Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Li Zhen melangkah maju mendekati pohon pinus raksasa yang menjadi inti formasi, mengabaikan pohon-pohon lain yang mencoba menghalangi jalannya dengan dahan berduri. Li Zhen mendecakkan lidahnya berkali-kali, menggelengkan kepalanya dengan gerakan berlebihan seolah sedang melihat sebuah karya seni yang sangat gagal.
"Aku tidak tahu tetua bodoh mana yang menanam formasi ini, tapi ini adalah penghinaan terbesar bagi ilmu geometri dan matematika ruang," teriak Li Zhen dengan suara lantang yang menggema. Suaranya memecah keheningan mistis di dalam kabut ungu, membuat pergerakan pohon-pohon pinus itu tiba-tiba melambat karena terkejut.
Li Zhen menunjuk tepat ke arah batang pohon inti dengan jari telunjuknya yang dipenuhi noda tanah kering. "Lihatlah pola putaran kalian, jarak antar pohon melenceng sejauh tiga sentimeter dari rasio emas yang seharusnya!" kritiknya dengan nada yang sangat tajam.
Pohon pinus raksasa itu bergetar hebat, daun-daun jarumnya mulai rontok satu per satu seolah-olah sedang berkeringat karena panik. Suara rintihan gaib terdengar menggema dari dalam tanah, menandakan bahwa Roh Formasi sedang mendengarkan ucapan pemuda bermulut berbisa itu dengan penuh ketakutan.
"Dan yang paling menyedihkan dari semuanya adalah akar utamamu," lanjut Li Zhen tanpa memberikan ampun sedikit pun. "Akar sebelah kirimu tumbuh lebih pendek dua jengkal dibandingkan akar kananmu, membuat seluruh formasi ini miring dan terlihat seperti gambar coretan anak balita."
Hinaan yang sangat spesifik dan akurat itu menghantam inti kesadaran Roh Formasi layaknya sebuah palu godam raksasa yang tidak kasat mata. Rahasia memalukan tentang ketidaksempurnaan geometris yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat kini dibongkar dengan sangat brutal.
Suara retakan keras terdengar dari dalam batang pohon pinus raksasa tersebut, menyebar dengan cepat ke seluruh pohon lain yang terhubung. Dao Heart milik Roh Formasi yang terobsesi pada kesempurnaan itu hancur berkeping-keping karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa dirinya memang cacat.
Kabut ungu yang menyelimuti area tersebut seketika bergolak liar, tersedot masuk ke dalam tanah bersamaan dengan berhentinya seluruh pergerakan pepohonan. Formasi Labirin Kayu Menangis yang telah menelan ratusan nyawa kultivator hebat kini hancur lebur hanya karena kritik desain yang sangat pedas.
[Ding! Target Roh Formasi mengalami kehancuran mental permanen. Mendapatkan +800 Poin Sampah.]
Li Zhen tersenyum puas melihat kabut ungu itu menghilang sepenuhnya, menampakkan kembali jalan setapak batu pualam yang lurus dan jelas. Dia menepuk-nepuk tangannya seolah baru saja membersihkan debu, lalu kembali melangkah santai menyusuri jalan yang kini sudah tidak lagi menyesatkan.
"Makhluk yang terobsesi pada kesempurnaan adalah mangsa yang paling mudah untuk dihancurkan mentalnya," gumam Li Zhen sambil bersiul sumbang. Dia berjalan menyusuri sisa-sisa formasi yang kini hanya terlihat seperti hutan pinus mati yang daunnya menguning layu.
Jalan setapak itu akhirnya membawa Li Zhen ke sebuah area datar yang sangat luas di pertengahan gunung belakang. Di depan matanya, berdiri sebuah gerbang batu giok raksasa setinggi sepuluh meter yang dihiasi oleh ukiran naga dan burung phoenix yang sangat rumit.
Ini adalah pintu masuk utama menuju Kebun Sayuran Spiritual dan Peternakan Hewan Suci milik tetua puncak. Namun, langkah Li Zhen kembali terhalang oleh sosok penjaga yang duduk bersila tepat di tengah-tengah gerbang pualam tersebut.
Sosok itu adalah seekor Kera Perak Bertanduk Giok, seekor monster spiritual tingkat menengah yang memiliki kekuatan setara dengan kultivator ranah Inti Emas. Kera raksasa itu membuka mata merahnya yang menyala terang, menatap Li Zhen dengan aura membunuh yang langsung menurunkan suhu udara di sekitarnya.
Kera Perak itu berdiri perlahan, tingginya mencapai tiga meter dengan otot-otot dada yang menonjol seperti bongkahan batu granit keras. Hewan buas itu memukul dadanya sendiri berulang kali, menciptakan suara dentuman keras bagaikan genderang perang yang siap memecahkan gendang telinga.
Ia membuka mulutnya lebar-lebar, memamerkan deretan taring tajam yang berkilau di bawah cahaya bulan merah, lalu mengeluarkan raungan yang sangat memekakkan telinga. Angin kencang berhembus dari mulutnya, menerbangkan kerikil dan debu di sekitar kaki Li Zhen dalam upaya untuk mengintimidasi penyusup kecil tersebut.
Li Zhen sama sekali tidak gentar, berkat pil esensi darah yang dia minum, tekanan spiritual dari kera raksasa itu tidak lagi membuatnya jatuh pingsan. Dia hanya menyipitkan matanya karena kelilipan debu, lalu mengusap wajahnya dengan ekspresi yang sangat bosan dan muak.
Sistem di kepalanya kembali bekerja dengan cepat, memunculkan layar merah yang mengambang tepat di atas mahkota tanduk giok milik kera tersebut.
[Target: Kera Perak Bertanduk Giok. Kelemahan Mental: Sangat tidak aman dengan kebotakan berbentuk kotak di pantatnya yang tidak pernah tumbuh bulu, dan diam-diam merasa bodoh karena selalu gagal belajar bahasa manusia meskipun sudah berlatih selama dua ratus tahun.]
Mata Li Zhen berbinar terang, dia langsung menemukan amunisi yang sempurna untuk meruntuhkan kesombongan binatang penjaga legendaris ini. Dia melipat lengannya di dada, menengadahkan wajahnya untuk menatap mata merah kera raksasa itu dengan pandangan yang merendahkan.
"Berhenti berteriak dan memukul dadamu seperti orang idiot yang sedang kesurupan," bentak Li Zhen dengan suara yang melengking tajam. "Napasmu bau bangkai busuk, dan suaramu terdengar seperti bebek sekarat yang tenggorokannya terjepit pintu kayu."
Kera Perak itu menghentikan raungannya secara tiba-tiba, matanya mengerjap beberapa kali karena terkejut ada manusia fana yang berani membentaknya. Biasanya, para penyusup akan langsung bersujud memohon ampun hingga dahi mereka berdarah saat berhadapan dengan wujud aslinya yang menakutkan.
"Kau pikir kau terlihat gagah dan menakutkan dengan membusungkan dada berototmu itu?" cibir Li Zhen sambil memutar bola matanya ke atas. "Semua otot di tubuhmu itu tidak bisa menutupi fakta bahwa kau memiliki kebotakan berbentuk kotak yang sangat konyol di pantatmu."
Tubuh raksasa Kera Perak itu langsung menegang kaku, kedua tangannya yang berbulu lebat secara refleks bergerak menutupi bagian belakang tubuhnya. Mata merahnya membelalak lebar memancarkan kepanikan yang luar biasa, tidak mengerti dari mana manusia kecil ini mengetahui rahasia paling memalukannya.
"Jangan repot-repot menutupinya, seluruh dunia kultivasi pasti akan tertawa terbahak-bahak jika mereka melihat pantat botakmu yang bersinar di bawah sinar bulan itu," lanjut Li Zhen tanpa jeda. Dia sengaja tertawa keras-keras, sebuah tawa mengejek yang dirancang khusus untuk merobek-robek harga diri lawan.
Kera raksasa itu mengerang pelan, tubuhnya mulai gemetar hebat karena rasa malu yang tidak tertahankan mulai membakar akal sehatnya. Ia mencoba menggeram untuk mempertahankan harga dirinya, namun suara yang keluar dari tenggorokannya hanya terdengar seperti isakan tertahan.
"Dan untuk ukuran monster spiritual yang sudah hidup dua ratus tahun, kau benar-benar makhluk yang paling bodoh di benua ini," tambah Li Zhen memberikan serangan pamungkasnya. "Bahkan burung beo di pasar manusia bisa belajar bicara dalam sebulan, sedangkan kau hanya bisa berteriak 'Uuka-uuka' seperti primata purba yang cacat mental."
Hinaan tentang kecerdasannya itu adalah pukulan telak yang menghancurkan sisa-sisa Dao Heart yang dimiliki oleh Kera Perak tersebut. Hewan buas yang sangat membanggakan garis keturunan spiritualnya itu kini merasa dirinya lebih rendah dari kotoran lumpur di dasar kolam.
Energi spiritual di dalam tubuh kera itu bergejolak liar, saling bertabrakan di dalam jalur meridiannya karena penolakan mental yang sangat ekstrem. Kera raksasa itu memuntahkan seteguk darah segar yang bercampur dengan energi murni, membasahi lantai pualam di depan gerbang giok.
Ia menjatuhkan dirinya ke tanah, memeluk kedua lututnya sendiri sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan induknya. Kera penjaga yang ditakuti itu berguling-guling menjauh dari gerbang, menyembunyikan wajahnya di balik semak-semak karena tidak sanggup menanggung rasa malu yang luar biasa.
[Ding! Target Kera Perak Bertanduk Giok mengalami depresi spiritual berat. Mendapatkan +1.500 Poin Sampah.]
Li Zhen tersenyum puas, melangkah santai melewati genangan darah dan air mata yang ditinggalkan oleh kera malang tersebut. Gerbang batu giok raksasa itu terbuka dengan sendirinya setelah kehilangan penjaga utamanya, menyambut kedatangan sang raja mulut sampah dengan keheningan mutlak.
Begitu dia melangkah masuk melewati gerbang, aroma tanah yang subur dan wangi berbagai macam tanaman spiritual langsung memenuhi rongga hidungnya. Di hamparan lembah luas yang dilindungi oleh kubah cahaya itu, tumbuh ribuan tanaman ajaib yang memancarkan pendaran warna-warni yang memukau.
Ada kubis raksasa yang daunnya terbuat dari kristal merah, lobak yang melayang di udara, dan pohon buah perak yang dahannya mengalirkan energi kehidupan. Ini adalah surga bagi para alkemis dan kultivator, sebuah tempat di mana setiap helaian daunnya bernilai setara dengan nyawa manusia.
Namun bagi Li Zhen, hamparan tanaman berharga itu hanyalah deretan bahan makanan mentah yang kebetulan memiliki sistem pencahayaan yang sangat buruk. Perutnya kembali berbunyi dengan ganas, menuntut untuk segera diisi dengan hidangan yang lebih baik dari sisa makanan Aula Murid Luar.
"Sayuran bercahaya ini sangat menyakitkan mata, aku harap rasanya tidak seburuk tampilannya yang norak ini," gumam Li Zhen sambil berjalan menyusuri ladang spiritual tersebut. Dia mulai menggulung lengan jubah kasarnya, bersiap untuk memilih sayuran mana yang akan menjadi korban pertama dari eksperimen kulinernya malam ini.