Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Udara pagi masih terasa menusuk tulang saat Arumi melangkah keluar dari kontrakan petaknya.
Tangannya yang kasar karena detergen mencengkeram tas kain usang berisi dokumen seadanya - fotokopi KTP, kartu keluarga, dan selembar proposal bisnis tulisan tangan yang ia susun di bawah temaram lampu lima watt.
Hari ini adalah pertaruhan terakhir. Arumi ingin berhenti menjadi buruh cuci dan beralih merintis usaha katering kecil-kecilan. Ia punya modal resep rendang warisan ibunya, namun ia tidak punya uang untuk membeli bahan baku dalam skala besar.
Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera menjadi tujuannya. Gedung itu berdiri angkuh dengan pilar-pilar putih yang mengilap, sangat kontras dengan sandal jepit Arumi yang bagian tumitnya sudah aus.
Saat ia melangkah masuk, AC yang dingin menyambutnya, namun tatapan para staf di sana jauh lebih dingin. Mereka memindai pakaian Arumi yang warnanya sudah memudar seperti sedang mendeteksi keberadaan hama.
"Nomor antrean 24," panggil seorang petugas wanita.
Arumi berdiri dan mendekati meja petugas bernama Rika. Wanita itu tidak mendongak, jemarinya sibuk mengetik dengan kuku-kuku yang dihias cat merah menyala.
"Selamat pagi, Mbak," sapa Arumi sopan. "Saya ingin mengajukan pinjaman modal usaha."
Rika menarik map Arumi dengan ujung jari, seolah takut jemarinya akan terkontaminasi. Ia membolak-balik lembaran di dalamnya dengan gerakan malas.
"Status pekerjaan... buruh cuci?" Rika tertawa kecil tanpa nada jenaka. "Mbak Arumi, kami ini lembaga keuangan, bukan dinas sosial. Kami butuh jaminan yang masuk akal. Pekerjaan tidak tetap seperti ini mana bisa dianggap layak?"
"Saya punya catatan pesanan dari pasar, Mbak. Saya bisa menunjukkan arus kas saya bulan lalu," Arumi mencoba menjelaskan, namun Rika justru menutup map itu dengan suara plak yang keras.
"Lho, Arumi? Sedang apa kamu di sini?"
Suara melengking itu membuat Arumi membeku. Mbak Sari, kakak iparnya, berdiri di sana dengan tas kulit imitasi yang disampirkan di bahu. Ia baru saja selesai membayar cicilan motor suaminya.
Sari mendekat, lalu tertawa keras hingga beberapa nasabah lain menoleh. "Pinjaman? Kamu? Mbak Rika, jangan mau ditipu wanita ini. Hutangnya di warung saja menunggak berbulan-bulan. Dia janda yang tidak punya aset apa pun. Suaminya saja pergi karena dia tidak becus mengurus hidup, apalagi mengurus uang koperasi!"
Wajah Arumi memanas, namun ia tidak menunduk. Ia menatap Sari lurus-lurus. "Mbak Sari, ini urusan pekerjaan saya. Tolong jangan bawa urusan pribadi."
"Pribadi katamu? Ini soal kredibilitas!" Sari menoleh pada Rika. "Dia ini mau digusur dari kontrakannya. Kalau dia lari, siapa yang mau tanggung jawab? Mau sita daster-dasternya yang robek itu?"
Rika menggeser map Arumi kembali ke depan dada Arumi. "Maaf, pengajuan Anda ditolak. Status sosial dan reputasi keuangan Anda tidak memenuhi syarat kami. Silakan keluar, jangan menghambat antrean yang lain."
"Tapi saya butuh ini untuk masa depan anak saya..."
"Satpam! Tolong kondisikan orang ini," potong Rika tanpa ampun.
Arumi berdiri. Tangannya meremas map yang kini sedikit kusut. Ia tidak menangis. Ia hanya menatap Rika, lalu beralih menatap Sari yang masih memasang senyum kemenangan.
Tanpa sepatah kata pun, Arumi mengambil mapnya dan berjalan keluar dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tetap stabil.
Di trotoar yang panas, Arumi berhenti di depan sebuah toko kain besar yang memiliki dinding kaca gelap. Ia melihat pantulan dirinya. Ia mengeluarkan bolpoin dari tasnya, membuka map, dan di balik kertas proposalnya yang ditolak, ia menulis dua nama baru - Rika (Koperasi Sejahtera) dan Sari.
Arumi melipat kertas itu dengan rapi dan menyimpannya di saku daster yang tersembunyi di balik blusnya.
Sesampainya di kontrakan, Kirana berlari menyambutnya. Arumi tidak memeluk putrinya dengan isakan. Ia justru meraih tangan Kirana dan menatap mata bocah itu dengan sorot yang belum pernah Kirana lihat sebelumnya.
"Kirana, simpan sepatu lamamu. Jangan dibuang," ucap Arumi pelan namun tajam. "Suatu saat nanti, sepatu itu akan menjadi pengingat bagi Ibu tentang siapa saja yang harus membayar rasa malu kita hari ini."
Arumi berjalan ke arah dapur. Ia tidak lagi memikirkan pinjaman koperasi. Matanya tertuju pada tumpukan pakaian kotor milik pelanggan cuciannya. Ia mengambil satu per satu pakaian itu, memilahnya, dan mulai menggosok dengan tenaga yang lebih besar dari biasanya.
Malam itu, saat seluruh kampung sudah terlelap, Arumi duduk di lantai semen. Ia tidak lagi menulis proposal.
Ia mulai memetakan rute pasar, menghitung jam operasional pengepul sisa sayuran yang masih layak jual, dan mencatat waktu keberangkatan truk-truk pengangkut kain di pabrik dekat terminal.
Ia bukan lagi mencari pinjaman. Ia sedang merancang jalannya sendiri di antara celah-celah yang diabaikan orang lain.
Arumi mematikan lampu, kegelapan menelan tubuhnya. Namun di dalam kepalanya, api dendam itu kini memiliki bentuk yang sangat rapi dan kalkulatif.
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi