Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Datang Ke Perusahaan
Suara dentuman keras dari pintu yang ditendang seorang pria di salah satu kamar hotel membuat dua orang lainnya di dalam ruangan itu terkejut.
Itu adalah Stevan, pria gila yang melampiaskan amarahnya pada pintu di hotel bintang lima tersebut.
“Kau benar-benar bodoh, Bianca! Semuanya berjalan lancar, dan sekarang kau membiarkan dia menghubungimu melalui telepon hotel? Untuk apa?! Sudah kubilang, kurangi kemungkinan dia menghubungimu melalui sesuatu yang bukan milik pribadi! Otakmu terlalu kecil untuk berpikir!”
Sekali lagi, Stevan menghantam sisi pintu dengan marah. Salah satu pengawal yang menjaganya mencoba menghentikan Stevan, tetapi pemuda itu menahan pria tersebut dengan tangannya, memberi isyarat agar menjauh.
Suara Bianca terdengar panik dan ketakutan dari ujung telepon.
Amarah Stevan benar-benar menakutkan baginya.
“Sayang, aku tidak tahu. Seharusnya kau menjelaskan semuanya secara detail. Lagi pula, kau sudah mendapatkan lokasinya. Kau bisa terus mengawasinya, bukan? Bukankah anggota-anggota yang diwarisi dari almarhum ayahmu tersebar di seluruh negara?”
“Diam! Berhenti bicara! Aku tidak mau mendengar kata-katamu! Kau tidak tahu apa-apa. Tugasmu sederhana, pancing Atlas agar menghubungimu menggunakan ponselnya! Dan jangan bicara tentang pengawal ayahku, mereka tidak mau bekerja lagi setelah kematian ayahku karena bajingan Atlas itu!”
Stevan menghantam sisi meja sambil menatap bayangannya di cermin dengan tatapan tajam seperti elang yang mengincar mangsa.
“Bianca, aku ingin kau terbang menemuinya. Aku akan mengirim uang, dan kau harus mendapatkan pengampunan Atlas lalu mendekatinya. Katakan saja bahwa kau sedang diancam dan diburu olehku. Dengan begitu, dia akan percaya bahwa kau tidak lagi berhubungan denganku. Dia pasti sedang sibuk memikirkan pengkhianat yang membocorkan keberadaannya. Apa kau dengar? Ini kesempatan terakhirmu. Jika kau membuat kesalahan lagi dan gagal, jangan harap bisa melihatku lagi, Bianca.”
“Baik, Sayang, aku akan—”
Stevan mengakhiri panggilan tanpa membiarkan Bianca menyelesaikan kalimatnya. Ia menoleh kepada dua pengawalnya, dan kedua pria tinggi itu langsung menundukkan kepala, menghindari tatapan tajam dan mengerikan Stevan.
“Pastikan tidak ada mantan anggota pasukan ayahku yang mengetahui keberadaanku saat ini! Meskipun Buzz bersumpah tidak akan membocorkan informasiku, dia sudah menjadi pembunuh ayahku sendiri! Dia mengkhianatiku! Aku tidak bisa mempercayainya! Selain itu, kalian harus terus memantau keberadaan Buzz. Setelah aku selesai dengan Atlas, aku akan menghancurkan bajingan itu seperti debu! Mengerti?!”
“Ya, kami mengerti, Tuan Stevan.”
“Bagus. Selain itu, ingat untuk mengirim uang dan tiket keberangkatan Bianca ke kota tempat Atlas berada. Pantau keberadaannya melalui nomor ponselnya. Lakukan sekarang!”
Kedua pengawal itu segera meninggalkan Stevan. Kamar yang berada di sudut lantai tertinggi hotel bintang lima itu langsung dikunci oleh Stevan.
Ia menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Senyum jahat menyebar di wajah kurusnya saat ia menatap langit-langit sambil bergumam penuh dendam, “Aku tidak akan membiarkanmu lolos, Atlas. Kau sudah menghancurkanku, jadi aku akan melakukan hal yang sama. Kau harus mati, Atlas!”
~ ~ ~
Tatapan sinis Atlas begitu terlihat saat ia tiba di lobi perusahaan tambang milik mendiang Roger. Postur Atlas yang biasa saja dan tubuhnya yang kurus membuat orang-orang meremehkannya.
