(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Bajak Laut
Kapal Tulang Hitam membelah Lautan Kabut Kematian dengan kecepatan yang jauh melampaui Kapal Awan Merah. Susunan formasi di lambung kapal ini dirancang menggunakan inti monster laut dalam, membuatnya menyatu dengan cairan hitam mematikan dan menolak kabut penghisap Qi dengan sangat sempurna.
Di ruang kapten yang berbau anyir, Chu Chen duduk bersila di atas kursi takhta yang terbuat dari tengkorak paus bertanduk. Matanya terpejam. Di dalam kepalanya, kepingan-kepingan ingatan Kapten Tuo berputar dengan cepat, dipilah dan dicerna oleh Niat Spiritual naganya.
Menyerap ingatan seseorang yang telah hidup ratusan tahun adalah proses yang bisa membuat orang fana menjadi gila. Namun bagi Chu Chen, ingatan Kapten Tuo hanyalah seperti membaca tumpukan buku panduan usang.
"Menarik," Chu Chen perlahan membuka matanya. Pupil emas vertikalnya berkilat di tengah ruangan yang remang-remang.
Ia kini memiliki gambaran kasar tentang dunia baru yang sedang mereka tuju. Wilayah Suci Primordial bukanlah benua tunggal yang damai. Daratan itu sangat luas, ukurannya ribuan kali lipat lebih besar dari Benua Biru Langit, dan terbagi menjadi empat Wilayah Luar serta satu Wilayah Pusat yang sakral.
Di tempat ini, Sekte bukanlah kekuatan tertinggi. Benua ini dikuasai oleh Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang garis keturunannya telah ada sejak era purba.
Di Benua Biru Langit, Alam Lautan Qi bisa membuat seseorang menjadi Penatua, dan Inti Emas menjadikan mereka dewa. Namun di Wilayah Suci Primordial, Alam Inti Emas hanyalah syarat terendah untuk diakui sebagai 'manusia merdeka'. Mereka yang berada di bawah Inti Emas biasanya menjadi budak pekerja, pelayan, atau prajurit umpan meriam.
Alam Istana Jiwa di sini hanyalah komandan tingkat menengah atau pemimpin kelompok kecil seperti Kapten Tuo. Di atas mereka, para Raja Fana memerintah kota-kota besar, dan ahli Penyatuan Langit menjadi Jenderal Kekaisaran atau Tetua Klan.
"Tingkatan kekuatan yang jauh lebih tinggi," gumam Chu Chen. "Dan kita sedang menuju ke Pelabuhan Besi Berdarah, salah satu titik masuk paling kumuh di perbatasan selatan, dikendalikan oleh kelompok lokal bernama Klan Hiu Hitam."
Pintu ruang kapten terbuka. Bai melangkah masuk dengan gaun pelayan yang bersih, membawa nampan berisi secawan teh spiritual. Meski ia berusaha mempertahankan sisa-sisa keanggunannya sebagai mantan tetua sekte, sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kewaspadaan mutlak saat menatap Chu Chen.
"Kabut di luar mulai menipis," ucap Bai dingin, meletakkan teh di atas meja batu di sebelah Chu Chen. "Jika angin ini terus berhembus stabil, kita akan melihat garis pantai daratan dalam setengah hari."
Chu Chen mengambil cawan teh itu, menyeruputnya perlahan. "Klan Hiu Hitam. Apa kau tahu sesuatu tentang mereka?"
Bai sedikit terkejut mendengar Chu Chen menyebutkan nama tersebut. Ia tahu pemuda ini menyerap ingatan kapten bajak laut, namun ia tidak menyangka proses pencernaannya akan secepat ini.
"Mereka adalah penguasa perairan dangkal di selatan," jawab Bai. "Klan ini terkenal rakus. Pemimpin mereka dikabarkan berada di Alam Raja Fana. Mereka memalak setiap kapal dari benua bawah yang berhasil menyeberangi lautan ini. Bagi mereka, pendatang dari benua bawah seperti kita disebut 'Pengungsi Lumpur'. Mereka sering menangkap pendatang yang tidak bisa membayar upeti untuk dijadikan budak tambang kristal di dasar laut."
"Upeti, ya?" Chu Chen meletakkan cawan tehnya. Senyum tipis yang mematikan terukir di bibirnya. "Sepertinya di mana pun kaki kita berpijak, selalu ada anjing penjaga yang ingin mencicipi daging kita."
Chu Chen bangkit berdiri. "Beri tahu Meng Fan untuk bersiap. Perjalanan yang membosankan ini akhirnya selesai."
...
Sepuluh jam kemudian, langit abu-abu yang suram perlahan terbuka. Kabut beracun memudar, memperlihatkan langit biru pucat yang dipenuhi oleh awan-awan tebal berbentuk pusaran.
Di cakrawala, sebuah dinding karang raksasa menjulang setinggi ratusan tombak, membentang dari timur ke barat tanpa ujung. Di celah dinding karang itu, terletak sebuah pelabuhan yang terbuat dari lempengan logam hitam dan sisa-sisa lambung kapal raksasa.
Pelabuhan Besi Berdarah.
Ribuan kapal dengan berbagai bentuk dan ukuran berlabuh di sana. Suara hiruk-pikuk manusia, auman binatang penarik raksasa, dan benturan energi kultivasi terdengar dari jarak bermil-mil. Ini adalah kota tanpa hukum yang hidup dari pemerasan dan perdagangan pasar gelap.
Saat Kapal Tulang Hitam milik Chu Chen mendekati kawasan pelabuhan, sebuah kapal peronda ramping yang dihiasi lambang hiu bergigi gergaji langsung melesat memotong jalur mereka.
BAM! Dua jangkar besi dilemparkan dan mengait lambung kapal tulang tersebut.
Lima sosok berpakaian zirah bersisik hitam melompat melintasi udara dan mendarat dengan kasar di geladak kapal Chu Chen. Mereka memancarkan hawa keangkuhan yang kental. Empat dari mereka berada di Alam Inti Emas Tahap Akhir, sementara sang pemimpin—seorang pria bermata satu dengan bekas luka gigitan hiu di wajahnya—memancarkan gejolak Alam Istana Jiwa Tahap Awal.
Di Benua Biru Langit, barisan seperti ini cukup untuk menghancurkan sebuah sekte kecil. Di sini, mereka hanya penjaga karcis pelabuhan.
Pria bermata satu itu mengedarkan pandangannya, mencari sosok raksasa biru Kapten Tuo. Namun yang ia temukan hanyalah seorang pemuda berjubah abu-abu (Chu Chen), seorang pria tua yang memeluk labu arak (Meng Fan), dan seorang wanita berkerudung (Bai). Beberapa mantan anak buah Tuo yang kini diperbudak Chu Chen berdiri gemetar di sudut geladak.
"Di mana Tuo si Biru?!" bentak pria bermata satu itu, matanya menyipit penuh kecurigaan. Ia menatap Chu Chen dan menyadari bahwa pemuda ini hanya memancarkan aura Inti Emas Tahap Menengah.
Chu Chen berdiri dengan tangan di belakang punggung, ekspresinya sedatar permukaan air danau yang beku. "Dia sudah menjadi pakan ikan."
Mendengar jawaban itu, pria bermata satu tersebut tertegun sejenak, sebelum akhirnya meledak dalam tawa keras yang diikuti oleh keempat anak buahnya.
"Hahaha! Pakan ikan?! Maksudmu, kalian gerombolan Pengungsi Lumpur ini berhasil membunuhnya?!" Pria itu meludah ke geladak. "Tuo pasti mati karena kebodohannya sendiri, dan kalian kebetulan memungut kapalnya! Dasar sampah benua bawah, kalian pikir kalian bisa berlayar bebas dengan kapal bajak laut di perairan Klan Hiu Hitam?"
Pria itu menjejakkan kakinya, melepaskan tekanan Istana Jiwa-nya. Tekanan itu membuat Meng Fan jatuh berlutut sambil terbatuk, sementara Bai memucat karena meridiannya masih tersegel.
"Dengarkan aturan di sini, Pengungsi!" raung pria itu. "Kapal ini sekarang disita oleh Klan Hiu Hitam! Dan sebagai biaya masuk pelabuhan, kalian berdua yang laki-laki akan dikirim ke Tambang Palung Hitam sebagai budak seumur hidup!"
Mata tunggal pria itu kemudian beralih ke arah Bai, menatap lekuk tubuh wanita itu dengan penuh nafsu. "Adapun wanita ini... dia akan menjadi hadiah untuk Tuan Muda kami. Sekarang, berlutut dan menyerahlah sebelum aku mematahkan kaki kalian!"
Empat penjaga Inti Emas di belakangnya langsung menghunus senjata mereka, melangkah maju untuk meringkus Chu Chen.
Namun, di bawah tekanan Istana Jiwa yang seharusnya membuat ahli Inti Emas biasa sesak napas itu, Chu Chen bahkan tidak berkedip. Zirah Tulang Naga Hitam di dalam tubuhnya serta-merta menolak hukum penindasan tersebut.
