam itu terpental keluar dari bangunan, menabrak jalanan batu di luar.
Yi Ling berjalan keluar perlahan.
Lampion-lampion di luar bergetar hebat.
Orang-orang berkerumun dari jauh, tapi tidak berani mendekat.
Pria berjubah hitam itu bangkit perlahan, tubuhnya retak di sana-sini.
Namun ia masih tertawa.
“Kalian… benar-benar layak…”
Yi Ling menatapnya dingin.
“Siapa yang mengirimmu?”
Pria itu tersenyum lebar.
“Angin…”
Tubuhnya tiba-tiba mengembang.
Zhui Hai langsung bergerak.
“Tuan, mundur!”
BOOM!
Ledakan hitam meledak ke langit, menciptakan pusaran angin yang menyedot segala sesuatu di sekitarnya.
Xiān Yǔ melindungi Yi Ling dengan tubuhnya.
Zhui Hai menahan gelombang dengan penghalang energi biru.
Saat ledakan mereda—
Hening.
Pria itu… hilang.
Tidak ada tubuh.
Tidak ada jejak.
Hanya sisa energi yang perlahan menghilang di udara.
Song Yuan mendarat di depan mereka.
Tatapannya serius.
“Apa itu?”
Yi Ling menjawab singkat.
“Badai.”
Song Yuan menatap reruntuhan Paviliun Rasa Langit, lalu kembali ke Yi Ling.
“Kalau itu badai… maka Kota Fengyu akan segera hancur.”
Xiān Yǔ menyilangkan tangan. “Tenang saja, Jenderal. Selama ada aku, kehancuran pun akan terlihat tampan.”
Zhui Hai menutup matanya sejenak. “Aku benar-benar berharap dia meledak tadi.”
Yi Ling tersenyum tipis.
“Sepertinya… kita punya tujuan yang sama sekarang.”
Song Yuan tidak langsung menjawab.
Namun untuk pertama kalinya—
Ia tidak melihat Yi Ling sebagai orang asing.
Melainkan sebagai sekutu… atau ancaman yang harus diawasi sangat dekat.
Angin kembali bertiup.
Dan kali ini…
Ia membawa lebih dari sekadar suara.
Ia membawa perang.