"Hmph, gadis-gadis itu, mereka pikir mereka bisa mengejekku? Uangku bisa dengan mudah membungkam mereka, aku jamin itu. Aku bahkan bisa meminta mereka melompat dari lantai paling atas, dan mereka akan melakukannya demi uang!" gerutu Atlas dalam hati.
Sikap meremehkan dari para wanita terhadap Atlas semakin terlihat jelas saat ia mendekati resepsionis. Dua dari tiga wanita yang berdiri di dekat sana tampak tertawa kecil, mengejek kedatangan Atlas.
"Selamat pagi, aku ingin bertemu dengan Tuan Jimmy. Aku perwakilan dari Tuan Benjamin."
Para wanita itu mulai berbisik hal buruk terhadap Atlas.
Atlas tersenyum tipis mendengar bisikan dua wanita itu. Ia memilih untuk tidak menanggapi.
"Hei, kau, di mana bosmu? Aku dengar seorang pria muda akan mengambil alih perusahaan ini. Aku tidak sabar ingin melihat bosmu, aku yakin dia sangat tampan dan berkelas!" Kedua wanita itu kembali tertawa.
Atlas mengeluarkan sebuah surat dari tasnya dan menunjukkannya kepada kedua gadis itu.
"Menurut surat kuasa yang diberikan oleh Tuan Benjamin, pemilik baru perusahaan ini, beliau menunjukku sebagai pemimpin sementara untuk mengawasi aktivitas di sini. Dan sejauh yang aku tahu, hanya aku yang terlibat dalam kerja sama ini. Jadi, aku yakin kalian sedang membicarakanku, Nona-Nona."
Seketika wajah kedua wanita itu berubah panik. Mereka saling berpandangan dan tiba-tiba menjadi sangat ramah kepada Atlas.
"A-Aku minta maaf, Tuan! Aku tidak bermaksud mengatakan hal buruk! Aku hanya bercanda. Aku Gemini, jadi aku suka berbicara santai dan membuat komentar acak!" kata salah satu dari mereka, wanita berambut merah keriting, diikuti anggukan temannya.
"Entah itu bercanda atau tidak, aku tidak peduli. Sikap kalian jelas tidak sopan, menilai orang hanya dari penampilan. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kalian katakan dalam bisikan itu. Ingat, meskipun aku hanya pemimpin sementara, aku punya wewenang penuh untuk merombak perusahaan ini, termasuk memecat pegawai yang aku anggap benar-benar tidak kompeten. Seperti kalian, masih percaya zodiak untuk menentukan karakter seseorang? Ayolah, apa kalian hidup di Zaman Batu?"
Mata kedua gadis itu langsung berkaca-kaca. Mereka ketakutan dan panik mendengar ucapan Atlas.
"Kami minta maaf, Tuan."
Atlas tertawa kecil, tidak memedulikan kata-kata mereka, lalu berjalan menuju lift.
"Ya, aku bukan lagi Atlas yang lemah dan menyedihkan seperti dulu."
Pintu lift terbuka di lantai lima, tempat kantor Jimmy, direktur perusahaan, berada. Sekali lagi, Atlas menerima tatapan sinis dari beberapa pekerja yang kantornya berada dekat dengan milik Jimmy.
"Siapa dia?"
"Bukankah dia yang akan menggantikan Jimmy? Ugh, dia terlihat menyedihkan dan buruk sekali!"
Seperti biasa, Atlas mengabaikan komentar sinis yang terus ia terima. Meskipun telinganya terasa panas, Atlas berusaha untuk tidak terpancing emosi yang muncul.
Seorang pria berambut abu-abu dengan penampilan rapi dan wajah yang sangat tampan keluar dari ruangan yang dituju Atlas. Dialah Jimmy. Saat melihat Atlas, ia menghentikan langkahnya. Namun, alih-alih bersikap ramah, ia menunjukkan rasa kesal dan memandang Atlas dari kepala hingga kaki dengan hinaan.
Atlas memberikan senyum hangat dan mendekatinya.
"Selamat pagi, Tuan Jimmy, aku Atlas. Senang bertemu denganmu."
"Selamat pagi, Atlas. Siapa kau? Maksudku, kenapa kau ada di sini? Apa kau salah lantai? Ini lantai tempat direktur berada, dan kau pasti tahu siapa orang itu." Jimmy menunjuk papan nama di bajunya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