NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Patah Untuk Tumbuh

 "Bun, udah siap belum?" Devan tampak menunggui bundanya di depan kamar. Sementara itu, Hanum sedang bersiap-siap untuk pergi bersama mereka. Hari ini seperti yang sudah direncakan sebelumnya, mereka akan pergi piknik ke taman kota.

"Bentar lagi nih, bunda lagi siap-siap dikit lagi," Terdengar suara bunda dari dalam kamarnya. Devan belum melihat Hanum keluar dari kamar nya juga. Astaga, kedua perempuan ini sama saja, pikirnya.

Tak lama kemudian, Hanum keluar dari kamarnya.

Dia segera membantu Bi Inah menyiapkan barang yang akan dibawa.

"Udah, Neng. Tinggal angkat ke mobil aja," ucap Bi Inah saat Hanum hendak membantu.

"Biar saya saja," Devan datang dan mengangkat nya, memasukkan nya ke dalam bagasi mobil.

"Ayo let's go!" Bunda muncul dengan baju gamis seperti biasanya.

"Waduh cantik sekali kamu, Hanum! Bunda jadi inget masa muda deh!" Bunda menyanjung penampilan Hanum yang terkesan natural. Memakai gamis biru muda dengan hijab putih, tampak seperti sekuntum bunga mawar biru.

"Gini mah kamu harus cepet-cepet lamar dia, Devan," bisik Bunda pada putranya yang membuat Devan bersemu merah.

"Ada apa, Van?" tanya Hanum penasaran.

Devan menggeleng cepat. "Nggak, nggak papa."

Mereka pun masuk ke dalam mobil, Hanum duduk di depan bersama Devan, meskipun sebelum nya dia menolak. Sementara bunda dan Bi Inah di belakang asyik berceloteh.

"Sejauh ini gimana perasaan kamu?" tiba-tiba Devan bertanya padanya. Membuat Bunda dan Bi Inah saling tatap dan terdiam.

"A-aku gak papa kok, Van." Hanum agak tersentak karena situasi yang sekarang hening.

Devan tidak menanggapi. Hingga dia hanya mengatakan "Kalo ada masalah, bilang aja ke aku," katanya.

"İya, Van. Makasih ya," Sejujurnya dia sendiri bingung mengapa dia bertingkah gugup seperti ini. Apalagi situasi nya mendadak hening.

"Ekhem," Bunda berdeham. "Nanti jangan lupa buat cerita sama Bunda lagi ya," kata Bunda pada Hanum.

"Baik, Bun."

Sesampainya di taman, mereka pun segera mencari spot yang bagus. Hingga akhirnya mereka memilih untuk duduk di pinggir sungai kecil buatan yang jernih. Tampak banyak ikan koi, nila, dan ikan mas yang menghiasi sungai dengan lebar tiga meter itu.

"Wah, cantik banget nih. Bunda jadi pengen melihara ikan di rumah," ucap Bunda saat dia menatap ikan-ikan yang berlalu-lalang di sepanjang aliran sungai.

"Kan di rumah udah punya ikan juga, Bun," Devan menimpali Bunda nya. Memang benar mereka punya kolam ikan yang serupa di rumahnya.

"Tapi gak ada ikan mas nya, Bunda pengen nya agak banyakan gitu ikannya. Rasanya ada yang kurang gitu," Bunda masih menatap ikan-ikan di bawahnya.

"Aman aja kok, Bun. Nanti aku tambahin sapu-sapu," ucap Devan sembarangan. Membuat Bunda nya menjewer telinga putranya itu.

"Aduh aduh ampun,Bun!"

Hanum dan Bi Inah tertawa melihatnya. "Sejak Neng Hanum datang ke rumah, Bunda jadi lebih semangat vibes nya hehe. Bibi juga sebelumnya pernah kok lihat Bunda seperti itu cuman sejak kehadiran Neng Hanum, beliau jadi lebih powerful gitu," ujar Bi Inah saat dia dan Hanum duduk menatap kedua orang itu.

"Tapi kalau boleh tahu, Bi. Ayahnya Devan meninggal karena apa?" tanya Hanum terlintas di benaknya.

"Bibi juga gak tahu kalau itu mah, Neng. Mau nanya juga sama Bunda takutnya malah buat beliau sedih. Tapi pernah bibi denger waktu Bunda sama Nak Devan lagi kumpul, kalau gak salah karena sakit. Bibi juga gak tahu banyak, Neng," terangnya lagi. "Eh, jangan bilang-bilang sama Bunda ya, Neng," tambah Bi Inah lagi sambil tersenyum lebar pada Hanum.