"Pengungsi lumpur..." Chu Chen mengulang kata-kata itu dengan nada yang sangat pelan, anehnya terdengar sangat menenangkan. Ia memutar lehernya sedikit. "Di benua yang lama, orang-orang sepertimu disebut semut. Sepertinya di benua baru ini, kalian juga tidak memiliki nama yang lebih baik."
"Bocah sombong, kau cari mati!"
Pria bermata satu itu murka. Ia tidak menggunakan senjata, melainkan langsung menjulurkan tangan kanannya yang memancarkan pusaran air bertekanan tinggi tingkat Istana Jiwa, berniat meremukkan tengkorak Chu Chen.
Di dunia fana, perbedaan antara Inti Emas Tahap Menengah dan Istana Jiwa Tahap Awal adalah jurang mutlak.
Namun, Chu Chen bukan kultivator fana.
Ia tidak menghindar. Ia tidak menggunakan Pusaran Ketiadaan. Ia murni mengayunkan tangan kanannya ke depan, memusatkan kekuatan fisik Lapis Kesembilan Puncak yang telah melebur sempurna dengan Inti Emas Naga Hitamnya, dan menampar pusaran air tersebut.
PLAAAK!
Suara tamparan itu terdengar seringan tepukan pada kain basah, namun hasil yang terjadi berikutnya membekukan kewarasan seluruh penjaga di atas kapal.
Pusaran air bertekanan tinggi milik ahli Istana Jiwa itu hancur berkeping-keping seolah terbuat dari kaca tipis. Tangan Chu Chen terus melaju, menghantam wajah pria bermata satu tersebut.
KRAAAK! BUMMM!
Kepala pria bermata satu itu terpelanting ke samping dengan sudut yang mustahil. Setengah wajahnya hancur lebur seketika akibat tenaga fisik murni yang membawa Niat Pedang tersembunyi. Tubuhnya terlempar ke udara bagaikan karung goni berisi pasir, melesat melewati geladak, dan menghantam tiang besi kapal perondanya sendiri hingga tiang itu bengkok ke dalam!
Pria itu jatuh ke laut hitam dan tidak pernah muncul lagi. Ahli Istana Jiwa, mati dengan satu tamparan biasa.
Keempat penjaga Inti Emas yang sedang melangkah maju mendadak membeku menjadi patung. Kaki mereka gemetar hebat, senjata mereka nyaris terlepas dari tangan. Mereka menatap pemuda berjubah abu-abu itu dengan kengerian yang meremukkan nalar. Inti Emas Menengah menampar mati seorang Istana Jiwa?!
Chu Chen mengusap debu khayal dari telapak tangannya. Ia menatap keempat penjaga yang kini memucat pasi.
"Biaya masuk pelabuhan," bisik Chu Chen dingin. Ia merogoh lengan bajunya, mengambil sekeping Batu Roh Tingkat Bawah yang retak dan nyaris kehabisan energi—sebuah batu sampah yang paling tidak berharga—dan melemparkannya ke depan kaki salah satu penjaga yang gemetar.
"Ambil kembaliannya," ucap Chu Chen, nadanya memancarkan penindasan dari pemangsa puncak sejati. "Dan beri tahu Tuan Muda kalian... jika dia masih menginginkan wanitaku, suruh dia datang sendiri dan berlutut di depanku."
Keempat penjaga itu tidak berani mengeluarkan satu suku kata pun. Mereka mundur selangkah demi selangkah dengan wajah penuh ketakutan, lalu melompat kembali ke kapal peronda mereka secepat anjing yang dikejar harimau, melarikan diri menuju pelabuhan tanpa mempedulikan mayat pemimpin mereka.
Bai berdiri di belakang Chu Chen. Meski ia membenci pemuda ini, ia tidak bisa menutupi debar di dadanya melihat keangkuhan mutlak tersebut. Pemuda ini baru saja menginjakkan kakinya di Wilayah Suci Primordial, dan hal pertama yang ia lakukan adalah memancing amarah penguasa setempat tanpa ragu sedikit pun.
Chu Chen menatap ke arah pelabuhan raksasa yang dipenuhi logam hitam dan darah di depan mereka. Matanya yang gelap memancarkan rasa lapar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ayo kita lihat," gumam Sang Naga, menyeringai buas. "Seberapa banyak daging yang bisa ditawarkan benua ini sebelum aku merasa kenyang."