Hanum mengangguk mengiyakan. Dia tidak pernah mencari tahu tentang keluarga Devan sejak mereka SMA dulu. Meskipun sesekali dia pernah berkunjung ke rumahnya, tetapi dia tidak seakrab yang kalian kira. Sebatas teman dekat saja. Yang Hanum tahu, dulu ayahnya Devan sibuk bekerja sementara Bunda lah yang sering dia lihat dulu.

"Kamu mikirin apa, Nak?" Bunda tiba-tiba mengagetkannya.

"Aduh, jangan ngelamun gitu dong, pamali kalo kata orang mah. Udah, kita lagi refreshing, sekarang kamu boleh lepasin semua beban pikiran kamu," Bunda mengajak Hanum untuk pergi menuju aliran sungai buatan itu. Di sana Devan sedang memberi pakan ikan, membelinya dari salah satu penjaga sungai taman yang memang memberikan kesempatan kepada para pengunjung taman untuk memberikan pakan ikan yang ada di dalam sungai.

"Kamu sama Devan dulu ya, Bunda mau bantuin Bi Inah bikin es jeruk," Bunda segera berjalan menuju Bi Inah.

"Hanum bantu ya, Bun," Hanum menyusulnya segera. Bunda langsung menghentikannya. "Udah gapapa, kamu sama Devan aja sana," pintanya sambil menatap Devan yang sudah menunggu di pinggiran sungai.

Hanum pun akhirnya berjalan menuju Devan. "Aduh, aku serius deh tiba-tiba gak enakan sama kamu, Van," ucap Hanum saat Devan menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.

"Buang jauh-jauh aja gak enak nya, simpel," ucap Devan singkat.

"Ih kamu mah gitu, Van. Cariin aku kos atau kontrakan dong," Hanum kembali mengutarakan isi pikirannya.

"Hanum, kalau kamu ngelakuin itu yang ada Bunda sedih, kecewa karena kamu sebegitunya gak mau menuruti keinginan baik Bunda. Sekarang kamu terima aja ya?" Devan melunakkan suaranya. Sontak membuat Hanum luluh dan terdiam sejenak. Teman di masa SMA jauh lebih beda untuk dikatakan kembali sebagai teman di saat ini.

"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Devan.

"Eh, iya aku gapapa kok. Sepertinya aku terlalu melampaui batas juga untuk rasa gak enakan itu. Makasih banyak ya, Van." Hanum tersenyum tipis.

"Sekarang aku coba untuk lebih baik lagi untuk ke depannya. Aku bersyukur karena kamu dan Bunda kamu udah berbaik hati menolongku..," Hanum menatap ikan di depannya. Segera Devan memberikan sisa pakan ikan di tangannya kepada Hanum.

Dia tersenyum dan menaburkannya sedikit demi sedikit di atas permukaan air sungai. Membuat segerombolan ikan mendekat dan HAP membuat Hanum kaget dan mereka berdua tertawa.

Hingga keduanya saling bertatapan. Suasana pun kembali canggung.

"Hanum, aku hanya mau bilang. Kamu gak perlu takut untuk kembali tumbuh. Adakalanya kita jatuh sebelum bertumbuh, setiap kita pasti merasakannya. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan menemukan kehidupan yang baru dan berharga buatmu," Devan menatap Hanum sekilas. Mata perempuan di sebelahnya itu berbinar-binar. Kemudian dia mengangguk.

"Patah untuk tumbuh?" Hanum memberikan kiasan.

"Iya, kira-kira begitu," balas Devan.

Hanum tersenyum, "Aku jadi malu pada diriku sendiri, Van. Harusnya aku lah yang lebih jago mengatakan itu."

Devan tertawa kecil, membayangkan masa SMA mereka dimana Hanum memang pandai sekali dalam merangkai kata saat di kelas. Wajar saja dia anak teladan dan peraih juara umum berturut-turut.

"Hei kalian ayo kesini! Makanannya udah siap!" seru Bunda kepada mereka berdua. Devan mengajak Hanum untuk pergi kesana.

Ah iya, kehamilan ini bagaimana? pikir Hanum tiba-tiba. Aku harus telusuri sesudah ini..

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!